Penilaian Negatif Kepada Orang yang Berbeda Keyakinan
19 Mei 2008 at 16:17 | In Dakwah Caraku | 2 Comments
Penilaian Negatif Kepada Orang yang Berbeda Keyakinan
Kebanyakan orang ketika menghadapi orang yang berbeda pendapat atau keyakinan dengannya, dia langsung apriori dengan orang tersebut. Setelah itu melakukan justivikasi, labelisasi, hujatan, atau penilaian negatif pada orang tersebut. Seperti, “pendapat Anda lemah,” “Logika yang Anda gunakan lemah,” “dengan berpandangan seprti itu berarti Anda telah kafir,” “Ada telah jadi orang munafik,” “Anda salah,” “logika Anda Amburadul,” dan masih banyak yang lain. Kita bisa menemui kalimat seperti ini atau yang sejenisnya ketika menyaksikan orang yang sedang berdebat atau diskusi (yang menjurus ke debat).
Orang yang apriori, dia akan langsung menyalahkan orang yang berkeyakinan berbeda dengannya tanpa meneliti atau menyimak lebih jauh dan dalam setiap argumen yang dilontarkan oleh orang berbeda pendapat dengan nya. Bahkan sekuat dan selengkap apapun argumen yang diutarakan oleh orang yang beda pendapat dengannya, dia tidak perhatikan, didalam pikirannya hanya ada kata bahwa orang argumentasinya salah, aku pasti benar, dan aku harus mematahkan argumentasinya.
Tidak ada orang yang suka dinilai negatif oleh orang lain. Bila itu terjadi, maka orang akan cenderung membela diri (membela kehormatan dirinya) betapapun benar adanya penilaian itu. Setelah itu yang terjadi bukannya dialog yang sehat, tapi akan mengarah pada debat kusir yang tidak ada manfaatnya dan orang yang kalah pada debat itu akan merasa sakit hati, minder dan rendah diri. Bila hal ini terjadi pada diri kita, segera sadar dan ganti topik pembicaraan atau tinggalkan tempat perdebatan tersebut.
Ingat bahwa manusia bukan hanya mahkluk berlogika saja tetapi makhluk yang berperasaan dan memiliki emosi. Bahkan emosi dan perasaan manusia jauh lebih dominan dalam kehidupannya daripada logikanya.
Lebih baik ketika kita menghadapi orang yang berbeda pendapat atau keyakinan dengan kita, jangan langsung apriori, tetapi tenangkan pikiran dan hati, setelah itu dengarkan dan analisis semua argumentasi dia, bila ada yang tidak kita pahami, maka tanyakan setelah dia menyelesaikan pembicaraanya. Kalau ada yang berbeda dengan pendapat atau keyakinan kita, cukup katakan “saya tidak sepakat/ sependapat dengan Anda dalam hal……….(sebutkan hal-hal apa saja yang kita tidak sepakati)” lalu lanjutkan dengan “menurut saya……………(sebutkan semua pendapat kita beserta alasannya,kalau ada beserta dalil-dalil atau hasil riset yang mendukung pendapat kita. Kalau ada, sebutkan juga buku-buku rujukan yang kita gunakan).”
Kalau hal-hal diatas kita lakukan, insya Allah yang terjadi adalah dialog atau diskusi yang bermanfaat. Biarkanlah orang lain menyadari sendiri bahwa argumentasinya salah, tidak usah kita langsung menunjukkan atau menyalahkan dia dengan berkata “pendapat Anda salah.” Kita cukup menerangkan atau menjelaskan apa-apa yang menurut kita benar dengan mengemukakan argumentasi yang menguatkan pendapat kita.
Memperluas wawasan, mempertajam logika, memperbanyak pengalaman, atau memperdalam ilmu agama itu perlu bahkan wajib. Tetapi mempelajari ilmu psikologi dan ilmu komunikasi itu sangat penting supaya apa yang kita sampaikan atau dakwahkan lebih efektif, bijaksana, lebih bermanfaat, dan mudah dicerna sehingga tidak ada orang yang sakit hati, merasa minder berpendapat, merasa kalah atau merasa harga dirinya jatuh.
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
seep..
jangan asal ‘tembak’ ajha..
hehehe..
keep writing..
tulisan2nya bagus2
Thx
~DioRosso~
Komentar oleh diorosso — 7 September 2008 #
assalamu’alaikum
afwan ana copy artikelnya untuk ana upload di buletin frienster.,.,.
Komentar oleh joke — 30 Oktober 2008 #