Trik Tetap SEMANGAT dan Keluar dari Kemalasan

10 Februari 2010 at 06:23 | In opiniku | Leave a Comment
Tags: , , , ,

Aku dinasehati sahabatku sang motivator/ praktisi NLP, Hendri Harjanto, hari ahad kemarin, gara-gara sobatku yang lain, si Bamce, cerita kalau aku suka terlambat bimbingan skripsi. Katanya “Seseorang yang suka terlambat itu bukan berati itu sudah menjadi wataknya yang telatan, tetapi itu karena dia tidak punya ALASAN YANG KUAT mengapa dia harus datang tepat waktu.”
coba kalau ada wanita cantik yang mengajaknya makan malam, dia pasti datang tepat waktu.” dinasehatin kaya gitu jadi ingat pas tanggal 28 April 2009 (bagaimana kejadiannya? RAHASIA). benar banget.

Jadi kalau lagi males, ingat-ingat alasan-alasan yang kuat yang menjadi alasan kamu harus melakukan suatu hal tersebut. kalau lagi males buat skripsi, aku mengingat2 kenapa aku harus cepet-cepet beresin skripsi (pengen cepet dapat SIM [surat izin menikah] dari ortu dan juga supaya cepet jadi Ahli Akuntansi Syariah). lumayan cukup efektif. alangkah bagusnya juga sambil membayangkan bagaimana kalau aku ga cepet-cepet beresn itu skripsi ==> Si “Sholehah” bakalan keburu dilamar orang lain apalagi dia sudah PNS dan seorang murobiah (yang biasanya suka dijodoh-jodohkan) dan juga aku akan semakin lama mengejar cita-citaku menjadi ahli akuntansi syariah.

Dua cara itu, sudah bisa membuatku bangkit untuk memburu yang kuimpikan selama ini yang tadinya aku malas-malasan dan selalu minder.

INGAT ALASAN-ALASAN YANG KUAT MENGAPA KAMU HARUS MELAKUKAN ITU dan MEMBAYANGKAN AKIBAT KALAU AKU TETAP LALAI.

SETIAP TINDAKAN YANG AKAN KITA LAKUKAN HARUS DILANDASI DENGAN ALASAN-ALASAN YANG KUAT MENGAPA KITA HARUS MELAKUKANNYA. LALU APA AKIBATNYA KALAU TIDAK MELAKUKANNYA.

Alasan-alasan itu, lebih baik ditulis dikertas. Kalau lagi males-malesan/ futur, baca tulisan itu sambil melakukan visualisasi (membayangkan). Insya Allah efektif.

Satu hal lagi, nasehat dari sobatku yang lain, Bambud Khan Budi mengatakan, biar ga males kamu harus sering kumpul/ silaturahmi sama orang-orang yang positif, yang semangat atau yang bisa membuatmu semangat. Sering-seringlah bersilaturahmi dengan orang-orang yang berpikiran positif, kamu akan banyak mendapat inspirasi dan motivasi.

Dua buah nasehat yang DAHSYAT.

Anda punya ide lain? inspirasi lain? Trik lain? Bagi-bagi pengalaman yuks…. tulisankan di kolom komentar dibawah ini.

TRIK MENJADI SUAMI IDAMAN

6 Februari 2010 at 14:21 | In Pria Romantis | 2 Comments

STOP!!!!!! Kalau Anda Wanita jangan membaca tulisan ini, karena kalau suami Anda mempraktekan salah satu atau semua trik yang ada di tulisan ini, mungkin tidaklagi menjadi istimewa bagi Anda. Jadi, jangan teruskan membaca tulisan ini. Tulisan ini HANYA UNTUK SUAMI ATAU CALON SUAMI.

Latar Belakang (Curhat)

Akhir-akhir ini, keinginan untuk menikah sedang menggebu-gebu dalam diriku. Tetapi SIM (Surat Izin Menikah) dari orang tua masih belum turun. Mereka mensyaratkan supaya aku cepat lulus kuliah dan segera mempunyai pendapatan sendiri baru SIM itu jadi. Jadilah sekarang aku bersemangat untuk segera merampungkan skripsiku yang dah 1 semester belum beres-beres juga.

Tapi dah beberapan tahun terakhir ini, aku tertarik pada buku, majalah, artikel, atau obroran tentang pernikahan. Darisana aku mendapatkan beberapa pengetahuan tentang bagaimana menjadi suami idaman setiap wanita. Aku takut, pengetahuan yang sudah kudapatkan ini terlupakan sebelum saatnya tiba kugunakan. Aku teringat nasehat beberapa teman dan guru bahwa supaya ilmu atau pengetahuan yang sudah kita dapatkan tidak cepat hilang dari ingatan, maka ilmu atau pengetahuan itu harus diamalkan dan disebarkan. Kalau mengamalkan pengetahuan ini, jelas tidak bisa karena aku belum menikah, jadi yang bisa aku lakukan adalah menuliskannya dan membagikannya kepada teman-temanku. Siapa tahu bisa memantik diskusi dan aku mendapatkan pengetahuan dan trik-trik baru yang bermanfaat bagiku kelak kalau sudah menikah.

Dibawah ini aku baru menuliskan beberapa trik saja karena keterbatasan waktu yang kumiliki yang disebabkan deadline pengerjaan skripsi dan persiapan ujian komprehensip. Insya Allah, aku akan melanjutkan pembahasan tulisan ini dilain waktu dengan trik-trik yang lain.

Trik-trik yang kutulis dibawah ini baru terbatas dalam bidang ROMANTISME belum menyentuh ke masalah-masalah agama. Insya Allah aku akan menulis tulisan-tulisan yang serupa tetapi dilihat dari segi yang lain.

Menulis tulisan ini kulakukan sebagai penghilang kejenuhan yang kualami karena hal tersebut.

TRIK 1, MEMELUK ISTRI MINIMAL SEKALI TIAP HARI

Biasakan minimal memeluk istri sekali tiap hari. Hal ini supaya istri Anda selalu merasa disayangi tiap hari. Ketika suami memeluk istri, dalam hati si istri akan timbul perasaan bahwa suaminya masih menyayanginya. Kalau istri merasa disayangi, dia akan memberikan pelayanan yang istimewa pada suaminya. Coba Anda buat sebuah percobaan, pekan pertama, Anda jangan memeluk istri sekalipun, pekan kedua, tiap hari Anda memeluk dia minimal sekali. Coba bandingkan, bagaimana perbedaan perlakukan istri Anda pada Anda. Insya Allah pasti berbeda. Ketika Anda sering memeluknya minimal sekali, maka dia akan memberikan pelayanan yang istimewa pada Anda.

Saya sarankan untuk memeluknya sebelum berangkan kerja dipagi hari dan setelah pulang kerja. Pelukan dipagi hari akan membuat dia merasa disayangi sepanjang hari, hal ini akan mengakibatkan dia selalu merindukan Anda dan ingin bertemu Anda. Efek dari perasaan rindu ini, dia ingin memberikan sesuatu yang spesial bagi Anda ketika Anda pulang kerja nanti, misalnya, memasakan makanan favorit Anda atau dia menyambut kedatangan Anda pulang kerja dengan dandanan yang cantik dan senyuman yang manis. Alangkah indahnya kalau ketika kita (sebagai suami) pulang kerja dimana tubuh terasa lelah dan otak sedang berat/suntuk karena pekerjaan, ketika pulang kerja disambut oleh seorang bidadari yang cantik jelita, dengan senyuman diwajahnya. Ketika kita mendekatinya, tercium harum dari tubuhnya, membuat badan dan otak suaminya segar kembali dan ingin segera memeluknya. Dia menyambut suaminya dengan penuh rasa rindu dan kehangatan.

TRIK 2, MEMINTA ISTRI MENDOAKAN SUPAYA TIDAK TERGODA WANITA LAIN

Suatu ketika pada saat pengajian Ahad Pagi di Gedung Muhammadiyah Jl KH. Ahmad Dahlan, Yogyakarta, penceramah pengajian ketika itu adalah Pak Okrizal, tiba-tiba dia bercerita tentang pengalamannya dengan istrinya. Kalau tidak salah ceritanya seperti ini: Pada suatu hari, beliau ngobrol dengan istrinya masalah poligami, terus dia menjelaskan juga bahwa kalau pria sudah mapan atau usianya sudah menginjak sekitar 40 tahunan, biasanya pria tersebut mengalami masa puber kedua. Pria ketika mengalami masa puber kedua itu biasanya mudah terrayu atau tergoda dengan wanita. Biasanya juga suka timbul keinginan untuk berselingkuh atau menikah lagi. Setelah menjelaskan hal tersebut, beliau berkata kira-kira intinya seperti ini, “Mah, tolong doakan papah supaya ketika nanti papah dalam situasi seperti itu, papah tidak tergoda dengan wanita lain atau tidak ada niatan untuk menikah lagi.” Lalu istrinya menyanggupinya.

Apa yang terjadi setelah obrolan itu? Istrinya tiba-tiba selalu menangis sehabis sholat. Dia berdoa sangat khuyuk sekali. Tiba-tiba, istrinya senang sekali berdandan dirumah, padahal biasanya enggak. Wajahnya selalu tampil sangat cantik dan harum badannya kalau dirumah. Dia juga memasak masakan yang enak-enak. Perlakuannya menjadi sangat hangat dan penuh cinta. Kalau beliau mau mandi, istrinya menyiapkan handuk, padahal biasanya tidak pernah. Pokonya, banyak sekali pelayanan istimewa yang dilakukan istrinya setelah obrolan itu. Hanya saja, segala pelayanan istimewa istrinya tersebut hanya terjadi selama sekitar seminggu setelah obrolan tersebut terjadi. Meskipun demikian, hal tersebut menjadi kenangan sangat manis bagi pak Okrizal.

Yang namanya wanita pada umumnya sangat sensitif dengan masalah poligami atau perselingkuhan. Mereka selalu ingin jadi istri satu-satunya. Kalimat yang diucapkan pak Okrijal diatas menurutku, menunjukan pada istrinya bahwa dia sangat mencintai istrinya dan ingin selalu setia padanya. Sebuah pernyataan yang menunjukkan jaminan kesetiaan dari sang suami, sangat dibutuhkan oleh istri. Ketika jaminan itu didapatkan oleh sang istri, dia juga akan berusaha membantu suaminya untuk tetap setia padanya. Bentuknya yaitu dengan membuat suaminya betah tinggal dirumah atau nyaman ketika ada dirumah dengan cara memberikan npelayanan yang istimewa bagi suaminya. Hal inilah yang mengakibatkan istrinya berdoa sangat khusuk dan melakukan segala pelayanan yang istimewa bagi pak Okrijal.

TRIK 3, SERING MENYANJUNG DAN UCAPAN TERIMAKASIH TERHADAP HASIL PEKERJAAN YANG TELAH DIA LAKUKAN

Wanita adalah makhluk yang senang disanjung atau dipuji. Tapi ingat, jangan gombal. Memang sesekali gombal tidaklah masalah untuk menyegarkan suasana, tetapi jangan keseringan karena biasanya wanita tidak terlalu suka sama sanjungan yang terlalu gombal. Tetapi sejauh yang ku tahu dan kupelajari, wanita senang sekali disanjung terhadap hasil pekerjaan yang telah dia lakukan. Misalnya, dia memasak masakan yang enak sekali, maka sanjunglah dia dengan mengatakan bahwa masakannya enak sekali, “makanannya enak banget, mama emang koki yang hebat, istri siapa sih?” atau ketika dia mengenakan pakaian yang membuatnya tampil cantik, sanjunglah dia, “sayang kamu cantik hari ini.”

Tapi ingat, jangan terlalu sering menyanjung. Karena hal ini bisa mengakibatkan sanjungan yang Anda berikan tidak lagi terasa istimewa lagi bagi dia. Sanjunglah dia ketika memang pantas disanjung. Hal ini akan membuat dia berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk Anda karena dia ingin suaminya menyanjungnya. Kalau suami menyanjung istrinya ketika memasak yang enak dan tidak menyanjung ketika memasak makanan yang biasa saja, dia akan termotivasi untuk memasak makanan yang lebih enak lagi karena ingin mendapatkan sanjungan dari si suami.

Selain sanjungan, jangan lupa untuk mengucapkan terimakasih atas apa yang telah dia berikan untuk Anda. Ini akan membuat dia merasa dihargai atas apa yang telah dia berikan atau lakukan untuk Anda.

Semakin banyak sanjungan dan ucapan terima kasih yang Anda berikan padanya, semakin meningkat kualitas pelayanan yang dia berikan untuk Anda.

TRIK 4, CIUMLAH/KECUPLAH DIA MINIMAL SEKALI TIAP HARI

Dalam Majalah Men’s Health, edisi: No. 02/VIII.Februari 2008, halaman 14, ada sebuah artikel yang menjelaskan suatu survey tentang ciuman yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Isinya sebagai berikut: “survey pada 3.300 orang mengungkapkan, pasangan yang tidak sering berciuman, delapan kali lebih mungkin merasa stress atau depresi. Ciuman ini adalah ciuman ekstra, bukan dilakukan pada saat melakukan hubungan seksual. “jika Anda senang menciumnya tanpa keinginan seks, si Dia mungkin malah menginginkan lebih dari itu. Karena dia merasa lebih dekat dan itu membuatnya lebih bergairah,” kata terapis dari Berman Center, Laura Bermen, Ph.D. Jadi sering-seringlah mencium si Dia, karena Anda berdua akan bebas dari stres dan depresi, plus memiliki hubungan seksual yang baik. Dijamin!”

Penjelasan trik selanjutnya BERSAMBUNG.

TRIK 5, MENGASUH ANAK ATAU BERMAIN DENGAN ANAK

TRIK 6, MENGHADAPI ISTRI YANG SEDANG MARAH

TRIK 7, MENGHADAPI ISTRI YANG SEDANG BERSEDIH

TRIK 8, MEMBERIKAN KEJUTAN YANG MENYENANGKAN

TRIK 9, MENGAJAK ISTRI JALAN-JALAN KETEMPAT-TEMPAT ROMANTIS

Pacaran Islami, Sebuah Pengantar

18 Desember 2009 at 16:20 | In Pria Romantis | Leave a Comment

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

Akhir bulan Desember 2009, ada beberapa teman yang anti pacaran mengkritik saya karena menyebarkan faham pacaran Islami. “Emang ada pacaran Islami?” itu yang sering mereka katakan pada saya.

Sebenarnya saya sudah males membahas masalah ini, karena sudah 3 tahun yang lalu atau tepatnya tahun 2005-2006 saya melakukan penelitian kecil mengenai masalah ini. Tetapi karena dalam masalah ini, masih banyak teman-teman dekat saya yang belum mengerti, akhirnya saya buat tulisan ini. Tulisan ini hanyalah sebuah pengantar sepintas saja. Kalau ingin mempelajari lebih lanjut, buka saja blog Pak Muhammad Shodiq http://pacaranislami.wordpress.com/ disana dibahas dan didiskusikan (bahkan terjadi perdebatan) lebih lanjut tentang pacaran Islami.

Tujuan saya menulis tulisan ini adalah memberikan penjelasan kepada teman-teman terdekat saya tentang sebuah konsep hubungan pra-nikah, dimana beberapa diantara mereka masih sering bertanya tentang hukum pacaran, seperti apa pacaran yang Islami, seperti apa teknik hubungan pra-nikah, dan lain-lainnya. Kalau saya jelaskan secara lisan terus, kan lumayan capek juga. Mendingan ditulis melalui sebuah tulisan. Sehingga bisa dibaca oleh banyak teman-teman saya tadi. Saya tingga melayani pertanyaan-pertanyaan pengembangan dari konsep ini saja. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad saw untuk tidak menyembunyikan ilmu, maka saya menulis tulisan ini.

Wacana ini bukan wacana baru, tetapi sudah lama. Tulisan ini hanyalah ringkasan dari banyak tulisan serupa yang sudah terbit dan bahkan sudah diterbitkan melalui banyak  buku oleh beberapa penulis. Hanya saja belum banyak orang yang membacanya. Wacana yang lebih dulu berkembang  dan sudah tersebar luas dikalangan para aktivis dakwah adalah pacaran itu haram. Padahal ada wacana lain atau paham lain yang sedikit berbeda dengan pendekatan berbeda.

Sebaiknya kita berpikiran terbuka dengan berbagai wacana atau pendapat yang ada. Ingat pesan KH Mas Mansur dalam buku “12 Tafsir Langkah Muhammadiyah” untuk selalu memperluas faham agama. Memperluas faham agama bisa dimaknai, kita terbuka dengan pendapat paham lain yang berbeda dengan yang kita yakini. setalah itu memcoba membandingkan paham yang berbeda itu dengan faham yang sedang kita yakini. Setelah itu, paham yang memiliki argumentasi yang paling kuat, itulah yang kita praktekan kedepannya.

Bagi pembaca yang masih jomlo, tulisan ini saya harapkan bisa menjadi inspirasi untuk melakukan pacaran dengan cara yang sehat dan tidak melanggar etika pergaulan yang Islami. Insya Allah, saya akan menjelaskannya di akhir-akhir tulisan ini.

Dosen mata kuliah teori akuntansi saya, pak Suwardjono, mendoktrin saya dengan berkata, “Praktek yang sehat harus dilandasi oleh teori yang kuat.” Hal ini senada dengan semboyan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, “Berilmu amaliah, beramal ilmiah.” Dan sejalan pula dengan nasehat almarhum Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengurutkan: ilmu-amal-dakwah-sabar dalam menjalani proses (sabar dalam mencari ilmu, mengamalkan ilmu, dan berdakwah).

Oleh karena itu, sebelum kita melakukan sebuah hubungan pra-nikah, kita harus belajar terlebih dahulu tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hal tersebut. Setelah itu, dalam menjalani praktek hubungan pra-nikah harus dilandari atau sesuai dengan ilmi-ilmu yang sudah kita pelajari.

Tahap selanjutnya adalah, kita JANGAN menyembunyikan ilmu yang sudah kita dapat dari proses belajar kita dan dari proses pengalaman praktek kita. Kita sebarkan ilmu yang kita punya kepada orang lain yang membutuhkannya. Dalam menjalani semua proses ini, kita harus sabar, lalui setiap tahap dengan tekun dan istiqamah. Dan jangan lupa untuk selalu bersyukur atas setiap tahap yang berhasil kita lalui. Dan yang terpenting adalah kita menjalani proses ini dengan tujuan untuk mendapat ridho, petunjuk, dan rahmat Allah SWT.

Tulisan ini hanyalah pengembangan dari wacana pacaran Islami melalui perspetif  saya, pengalaman saya dan pengalaman teman-teman saya. Kalau Anda punya pendapat yang berbeda dengan saya, atau tambahan pengembangan wacana ini, komentar, saran, kritik, atau apapun silahkan menuliskannya di kolom komentar. Saya sangat mengharapkan tulisan komentar Anda ditulisan dengan kalimat yang santun, ada argumentasinya, dan tidak melakukan penilaian sebelum membaca seluruh tulisan ini.

SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam tulisan saya kali ini, saya akan membahas tentang urgensi dan tujuan dari hubungan pranikah yang di perintahkan oleh Nabi Muhammad SAW beserta strategi bagaimana mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut merupakan tema dari tulisan ini.

Untuk membantu memudahkan pemahaman pembaca, saya menggunakan istilah pacaran untuk menggantikan istilah hubungan pranikah. Adapun alasannya, saya jelaskan ketika membahas asumsi yang dipakai. Setelah membahas asumsi yang dipakai dalam tulisan ini, saya melanjutkan pembahsan mengenai definisi pacaran dengan tujuan untuk menyamakan pemahaman pembaca mengenai makna pacaran dalam tulisan ini sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran. Selanjutnya, saya membahas tentang perbedaan pacaran dengan ta’aruf, definisi pacaran Islami, hukum pacaran dalam Islam, bentuk pacaran Islami, contoh pacaran Islami, kisah pengalaman pribadi, dan diakhiri dengan bentuk pacaran Islami yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA.

Tema dari tulisan ini dijelaskan lebih detail ketika saya menjelaskan tentang bentuk pacaran Islami. Untuk lebih memperjelas bentuk pacaran Islami, saya akan membuat sebuah ilustrasi contoh pacaran Islami.

ASUMSI YANG DIPAKAI

Sebelum saya merumuskan asumsi yang dipakai dalam pembuatan tulisan ini, maka terlebih dahulu saya akan sedikit bercerita secara singkat kisah yang saya alami yang menjadi dasar atau latar belakang bagi saya dalam merumuskan asumsi yang akan dipakai.

Sewaktu saya masuk orginisasi rohis (kerohanian siswa) di SMA, pebimbing  rohis saya ketika itu seorang mahasiswa. Dia selalu menyerukan bahwa pacaran itu haram atau Islam tidak mengenal pacaran. Begitu juga murobi saya ketika SMA juga menyatakan pacaran itu haram. Senior saya di rohis tersebut juga menyatakan pacaran itu haram.

Tetapi terjadi suatu keanehan. Pebimbing rohis, sebut saja namanya Kang Cepi dan seorang senior saya, sebut saja Kang Dedi, mereka melakukan hubungan yang spesial dengan dua orang teman rohis saya. Ketika ditanya, apakah mereka pacaran, mereka tegas menjawab bahwa mereka tidak pacaran. Mereka selalu menjawab bahwa hubungan mereka itu namanya “hitbah”.

Ketika itu, saya sangat dekat dengan Kang Dedi. Dia sering tidur di rumah saya. Kami sering kemana-mana bersama. Oleh kerena itu, saya banyak tahu apa yang dilakukan dia dengan akhwat spesialnya, sebut saja namanya Teh Mulan. Lalu saya membuat pemetaan perbedaan pacaran dengan hitbah, kira-kira seperti ini:
kalau dalam pacaran, ada aktivitas duduk berdekatan sambil ngobrol, ada adegan bergandengan tangan, boncengan, atau jalan bereng berdekatan. Kalau dalam hitbah, ngobrolnya berjauhan, kalau jalan bareng, juga menjaga jarak. Ngobrolnya di dalam mushola sekalah dengan menjag jarak.
baik pacaran maupun hitbah sama-sama ada aktivitas saling telpon-telponan (dulu mereka belumpunya hp jadi ga ada sms-an). Cuma bedanya, isi dari apa yang mereka obrolkan. Kalau pacaran, yah seperti itulah ga perlu saya jelaskan kalian pasti tahu. Kalau hitbah, sama ada saling canda tawa, tetapi ada juga saling memberi tausyiah, semangat, saling mengingatkan. Misalnya, “sudah sholat tahajud belum?”, “hari ini sudah tilawah berapa halaman”, dan lain-lain, mungkin Anda semua bisa menebaknya apa saja yang sering mereka saling ingatkan.
kalau pacaran, akadnya “mau ga kamu jadi pacarku?” kalau hitbah, akadnya “Aku mencintai kamu karena Allah, aku ingin menghitbahmu, maukah kamu kuhitbah?”

Anda bisa membedakannya kan? Setelah saya kuliah, lalu saya juga aktif di beberapa lembaga dakwah yang dikelola mahasiswa. Saya menemukan hal yang mirip dengan hitbah. Hanya saja kebanyakan tanpa akad, tetapi aktivitas didalamnya sangat mirip dengan konsep hitbah yang saya jelaskan diatas. Biasanya kami mengistilahi dengan istilah “hubungan tanpa status” atau “Adik tapi mesra”. Kalau si ikhwan dan si akhwat ketemu, mereka ngobrol dengan menjaga jarak. Tetapi mereka sering saling kirim sms tausyiah, sms saling mengingatkan, saling curhat, saling bercanda, kalau sms-an tidak boleh lebih dari jam 10 malam, dan diam-diam mereka berjanji untuk meneruskan hubungan mereka kedepan menuju pernikahan. Kalau ditanya pada mereka tentang pacaran, mereka dengan lantang dan tegas menjawab, “pacaran itu haram dan tidak ada dalam Islam.” Mereka juga sering mengistilahi aktivitas mereka ini dengan istilah “Ta’aruf”. Mereka selalu bersikeras bahwa ta’aruf itu beda dengan pacaran. Aku selalu menjawab dalam hati “terserah kalianlah mau pakai istilah apa.”

Saya punya teman, anggap saja namanya Mas Sang, dia selalu dengan tegas menyatakan bahwa dalam Islam tidak mengenal pacaran atau tidak ada itu pacaran Islami, pacaran Islami itu cuma mengada-ngada saja. Saya menghargai pendapatnya itu. Beberapa bulan terakhir ini, saya sering melihat dia jadi sering sekali sms-an, saya coba berbaik sangka mungkin hanya sms-an dengan teman. Terus saya juga sering memergoki dia telpon-telponan dengan seorang akhwat (saya tahu karena speaker hp-nya agak keras, sedikit terdengar suara akhwat kalau saya ada tak jauh duduk di sampingnya yang sedang telponan). Saya juga coba baik sangka mungkin hanya temannya. Suatu ketika, ketika hendak membayar di kasir sehabis makan bareng, dia membuka dompetnya, saya melihat dengan jelas ada foto akhwat di dompetnya. Lalu saya bertanya, siapa wanita yang ada didompetnya, dia menjawab, “adik ipar saya”. Sebuah jawaban yang aneh, super aneh sekali karena adiknya belum menikah. Lebih baik saya berbaik sangka saja bahwa ucapannya benar, tidak ada pentingnya bagi saya mau dia berkata jujur atau bohong. Tiba-tiba, saya mendengar kabar dari seorang teman, bahwa dia sudah punya calon istri dan sudah ketemu dengan calon mertunya. Lalu saya coba melakukan komfirmasi, dia mengelak berita tersebut. Yah sudah lah. Tetapi akhirnya dia mengaku juga bahwa berita itu benar, dia sudah punya calon, dan dia sudah sangat ingin menikahinya hanya saja belum ada restu dari orang tua. Ketika ditanya apa mereka pacaran, dia menjawab, bahwa dia tidak pacaran. Dalam hatiku bertanya, “Lalu apa namanya bentuk hubungan yang kalian lakukan selama ini kalau bukan pacaran? Ta’arufkah? Hitbahkah? Tanazurkah? Hubungan tanpa status? Adik tapi mesra? Atau bentuk hubungan tanpa nama? Terserah kamulah mau pakai istikah apa.”

Menurut saya, yang terpenting itu bukan istilah yang dipakai, tetapi substansi dari apa yang dilakukan. Mau itu diistilahi pacaran, ta’aruf, hitbah, tanazur, hubungan tanpa status, adik tapi mesra, kakak tapi mesra, Adik Ketemu gede, atau apalah itu, menurut saya itu tidak penting. Suatu hal mungkin orang-orang menamainya berbeda-beda, meskipun substansi didalamnya mungkin sama saja.

Sebenarnya saya tidak mau terjebak dalam perdebatan dalam perbedaan istilah yang digunakan. Terserah mau menamai sebuah bentuk hubungan itu dengan istilah pacaran, ta’aruf, hitbah, atau apapun itu. Dalam tulisan saya terdahulu, saya lebih senang menggunakan istilah hubungan pra-nikah karena tidak mau masuk dalam perbedaan/perdebatan penggunaan istilah. Yang saya pikirkan adalah substansi harus lebih dipentingkan dan didahulukan daripada penggunaan istilah. Terserah orang-orang mau menamainya apa, yang penting konsep, dasar, dan bentuknya jelas.

Adapun pemakaian kata pacaran dalam tulisan ini, hanyalah untuk memudahkan pembahasan, karena istilah pacaran lebih mudah dipahami oleh kalangan awam maupun kalangan aktivis dakwah. Istilah ini hanyalah sebagai alat bantu menjelaskan saja bukan substansi dari apa yang saya tulis.

Saya sadari bahwa pengertian atau makna pacaran itu beraneka ragam, seseorang mungkin memaknai pacaran berbeda dengan orang lain. Oleh karena itu, supaya pemahaman para pembaca tulisan ini sama dalam memahami makna istilah “pacaran” yang ada di tulisa ini, maka saya akan merumuskan pengertian pacaran menurut saya dimana istilah tersebut akan banyak Anda ditemukan dalam tulisan ini. Jadi makna istilah pacaran yang dimaksud dari tulisan ini adalah seperti yang saya akan rumuskan. Kalau pembaca punya pengertian yang berbeda dengan yang saya rumuskan, itu sah-sah saja tetapi ketika membaca tulisan ini, makna “ pacaran” yang dimaksud adalah seperti yang akan saya rumuskan, bukan makna pacaran yang Anda pahami. Sekali lagi saya tegaskan bahwa asumsi pengertian pacaran yang digunakan dalam tulisan ini adalah seperti yang saya rumuskan.

DEFINISI PACARAN

Kesimpulan saya setelah mempelajari hal ini adalah sebenarnya pihak yang menentang pacaran Islami atau pendukung pacaran islami, intinya tuh sama hanya tertadi perbedaan pendefinisian atau pemaknaan atau penafsiran istilah “pacaran”. Definisi pacaran itu banyak sekali. Tergantung sudut pandang mana orang yang mendefinisikan atau menafsirkannya. Perbedaan definisi bisa mengakibatkan perbedaan dalam kesimpulan apakah pacaran itu boleh atau tidak.

Menurut pengamatan saya setelah mempelajari hal ini, ada dua cara/ perspektif secara umum yang digunakan orang dalam melakukan pendefinisian istilah pacaran. Pertama, mendefinisikan “pacaran” dari realitas yang terjadi di lapangan; dan yang kedua, melakukan pendefinisian “pacaran” dari asal kata pacaran itu sendiri.

Berikut ini saya kutipkan pengertian pacaran menggunakan cara pertama, pacaran adalah: (selengkapnya baca http://wppi.wordpress.com/2007/11/25/definisi-pacaran-sangat-jelas/)

1. “Pacaran adalah aktivitas menumpahkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis.” (JNC: 58)

2. “Pacaran adalah hubungan antara cowok dan cewek yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar”. Demikian definisi yang dikemukakan Reiss dalam buku Marriage and Family Development karangan Duval and Miller, keluaran tahun 1985″

3. “Disebut “berpacaran” itu adalah ketika hubungan diantara mereka ditandai dengan “keintiman”, “perasaan cinta”, dan yang terpenting “saling mengakui pasangan sebagai pacar”

4. “Pacaran yang nggak jelas definisinya itu, sebenarnya cuma ekspresi … perasaan ‘suka’ pada lawan jenis, terus ditindaklanjuti dengan perilaku-perilaku yang dianggap romantis dan kemudian publik memberikan pengakuan si A pacaran dengan si B, si A pacarnya si B.” (KHP: 113) “Pokoknya yang namanya pacaran tuh, hubungan laki-laki perempuan yang bukan muhrim dalam sebuah komitmen selain Nikah! Titik.” (KHP: 114)

5. “pacaran adalah aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Islam (haram).” (JNC: 71)

6.KBBI, kamus resmi bahasa kita. Buku PIA mengungkap: “Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar]. Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.” (PIA: 19) “Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.” (PIA: 20)

7. “Pacaran adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (antara lain dengan saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditetapkan bersama) dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap (yang hubungannya berdasarkan cinta-kasih). Singkatnya, pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap.”

Dan masih banyak lagi. Beda orang atau beda lembaga, beda juga dalam mendefinisikan pacaran kalau kita menggunakan cara yang pertama ini karena beda orang beda juga sudut pandang yang digunakan.

Sedangkan pengertian pacaran dengan cara kedua adalah sebagai berikut:
“Kata “pacar” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno). Artinya: “calon pengantin“. Kata ini kemudian mendapat akhiran “-an” yang bermakna kegiatan. Jadi, pacaran adalah “aktivitas calon pengantin” atau aktivitas persiapan menikah.” Kalau kita gabungkan menjadi: “aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan.”
selengkapnya baca http://pacaranislami.wordpress.com/2008/07/05/pacaran-sesudah-menikah-lebih-nikmat/

http://thesecretgardenofme.multiply.com/journal/item/3/Arti_Nama_dalam_Bahasa_Kawi

Kalau saya sendiri lebih cocok menggunakan cara kedua karena maknanya lebih pasti. Oleh karena itu, saya mendefinisikan pacaran seperti cara kedua yaitu “aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan.”

PACARAN VS TA’ARUF

Orang yang mengharamkan pacaran lebih senang menggunakan istilah ta’aruf daripada pacaran untuk mengistilahi aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan. Saya kurang sependapat karena kata ta’aruf artinya saling kenal. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Jadi, istilah ta’aruf itu lebih luas yaitu saling kenal dengan siapapun, baik itu sesama laki-laki, sesama perempuan atau laki-laki dengan perempuan. Istilah ta’aruf itu istilah yang sangat umum. Hanya dalam lingkungan para aktivis dakwah di Indonesia yang mengharamkan pacaran, istilah ta’aruf itu maknanya dipersempit jadi perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan menikah atau taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.

Saya lebih senang menggunakan istilah pacaran daripada ta’aruf karena:
1. makna pacaran lebih khusus daripada ta’aruf. Pacaran lebih khusus dilakukan oleh orang yang mau menikah sedangkan sedangkan ta’aruf maknanya lebih umum karena boleh dilakukan oleh siapa saja dengan tujuan yang tidak hanya untuk menikah.
2. Dalam aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan tidak hanya ada aktivitas saling kenal, tetapi didalamnya ada aktifitas untuk bisa saling memahami, aktivitas mencari hal-hal yang bisa menimbulkan rasa cinta, ada aktivitas mencari informasi tentang si “dia”, dan aktivitas saling pengertian. Insya Allah saya akan jelaskan lebih lanjut tentang hal ini.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang ngaku-ngaku pacaran yang dilakukan oleh kebanyakan muda mudi dewasa ini? Berarti mereka bukan pacaran? Lalu apa?

Menurut saya, tergantung tujuannya. Apakah yang mereka lakukan itu untuk tujuan pernikahan atau bukan. Kalau bukan untuk tujuan menuju pernikahan, menurut saya bukan pacaran karena melanggar arti kata pacar itu sendiri yaitu calon pengantin. Kalau si Ahmad mengatakan “si Siti adalah pacarku” sama saja artinya dia berkata “si Siti adalah calon pengantinku.” Menurut saya itu sama juga artinya dengan “si Siti adalah calon istriku”. Saya pikir, kalau orang sudah berkata seperti itu, berarti dia sudah ada tujuan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Kalau ternyata tidak ada niatan dari kedua pihak untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, menurut saya itu bukan pacaran tetapi “pacar-pacaran”,  makna pengulangan kata berakhiran -an dalam kata tersebut sama dengan makna dalam kata “mobil-mobilan” atau “rumah-rumahan”.

DEFINISI PACARAN ISLAMI

Lalu adakah pacaran yang Islami?
Makna pacaran yang saya ambil yaitu aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan, sebenarnya maknanya masih sangat umum, dalam artian, aktivitas tersebut bisa dilakukan dengan melanggar kode etik pergaulan pria-wanita bukan muhrim yang Islami (berduaan ditempat yang sepi, berciuman, ngobrol yang tidak bermanfaat, berpelukan, dan lain-lain) atau dilakukan dengan tidak melanggar ketentuan kode etik tersebut.

Oleh karena itu, saya mempersempit makna pacaran dengan menambahkan kata Islami dibelakangnya. Sehingga saya membuat definisi pacaran islami adalah aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan yang dalam melakukan aktivitasnya tersebut tidak melanggar kode etik pergaulan pria-wanita bukan muhrim yang Islami.

HUKUM PACARAN

Pacaran termasuk perkara muamalah (keduniawian), dimana ulama usul fiqih sepakat bahwa dalam setiap perkara muamalah berlaku kaidah bahwa hukum asal dalam muamalah adalah mubah (diperbolehkan), kecuali terdapat nash yang shahih dan sharih melarangnya. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu (dalam hal muamalah) itu dilarang sepanjang belum/ tidak ditemukan nash yang secara shahih dan sharih (secara jelas) melarangnya.

Kita tidak bisa mengatakan pacaran itu haram sebelum ada nash yang shahih dan sharih yang melarangnya. Sampai saat ini, saya belum menemukan dalil yang secara shahih dan sharih yang melarang pacaran.

Tetapi ingat, dalam kajian masalah muamalah tidak berhenti sampai disini. Ada kaidah-kaidah usul fikih lain yang harus diperhatikan atau dijadiklan parameter apakah suatu perkara muamalah itu haram, makruh, mubah, atau halal. Apa saja kaidah usul fikih itu? Sangat banyak sekali, kadang kala redaksi satu ulama usul  fikih dengan ulama usul fikih lain berbeda tetapi memiliki makna atau tujuan yang sama. Dalam kesempatan ini, saya akan sebutkan sebagiannya saja yang menurut pendapat saya sangat relevan dengan pembahasan ini.
Pada dasarnya semua bentuk muamalah (perkara yang sifatnya keduniawian) boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.
menghindarkan mafsadat (kerusakan atau bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.
Segala Bahaya (beban berat atau kerugian) harus dihilangkan.
Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat mungkin
Di mana terdapat kemaslahatan, disana terdapat hukum Allah.
Kesulitan itu dapat menarik kemudahan
Keperluan itu dapat menduduki posisi darurat
Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syariat)
Sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib ada

Satu hal lagi yang harus dijadikan perhatian dalam kajian fikih muamalah. Bahwa hukum atas sesuatu hal itu didasarkan bukan pada definisi dari sebuah istilah tetapi didasarkan pada substansi dari istilah. Contohnya, istilah makan. Kita tidak bisa mengatakan makan itu haram atau halal sebelum melihat substansi dari apa yang dia makan, apakah yang dimakan itu daging babi atau nasi? apakah nasi itu didapat dengan cara usaha yang halal atau haram? Contoh lain, membunuh, tidak bisa dikatakan hukumnya haram sebelum melihat substansi apa yang dibunuh. Kalau membunuh nyamuk penyebab demam berdarah atau  malaria, malah hukumnya wajib.

Begitu juga dengan pacaran. Kita tidak bisa mengatakan pacaran itu haram atau mubah sebelum mengetahui substansi dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam aktivitas pacaran itu sendiri. Oke saya akan memberikan contoh tentang masalah ini. Kalau kamu berpendapat bahwa pengertian pacaran itu adalah aktivitas menumpahkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis (lihat pembahasan definisi pacaran yang telah saya bahas diatas nomor 1), pengertian ini belum menggambarkan substansi dari perbuatan-perbuatan seperti apa yang dilakukan untuk menumpakhkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis. Penumpahan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis yang bukan mahram bisa dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama (seperti berduaan, berpelukan, atau berciuman) atau dengan tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama. Jadi pengertian ini belum menggambarkan substansi dari pacaran sehingga belum bisa disimpulkan apakah pacaran itu haram atau halal. Begitu juga dengan definisi nomor 2, 3, 4, dan 6 (yang saya jelaskan diawal pembahasan tulisan ini).

Tetapi kalau Anda sependapat dengan pendefinisian pacaran dipoin 5 yaitu aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Islam (haram), definisi ini sudah menjelaskan substansi dari perbuatan yang ada dalam pacaran yaitu perbuatan-perbuatan baku syahwat yang dilarang oleh Islam. Jelas kalau definisi pacaran seperti ini, saya dan Anda sepakat bahwa pacaran itu haram.

Lalu bagaimana dengan Pacaran Islami dengan asumsi definisi pacaran Islami seperti yang saya buat? Silahkan Anda simpulkan sendiri setelah selesai membaca semua tulisan ini karena sebelum kita menyimpulkan sebuah hukum, kita harus mengetahui segala sesuatu hal yang berkaitan dengan apa yang mau dihukumi tersebut (dalam hal ini pacaran Islami) terutama masalah substansinya. Jadi, jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.

BENTUK PACARAN ISLAMI

Menurut saya, setelah mempelajari masalah ini, menyimpulkan bahwa tujuan pacaran islami adalah: pertama, seseorang melakukan pacaran Islami bertujuan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pacarnya; dan yang kedua, tujuan kedua ini merupakan turunan dari tujuan pertama, atau lebih khusus dari tujuan pertama, yaitu mencari hal-hal yang ada di diri pacarnya yang membuat dia mencintainya dan berminat menikahinya. Kalau seseorang sudah mengetahui hal-hal tersebut, maka langkah selanjutnya, dia harus membuat sebuah keputusan apakah mau melanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak melanjutkan hubungan (putus). Bila keputusannya tidak melanjutkan hubungan, dia haram hukumnya menyebarluaskan apa-apa yang sudah dia ketahui mengenai mantan pacarnya kepada orang lain tanpa seizin dari  mantan pacarnya karena hal tersebut bisa masuk pada kategori ghibah yang dilarang.

Tujuan Pertama, Mencari Informasi Sebanyak-banyaknya
Tujuan pertama ini didasarkan pada dua hal:
Di zaman nabi, pernah ada seorang pemuda muslim datang kepada beliau seraya berkata, “Saya telah meminang seorang wanita anshor.” Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau telah melihatnya?” dia menjawab, “belum.” Beliau bersabda, “lihatlah kepadanya, karena pada mata orang-orang Anshor itu (biasanya) ada sesuatu (cacat).”

Selain itu, Al Mughirah bin syu’bah pernah meminta izin atau memberi tahu kepada nabi SAW bahwa dia hendak meminang seorang wanita, lalu nabi SAW bertanya, “Apakah engkau telah melihatnya?” dia menjawab, “Belum.” Kemudia beliau bersabda, “Lihatlah dia, karena yang demikian itu lebih menjamin untuk melangsungkan hubungan kamu berdua.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Satu lagi, diriwayatkan dari jabir bin Abdullah r.a. bahwa dia bercerita tentang istrinya setelah dinikahinya, katanya, “Sesungguhnya saya dulu bersembunyi dibawah pohon untuk melihatnya (istrinya), sehingga saya dapat melihat sebagian dari sesuatunya yang dapat mendorong saya untuk mengawininya.”

Banyak sekali berita yang menceritakan dimana setelah menikah salah satu pasangan mengalami penyesalan atau mengeluhkan pasangannya yang tidak sesuai harapannya. Misalnya ternyata sang suami selalu berlaku kasar, sering marah-marah, atau tukang selingkuh. Atau suaminya melarangnya bekerja padahal dia ingin jadi wanita karir yang sukses juga dalam mengus keluarga. Atau ada juga yang mengeluh karena ternyata istrinya ga bisa masak atau materialistis. Nah karena itulah, untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan inilah maka sebelum memutuskan menikahi seseorang, carilah informasi sebanyal-banyaknya tentang pacar.

Kata “melihat” bisa dimaknai sebagai memperhatikan dengan sungguh-sungguh untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang si dia. Diantara informasi yang perlu diketahui yang disarankan Nabi dalam sabdanya diatas adalah cacat dari pacar kita. Cacat disini bisa dimaknai sebagai cacat fisik, kelemahan dia, atau kebiasaan jelek..Setelah mengetahui semua ini, tanyakan pada diri sendiri, “apakah saya siap menerima seorang istri/ suami dengan memiliki keterbatasan dalam………….” kalau jawabannya tidak, lebih baik tidak meneruskan hubungan, tetapi bila jawabannya bisa menerima, lanjutkan pada pertanyaan, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bisa merubah kekurangannya itu, atau menutupi cacatnya itu?”

Misalnya, kita dapat informasi, ternyata pacar Anda itu suka ngorok kalau tidur. Apakah Anda bisa menerimanya? Kalau Anda sudah terbiasa tidur dalam situasi ribut, ya tidak masalah, tetap kalau Anda tipe orang yang tidak bisa tidur dengan orang yang ngorok, coba Anda pikir-pikir lagi. Apakah Anda mau seumur hidup ga bisa tidur nyenyak karena mendengar ngorok suami/ istri Anda? Atau anda mengakalinya misalnya membeli alat untuk menutup telinga ketika tidur, atau mengatantarkan suami/ istri Anda nantinya berobat.

Tidak ada manusia yang sempurna. Justru dengan pernikahan itulah waktunya saling mengisi kekuranga, saling melengkapi, dan saling menutupi cacat pasangan kita.

Selain informasi cacat, kita juga sebaiknya mengetahui informasi tentang potensi, minat, bakat, kebiasaan baik, lingkungan dimana dia biasanya menghabiskan waktu, keadaan teman-teman dekatnya, dan lain-lainya yang menurut Anda perlu untuk diketahui.

Bagaimana cara mengetahui informasi-informasi ini? Cara ini bisa dilakukan dengan cara:
Observasi
Mengobrol langsung
Bertanya pada orang yang ada disekitarnya

Observasi
Langkah observasi ini bisa dilakukan seperti yang dilakukan sahabat nabi, Jabir bin Abdullah (lihat hadis diatas) yang bersembunyi dibawah pohon atau dengan cara lainnya. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diobservasi, yaitu “si Dia”, teman-temannya, dan lingkungan dimana si dia lebih banyak menghabiskan waktu. Yang harus kita teliti, seperti apa akhlaknya, kepribadiannya, prilakunya, dia berteman dengan siapa saja, lingkungannya seperti apa, atau hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk diteliti dengan cara observasi.

Bolehkah melihat rambut wanita yang akan dipinang? Dalam buka fatwa-fatwa syaikh Nashiruddin Al Albani, beliau memperbolehkan seorang laki-laki yang ingin meminang wanita, untuk melihat rambut wanita tersebut dengan syarat tanpa sepengetahuan si wanita. Tetapi jika dengan sepengetahuan si wanita, maka yang boleh dilihat adalah hanya muka dan kedua telapak tangannya. Beliau berdalil dengan sabda Rasulullah, “Jika terbersit dalam hati kalian (keinginan) untuk melamar seorang wanita, maka hendaklah ia memandang sesuatu yang bisa mendorongnya untuk menikahi wanita tersebut.”

Saya pikir, tidak perlu saya jelaskan lebih rinci tentang masalah ini karena tiap orang punya cara sendiri-sendiri dan parameter yang berbeda dalam melakukan observasi.

Ngobrol Langsung
Sebaiknya ketika ngobrol langsung, tidak berduaan ditempat sepi. Alangkah baiknya ditemani salah satu mahram dari pihak perempuan. Ada beberapa ulama seperti Syeikh Prof. Abdul Halim Muhammad Abu Suqqah, dalam bukunya (yang terjemahan berbahasa Indonesia) berjudul Kebebasan Wanita yang diterbitkan Gema Insani Press, dimana beliau memperbolehkan laki-laki dan perempuan bukan mahram ngobrol berduaan dengan syarat di tempat yang masih bisa dipantau atau dilihat orang lain.

Hal-hal yang diobrolkan sebaiknya hal-hal yang penting saja, seperti tentang diri masing-masing, diskusi tentang hal-hal berkaitan dengan rumah tangga, komitmen dalam membangun rumah tangga, konsep keluarga, dan lain-lain.

Bolehkah bercanda? Kalau hanya untuk menyegarkan suasana, tidak terlalu masalah, tetapi harus tetap memperhatikan etika Islami dalam bercanda atau bergurau (Ingat, Islam mengatur sangat ketat mengenai hal ini, insya Allah saya akan membahas tentang masalah ini ditulisan yang akan datang).

STOP, JANGAN dulu mengumbar rayuan atau godaan pada si dia. Ingat, dia belum sah menjadi istri atau suami Anda.

Bolehkah sms-an? Kalau ngobrol saja boleh, apalagi sms-an. Tetapi tetap menjungjung etika Islami dalam mengobrol dengan non-mahram yang belum dinikahi.

Saya lebih menyarankan obrolan itu lebih banyak diskusi. Ada beberapa tema diskusi yang saya sarankan diantaranya: tentang poligami, Istri boleh bekerja atau tidak, konsep rumah tangga, dimana keluarga akan tinggal, konsep mendidik anak, konsep hak dan kewajiban suami-istri, dan tentang manajemen keuangan keluarga.

Hasil dari diskusi-diskusi tersebut, bisa dijadikan bahan untuk melakukan pengambilan keputusan apakah mau menerima dia atau tidak. Tetapi harus diingat, kalau terjadi perbedaan pendapat dalam hal-hal yang bukan masalah prinsip, saya pikir hal ini bukan hal yang jadi pertimbangan untuk menolaknya.

Sebelum melakukan pernikahan, sebaiknya melakukan kesepakatan-kesepakatan atau menyamakan persepsi mengenai hal-hal yang didiskusikan tersebut sehingga setelah pernikahan tidak terjadi penyesalan di antara kedua belah pihak dan kalau terjadi sebuah permasalahan atau perbedaan pendapat setelah menikah bisa merujuk pada kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat tersebut.

Misalnya, si suami tiba-tiba meminta izin untuk menikah lagi. Kalau sebelumnya sudah ada kesepakatan tidak ada poligami dimana sebelum menikah si istri menyatakan tidak mau dimadu dan si suami berjanji tidak akan poligami, si istri bisa menagih janji yang telah dibuat si suami.

Atau tiba-tiba suami menyuruh istri berhenti bekerja, padahal sebelum pernikahan, mereka sepakat bahwa istri boleh bekerja selama tugas-tugas sebagai seorang istri tetap bisa dijalankan dengan baik.

Bertanya pada orang-orang terdekatnya
Siapa saja? Bisa bapaknya, ibunya, adiknya, kakaknya, teman-temannya, sahabatnya, bahkan kalau ada sama musuhnya. Tentunya kalau ngobrol sama musuhnya, jangan langsung dipercaya karena kemungkinan dia akan melakukan hiperbola masalah atau hanya menceritakan hal-hal yang jeleknya saja dari diri si dia.

Tujuan kedua, Mencari Hal-hal yang Bisa Mendorong Minat Menikahinya
Tujuan kedua ini berdasarkan pada:
Sabda Nabi saw, “Apabila salah seorang di antara kamu meminang seorang wanita dan hendak mengawininya, maka hendaklah dia melihat sebagian dari apa yang bisa mendorongnya untuk mengawininya.”
Kisah jabir bin Abdullah yang berkisah tentang istrinya, “Sesungguhnya saya dulu bersembunyi dibawah pohon untuk melihatnya (istrinya), sehingga saya dapat melihat sebagian dari sesuatunya yang dapat mendorong saya untuk mengawininya.”
Sebelum kita memutuskan menikahinya, kita harus tahu dulu hal-hal apa saja yang kita sukai yang ada pada diri si dia. Misalnya (INGAT, ini hanya rekayasa khayalan hiperbola saya walau berdasar pengalaman-pengalaman nyata), aku suka sama si Hidayah karena ke-sholehah-annya. Saya mengetahui itu setelah melakukan observasi, dan wawancara dengan keluarganya dan teman-temannya. Disamping itu juga, dia jago masak. Saya pernah merasakan masakan yang dibuatnya. Dia juga orangnya bijaksana, itu terlihat ketika saya berdiskusi dengannya. Wajahnya ga cantik-cantik amat, biasa saja, tetapi tidak membosankan. Meskipun dia seorang aktivis partai yang saya kurang senangi, tetapi itu bukan masalah yang prinsip bagi saya. Yang sangat membuat saya ingin menikahinya karena dia orangnya periang dan menyenangkan. Hal ini sangat penting dan berguna ketika suatu hari nanti saya pulang kerja dengan badan yang lelah dan pikiran yang berat, ketika bertemu dengan istri yang periang dan kedatangan saya disambutnya dengan senyuman yang indah, insya Allah bisa membuat saya jadi bugar kembali dan pikiran saya jadi segar kembali. Satu hal lagi yang membuat saya mantap adalah dia tipe wanita yang kemungkinan bisa membuat saya semakin mencintai Allah, Rasul-Nya dan jihad dijalan-Nya. Saya menegtahui hal ini setelah melalui observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dibinanya, mereka mengalami peningkatan ruhiah setelah dibimbing dan dibina olehnya. Dia bisa melakukan itu karena ilmu-nya yang dalam dan teladan yang diperlihatkannya pada orang yang di binanya.  Oleh karena itu saya memutuskan untuk meminangnya secepatnya (INGAT, ini hanya rekayasa khayalan hiperbola saya walau ada beberapa hal yang berdasar pengalaman-pengalaman nyata saya. Hanya untuk sebagai contoh saja).

CONTOH PACARAN ISLAMI (dari tahap seleksi sampai memutuskan meminag)

Contoh yang saya tuliskan disini hanyalah sebagai ilustrasi saja untuk memudahkan memahami konsep yang sudah saya jelaskan diatas. Anda boleh menirunya atau tidak. Dalam memutuskan apakah mau meniru ilustrasi ini atau tidak, Anda harus menyesuaikan dengan situasi, kondisi, kepribadian Anda dan siapa target Anda. Mungkin ilustrasi ini cocok untuk seseorang dan mungkin juga tidak cocok. Anda boleh mengembangkannya sendiri praktek dari pacaran Islami menurut Anda hanya dengan syarat tidak melanggar etika yang Islami. Adapun ilustrasi ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman teman-teman saya yang berhasil saya amati.

Anggaplah ada seorang cowo bernama Aji dan cewe bernama Rahma. Suatu ketika, si Aji merasa sudah siap untuk menikah, tetapi dia belum punya calon. Maka dia mencoba melakukan observasi terhadap teman-teman ceweknya. Dia juga meminta tolong kepada temannya untuk dikenalkan dengan teman dari temannya tersubut yang kira-kira cocok dengan dia.

Singkat cerita, akhirnya dia merasa cocok dengan cewe yang bernama Rahma. Lalu dia mengajak seorang teman untuk menemaninya bertemu dengan Rahma di rumah Rahma untuk menyatakan maksud hatinya. Akhirnya mereka sampai dirumah Rahma. Awal pertemuan, mereka mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang dengan tidak lupa melakukan sedikit basa basi. Lalu si Aji berkata, “Rahma, saya ingin melamar kamu. Tetapi sebelum itu, saya ingin kita saling mengenal dan memahami lebih dalam satu sama lain dulu sebelum memutuskan untuk bertunangan,  supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Rahma, kamu pasti belum mengenal saya lebih dalam dan begitu juga saya. Saya hanya tahu kamu sedikit. Andai setelah masa saling mengenal dan memahami ini selesai dan saya merasa mantap dengan kamu, saya akan melamar kamu dan bila kamu juga merasa mantap dengan saya maka kita menikah. Tetapi kalau kalau tidak merasa mantap dengan saya, kamu boleh menolak lamaran saya dan saya berjanji tidak akan membocorkan segala informasi tentang kamu yang telah saya dapatkan tanpa seizin kamu, apabila saya membocorkan, saya siap dilaporkan kepolisi dengan uduhan pencemaran nama baik.” Setelah itu, Rahma berkata, “berapa lama kita melakukan hal itu?” lalu si Aji menjawab, “yah seperlunya saja. Mungkin kira-kira sekitar minimal 1 bulan dan maksimal 3 bulan, gimana menurutmu?” lalu Rahma menjawab, “ya aku siap, tetapi kamu harus minta izin dulu sama orang tua saya biar jalannya hubungan kita lebih berjalan lancar.” Setelah itu Rahma memanggil orang tuanya lalu Aji menceritakan semua rencana yang diobrolkan dengan Rahma tadi kepada orang tua Rahma beserta alasannya dan akhirnya orang tua Rahma menyetujui rencana tersebut.

Sejak saat itu, malam-malam Aji dan Rahma dihiasi dengan sholat malam dan sholat istiharah. Dengan cara sms-an, telponan, atau ketemu langsung mereka memulai sebuah perkenalan dan saling keterbukaan tentang profil masing-masing pribadi. Mereka juga saling menceritakan cita-cita mereka masing-masing dan saling menanggapi atau memberikan komentar terhadap cita-cita tersebut. Sampai timbul sebuah komitmet kalau mereka ditakdirkan menikah, mereka akan saling mendukung untuk mencapai cita-cita masing-masing. Selain masalah cita-cita, mereka juga saling keterbukaan tentang potensi yang dimiliki masing-masing dan keterbatasan yang dimiliki masing-masing. Lalu mendiskusikan apakah masing-masing pihak bisa menerima potensi dan keterbatasan yang dimiliki pihak lainnya. Lalu membicarakan dan saling mengomentari kebiasaan baik dan kebiasaan jelek masing-masing mereka dan mendiskusikan bagaimana mengatasi kebiasaan-kebiasaan tersebut andai mereka menikah nanti.

Mereka juga mendiskusikan beberapa tema seperti tentang keluarga seperti konsep keluarga yang akan dibangun, istri sebagai wanita karier, konsep mendidik anak, poligami, metode penyelesaian konflik bila terjadi pertengkaran dalam keluarga, dan tempat mereka akan tinggal kalau jadi menikah. Setiap selesai diskusi, mereka membuat kesepakatan bersama. Kalau ada hal yang mereka tidak sepakati, mereka juga membuat kesepakatan mengenai hal-hal yang tidak mereka sepakati. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan bagi mereka berdua ketika membuat keputusan apakah mau melanjutkan ke jenjang pertunangan atau tidak.

Kalau mereka melakukan ketemuan langsung, biasanya dilakukan di rumah Rahma. Mereka mengobrol di ruang tamu dimana orang tua atau saudara Rahma bisa melakukan pantauan secara langsung. Kalau sms-an atau telponan tidak pernah lebih dari jam 10 malam. Dalam isi sms atau telpona mereka selalu menghindari dari kata-kata yang berbau “gombal”.

Di lain waktu, mereka mencoba melakukan obrolan dengan pihak ketiga seperti dengan teman-teman, sahabat, keluarga pihak lainnya. Tema-tema obrolan tersebut sekitar karakteristik/ sifat/ kepribadian, potensi, kekurangan, kebiasaan baik, dan kebiasaan jelek.

Baik Rahma maupun Aji melakukan observasi terhadap aktifitas diluar rumah pihak lainnya. Si Rahma yang seorang aktivis organisasi kerohanian, akan mengadakan kegiatan bakti sosial. Untuk melakukan observasi, si Aji ikut dalam kegiatan tersebut. Begitu juga Rahma, dia menyuruh seorang temannya yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama dengan Aji untuk melakukan observasi di tempat Aji bekerja. Si teman tersebut disuruhnya melakukan observasi terhadap kepribadian si Aji, leadership di tempat kerja, dan sosialisasi dengan teman-teman kerjanya. Selain itu, temanya tersebut disuruhnya melakukan wawancara kepada teman-teman kantornya Aji mengenai penilaian mereka terhadap kepribadian Aji.

Setelah hampir tiga bulan melakukan proses hubungan pranikah, tibalah saatnya mereka melakukan proses membuat keputusan, apakah mau melanjutkan ke jenjang pertunangan atau tidak. Mereka masing-masing saling merenung dan mengingat-ngingat setiap aktivitas yang dilakukan selama hampir tiga bulan tersebut. Tidak lupa mereka meminta petunjuk kepada Allah. Selain itu, mendiskusikan dengan keluarga masing-masing karena mereka berpikir bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang yang berbeda tetapi menyatukan kedua keluarga besar yang berbeda.

Akhirnya si Aji mantap akan melamar si Rahma. Dia mengajak keluarganya untuk menemui keluarga si Rahma. Setelah sampai dirumah Rahma, bapaknya Aji mengemukakan maksud dan tujuan mereka datang. Bapaknya Rahma menyerahkan keputusan tersebut kepada Rahma lalu bertanya pada Rahma apakah mau menerima atau tidak lamaran tersebut. Dan Akhirnya Rahma menjawab ……..

KISAH PACARAN ISLAMI: SITI KHADIJAH DAN NABI MUHAMMAD SAW

Berikut ini aku kutipkan Jawaban Pak Muhammad Shodiq ketika ditanya bagaimana bentuk pacaran yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. dengan Siti Khadijah RA. Aku mendapatkan tulisan ini dari milis yang dikelola oleh beliau. Isi dari jawaban beliau adalah sebagai berikut:

Seperti telah kita ketahui bersama, makna asli “pacaran” adalah “persiapan nikah”. Dengan definisi tersebut, di bawah ini hendak aku paparkan pengamatanku mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai “naksir” Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak beliau.

Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati, sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah naksir itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat itu Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung.

Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad saw bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya. Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad saw. dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad saw berakhlak mulia.

3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF): Khadijah dan Muhammad saw menjalin kerja sama pengembangan karir.

Melalui perbincangan tersebut tadi, Khadijah menganggap bahwa Muhammad saw. adalah sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad saw. pun menerima tugas itu dengan senang hati. Dengan interaksi seperti ini, Khadijah dapat me-recheck atau melakukan pengujian terhadap Muhammad saw. sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad saw. memang berakhlak mulia.

4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad saw. yang berakhlak mulia.

Sepulangnya Muhammad saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut. Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke hari, cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad saw.

Maisarah ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad saw. berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad saw.  menjadikan Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah mengerahkan “agen cinta” untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad saw.

Dalam tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya lainnya, untuk membujuk Muhammad saw. supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH: Muhammad saw. melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.

Di depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad saw. datang dari Syam. Usia Muhammad saw. saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

PENUTUP
Sebenarnya, tulisan ini masih berbentuk konsep-konsep yang masih umum dan normatif. Anda bisa mengembangkannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang Anda hadapi.

Suatu konsep mungkin bisa dipraktekan di suatu waktu dan tempat tertentu, tetapi di waktu lain dan di tempat berbeda, konsep itu tidak bisa diterapkan. Oleh karena itu, kita harus fleksibel dalam menerapkan suatu konsep. Kita juga dituntut untuk cerdas membaca situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.

Tulisan ini hanyalah pengembangan dari konsep-konsep pacaran Islami yang sudah banyak dibahas oleh banyak penulis. Saya hanya mengembangkannya dari sisi teknik dan contoh penerapan pacaran Islami yang didasarkan pada pengalaman saya sendiri dan pengalaman teman-teman saya yang saya berhasil amati. Saya berharap tulisan ini bisa menginspirasi para pembaca semua yang hendak melakukan persiapan menuju pernukahan. Mungkin ada konsep dari yang saya tulis yang bisa dipraktekan oleh Anda dan mungkin ada juga konsep yang tidak relevan untuk Anda praktekan. Tentunya segala sesuatu harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Wanita Senang Digoda?

13 Desember 2009 at 14:47 | In Perjalanan Hidup | 1 Comment

Sebenarnya saya tipe orang yang pemalu dan pendiam. Saya juga termasuk orang yang sering grogi kalau ngobrol dengan gadis yang baru dikenal. Disamping itu, tidak terlalu bisa menggoda atau merayu wanita.

Dari pergaulan di kampus dan di lingkungan kos, saya menyimpulkan bahwa kebanyakan wanita itu senang sekali digoda. Sepertinya, kalau digoda itu, mereka merasa dirinya mempesona atau merasa dirinya menarik. Entahlah, saya ga terlalu paham dengan masalah ini.

Kalau sedang menemani teman saya yang sedang menggoda seorang gadis, saya suka sekali memperhatikan tingkah laku kecentilan dan kegenitan gadis itu.

Ketika semester-semester awal kuliah, terbersit niat untuk belajar menggoda dan merayu cewe. Saya buka google dan mulai mencari artikel tentang teknik-teknik merayu dan menggoda cewe. Saya juga mencoba memperhatikan dan mempelajari teknit-teknik  teman-teman saya ketika merayu cewe.

Setelah merasa cukup mendapat ilmunya, saya pikir sudah saatnya melakukan uji coba. Tetapi dalam hati kecil saya seperti ada yang memberontak yang mengatakan bahwa saya sudah keluar dari jati diri saya dan kepribadian saya. Tetapi nafsu untuk mencari pengalaman baru lebih kuat daripada pemberontakan itu.

Lalu saya mencari-cari siapa yang pantas menjadi sasaran uji coba. Karena ketika awal-awal kuliah itu saya aktif dalam beberapa lembaga dakwah, jadi saya lebih banyak kenal dan akrab sama “akhwat-akhwat” aktifis dakwah daripada cewe-cewe biasa. Saya juga ingin tahu, apakah akhwat-akhwat aktivis dakwah yang sudah banyak menimba ilmu agama dan berada di lingkungan yang islami itu kebal atau tidak dengan godaan cowo. Hipotesis awal saya, mereka tentu akan lebih kebal dengan godaan lelaki karena mereka sangat ketat dalam melakukan hubungan dengan lelaku bukan muhrim.

Akhirnya saya tertarik dengan seorang akhwat. Anggap saja namanya Siti. Saya lihat, kalau dia ngobrol dengan aktivis dakwah yang cowo (ikhwan), selalu menundukan pandangan atau memalingkan pandangan. Pernah saya kekosnya, dia tidak mau berhadapan langsung dengan saya, dia buka pintu kosnya sedikit lalu kita ngobrol, dia didalam kos dan saya diluar. Pintu kos itu menjadi hijab (pembatas) antara saya dan dia. Kalau rapat, antara pria dan wanita ada hijabnya dari kayu tripleks.

Awalnya kita hanya ngobrol masalah-masalah yang penting-penting saja, yaitu masalah organisasi. Ketika itu saya dan dia satu divisi. Lalu saya coba memberanikan diri kirim dia sms tausyiah (nasehat). Dia balas dengan sms tausyiah lagi. Awalnya kita hanya saling kirim sms tausyiah. Tahap kedua, saya ajak dia untuk ngobrol tentang masalah-masalah sehari-hari lewat sms. Lalu saya coba memberanikan diri sedikit “ngejailin dia” seperti ini,

Saya: “Sit, ada yang mau saya omongin, penting banget.”

Siti: “masalah apa?”

Saya: “ini masalah yang menyangkut hidup dan mati.”

Siti: “Apaan sih?”

Saya: “pokoknya kamu jangan kasih tahu siapa-siapa, janji yah.”

Siti: “iya saya janji, apaan?”

Saya: “Bener yah, janji? Soalnya ini penting banget, bahaya kalau banyak orang yang tahu.”

Siti: “iya..iya..saya janji, ayo cepet katakan, jangan buat aku penasaran.”

Saya: “sebenarnya saya ini…”

“ga jadi ah, takut aku.”

“tapi kamu janji yahh.. ga akan bilang siapa-siapa?”

Siti; “iya-iya, janji.”

Saya: “sebenarnya aku ini..”

“sebenarnya aku ini…., ga jadi ahh”

Siti: “Ah, mas surya nih nyebelin. Buat aku penasaran ja. Ya udah kalau ga mau cerita, ga apa-apa kok.”

Surya: “ya udah-udah, sekarang aku serius, aku mau bilang, sebenarnya aku ini…*sebagian teks hilang*”

“sebenarnya aku adalah supermen.”

Siti: “ihh, mas surya ini menyebin, kirain apaan”

Saya: “he..he..”

Sejak saat itu, kami sering bercanda, saling mengejek, saling meledek, dan saling menggoda. Saya merasa aneh dengan diri saya, kok bisa yah, saya melakukan semua ini. Padahal sebelumnya, saya tidak pernah melakukan ini. Setiap candaan dan godaan yang saya lontarkan seperti spontan keluar. Apa memang semua laki-laki itu ditakdirkan punya bakat menggoda cewe? Saya saja yang baru belajar dan seorang yang pendiam dan pemalu bisa melakukannya dengan spontan.

Hubungan kami berlanjut dengan saling memberi kado dan oleh-oleh. Kalau aku mudik ke garut dan dia juga mudik ke kota asalnya, ketika kembali ke jogja, kami saling bertukar oleh-oleh.

Hubungan kami cukup aneh, karena hanya lewat sms. Kalau ketemu dijalanpun paling hanya saling ngucapin salam, tidak lebih. Tetapi kalau di sms, wah hubungan kita sudah sangat jauh, lebih dari yang kubayangkan semula. Bahkan kalau aku minta sesuatu, tidak pernah dia menolak.

Sampai akhirnya saya ingat dengan janji saya sewaktu SMA, bahwa saya tidak akan melakukan hubungan yang serius dengan wanita apalagi sampai pacaran sampai aku sudah benar-benar siap untuk menikah. Saya juga berpikir, “ini anak, sama saya yang baru saja belajar menggoda cewe aja, dia jadi seperti ini, apalagi kalau dia digoda sama cowok yang lebih berpegalaman dari saya, apa jadinya dia?” saya merasa, dia kurang kuat memegang prinsip. Pertahanan hatinya jebol oleh saya yang masih pemula dalam melakukan hubungan dengan wanita. Saya juga merasa bahwa dia bukan wanita yang saya idam-idamkan untuk bisa kujadikan istri kelak.

Sebelum hubungan ini berlanjut lebih jauh lagi, akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan hubungan itu. Saya tidak bisa mengatakan hubungan itu sebagai pacaran, karena belum sempat saling menyatakan. Lagipula dia tipe orang yang berpaham bahwa pacaran itu haram. Mungkin lebih tepatnya hubungan kami disebut “HTS” hubungan tanpa status.

Ternyata dari pergaulan saya dengan teman-teman yang mengaku dirinya sebagai aktivis dakwah, banyak diantara mereka yang melakukan hubungan yang mirip dengan yang saya lakukan. Bahkan mungkin lebih jauh lagi. Disatu sisi mereka mengatakan bahwa pacaran itu haram, tetapi disisi lain, sifat kelaki-lakian mereka atau kewanitaan mereka mendorong mereka untuk saling memperhatikan dan saling menyukai satu dengan yang lainnya. Walaupun tidak dengan pacaran hanya saling bertukar sms tausyiah, ngobrol, bercanda, saling mengingatkan, dan akhirnya terucap janji kalau suatu hari nanti mereka akan menikah.

Saya pernah baca sebuah buku berjudul “Gombal Warning”. Buku tersebut menjelaskan tentang kegombalan-kegombalan yang sering dilakukan “ikhwan-ikhwan” aktivis dakwah terhadap “akhwat-akhwat” aktivis dakwah. Salah satu kesimpulan dari buku itu adalah bahwa kegombalan para ikhwan itu lebih canggih dan lebih dahsyat dibandingkan pria-pria pada umumnya. Dibuku tersebut dijelaskan tentang beberapa strategi dan teknik bagaimana para ikhwan tersebut melakukan aksinya. Penulis buku itu memberikan juga berbagai contoh nyata aksi para ikhwan “gombal”. Bagi para akhwat, buku itu bisa jadi pedoman dan peringatan supaya tidak menjadi akhwat “gampangan”. Dan bagi para ikhwan bisa jadi referensi bagaimana menaklukan hati para akhwat.

Oke, kita kembali ke tema tulisan ini.

Pada kisah kedua dan ketiga ini, saya hanya akan menceritakan hal-hal yang penting saja dan dipersingkat supaya tulisan ini tidak terlalu panjang.

Ketika masih kuliah di diploma 3 Ekonomi tepatnya ketika menempuh matakuliah Sistem Akuntansi di sementer pendek. Pak dosen memberikan tugas kelompok mencari sebuah perusahaan untuk diteliti sistem akuntansinya dan dibuatkan flow chart-nya. Tiap kelompok 3 orang. Dalam kelompokku itu, aku berkenalan dengan seorang cewe, sebut saja namanya Bunga. Bunga ini satu angkatan dibawah aku. Akibat mengerjakan tugas kelompok itu, saya jadi sangat akrab sama bunga karena temanku satu lagi, anggap saja namanya Mawar, dia kadang ga bisa ikut kerja kelompok.

Di sela-sela, sebelum, atau sesudah mengerjakan tugas kelompok, kami sering ngobrol banyak hal atau bercanda-canda, saling mengejek, atau saling menggoda. Bahkan kami sering sekali sms-an. Sampai-sampai dia sering curhat masalah pribadinya.

Sampai pada suatu hari, si Mawar cerita ke saya, i bunga cerita sama mawar bahwa si Bunga suka sama saya. Mendapat cerita seperti itu, saya antara percaya dan tidak percaya. Akhirnya, karena takut keblablasan lebih lanjut, saya memutuskan untuk mulai sedikit demi sedikit menjauhi bunga. Sampai akhirnya kami jarang saling hubungan lagi.

Kisah ketiga terjadi ketika lliburan lebaran tahun 2007. ketika itu saya ketemu sama saudara sepupu, sebut saja namanya Intan, yang sudah lama sekali tidak ketemu. Terakhir ketemu sebelumnya, ketika si Intan masih SD kelas 1. Ketika awal ketemu, saya coba menyapanya, tetapi tanggapan dia diluar dugaan saya. Dengan wajah yang cuek dia bilang, “siapa yah? Ga kenal.” Setelah bicara itu, langsung dia meninggalkan saya. Dapat perlakuan seperti itu, saya sebel banget, kesel, agak marah, pokoknya campur aduk. Dalam hati saya berkata, “nih anak sombong banget, awas yah…..”

Kebetulan tahun itu, pertemuan keluarga diselenggarakan di rumah saya. Otomatis dia datang kerumah saya. Dari sana dia mulai mengenal saya. Saudara-saudara sepupu saya sering sekali mengoda Intan. Samapai beberapa kali dia kelihatan cemberut bahkan sampai nangis. Sebagai seorang sepupu yang baik, ketika dia dalam keadaan seperti itu, biasanya saya coba temani dia. Tetapi ketika dia sudah kembali normal, sepupu saya kembali godain dia. Apa saya ikut godain dia? Tentu saja saya ikutan godain dia, hanya saja tidak sampai membuat dia menangis.

Sehabis pertemuan keluarga, saya bersama beberapa sepupu dan paman, pergi ke pantai pamengpeuk di selatan kota Garut. Selama perjalanan saya dan Intan duduk bersebelahan. Selama perjalanan dan selama disana, kami saling bercanda, saling menggoda, saling mengejek, curhat, dan banyak lagi.

Seminggu kami lalui waktu bersama. Sampai akhirnya waktu perpisahanpun tiba. Dia kembali ke Bandung dan saya ke Jogja beberapa hari setelah dia pulang. Ketika perpisahan itu dia kelihatan sedih sekali. Tiba-tiba saya dapat sms dari sepupu saya yang menemani Intan pulang bahwa selama perjalanan dari Garut ke Bandung Intan menangis karena harus berpisah dengan saya dan saya diminta menelpon dia. Pikirku ketika itu, kok bisa yah dia menangis karena berpisah denganku. Kenapa hanya sama saya? Padahalkan selama liburan seminggu itu yang bermain sama dia bukan hanya saya, tetapi banyak sepupu-sepupu yang lain juga ikut. Yang godain atau ledekin dia juga bukan hanya saya, kenapa kok dia nangisnya hanya karena berpisah dengan saya? Apa yang sudah saya lakukan selama seminggu itu sampai membuat dia menangis?

Setelah perpisahan itu, intan sering menelpon saya. Dia sering curhat, berbagi kisah, dan lain-lain termasuk saling mengejek, atau saling mengoda. Kadang kala ketika dia menelpon saya, teman-teman kos saya mengira yang menelpon saya itu adalah pacara saya. Akhirnya saya harus melakukan klarifikasi bahwa yang menelpon itu adalah saudara sepupu saya.

Sebenarnya saya punya 3 kisah lagi mengenai masalah ini. Mungkin bisa menjadi contoh yang bisa memperkuat argumentasi bahwa kebanyakan wanita senang digoda pria. Tetapi, saya merasa tulisan ini sudah terlalu panjang untuk tulisan yang akan posting di blog dan catatan di facebook. Oleh karena itu, lebih baik saya cerita di lain tulisan dan segera masuk pada inti pesan yang ingin saya sampaikan.

Saya tidak mengatakan bahwa semua wanita suka digoda. Tidak sama sekali. Tetapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa kebanyakan wanita suka digoda. Apalagi kalau yang menggodanya adalah orang yang spesial baginya. Misalnya digoda sama suaminya.

Saya pikir (masih hipotesis perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya), setiap laki-laki memiliki potensi keahlian dalam hal menggoda wanita. Alangkah baiknya kalau potensi ini disalurkan kepada wanita yang sudah dinikahinya. Saya pikir, potensi ini sangat penting untuk membuat hubungan suami istri berjalan harmonis dan penuh kebahagiaan. Saya tidak bisa membayangkan kalau dalam sebuah hubungan suami istri, si suami tidak pernah menggoda istrinya, betapa kering keluarga itu. Betapa merananya sang Istri yang mendapatkan suami seperti itu.

Sebaliknya, kalau si Istri tidak mempan digoda. Wah, kayaknya si suami bakalan ada keinginan melakukan poligami. Kayaknya, hubungan suami istri tanpa ada saling menggoda seperti makan sayur tanpa garam. Oleh karena itu, saya hanya berminat sama wanita (untuk dijadikan istri) yang senang digoda, tetapi ada syaratnya! Setelah ini akan saya bahas secara singkat.

Satuhal yang penting, bahwa kalau menggoda wanita itu, jangan keterlaluan. Lebih baik natural saja. Lalu bagaimana cara menggoda yang natural? Itu pembahasannya panjang, saya tidak akan membahasnya di sini. Tulisan itu sudah terlalu panjang untuk di upload di facebook atau blog. Yang jelas, semua pria pasti pernah atau mampu melakukannya.

Jujur, bagi diri saya sendiri, saya lebih tertarik pada wanita yang teguh dalam memegang prinsip. Dia tidak mudah dirayu dan digoda oleh pria. Mereka punya prinsip bahwa yang boleh merayu dan menggodanya hanyalah suaminya. Hanya dengan suaminyalah mereka  bersikap centil dan genit. Bukan dengan pria sembarangan. Saya berharap mendapatkan seorang istri yang memegang teguh prinsip ini.

Hanya dari wanita seperti ini saya berharap akan mendapatkan anak-anak yang teguh dalam memegang prinsip agama. Hanya dari wanita yang teguh memegang prinsip yang akan melahirkan anak-anak yang teguh memegang prinsip.

Nasehat dari Teman yang Sholehah

9 Desember 2009 at 14:21 | In Kata Mutiara | Leave a Comment

Beberapa hari yang lalu, ketika aku aku mengalami kejenuhan dalam hidup, terjerembab dalam kubangan kelalaian yang terus-terusan kuulangi walau tahu itu salah. Tiba-tiba seorang teman menelponku untuk segera membuat laporan pertanggungjawaban tengah periode Lembaga Studi Gender yang harus segera beres dalam waktu 1 hari. Belum lagi skripsi yang belum ada kemajuan selama sebulan terakhir, makin membuatku stress.

Karena bahan-bahan untuk pembuatan LPJ tersebut masih berupa kempulan berkas-berkas notulensi rapat, terpaksan aku membuka kardus tembat aku mengumpulkan berkas-berkas itu.

Di dalam berkas itu aku menemukan 2 lembar foto copyan yang sudah kelihatan agak kusam dan pinggir-pinggirnya lecek. Isinya kumpulan tausyiah. Akhirnya aku teringat sekitar 6 tahun yang lalu ketika masih SMA.

Kalau tidak salah, ketika aku kelas 3 SMA awal, aku pernah meminta nasehat kepada wakil sekretarisku di rohis SMA ketika itu aku masih jadi sekretaris umum rohis. Nasehat itu dia tulis dengan format microsoft word yang di safe di disketku. Setelah aku terima lalu aku baca dan aku print.

Sekilas tentang dia, dia adalah temanku di rohis yang menurutku salah satu dari teman-temanku di rohis yang paling sholehah. Hal ini bukan hanya penilaianku, tetapi juga menurut teman-temanku yang lain. Selain sholehah, dia juga termasuk rajin belajar dan berprestasi di sekolah. Selain itu, orangnya teguh memegang prinsip dan tegas. Meskipun demikian, orangnya asik diajak ngobrol. Kadangkala juga suka agak narsis. Pokoknya kalau dibandingkan sama aku, yahhhh… jauh banget lahhh… kalau diibaratkan sebuah game, dia sudah masuk level 15 aku masih di level 5.

Selama beberapa tahun, nasehat itu sering aku baca dan menjadi sebuah inspirasi bagiku dalam melangkah. Tetapi seiring kesibukanku kuliah dan berorganisasi serta bacaan buku-buku atau tulisan lainnya, maka tulisan itupun jadi terabaikan dan terlupakan tergantikan dengan nasehat atau pemikiran yang lain. Padahal sebelumnya, pernah aku sampai menghapalkannya.

File tulisan itu hilang setelah aku ke Jogja. Yang aku punya hanya hasil print, maka karena takut hasil print itu hilang, aku foto copy beberapa lembar. Yang ada ditanganku sekarang hanya fotocopy-an nya itu. Yang aslinya entah dimana.

Sekali lagi, nasehatnya menginspirasiku.

Disini aku tuliskan isi dari nasehat dia.

  • Tenangkan diri, Do what you can do because Allah
  • Ikhlas, the key for succes
  • Hidup adalah perjuangan, perjuangan butuh pengorbanan, so.. never give up
  • Biar hidup lebih baik, Allah give us some activity
  • Whoever you are, Allah will have and love you if you work hard, pray and wherever you are, you always remember to Allah
  • Yakin, be sure to Allah will give more spirit for you
  • Basmallah, say it before you do something
  • Rancang, List what you do and do what you listed
  • Tolak ukur, don’t see the result but the process.

Insya Allah

GOOD LUCK

AND BE A GOOD MUSLIM

Jazakumullah

FiETS

Hari Ini, Pria Dijajah Wanita

24 November 2009 at 15:40 | In opiniku | Leave a Comment

Saya baca sebuah artikel di http://hitmansystem.com/tentang-wanita/180.html yang berjudul Wanita vs. Pria.

Dalam artikel tersebut, sang penulis menulis:

“kita sekarang hidup dalam dunia yang dikuasai oleh wanita. Sebuah dunia yang menempatkan wanita jauh lebih tinggi daripada pria. Sebuah dunia yang pilih kasih pada wanita. Sebuah dunia yang timpang dan berat sebelah. Sebuah dunia yang membuat Anda, para pria, tidak lagi menjadi pria yang sesungguhnya, tapi menjadi pria yang terkekang oleh peraturan dan norma-norma yang ditentukan oleh wanita. Sebuah dunia yang membuat Anda tumbuh menjadi pria lossy.

Beberapa contoh sederhana:

* Pria harus bekerja dan berpenghasilan. Wanita boleh bekerja, boleh tidak.
* Di tempat kerja, wanita berhak untuk ijin sekali setiap bulan dengan alasan ‘datang bulan’. Wanita berhak untuk berekspresi dengan fashion, mewarnai rambut dan potongan yang berbeda-beda. Sedangkan pria harus potong pendek rapi, tidak boleh di warnai serta wajib memakai kemeja, dasi dan celana bahan.
* Pria masih dituntut untuk bisa mengerjakan ‘kerjaan’ pria, seperti mengganti ban mobil, menyetir kendaraan, memperbaiki komputer dsb. Wanita tidak lagi dituntut untuk bisa mengerjakan ‘kerjaan’ wanita, seperti masak, mencuci, dandan, dsb.
* Pria minta tolong pada wanita untuk mencuci pakaian, dia akan anggap itu merendahkan. Silakan minta tolong pada pria untuk mengangkat barang berat, ia akan melakukannya dengan senang hati.
* Pria wajib membayari wanita makan, sedangkan wanita tidak harus memasak untuk pria.
* Pria wajib membiayai keluarga. Wanita boleh ya, boleh tidak.
* Wanita selalu diprioritaskan dan diperlakukan spesial: tempat parkir khusus wanita, ladies nite di nite club, apabila ada musibah dahulukan wanita dan anak kecil biarkan pria mati duluan.
* Pria menggoda wanita secara vulgar disebut pelecehan dan dapat dilaporkan ke pihak berwenang. Wanita menggoda pria secara vulgar hanya disebut agresif dan apabila dilaporkan tidak akan ada yang percaya.
* Tidak apa-apa bila wanita menyentuh pria, tapi bila pria menyentuh wanita disebut tidak sopan.

Dan berkat media yang selalu menayangkan wanita cantik dan seksi, pria-pria jadi memuja kecantikan dibanding kepribadian seorang wanita. Akibatnya, wanita dapat melakukan apa saja yang buruk dan tidak berkenan namun para pria tetap saja berkumpul dan memperebutkannya…”

penulis artikel itu juga menulis, “Wanita dan pria adalah dua entitas yang berbeda, baik secara fisik maupun pisikis, maka secara logika istilah persamaan hak sangatlah absurd. Dan wanita sendiri pun tahu benar akan hal ini, oleh karena itu feminisme hanya menuntut persamaan hak, tapi tidak persamaan kewajiban. Dengan kata lain, wanita menginginkan semua keuntungan dan hak yang dimiliki pria namun tidak mau menjalani kewajiban yang dimiliki pria. Lebih simpelnya lagi: wanita mau yang enaknya saja.”

Lalu dia juga menulis, “Dewasa ini, wanita yang mampu mengalahkan pria di segala hal dianggap hebat dan dikagumi, dan pria yang tidak takut untuk menangis dan menunjukkan kelemahannya dianggap pria yang sejati.

Tapi jujur saja, tidak ada pria yang menyukai wanita yang kasar, dominan, tukang ngatur, terlalu girl power dan cuek. Sama seperti tidak ada wanita yang menyukai pria yang terlalu sensitif, sedikit-sedikit mellow, panik dan terbawa perasaan.”

Apakah Anda setuju?

Setelah membaca artikel tersebut, saya teringat pada kegiatan baksos Idul Adha yang diadakan suatu gerakan mahasiswa beberapa tahun yang lalu. Kalau ga salah 2 tahun yang lalu tepatnya.

Ketika itu, terjadi percecokan antara para panitia putra dan panitia putri. Masalah yang sepele, masalah cuci piring. panitia putri menginginkan bahwa panitia putra harus cuci piring. Panitia putra tidak mau cuci piring. lalu ada teman saya (panitia putra) berkata, “oke, kita yang putra sekarang cuci piring dan masak, tapi kalian yang pegangin kambing, bawa kambing kelapangan, ikut menyembelih kambing, dan menyayat kulit kambing, gimana mau?” ditanya seperti itu, para panitia putri langsung menolaknya. alasannya takut kotor lah, panaslah, dan banyak lagi alasannya…

Di lain kesempatan, aku mendengar para peserta putri menggunjng panitia putra bahwa mereka tidak pengertian dan tidak peka.

Para panitia putra menggunjing pula panitia putri bahwa mereka keterlaluan, masa panitia putra sudah harus berbau-bau dengan kambing, memegangin kambing, ikut menyembelih kambing, kepercikan darah kambing, panas-panasan disiang hari, ikutan menyayat kambing, ehhh masih pula harus cuci piring. gender sih gender, tapi kan ada batasannya.

Menurut Anda, siapa yang salah dalam hal ini? siapa yang tidak peka? siapa yang tidak perhatian?

Semoga baksos idul adha kali ini tidak ada lagi percekcokan seperti itu lagi dan bisa berbagi tugas dan peran dengan baik.

Gender bukan berarti setara dalam segala hal. Kalau boleh saya menafsirkan gender adalah sebuah keadaan dimana terjadi pembagian tugas, wewenang, hak, dan kewajiban yang sesuai dengan kodrat, potensi, minat, dan kemampuan masing-masing antara pria dan wanita. Ini hanyalah penafsiran saya. Anda boleh setuju atau tidak.

Dalam diskusi di note di facebook, teman saya, Chanif Ikhsan mengatakan, “Kalo saya  setuju dengan istilahnya ustad Okhirizal E.P. Yakni kesesuain dan keserasian gender bukan kesetaraan gender. Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi bukan untuk saling mendahului atau malah saling iri. Wanita dan pria mempunyai porsinya msing-masing dalam tugasnya. Adil bukan berarti harus sama. Sehingga ada kehormonisan antara keduanya. Adakalanya wanita harus membantu pekerjaan pria dan begitu jg sebaliknya.
Yang terpenting disini adalah saling memahami dan mengerti dan juga saling melengkapi.”

Teman saya yang lain, Muhammad Yusro mengatakan, “Wanita memang tidak mau peka sama pria. Oleh karena itu, pria seharusnya pengertian kalau wanita emang seperti itu yaitu mau enaknya saja. Kalau aku sih tidak masalah. Wanita mah emang gitu. turutin saja. Itung-itung manjain wanita. Tapi bukan berarti dijajah loh ya. Tapi kalau kelewatan, ya jangan mau. kalau sebatas cuci piring, its OK.”

Begitu juga Muhammad Aris mengatakan, “Wanita akan selamanya cantik jika mereka berada pada fitrah wanita: satu hal bahwa ia begitu lembut.”

Ada komentar lain? Apakah Anda sepakat?

Neraka TIDAK Kekal…!!!!!

11 November 2009 at 20:29 | In opiniku | Leave a Comment

Tiba-tiba saya tertarik untuk membaca buku berjudul “Mereka Bertanya Islam Menjawab, Pertanyaan Mengganjal tentang Islam yang Sering Diajukan Orang Awam dan Non-Muslim,” yang ditulis oleh Dr. Zakir Naik, Prof. Dr. Shalah Shawi, dan Syaikh Abdul Majid Subh, yang diterbitkan oleh Aqwam, tahun terbit 2009. Saya beli buku itu di bazar buku Mesjid Kampus UGM sayap utara. Saya beli buku itu dua kali, pertama pas bulan Ramadhan kemarin. Buku itu ternyata sangat disenangi oleh Bapak saya sebagai referensi untuk khutbah di mesjid. Kata beliau, buku itu sangat mudah dicerna, argumentasinya kuat, dan dalil-dalilnya kuat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang awam. Beliau sangat membutuhkanya, untuk referensi menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para jamaah mesjid-mesjid yang beliau bina. Akhirnya, buku itu saya berikan kepada bapak saya dan saya beli lagi yang baru beberapa minggu yang lalu.

 

Di halaman 262 sampai 271, Syekh Abdul Majid Subh ditanya oleh seseorang  yang beragama kristen tentang neraka. Beliau menjawabnya dengan panjang lebar dan melakukan perbandingan antara Al-Quran dan Bibel. Di akhir pembahasan, beliau menjelaskan bahwa neraka tidak kekal. Dalam tulisan kali ini, saya akan ringkaskan pendapat beliau tentang ketidak kekalan neraka untuk Anda.

 

Beliau menulis:

 

Allah berfirman dalam Al-Quran,

“Dikala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. Maka diantara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. Adapun orang-orang yang celaka maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia maka tempatnya didalam surga. Mereka kekal didalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Hud: 105-108)

 

Dari ayat diatas, beliau menyatakan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kekekalan neraka. Adapun ulama yang menyatakan neraka tidak kekal mengatakan bahwa Allah mensyaratkan tinggalnya mereka di neraka dengan keberadaan langit dan bumi yang pasti diganti sebagaimana Allah berfirman,

“(yaitu) pada hari  (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ibrahim: 48)

Dari ayat diatas, dapat disimpulkan bahwa orang kafir tidak akan mendiami neraka selama-lamanya.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar mengatakan bahwa akan datang suatu hari ketika neraka menutup pintu-pintunya karena tidak ada lagi orang di dalamnya setelah dihuni berabad-abad. Umar Bin Khathab juga menyatakan bahwa jika penghuni neraka tinggal di dalamnya untuk waktu yang panjang., akan datang suatu hari ketika mereka meninggalkannya. Pandangan ini juga dikuatkan oleh Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah.

 

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pendapat di atas dipegangi Umar bin Khathab, Ibnu Abas, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Hasan Al-Basri, Hammad Ibnu Salamah, Ali bin Talhah Al-Walbi, dan para ahli tafsir lainnya.

 

Ar-Razi dalam tafsirnya menyatakan bahwa sekelompok ulama berpendapat bahwa azab bagi penghuni neraka akan berakhir karena Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang celaka maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Hud: 106-107). Disamping itu, Allah juga berfirman, “Sesungguhnya neraka jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba’: 21-23).

 

Demikian ringkasan dari fatwa Syekh Abdul Majid Subh tentang neraka terutama tentang ketidakkekalan neraka.

 

Jujur, fatwa beliau ini sangat menentramkan pikiran dan hati saya dan menambah kuat aqidah saya dan keyakinan bahwa Allah Maha Adil, Maha Penyayang, serta membuktikan bahwa Rahmat Allah sangat jauh lebih besar banget daripada murka-Nya. Dulu saya pernah punya sebuah pertanyaan, “kalau neraka itu kekal dan seluruh orang non muslim (kafir) itu kekal didalam neraka, kok tidak adil yah. Misalnya, ada banyak orang non-muslim, anggaplah agamanya kristen. Tiap hari dia selalu berbuat baik kepada sesama manusia maupun lingkungan alam sekitar. Hampir tidak pernah dia menyakiti orang lain. Saya menemukan banyak yang demikian. Dan dia ini, menurut kepercayaan saya duhulu, bahwa neraka itu kekal untuk orang kafir, tentu orang kristen ini akan kekal di siksa di neraka. Tetapi orang yang bersyahadat, dan dia pegang teguh syahadat itu sampai ajal tetapi dia suka maksiat, sering bergosip, merusak lingkungan alam sekitar, sering berbuat kejahatan. Orang seperti ini, hanya disiksa di neraka sementara???? Lalu dimasukan ke surga????? Kok ga adil yahhhh!!!!!! tidak mungkin Allah tidak adil. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Pasti ada salah tafsir dalam masalah ini. Atau ilmu dan wawasan saya belum sampai pada pemahaman dalam masalah ini. Saya harus banyak belajar lagi.”

 

Fatwa diatas sungguh membuat saya tentram sekarang. Menjawab dengan lugas pertanyaan saya itu. Dan lebih tentram lagi karena paham ini dipegang oleh para sahabat Nabi Muhammad saw yang telah dijamin masuk surga dan dijamin selalu dapat ilham dari Allah setelah Nabi saw wafat. Para sahabat tersebut juga adalah para ulama di kalangan para sahabat dan mendapat ilmu langsung dari Nabi Muhammad saw. Fatwanya pasti lebih mendekati kebenaran daripada fatwa para ulama setelahnya. Itu yang membuat saya tenang.

 

Meskipun demikian, saya teringat dengan nasehat KH. Ahmad Dahlan dalam buku berjudul “Pelajaran KHA Dahlan, 7 falsafah Ajaran & 17 Kelompok Ayat Al-Quran,” karya KRH. Hadjid (murid langsung KH. Ahmad Dahlan), yang diterbitkan UMM Press tahun 2005. Dalam buku itu ditulis:

 

Fatwa KH. Ahmad Dahlan, “Kita Manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh: Sesudah mati akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan.” Di pelajaran kedua, KH Ahmad Dahlan heran, mengapa para pemimpin agama dan yang tidak beragama itu selalu beranggapan, mengambil keputusan sendiri-sendiri tanpa mengadakan pertemuan diantara mereka, tidak mau bertukar pikiran, memperbincangkan mana yang benar dan mana yang salah? Hanya berdasarkan anggapan-anggapan sendiri saja, disepakati dengan istri, dengan muridnya, teman-teman dan gurunya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi, marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain diluar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar itu dan manakah sesungguhnya yang salah itu.

 

Dalam pelajaran ketiga, KH Ahmad Dahlan berfatwa, “Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang sudah dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang sudah diterima. Baik itu dari sudut keyakinan atau i’tiqad (aqidah), perasaan, kehendak, maupun amal perbuatan. Kalau ada yang mau mengubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar.” Mereka menganggap terhadap apa yang telah diterimanya, itulah yang benar, selain itu, mereka menganggapnya salah.  Hal ini mengakibatkan mereka membela anggapan-anggapannya itu dengan mati-matian. Mereka mencari-cari alasan dan mencari-cari dalil untuk membela anggapan-anggapannya itu dan menolak atau tidak memperdulikan alasan-alasan dan dalil-dalil yang bertentangan dengannya.

 

Selanjutnya, dalam buku itu dijelaskan, “Manusia itu perlu sekali mendengarkan segala fatwa ucapan. Dari siapa saja harus didengar. Jangan sampai menolak atau tidak mau mendengarkan suara dari pihak lain. Selanjutnya, suara-suara tadi harus dipikir sedalam-dalamnya dan ditimbang, disaring, dan dipilih yang benar.”

 

Dijelaskan pula, “Manusia itu biasanya kalau menerima fatwa orang yang dianggap guru besar, lalu taqlid, menurut tanpa mengetahui dalil dan tergesa-gesa menolak fatwa pihak lain. Lebih-lebih kalau pihak lain dianggap musuh.”

 

Kesimpulan dari pelajaran ketiga tersebut adalah, “Apa saja, seperti: pengetahuan, kepercayaan, perasaan, kehendak, dan tingkah laku yang kita miliki yang tumbuh dari kebiasaan, jangan tergesa-gesa diputuskan sendiri, lalu dianggap benar. Hendaklah dipikirkan dahulu, dibandingkan, dan dikoreksi, apakah sungguh sudah benar?”

Karena saya adalah pengagum dan fans berat KH Ahmad Dahlan, saya akan coba untuk mengikuti nasehat beliau untuk memikirkan, membandingkan, dan mengoreksi pemahaman/ kepercayaan baru saya bahwa neraka itu tidak kekal.

 

Langkah pertama yang saya lakukan untuk mengikuti nasehat tersebut adalah bertanya pada ulama-ulama yang saya kenal kompeten untuk membahas masalah ini. Saya mengirimkan sms untuk bertanya tentang masalah ini, dan inilah jawaban dari mereka:

 

Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc.

“Tidak benar. Akherat kekal. Sorga neraka kekal. Banyak ayat menyatakan begitu.”

“Anda cek saja rujukan yang digunakan. Apa memang mereka (para ulama yang dijadikan rujukan Syekh berfatwa tersebut. red) menulis begitu.”

“Saya tidak yakin para imam tersebut menyatakan begitu. Tapi tidak apa, kalau Anda (penulis tulisan ini) punya waktu menelitinya.”

 

Wawan Gunawan A. Wahid, Lc., M.Ag.

“Ngapain nanya yang begini? Beribadahlah yang baik.”

“Tentu saja yang dimaksud kekal dan tidak kekal itu jangan disamakan dengan kekekalan Allah karena kalau ada yang kekal selain Allah berarti ada yang menyamai Allah.”

 

Ustad Muhammad Nur (Imam Mesjid Kampus UGM)

“Yang dimaksud neraka tidak ada lagi: bagi yang memiliki syahadat kendati kafir. Mereka di azab dulu. Sedangkan yang tidak pernah syahadat tetap. Jika tidak, apa beda muslim-kafir?”

 

Ustad Didik Purwodarsono

“Tolong antum baca tafsir ibnu katsir tentang ayat-ayat Qur’an menyangkut hal-hal tadi. “Kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi” menurut ibnu Jarir adalah sesuai dengan kebiasaan bangsa arab. Apabila mensifati sesuatu yang kekal, mereka berkata seperti itu. Dan mungkin juga bukan langit dan bumi dunia tetapi langit bumi di akherat. Dijelaskan dalam Ibrahim: 48. ALLAHU A’LAM

 

Untuk sementara, saya coba mengambil hikmah dari semua pembahasan ini bahwa, masalah neraka dan surga adalah masalah ghoib. Baik neraka itu kekal atau neraka itu tidak kekal, yang terpenting yang harus kita pahami bersama adalah bahwa azab Allah di dalam neraka itu sangat pedih dan menyakitkan. Oleh karena itu, sebagai manusia yang normal, kita harus berusaha untuk menghindarinya dengan selalu meningkatkan amal ibadah kita dan memperkuat iman dan takwa kita.

 

Tidak perlu kita saling menyalahkan, terjadi konflik, atau debat kusir dalam membahas masalah ini.

 

Harapan saya dengan menulis tulisan ini adalah untuk mendapat komentar dan diskusi lebih lanjut tentang masalah ini. Apabila ada diantara para pembaca semua yang punya pendapat yang sama atau berbeda, saya mengajak, marilah kita berdiskusi untuk mencari kebenaran tentang masalah ini. Saya sangat tidak mengharapkan terjadi debat kusir karena tujuan dari diskusi kita hanya untuk meningkatkan iman dan takwa kita terutama saya pribadi. Tolong sertakan argumentasi, dalil, dan referensi buku/ jurnal/ makalah bila ingin mendukung atau membantah. Usahakan gunakan kalimat yang sopan dan menentramkan hati dan pikiran orang yang membacanya.

 

KH Ahmad Dahlan pernah memberikan nasehat, “Kita Manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh: Sesudah mati akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan.” Dan juga, “Bermacam-macam corak ragamnya mereka mengajukan pertanyaan soal-soal agama. Tetapi tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan demikian: Harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka? Harus mengerjakan perintah apa? Beramal apa? Menjauhi dan meninggalkan apa?”

 

Saya bertanya pada Anda semua yang membaca tulisan ini,

  1. Harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka?
  2. Harus mengerjakan perintah apa?
  3. Beramal apa?
  4. Menjauhi dan meninggalkan apa?

(pertanyaan-pertanyaan ini adalah tema diskusi lebih lanjut yang saya inginkan)

 

Hikmah dalam Buku Catatan Hati Seorang Istri

3 November 2009 at 09:57 | In opiniku | Leave a Comment

Hikmah dalam Buku Catatan Hati Seorang Istri

Beberapa minggu yang lalu, aku baca sebuah buku berjudul Catatan Hati Seorang Istri karya Asma Nadia yang diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa. Isinya adalah kumpulan kisah catatan hati dari seorang istri. Buku itu sangat mengispirasiku dalam masalah hubungan dengan wanita. Terutama sebagai persiapan bagiku kelak memasuki gerbang pernikahan. Aku ingin berbagi hikmah itu dengan teman-teman semua.

Disini aku tulis beberapa hikmah yang berhasil aku tangkap. Tulisan ini secara redaksi tidak mengikuti redaksi yang ada di buku itu. Redaksinya mengikuti apa yang aku ingat dan yang aku pahami. Banyak diantaranya yang aku tambah-tambahi.

  1. Hati-hati dalam memilih pasangan hidup. Jangan sampai menyesal setelah pernikahan. Cari dahulu profil calon pasangan kita dari teman-temannya, (kalau ada) dari musuhnya atau mantan pacar atau mantan istri/suaminya, dari keluarganya, lihat lingkungan tempat dia bergaul. Jangan sampai kita memilih seseorang hanya karena dia ganteng/ cantik, hanya karena dia baik sama kita. Karena dalam masa penjajakan sebelum pernikahan, seseorang yang jahat bisa berpura-pura baik. Lihat bagaimana akhlaknya dan agamanya.
  2. Jangan sampai kebaikan yang begitu banyak yang seseorang berikan pada kita, menjadi sirna hanya karena satu kesalahan manusiawi darinya. Maafkanlah kesalahannya, itu adalah lebih baik.
  3. Ketika terjadi pertengkaran atau perselisihan dalam rumah tangga, usahan masalah itu hanya diketahui oleh suami istri itu. Jangan sampai diketahui pihak orang tua masing2 pihak. Karena hanya akan memperbesar masalah, memperbesar perselisihan dan kemarahan. Maksimal masalah itu hanya diketahui oleh pihak mediator yang dipilih oleh suami istri untuk menyelesaikan masalah diantara mereka.
  4. Laki-laki adalah makhluk yang sangat rentan melakukan perselingkuhan. Oleh karena itu, seorang istri yang tidak ingin suaminya selingkuh, haruslah memberikan suaminya suasana rumah yang nyaman. Selalu memelihara diri agar nyaman dilihat suami. Dan jangan terlalu percaya dengan suami. Harus ada rasa cemburu, curiga, dan waspada dengan kadar yang sewajarnya.
  5. Laki-laki yang kaya atau mapan secara ekonomi, punya pangkat, berwawasan luas, cakep atau sholeh sangat rentan mendapat godaan dari wanita. Banyak sekali laki-laki seperti itu tergoda yang akhirnya memilih untuk selingkuh atau menikah lagi. Hati-hati juga laki-laki diusia sekitar 40 tahunan, karena banyak sekali pria diusia itu mengalami puber kedua.
  6. Poligami belum tentu bahagia, tetapi kebanyakan poligami melukai hati istri pertama dan biasanya sakit hati ini bersifat permanent meskipun secara lisan istri pertama itu bisa memaafkan atau meridhoi pernikahan kedua suaminya. Kenapa lebih memilih sesuatu yang belum pasti bahagia daripada menghindari sesuatu yang lebih pasti menyakiti orang yang kita cintai?
  7. Pertengkaran yang terjadi di dalam keluarga yang sering didengar atau dilihat oleh anak, bisa menimbulkan gangguan prilaku atau psikologi pada anak. Misalnya: anak jadi mudah marah, mudah tersinggung, lebih rewel, mudah nangis, sering murung atau anak jadi pendiam. Oleh karena itu, setiap pertengkaran yang terjadi di rumah, jangan sampai diketahui atau dilihat anak.
  8. sebaiknya istri juga memiliki pekerjaan atau mengembangkan karir selama dia bisa membagi waktu untuk mendidik anak, melayani suami, memberikan ASI ekslusif pada anak yang masih bayi, dan bermain dengan anak. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagai jaga-jaga ketika sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi. Misalnya, suami meninggal atau terjadi perceraian. Sehingga ketika itu terjadi, wanita dan anak-anaknya bisa lebih stabil secara ekonomi dan tidak terjadi ketergantungan kepada orang lain.
  9. perceraian adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah, tetapi kadang kala itu adalah sesuatu jalan keluar terbaik untuk menghindari kemudharatan yang lebih besar. Rasa bahagia, rasa nyaman, rasa dihargai, rasa disayangi adalah hak setiap anggota keluarga dan kewajiban setiap anggota keluarga untuk menciptakannya dalam keluarga. Ketika rasa-rasa itu tidak ada tetapi masih bisa diperbaiki, maka perbaikilah. Tetapi ketika itu sudah sulit untuk diperbaiki dan setelah menimbang masak-masak bahwa perceraian merupakan jalan terakhir yang bisa dilakukan, maka lakukanlah perceraian, jangan ragu-ragu, jangan sampai menunggu kemudharatan yang lebih besar terjadi.
  10. bahwa Islam, melarang suami memakan harta istrinya kecuali istrinya ridho dan tidak melanggar syariat Islam. Haram hukumnya suami kawin lagi dengan harta istri pertamanya, atau menafkahi istri kedua dengan harta istri pertama atau memakai harta itu untuk selingkuh. Ingat, bahwa tugas utama suami adalah memberi nafkah anak dan istrinya. Istri tidak memiliki kewajiban dalam menafkahi keluarga. Ketika istri memberikan sebagian hartanya untuk keluarga maka itu hukumnya sunat berbentuk amalan shodakoh, pahala yang didapatkanya adalah pahala shodakoh.
  11. Sebelum berniat untuk melakukan poligami, pikirkan istri. Apakah dengan menikah lagi akan menyakiti hati istri pertama? Ingatlah kesetiaan dan pengorbanan dia ketika awal-awal membentuk keluarga. Ketika keadaan ekonomi keluarga masih morat-marit, dia tetap setia menemani suaminya dan telaten mengasuh anak-anak. Apakah tega menyakiti hati Istri yang sangat mencintai dan telah banyak berkorban untuk suami? Jangan sampai suami memilih berpoligami yang belum tentu bahagia dengan mengabaikan hati dan perasaan istri yang terluka.
  12. Profil Suami yang sangat disayang dan dicintai Istri (suami idaman Istri):
    • Mampu menafkahi istri dan anak-anak baik secara lahir dan batin
    • Penyayang pada anak-anaknya. Suami yang telaten mengurus anak seperti membuat susu buat anak, mengganti popok, punya waktu yang cukup untuk bermain bersama anak-anak. Intinya punya kedekatan yang sangat erat dengan anak.
    • Punya waktu-waktu spesial untuk istri.
    • Sering membuat kejutan-kejutan yang membahagiakan untuk istri. Misalnya, tiba-tiba menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga (padahal biasanya yang menyiapkan istri), memberikan kejutan memberikan kado di hari-hari yang spesial bagi istri, atau sesekali memberikan dia bunga.
    • Bisa membimbing dalam masalah agama kepada keluarga. Ingat, membimbing secara rohani pada istri dan anak-anak adalah tugas suami yang akan dipertanggungjawabkan diakherat.
    • Bersikap lembut pada istri dan anak-anak.
    • Punya waktu yang cukup untuk mendengarkan curhatan hati sang istri. Punya waktu yang cukup untuk mengobrol tentang apa saja dengan istri.
    • Bersikap terbuka dan jujur pada istri. Istri punya hak untuk tahu sedang apa dan dimana suaminya berada. Hal ini untuk menciptakan ketenangan batin dari sang istri mengenai keadaan suaminya dan dia akan merasa tenang  kalau tahu suaminya itu baik-baik saja.
  13. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan hanya kekerasan dalam hal fisik seperti pemukulan saja, tetapi kekerasan rumah tangga meliputi kekerasan berupa penghinaan, rasa tertekan, rasa terancam, atau rasa takut. Kekerasan bisa dilakukan oleh suami, istri, bahkan anak-anak, atau mertua sekalipun yang hidup dalam satu rumah. Masalah KDRT ini bisa dilaporkan kepada kepolisian oleh siapapun yang melihat kejadian itu terjadi. Misalnya, Seorang tetangga yang melihat ada suami yang melakukan KDRT pada istrinya, dia bisa melaporkan kejadian itu kepada kepolisian.
    • perbedaan tempat tingga suami istri, sering kali memicu banyak persoalan seperti perselingkuhan. Misalnya, banyak yang gara-gara masalah ekonomi yang mengakibatkan suami istri berbeda tempat tinggal misalnya istrinya jadi TKW, mengakibatkan suaminya selingkuh dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. Atau suami bekerja di suatu provinsi yang berbeda dengan provinsi tempat tinggal istri dan anak-anaknya. Seringkali suami itu tidak tahan menahan godaan dari wanita teman kerjanya. Memang ada banyak sekali laki-laki yang tahan dengan kondisi seperti ini, tetapi sangat banyak sekali kasus dimana suami tidak tahan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk beda tempat tinggal, benar-benar periksa dulu kesiapan suami istri itu baik secara mental dan seksual untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk dari perpisahan tempat tinggal tersebut.

    Motivasi untuk Pria Pejuang Cinta

    2 November 2009 at 15:42 | In Pria Romantis | 6 Comments

    Tulisan ini aku peruntukan bagi pria yang menyukai seorang wanita tapi tidak berani mengutarakannya. Bagi pria yang merasa minder dengan wanita pujaannya. Terutama bagi pria yang takut ditolak cintanya. Tulisan ini aku peruntukkan bagi pria yang sudah memiliki keyakinan yang kuat bahwa wanita dicintainya adalah jodohnya tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk menyatakannya.

     

    Tulisan ini adalah hasil pengalaman pribadi, wawancara, uji coba, dan pengamatan penulis selama bertahun-tahun.

     

    Dalam masalah mencari jodoh, kita jangan menyerahkan sepenuhnya pada Allah tanpa mau berusaha. Ingat bahwa pertolongan Allah hanya akan datang ketika kita sudah berusaha dengan maksimal. Urutannya kan jelas:Doa, Ikhtiar (berusaha), sabar, lalu tawakal. Itu yang aku yakini. Begitu juga dalam masalah jodoh. Kita berdoa, kita berusaha mencari jodoh kita, kita berusaha mengomunikasikan perasaan kita, kita sabar dalam proses yang sedang dilakukan, lalu kita tawakal pada Allah terhadap hasilnya.

    Inti tulisan saya ini adalah: pertama, bagaimana memotivasi seorang pria yang belum ada keberanian menyatakan cinta, jadi berani menyatakan cinta. Kedua adalah dia harus memiliki kesiapan mental ketika dia ditolak. Bahwa ditolak bukan berarti peluang dia mendapatkan wanita pujaannya itu sudah tertutup. Banyak sekali teman saya, saudara saya membuktikan bahwa ketika seorang pria ditolak, tetapi dia tidak mundur, tetapi terus menjalin hubungan dengan wanita pujaannya, lalu dia menembak lagi, ditolak lagi, tetapi dengan ditolaknya itu tidak membuat dia berhenti menunjukkan rasa sayangnya dan cintanya, hampir semua teman-teman dan saudara-saudara saya tadi mendapatkan wanita pujaannya. Dari semua kejadian tersebut saya menyimpulkan bahwa ketika seorang pria serius menunjukan secara istiqamah rasa cintanya, maka dia punya peluang sangat besar mendapatkan hati wanita pujaan hatinya.

    Ketika seorang pria merasa cocok dengan seorang wanita, Pria tersebut  merasa wanita tertentu cocok untuk dijadikan istrinya, lalu si pria sholat istiharoh. Setelah melakukan sholat itu bertambah yakin dia dengan wanita tersebut. Maka yang harus dia lakukan selanjutnya adalah mengkomunikasikan rasa cintanya itu pada wanita tersebut.

     

    Ketika misalnya seorang pria ditolak, ada pria yang langsung menyerah dan mencari wanita lain. Tetapi banyak pula pria yang terus berusaha. Dia terus malakukan pendekatan, terus memberikan perhatian, dan kebanyakan dari mereka, setahu saya berhasil mendapatkan wanita pujaannya. Salah satu contohnya: Saya lupa lagi namanya, anggaplah namanya mas budi. dia ngontrak kamar di rumah saya di Garut. Dia suka sama teman kakak saya. Dia lalu melakukan pendekatan kepada teman kakak saya dan akhirnya dia nyatakn perasaan. Sialnya, dia ditolak. Tetapi dia tidak patah semangat. Dalam hatinya dia yakin bahwa teman kakak saya itu adalah jodohnya. Lalu hampir tiap pekan dia kerumah teman kaka saya, anggaplah namanya putri.

     

    Si putri ini selalu bersembunyi kalau budi datang. Dia suruh anggota keluarganya mengatakan dia keluar. Padahal dia sembunyi. Tetapi si budi ini tidak patah semangat. Dia terus mendatangi rumah si putri. Sampai berbulan-bulan.

     

    Akhirnya si budi pasrah. Dia pindah kerja ke bandung. Tahu Tidak apa yang terjadi dengan si putri? Dia yang tadinya sebel, benci, ilfill sama si budi, tiba-tiba muncul rasa rindu. Muncul rasa kangen. Yang tadinya sering diperhatikan si budi berbulan-bulan, tiba-tiba hilang. Di lain tempat, si budi di bandung merasa kehilangan pujaan hatinya. Dia tidak betah kerja di bandung. Akhirnya dia kembali ke garut setelah sekitar 1 bulan di bandung.

    Ketika dia coba menemui rumah si putri, si putri berubah sikapnya. dia menemui si budi. Satu bulan dari ketemuan itu, mereka memutuskan menikah.

     

    Cerita diatas baru satu kasus yang aku temui, ada banyak sekali kasus lain yang serupa yang aku temui.

    Jadilah laki2 yg brprinsip dan berkarakter. Jangan takut ditolak, Ditolaknya seorang pria oleh wanita pujaannya, ada dua kemungkinan menurut saya: pertama, mungkin dia bukan jodoh terbaiknya maka Allah ingin mempertemukn dengan yang lebih baik di mata-Nya. Kedua, mungkin dia jodohnya, tetapi Allah ingin menguji dia, atau si wanitanya ingin menguji si prianya, seberapa besar cintanya. kan ada tuh lagu yang berbunyi “…buktikanlah kau cinta padaku, buat aku tergila-gila padamu… kuingin tahu kesungguhanmu sebelum bilang I Love You..”

    Kebanyakan cewe berpola pikir:

    cewe akan lebih memilih cowo yang sudah terbukti mencintainya dari pada cowo yang dia cintai tapi cowo (yang dia cintai itu) kurang memberikan bukti dan keseriusan cintanya pada cewe tersebut.”

    Sekuat-kuatnya seorang cewe menolak kamu, kalau kamu terus menerus menunjukan keseriusanmu dan pantang menyerah, dia akan menerimamu. Dia akan memulai mencintaimu juga.

    Kalau kau suka sama cewe, kalau kau merasa yakin dia adalah jodohmu,

    KAMU HARUS BERANI MENEMBAK DIA, UTARAKAN ISI HATIMU. PERCAYA DIRI SAJA.

    DITOLAK ITU ADALAH KESUKSESAN YANG TERTUNDA.” Jangan patah hati. Terus buktikan ketulusan cinta dan sayangmu padanya dan tunjukan bahwa kau perhatian padanya. Terus buktikan padanya bahwa kamu serius mencintai dan menyayanginya. Lalu tembak lagi dia, tembak lagi dia, tembak lagi dia, sampai kau diterima.

    Strategi menghadapi penolakan:

    Kalau kau ditolak cewe:

    1. minta dia untuk jadi temanmu atau sahabatmu, ini supaya kau tetap punya akses sms atau telpon dia. Biar memudahkan kamu pendekatan. Kau berikan dia perhatian, tunjukan kalau kau sayang dan cinta dia. Berikan dia kejutan-kejutan yang membahagiakan dia tapi yang sederhana saja.
    2. Kamu lakukan pendekatan ulang berkedok persahabatan/ pertemanan itu selama sekitar sebulan, lalu kau utarakan lagi perasaanmu, kau tembak lagi dia.
    3. dilolak lagi? Ya ampun….. kembali ke poin ke-1, terus kau pendekatan lagi, lalu sekitar sebulan. Lalu kau tembak lagi dia. Ditolak ulang? Tetap semangat, kemnali ke poin 1, lalu kau tembak lagi dia. Lakukan sampai kau diterima.
    4. bagaimana kalau dia menjauhimu? Kamu harus terus berusaha mendekati dia. Cari cara mendekati dia. Terus berpikir cari cara mnedekati dia. Kirim sms, telpon, kirim surat, dll. Terus berjuang. Terus buktikan kalau kamu serius ma dia. Kalau kau sayang ma dia. Kalau kau perhatian ma dia.

    Tapi ingat: JANGAN KETERLALUAN, PILIHLAH HAL-HAL YANG SEDERHANA SAJA KETIKA PENDEKATAN. PILIH HAL-HAL YANG SIMPEL AJA. YANG PENTING KAMU MELAKUKAN ITU DENGAN TULUS. HANYA INGIN MEMBUATNYA BAHAGIA DAN SENANG. BERIKAN HAL-HAL YANG BISA MEMBUATNYA SENANG DAN MEMBAHAGIAKANNYA.

    WANITA ADALAH MAKHLUK YANG SERING  banyak MENGGUNAKAN PERASAAN KETIKA MEMUTUSKAN SESUATU. Hal ini membuat mereka tidak tegaan. Kalau ada pria yang tulus mencintainya. Terus-terusan menembak dia tapi selalu dia tolak. Lama-kelamaan wanita tidak tegaan dan akhirnya memulai untuk menerima pria tersebut dan memulai mencoba mencintainya.

    Kalau kamu cinta ma dia, jangan pendekatan sama dia saja. Coba kamu dekati sahabat-sahabatnya dan saudaranya. Karena dari sahabat-sahabatnya itulah kamu akan tahu apa-apa yang dia sukai, apa-apa saja yang bisa membuat dia bahagia. Apa-apa saja yang bisa membuatnya senang. Apa-apa saja yang dia ingin punya tetapi belum dia punya. Apa-apa saja yang dia benci, tipe cowo seperti apa yang dia suka, apa-apa saja hal yang harus jangan kamu lakukan. Kamu akan tahu juga hobi dia itu apa. Kebiasaan-kebiasaan dia, dan banyak hal lainnya.

    Saya menyarankan Anda untuk mengetahui hal-hal seperti apa yang disuka, dibenci, dan lain-lain itu, bukan berarti dia harus kehilangan jatidiri Anda dengan melakukan segala yang disenangi si cewe dan tidak melakukan yang tidak disenangi si cewe. Informasi-informasi itu sangat dibutuhkan guna sebagai petunjuk bagi Anda dalam melakukan pendekatan. Saya akan beri contoh kasus nyata: ada seorang teman cewe, dia tidak suka sama cowo yang terlalu cemburuan, dan harus tahu segala sesuatu tentang keadaan dia sehari-hari. dia suka sama cowo yang berwawasan luas, dan suka melakukan backpacker. Ada beberapa cowo yang melakukan pendekatan sama dia, semuanya dia tolak. Lalu ada seorang cowo yang suka sama dia. Cowo itu tidak langsung nembak ini cewe, tapi coba mencari tahu tentang si cewe. Dia berteman dengan sahabat-sahabat si cewe. Dia kenali seperti apa lingkungan si cewe. Dari informasi2 itu, dia melakukan pendekatan yang tepat yang pas dihati si cewe dan hasilnya dia diterima.

    INGAT: KALAU MASIH PENDEKATAN, JANGAN KELUARKAN GOMBALAN-GOMBALANMU. GOMBALAN ITU HANYA BOLEH KAMU BERIKAN PADANYA KALAU KAMU DAN DIA SUDAH JADIAN. KALAU KAMU GOMBAL PADA SAAT PENDEKATAN, KEBANYAKAN WANITA JUSTRU AKAN MENJAUHIMU. LEBIH BAIK UTARAKAN BERBICARALAH SETULUS-TULUSNYA, SEJUJUR-JUJURNYA.

    INGAT: KEBANYAKAN WANITA MEMILIKI KEMAMPUAN MENDITEKSI KEBOHONGAN HANYA DENGAN MELIHAT GAYA TUBUH DAN MATA KETIKA KAMU BERBICARA. Kalau kamu mau bohong, lebih baik di telpon atau sms. Tapi jangan sering-sering. Sebisa mungkin dalam masa pendekatan, jangan berbohong. Tulus saja, jujur saja. Kalau kamu tulus dan jujur, itu akan memberikan nilai positif dirimu dihatinya.

    Ketika kamu menembaknya, utarakan juga kalau kamu ingin mengenal dia lebih dalam sebelum kamu mengkhitbah/ melamarnya. Utarakan keseriusanmu untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan. Hal ini penting, karena KEBANYAKAN WANITA LEBIH MEMILIH PRIA YANG PUNYA KOMITMEN SERIUS MELANJUTKAN ke jenjang  PERNIKAHAN daripada yang pria yang hanya ingin pacaran saja, tidak memiliki komitmen menuju pernikahan.

    Menembak wanita berkali-kali akan ditafsirkan oleh wanita sebagai bentuk keseriusan si Pria padanya. Bisa juga di tafsirkan sebagai bukti bahwa pria tersebut mencintainya.

    Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, memiliki kebaikan dan keburukan. So, percaya diri saja. Sehebat-hebatnya cewe dimatamu, Aku yakin kau punya kelebihan dan kebaikan di banyak hal daripada dia. Ingat kamu adalah Pria.

    PRIA ITU HARUS BERANI: Berani memulai, berani mengambil resiko, berani berpikir, berani bertanggungjawab, berani bermimpi, berani bertindak, berani mengutarakan isi hati, berani melamarnya, berani mengajaknya menikah. Apakah kamu Pria? Atau Pria jadi-jadian?

    INGAT: KAMU ITU PRIA…. PRIA ITU HARUS BERANI MENYATAKAN CINTA, BERANI DITOLAK, DAN BERANI MENYATAKAN CINTA LAGI SAMPAI DITERIMA.

     

     

    Sang Provokator Cinta,

    Karangwuni, 1 november 2009

    Shaf sholat wanita kok dibelakang? Bias gender tuh?

    13 September 2009 at 08:03 | In opiniku | Leave a Comment

    Pada suatu hari, saya ngobrol dengan seorang teman yang juga seorang aktivis gender. Walaupun sebenarnya dia adalah seorang musimah dan berjilbab, tetapi ketika ngobrol tersebut saya kaget dengan sebuah pernyataannya, “Kadang-kadang saya kok merasa Islam itu bias gender juga.” Lalu saya bertanya, “kok bisa? Contohnya seperti apa?” lalu dia berkata, “contohnya ketika sholat berjamaah, kenapa wanita duduk di belakang, bahakan shaf yang paling baik bagi wanita adalah dibelakang. Apakah itu bukannya bias gender?”

    Jujur, ketika itu, saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya coba berpikir sejenak. Lalu saya berkata, “Menurutku masalah sholat ini kan masalah ibadah mahdhoh yang tata caranya sudah diatur sangat rinci oleh Allah dan Rasuk-Nya. Kita hanya menurut saja. Kita tidak boleh menambah ataupun mengurangi.” Dan jawabanku tersebut malah tidak menjawab pertanyaan dia malah membuat dia bingung. Daripada meneruskan obrolan masalah ini dimana aku belum tahu jawabannya, lalu aku ajak dia membicarakan obrolan dengan topik lain.

    Setelah kembali ke kos, pertanyaan dari teman saya tadi terus terngiang-ngiang di pikiran saya. Lalu saya coba diskusikan masalah ini dengan teman-teman saya di IMM dan saya juga cari-cari referensi buku. Saya menemukan sebuah judul buku yang bagus untuk menjawab pertanyaan itu, judulnya “Mereka bertanya, Islam Menjawab” yang diterbitkan oleh penerbit Aqwam.

    Dari semua diskusi dan baca buku yang saya lakukan, saya menarik kesimpulan sebagai berikut:

      1. Ada sebuah hadis dalam kitab shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra. tentang berdiamnya lelaki setelah salam dalam shalat. Ummu Salamah menuturkan bahwa pada masa Rasulullah jika kaum perempuan telah mengucapkan salam dalam shalat fardhu, mereka bergegas berdiri , sementara Rasulullah beserta jamaah pria tetap tinggal hingga waktu tertentu. Dan jika Rasulullah berdiri maka para lelaki itupun berdiri. Andai laki-laki sholat dibelakang perempuan, tentu ketika perempuan keluar dia harus melangkahi barisan laki-laki.

      2. Setiap seorang melakukan sholat, dia harus khusuk, memfokuskan perhatian hanya kepada Allah. Dia harus menyingkirkan segala gangguan yang dapat membuatnya memikirkan sesuatu selain Allah. Bagi seorang laki-laki, hal ini akan lebih sulit dilakukan apabila ada perempuan didepannya. Indra penglihatan laki-laki lebih sangat sensitif terhadap rangsangan, sehingga ketika perempuan sholat didepannya bisa membuat dia kurang khusuk dalam sholat. Hal ini sangat berbeda dengan perempuan yang lebih bisa sholat khusuk walaupun dibelakang laki-laki. (masalah indra yang paling sensitif pada laki-laki dan perempuan, sudah saya jelaskan pada tulisan saya yang berjudul “Pakai Jilbab, Sudah Bias Gender, Ribet, Ga Gaul, dan Gerah lagi?”)

        Mungkin baru sebatas ini saja jawaban dari saya untuk menjawab pertanyaan dari teman saya tersebut. Jujur, saya masih belum puas dengan jawaban saya sendiri, bagi kawan-kawan yang membaca tulisan saya ini dan mempunyai jawaban yang lebih baik dari jawaban saya, saya tunggu partisipasinya untuk berbagi ilmu dengan mengisi kolom komentar dibawah tulisan ini.

        Muhammad Surya

        Anggota Lembaga Studi Gender & HAM

        Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah DIY

        2009-2010

        Pakai Jilbab, Sudah Bias Gender, Ribet, Ga Gaul, dan Gerah lagi?

        13 September 2009 at 07:45 | In opiniku | 1 Comment

        Curhat Pembuka

        Ketika aku bertanya kepada beberapa teman ceweku yang tidak pake jilbab, kenapa dia ga mau pake jilbab, jawabannya biasanya karena pake jilbab itu gerah, ribet, atau karena belum dapet hidayah. Apakah jawaban seperti ini bisa diterima?

        Kebanyakan temen-temen saya yang sudah berkerudung, memiliki keyakinan bahwa jilbab itu hanya sebatas menutupi rambut, pakai baju lengan panjang, dan pakai rok atau celana panjang. Apakah seperti itu?

        Orang awam banyak bertanya: kenapa wanita dalam Islam harus pakai kerudung? Kenapa harus pakai jilbab? Apa keuntungan pakai jilbab? Kenapa laki-laki batasan auratnya lebih sedikit daripada perempuan? Bias gender banget! Apakah pakai jilbab hukumnya wajib? Lalu kenapa anak-anak para tokoh Islam seperti anak pak Gusdur dan Pak Amien Rais ga pake jilbab yang tertutup, bahkan ga pake jilbab? Emang pake jilbab itu wajib?

        Dari pertanyaan-pertanyaan diataslah aku mulai mencari-cari jawaban. Kenapa aku tertarik mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas, karena pertanyaan-pertanyaan itu sering ditanyakan kepadaku oleh teman-teman, sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku dan jujur ketika mereka bertanya, aku belum bisa menjawab yang membuat mereka puas. Aku hanya bisa menjawab, “karena itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya yang harus kita ikuti. Sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami taat, itu adalah semboyan bagi orang-orang yang beriman.” Tetapi jawaban seperti itu belum bisa membuat mereka terketuk hatinya. Harus ada pendekatan yang bisa membuat pikiran mereka terbuka dan cara penyampaiannya nyaman dihati. Maksudnya, argumentasi yang kita buat, bisa diterima oleh akal dan pikiran mereka, serta cara penyampaiannya yang lembut, nyaman didengarkan, nyaman dihati, disertai dengan tauladan, dan tidak terkesan menggurui. Sulit sih, jadi mubaligh atau ustad emang sulit sekali. Makanya, kita harus menghargai dan menghormati mereka walau kadangkala mereka berbuat kesalahan.

        Jujur, aku merasa belum punya kualifikasi sebagai mubaligh atau ustad. Tapi aku hanyalah orang yang ingin membantu teman, sahabat, dan saudara-saudaraku yang sedang bingung, ragu, dan bimbang mengenai masalah jilbab ini.

        Aku punya sebuah keyakinan, bahwa semua peraturan Allah itu pasti ada hikmahnya. Walaupun banyak diantaranya, manusia belum bisa mengetahui apa hikmah dibalik sebuah perintah. Aku yakin bahwa Islam bukan agama doktrin, tetapi agama yang logis. Walau ada bebeapa diantaranya yang logika manusia belum bisa memahaminya, tetapi aku yakin, suatu hari nanti, akal manusia akan bisa memahaminya. Kita manusia sebagai makhluk yang berakal, diwajibkan untuk terus mencari hikmah-hikmah itu, dengan terus melakukan penelitian, terus belajar, terus bertanya, terus berpikir, dan terus bereksperimen. Dengan begitu, iman kita akan semakin kuat dan umat Islam akan berjaya lagi.

        1. Kenapa ada Perintah memakai Jilbab?

        Begini ceritanya:

        Suatu saat, dizaman Nabi Muhammad SAW masih hidup, di kota Madinah masih banyak cowo-cowo iseng yang suka godain cewe-cewe. Tidak terkecuali wanita-wanita muslimah yang masih muda-muda dan cantik-cantik. Biasanya, kayak cowo-cowo iseng zaman sekarang, mereka nongkrong dipinggir jalan atau di sisi gang. Kalau ada cewe yang lewat, mereka bersiul atau tanya-tanya ga jelas gitu lah, kira-kira hampir sama kayak cowo-cowo zaman sekarang ketika sedang godain cewe.

        Para muslimah itu kesal dengan perlakukan para cowo-cowo iseng tadi pada mereka, lalu melapor kepada Nabi Muhammad SAW. Mendapat laporan seperti itu, lalu nabi memanggil para cowo-cowo iseng tadi dan menasehati mereka. Cowo-cowo iseng itu berkata bahwa mereka tidak bisa membedakan mana wanita baik-baik atau wanita muslimah dan mana cewe-cewe nakal yang suka digodain cowo kaya mereka. Mereka kira ketika cewe-cewe muslimah berjalan didepan mereka, mereka menyangka itu cewe-cewe nakal yang biasa mereka godain. Mereka ga bisa membedakannya.

        Lalu selang beberapa waktu dari kejadian itu, turun ayat Al Quran Surat al Ahzab ayat 59 yang berbunyi:

        “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan Istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

        Dari ayat diatas, kita dapat sebuah kesimpulan bahwa tujuan memakai jilbab adalah supaya mudah dikenali sebagai seorang Muslimah dan supaya mereka tidak diganggu. Aku akan mencoba memberi ilustrasi, misalnya ada dua orang cewe kembar. Dua-duanya cantik mempesona. Yang satu pakai jilbab rapi layaknya seorang muslimah dan yang satu pakai rok mini dan baju tank top. Lalu kedua cewe ini lewat di suatu gang dimana disana banyak cowo-cowo iseng yang lagi nongkrong. Kira-kira yang bakal digodain sama cowo-cowo itu cewe yang mana? Kalau aku jadi cowo-cowo itu dan emang aku juga pernah ngalami sendiri (jujur), lebih senang godain cewe yang seksi. Itu sih dah jadi insting kelakilakian, normal lah. Dan sepengalaman saya bergaul sama temen-temen cowo, mereka sukanya godain cewe-cewe pakai baju seksi. Kalau ga percaya, coba kamu tanya pada temen-temen cowo mu, aku yakin jawabannya ga jauh beda dengan jawabanku. Jangan coba tanya hal ini pada cowo-cowo gay atau banci, pasti beda jawabannya.

        2. Kenapa cowo suka lihat cewe seksi?

        Seperti yang kita ketahhui, indra yang sangat sensitif dengan rangsangan seksual pada seorang cowo adalah indra penglihatannya. Baru setelah itu indra pendengaran dan indra peraba. Beda sama cewe dimana indra yang sangat sensitif dengan rangsangan seksual adalah indra peraba. Seorang laki-laki normal, kelaminnya akan ereksi dan pikirannya langsung membayangkan hal-hal yang XXXXXXX ketika melihat beberapa bagian tubuh wanita. Itulah kenapa kebanyakan cowo suka lihat film porno atau pernah lihat film porno. Dan itulah alasan mengapa cowo-cowo itu suka lihat cewe-cewe berpakaian seksi.

        3. Kenapa cowo terangsang lihat cewe berpakaian seksi?

        Kalau cewe suka datang bulan atau menstruasi, sebenarnya laki-laki juga ada sebuah siklus yang agak-agak mirip. Seperti yang kita ketahui, testis itu memproduksi sperma terus menerus tanpa henti. Ketika kantung sperma telah penuh, biasanya cowo akan lebih mudah terangsang atau mudah/ sering membayangkan hal-hal yang berbau seksual dan bisa juga menyebabkan mimpi basah ketika tidur. Seorang laki-laki ketika mengalami masa ini, mungkin dengan hanya melihat leher atau betis atau bahkan lengan  seorang wanita, sudah bisa membuatnya berhayal atau berpikir sesuatu yang bersifat seksual. Jujur, saya tidak berani menggambarkan seperti apa khayalan atau pikiran seorang cowo ketika mengalami hal tersebut. Berbeda ketika kantung sperma cowo sedang kekurangan sperma, ketika itu, seorang cowo memiliki kecenderungan tidak terlalu sensitif. Mungkin kalau Cuma lihat betis, lengan atau leher wanita tidak akan membuat dia terangsang atau berkhayal yang “aneh-aneh”. Walaupun cowo sedang tidak sensitif terhadap rangsangan, tetapi kalau dia lihat cewe telanjang, pasti akan terangasang. Inti bedanya ada pada tingkat kesensitifannya.

        Yang ingin aku tanyakan kepada kamu wahai cewe-cewe yang ada didunia ini, apakah kalian bisa membedakan mana cowo yang sedang dalam tingkat sensitif rangsangan seksualnya tinggi dan mana yang rendah?

        Menurut saya, Allah memerintahkan wanita berjilbab ketika keluar rumah atau berhadapan dengan cowo non mahroh adalah untuk menjaga kehormatan wanita supaya tidak dijadikan objek seksualitas cowo-cowo. Emang sih, mungkin cowo-cowo itu bersikap sopan, tetapi apakah kalian tahu, apa yang sedang dipikirkan mereka ketika melihat kalian?

        Berbeda ketika seorang cewe memakai jilbab, bajunya tidak ketat atau longgar, dan menutupi seluruh auratnya. Seorang laki-laki yang sedang mengalami tingkat sensitifan seksual yang tinggi ketika melihat wanita itu, tidak akan timbut pikiran-pikiran yang berbau seksualitas. Karena hal-hal yang membuat kesinsitifan seksualnya meningkat, itu tertutup oleh jilbab dan pakaian yang wanita itu kenakan.

        4. Apakah cukup hanya dengan memakai jilbab?

        Misalnya, ada cewe namanya Mita. Mita ini sudah memakai jilbab, pakaiannya menutup aurat, dan kain pakaiannya tidak ketat atau kainnya tidak tembus pandang atau tidak menampakan bayangan bentuk tubuh. Singkat cerita, dia berpakaian seperti layaknya seorang muslimah yang taat. Apakah sudah cukup? Saya pikir belum. Jilbab bukan hanya secara fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan menjaga sikap, perkataan dan tingkahlaku. Menskipun si Mita sudah berpakaian seperti itu, tetapi misalnya ketika berjalan pinggulnya sengaja dilenggak-lenggokan dan kalau ngobrol sama cowo non-mahroh sering ngobrolin hal-hal mesum, yah percuma saja.

        Jilbab hanya menutupi pintu masuk rangsangan melalui indra penglihatan bagi seorang laki-laki. Ini baru indra penglihatan, belum indra pendengaran dan indra peraba.

        5. Apakah wajib pake kerudung yang gede kayak akhwat2 aktivis mesjid kampus itu? Boleh ga pake kerudung yang kecil?

        Allah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31:

        Katakanlah kepada wanita beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasanya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakan perhiasannya , kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budakyang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang berimansupaya kamu beruntung.”

        Dalam kandungan ayat diatas ada perintah untuk memakai kain kerudung hingga menutupi dada. Jadi, kerudung yang dipakai tidak hanya menutupi rambut dan leher saja, tetapi harus sampai menutupi dada.

        6. Kenapa kain kerudung harus sampai menutupi dada?

        Jawaban singkatnya, karena itu adalah perintah Allah. Kalau perintah Allah kita hanya ‘sami’na wa atha’na ‘ atau kami dengar dan kami taat. Yakinlah bahwa semua perintah Allah itu pasti ada manfaatnya. Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali ada manfaatnya dan ada mudharatnya atau mafsadatnya bila dilanggar. Itu adalah motto orang yang beriman.

        Aku coba mencari-cari apa sebenarnya manfaat dari mengulurkan kerudung hingga menutupi dada. Aku coba tanya-tanya pada orang yang berilmu dan coba mencari-cari referensi buku. Setahu aku manfaat dan mafsadatnya adalah seperti yang akan kujelaskan dibawah ini:

        1. Aku pernah membaca sebuah hadist yang intinya menerangkan bahwa jika seorang wanita keluar rumah dan di depannya ada seorang laki-laki, maka setan akan berada di dada wanita itu (untuk menggoda penglihatan si laki-laki supaya pandangannya tertuju pada dada), dan bila laki-laki ada di belakang wanita, maka setan ada di pinggul wanita tersebut (setan menggoda laki-laki itu untuk melihat goyang pinggul wanita tersebut ketika berjalan).
        2. Jujur aku sadari sendiri dan begitu juga semua laki-laki yang aku tahu, mereka baik secara terang-terangan ataupun tersirat mengakui bahwa ada dua bagian dari tubuh perempuan yang jadi favorit untuk dilihat bahkan kadang-kadang bisa menimbulkan nafsu syahwat. Bagian itu adalah besar serta bentuk payudara dan pinggul. Meskipun dua bagian itu sudah ditutup oleh pakaian, tetapi bentuk dan besarnya bisa teramati, maka masih bisa menimbulkan potensi untuk meningkatnya nafsu syahwat bagi seorang laki-laki. Kalau kita pernah lihat film Dono-kasino-indro, atau film-film yang mesum atau agak mesum, biasanya yang selalu menjadi sorotan kamera atau objek melihat aktor pria dari seorang aktris perempuan adalah bagian payudara dan pinggul aktris perempuan (terutama ketika aktris itu sedang memerankan akting berjalan). Dan memang kenyataannya seperti itu. Bagiku sebagai seorang laki-laki adalah normal ketika seorang laki-laki tertarik melihat pinggul wanita atau bagian dada meskipun itu tertutup kain.

        Jadi, kesimpulan yang bisa kuambil, bahwa tujuan mengapa kerudung harus diulurkan sampai kedada adalah untuk menyamarkan bentuk dan besarnya payudara. Begitu juga kenapa pakaian wanita harus longgar tidak boleh ketat, karena untuk menyamarkan lekuk tubuh dan bentuk pinggul serta menyamarkan goyang pinggul ketika wanita berjalan. Sebenarnya inti dari tujuan semua ini adalah untuk menjaga kehormatan dan harga diri wanita dimata seorang pria.

        7. Kenapa aurat perempuan lebih banyak daripada aurat laki-laki (aurat perempuan: semua bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan, mazhab Maliki berpendapat telapak kaki sampai mata kaki wanita bukan aurat; aurat laki-laki: hanya dari pusar sampai lutut, bahkan Imam Malik berpendapat bahwa paha laki-laki bukan aurat)

        Kalau menurut saya, seperti yang saya tulis diawal tulisan ini, bahwa indra yang sangat sensitif menerima rangsangan bagi seorang laki-laki adalah penglihatan, sehingga hanya dengan melihat seorang wanita pada bagian-bagian yang pernah saya sebutkan diatas, nafsu syahwat seorang laki-laki bisa langsung meningkat. Berbeda dengan perempuan, dimana indra perabanya sangat sensitif menerima rangsangan. Hal ini bukan berarti indra penglihatannya tidak sensitif. Indra penglihatannya tetap sensitif tetapi hanya pada bagian tubuh tertentu pada pria yang jumlahnya lebih sedikit, misalnya ketika melihat paha atau kemaluan laki-laki. Oleh karena itu, seorang laki-laki minimal harus menutup bagian paha dan kemaluannya ketika berhadapan dengan wanita yang bukan istrinya.

        8. Kenapa banyak anak perempuan dan istri tokoh-tokoh umat Islam seperti KH Abdurahman Wahid, Amien Rais, KH A. Badawi (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah), atau aktivis-aktivis ‘Aisyiah dan Muslimat NU tempo dulu banyak ga pakai jilbab yang tertutup atau hanya memakai kerudung tetapi rambut dan lehernya masih kelihatan?

        Sebuah pertanyaan yang sulit saya jawab. Tetapi pertanyaan ini sering ditanyakan oleh orang yang awam atau aktivis dakwah bahkan oleh sebagian wanita sering dijadikan alasan untuk tidak memakai jilbab. Sebuah pertanyaan yang harus saya cari jawabannya.

        Pertanyaan ini pernah ditanyakan pada Prof. Dr Yunahar Ilyas, Lc. oleh seorang peserta wanita Pengajian Mahasiswa kamis pagi di Aula PP Muhammadiyah Jl. Cikditiro, Yogyakarta. Inti jawaban beliau adalah bahwa ada  dua kemungkinan:

        1. mereka adalah penganut mazhab minoritas para ulama yang menyatakan bahwa rambut sampai leher itu bukan aurat peempuan. Atau penganut mazhab yang menyatakan bahwa rambut, leher, tangan, dan betis perempuan adalah aurat yang ringan, sehingga kalau tidak ditutup hanya menimbulkan dosa kecil, tetapi kalau ditutup akan mendapat pahala. Tetapi pendapat ulama-ulama seperti itu sudah banyak  sekali dibantah oleh para ulama.
        2. Mereka sudah tahu dan faham tentang masalah wajibnya memakai jilbab bagi seorang muslimah, tetapi tokoh-tokoh itu belum bisa menyadarkan istri dan anak-anak perempuannya untuk memakai jilbab.

        9. Lalu seperti apa pakaian atau jilbab yang wajib dikenakan oleh seorang wanita? Bolehkah cewe pakai celana jins ketat?

        Jawaban dari pertanyaan ini, sudah saya singgung ditulisan ini, tetapi masih sebagiannya saja, masih banyak yang belum saya sebutkan. Untuk jawaban secara kumplitnya mari kita diskusikan bersama. Bagi yang tahu, silahkan menuliskannya di kolom komentar di bawah tulisan ini.

        Kesimpulan

        Inti tulisan yang saya buat ini adalah bahwa saya ingin menyampaikan kepada teman, sahabat, dan saudari-saudari saya (yang masih awam dan ragu untuk memakai jilbab) tentang tujuan atau hikmah dibalik perintah memakai Jilbab bagi perempuan. Saya hanya menuliskan sebatas yang saya tahu, yaitu supaya mereka mudah dikenali sebagai seorang muslimah, untuk meminimalisir potensi diganggu oleh cowo-cowo iseng, dan untuk memelihara harga diri serta kehormatan seorang perempuan dimata pria.

        Muhammad Surya

        Anggota Lembaga Studi Gender & HAM

        Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah DIY

        2009-2010

        Benarkah Muhammadiyah dukung JK-Win?

        28 Juni 2009 at 19:45 | In opiniku | 2 Comments

        saya mendapatkan seorang teman berstatus di facebook seperti ini:

        “dpp hidayatullah, dpp fpi, bkmt, muhammdiyah, nu sudah memberikan dukungan kepada JK-Win …kenapa harus melirik ke calon yang laih????”

        Benarkah Muhammadiyah mendukung JK-Win? Apakah kader Muhammadiyah telah melupakan Khittah Muhammadiyah? lalu saya mencari tahu apakah benar Muhammadiyah mendukung JK-Win. saya membuka situs resmi Muhammadiyah. lalu saya menemukan http://www.muhammadiyah.or.id/downloads/Maklumatpilpres.pdf
        sebuah maklumat resmi PP Muhammadiyah tentang pilpress, yang diantaranya ada kalimat

        “Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan tajdid tetap istiqamah
        dengan Khittah untuk tidak memiliki hubungan dan tidak terlibat dalam
        melakukan dukungan politik  dengan kekuatan politik mana pun. Fasilitas gedung, amal usaha, masjid dan mushala, serta institusi-institusi di lingkungan Muhammadiyah tidak boleh  digunakan untuk kepentingan dan kampanye politik. Apabila terdapat anggota Pimpinan Persyarikatan,   Majelis, Lembaga, Organisasi Otonom, Amal Usaha, dan institusi-institusi lainnya dalam lingkungan Muhammadiyah yang menjadi anggota Tim Sukses dari calon Presiden dan Wakil  Presiden maka yang bersangkutan  dinon-aktifkan dari jabatannya sampai selesai kegiatan Pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden. “

        dan kalimat

        “Mengajak kepada warga Muhammadiyah pada khususnya dan warga bangsa
        pada umumnya agar menggunakan hak politik secara cerdas untuk memilih pemimpin nasional yang benar-benar  memiliki sifat dan kualitas sebagai berikut: (1) berjiwa negarawan dengan mengutamakan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan  lainnya, (2) berkarakter kuat yang ditunjukkan  dengan keteguhan memegang prinsip serta kesesuaian antara kata dan tindakan, (3) memiliki visi kebangsaan yang jelas khususnya dalam melakukan penyelamatan atas sumberdaya alam dan  kekayaan negara, (4) mampu bekerja-keras dan bekerja-nyata untuk  kemajuan bangsa, (5) mengedepankan kemandirian ekonomi nasional dan mewujudkan kebijakanekonomi bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, (6) menjaga martabat
        bangsa dan kedaulatan negara dari berbagai intervensi dan kepentingan asing, (7) mengagendakan perubahan yang konkret untuk keluar dari transisi dan membawa kemajuan sejalan dengan cita-cita nasional, (8) melakukan revitalisasi reformasi dan demokrasi yang bersifat mendasar disertai kebijakan-kebijakan nasional yang mengutamakan  hajat hidup rakyat, dan (9) secara proporsional akomodatif terhadap aspirasi  umat Islam dengan tetap menunjukkan komitmen kuat  dalam membangun bangsa secara keseluruhan.”

        Aku tidak menemukan kalimat yang menyatakan bahwa Muhammadiyah mendukung JK-Win, lalu darimana teman saya bisa menyimpulkan bahwa Muhammadiyah mendukung JK-Win?
        Lalu saya bertanya dan dia menjawab:

        “ada selebaran yang dibagikan saat kajian kamis pagi kemarin…coba aja dicari mas..
        saya bukan hendak berdebat suka atau tidak suka mas..tapi mari kita kritis dan melihat berdasarkan analisis-pandangan yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercayai…
        karena kalau masalah suka tidak suka tergantung selera..tapi kalau berdasarkan analisis, kita bisa beradu data…okey..”

        dari semua hal diatas tadi, saya ingin berkomentar”
        yang ku permasalahkan adalah status teman saya  yang  mengatakan “muhammadiyah sudah memberikan dukungan pada JK-Win.”  kalimat ini menurut saya bermasalah. karena

        (1) tidak ada surat keputusan atau maklumat yang disebarkan PP Muhammadiyah untuk mendukung JK-Win.

        (2) kalaupun ada, hal itu melanggar Khittah Muhammadiyah dan Pesan KH Ahmad Dahlan.

        (3) kalau mas/mbak mendapat selebaran di kajian kamis pagi PP Muhammadiyah untuk mendukung salah satu capres dan cawapres, periksa dulu siapa penyebar selebaran itu, apakah itu resmi dari PP muhammadiyah? atau dari tim sukses salah satu calon capres dan cawapres.

        (4) pernyataan dukungan dari beberapa tokoh muhammadiyah atau orang2 muhammadiyah tidak bisa di simpulkan bahwa muhammadiyah secara intitusi mendukung JK-Win. karena

        (5) muhammadiyah adalah organisasi, sehingga segala kebijakan akan dikeluarkan/diumumkan dalam bentuk surat keputusan atau maklumat, atau khittah. itu semua setelah melalui proses musyawarah dulu baik di internal PP atau tanwir atau muktamar.

        (6) kalau ada tokoh Muhammadiyah mengemukakan pendapat atau pandangan, bukan berarti itu merupakan pendapat atau pandangan resmi Muhammadiyah. boleh jadi itu hanya pendapat pribadi mereka sendiri.
        kalau ada satu atau beberapa tokoh Muhammadiyah yang mendukung salah satu calon, bukan berarti   Muhammadiyah secara institusi juga mendukung JK-Win. yang jadi masalah, ada juga tokoh Muhammadiyah yang mendukung SBY-Budiono, atau Mega- Prabowo.

        (7)usul: sebaiknya teman saya  menggunakan kalimat: ” sebagian besar tokoh dan orang Muhammadiyah yang SAYA KENAL, mendukung JK-Win.”

        (8) Tantangan: kalau ada mas atau mbak yang berkeyakinan bahwa Muhammadiyah secara institusi  mendukung JK-Win, tunjukan pada saya SK PP Muhammadiyah atau surat maklumat yang menyatakan Muhammadiyah mendukung salah satu calon presiden? kalau mas atau mbak tidak bisa menunjukkan, sebaiknya mas atau mbak  merevisi keyakinan tersebut.

        kesimpulan komentarku: Janganlah karena kita condong pada salah satu capres dan cawapres, lalu mengetahui bahwa ada beberapa tokoh atau orang2 Muhammadiyah yang sama mendukung capres dan cawapres yang dia suka, lalu melakukan overgeneralisasi bahwa Muhammadiyah mendukung capres dan cawapres yang dia suka.

        Kitab Riyadhus Shalihin Jilid 1

        13 Juni 2009 at 15:47 | In e-book | Leave a Comment

        Klik judul buku di bawah ini

        r-shalihin-book-1

        bila Anda tidak bisa mendownload e-book ini, silahkan buat komentar.

        Kitab Riyadhus Shalihin Jilid 2

        13 Juni 2009 at 15:36 | In e-book | 1 Comment

        Klik judul buku di bawah ini

        riyadhus-salihin-2

        bila Anda tidak bisa mendownload e-book ini, silahkan buat komentar.

        Cerita Tentang KH. Ahmad Dahlan Catatan H. Muhammad Syoedjak

        13 Juni 2009 at 15:26 | In e-book | Leave a Comment

        Klik judul buku di bawah ini

        Catatan_Kyai_Soedjak

        bila Anda tidak bisa mendownload e-book ini, silahkan buat komentar.

        Halaman Berikutnya »

        Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
        Entries and comments feeds.