<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Berilmu sebelum Beramal dan Berdakwah</title>
	<atom:link href="http://muhammadsurya.wordpress.com/2008/05/21/berilmu-sebelum-beramal-dan-berdakwah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhammadsurya.wordpress.com/2008/05/21/berilmu-sebelum-beramal-dan-berdakwah/</link>
	<description>Tiada henti untuk memperbaiki diri</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Dec 2009 15:00:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: faisol</title>
		<link>http://muhammadsurya.wordpress.com/2008/05/21/berilmu-sebelum-beramal-dan-berdakwah/#comment-56</link>
		<dc:creator>faisol</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 04:27:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muhammadsurya.wordpress.com/?p=29#comment-56</guid>
		<description>terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang &quot;Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!&quot;
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih sharing info/ilmunya&#8230;<br />
saya membuat tulisan tentang &#8220;Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!&#8221;<br />
silakan berkunjung ke:</p>
<p><a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html" rel="nofollow">http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html</a></p>
<p>salam,<br />
achmad faisol<br />
<a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/" rel="nofollow">http://achmadfaisol.blogspot.com/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hamba ALLAh</title>
		<link>http://muhammadsurya.wordpress.com/2008/05/21/berilmu-sebelum-beramal-dan-berdakwah/#comment-24</link>
		<dc:creator>hamba ALLAh</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 03:37:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muhammadsurya.wordpress.com/?p=29#comment-24</guid>
		<description>Dakwah….. sebuah kata yang sering didengung-dengungkan oleh orang-orang yang mengaku aktifis, Lebih khusus lagi ‘aktivis dakwah’. Dalam perjalanannya, dakwah mengalami perkembangan dari sisi metode, cara, dan praktek dilapangannya. Dakwah dari masing-masing gerakan mempunyai corak khas tersendiri dan sangat berwarna-warni.
Yang masih membebani pikran saya, ketika saya pernah berada disuatu komuniats terntentu yang mengaku sebagai salah satu gerakan dakwah, saya melihat adanya kecenderungan untuk berdakwah dengan tujuan untuk mencari orang sebanyak mungkin untuk bisa masuk kedalam gerakan dakwah tersebut. Sehingga kadangkala timbul suatu pertanyaan, apakah dakwah diartikan sebagai seruan atau ajakan kepada orang lain untuk ikut ke dalam jama’ah yang kita termasuk anggota didalamnya? Keberhasilan dakwah diukur dengan parameter kuantitas obyek dakwah yang berhasil kita rekrut. Sebuah analogi menarik dilontarkan oleh seorang teman, ibaratnya obyek dakwah kita adalah ‘bunga’ yang sejak kecil telah kita rawat dan kita sirami. Namun setelah besar, justru yang mengambil hasil panenya adalah orang lain. Sakit hati….sebenarnya, sikap seperti apakah yang sebaiknya kita ambil ketika menghadapi masalah seperti ini?perlukah ‘sakit hati’ itu? Jika iya, bagaimanakah pengobatannya?
Apakah berdakwah sama dengan mengkader? Berapa kader yang bisa kita hasilkan selama perjalanan kita sebagai lakon dalam pentas dakwah? berapa jumlah kader hasil binaan kita yang bisa menjadi kader aktif, kader pasif, ataupun yang lepas? Dengan memandang kerja dakwah dalam ‘frame’ angka-angka, kelebihan apakah yang bisa kita tangkap? Semakin termotivasi, kah ketika melihat ternyata kerja dakwah yang dilakukan masih sedikit(berdasarkan angka yang telah kita buat)? Target angka yang telah direncanakan ternyata masih jauh dari harapan… semakin semangatkah setelah melihat angka-angka itu?
Benarkah dalam dakwah yang dianjurkan adalah mencari sebanyak mungkin kader? 
Lain kasus…….
Ust adian husaini pernah mengatakan, dakwah yang efektif adalah dengan teladan. Terutama teladan yang diberikan oleh orang-orang yang berpengaruh. Para pemimpin, pemuka masyarakat, pemuka agama, semuanya haruslah menjadi teladan. 
Berbicara tentang ‘keteladanan’, tak bisa lepas dari ‘akhlaq’. Akhlaq merupakan tingkah laku seseorang yang secara kasat mata dilihat oleh orang lain. Akhlaq yang baik dapat memberikan keteladanan, adapun akhlaq yang buruk, menjadi sebaliknya. tak heran, ketika ada seorang teman yang mengatakan bahwa dirinya tak mau lagy memanjangkan jenggot lantaran dirinya merasa tak pantas dengan kondisinya yang masih senang melakukan hal-hal yang dianggap bertentangan dengan syariat. Karena symbol ‘jenggot’ jika dipadukan dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, menurutnya dapat merusak citra dakwah. benarkah sikap yang demikian ini?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dakwah….. sebuah kata yang sering didengung-dengungkan oleh orang-orang yang mengaku aktifis, Lebih khusus lagi ‘aktivis dakwah’. Dalam perjalanannya, dakwah mengalami perkembangan dari sisi metode, cara, dan praktek dilapangannya. Dakwah dari masing-masing gerakan mempunyai corak khas tersendiri dan sangat berwarna-warni.<br />
Yang masih membebani pikran saya, ketika saya pernah berada disuatu komuniats terntentu yang mengaku sebagai salah satu gerakan dakwah, saya melihat adanya kecenderungan untuk berdakwah dengan tujuan untuk mencari orang sebanyak mungkin untuk bisa masuk kedalam gerakan dakwah tersebut. Sehingga kadangkala timbul suatu pertanyaan, apakah dakwah diartikan sebagai seruan atau ajakan kepada orang lain untuk ikut ke dalam jama’ah yang kita termasuk anggota didalamnya? Keberhasilan dakwah diukur dengan parameter kuantitas obyek dakwah yang berhasil kita rekrut. Sebuah analogi menarik dilontarkan oleh seorang teman, ibaratnya obyek dakwah kita adalah ‘bunga’ yang sejak kecil telah kita rawat dan kita sirami. Namun setelah besar, justru yang mengambil hasil panenya adalah orang lain. Sakit hati….sebenarnya, sikap seperti apakah yang sebaiknya kita ambil ketika menghadapi masalah seperti ini?perlukah ‘sakit hati’ itu? Jika iya, bagaimanakah pengobatannya?<br />
Apakah berdakwah sama dengan mengkader? Berapa kader yang bisa kita hasilkan selama perjalanan kita sebagai lakon dalam pentas dakwah? berapa jumlah kader hasil binaan kita yang bisa menjadi kader aktif, kader pasif, ataupun yang lepas? Dengan memandang kerja dakwah dalam ‘frame’ angka-angka, kelebihan apakah yang bisa kita tangkap? Semakin termotivasi, kah ketika melihat ternyata kerja dakwah yang dilakukan masih sedikit(berdasarkan angka yang telah kita buat)? Target angka yang telah direncanakan ternyata masih jauh dari harapan… semakin semangatkah setelah melihat angka-angka itu?<br />
Benarkah dalam dakwah yang dianjurkan adalah mencari sebanyak mungkin kader?<br />
Lain kasus…….<br />
Ust adian husaini pernah mengatakan, dakwah yang efektif adalah dengan teladan. Terutama teladan yang diberikan oleh orang-orang yang berpengaruh. Para pemimpin, pemuka masyarakat, pemuka agama, semuanya haruslah menjadi teladan.<br />
Berbicara tentang ‘keteladanan’, tak bisa lepas dari ‘akhlaq’. Akhlaq merupakan tingkah laku seseorang yang secara kasat mata dilihat oleh orang lain. Akhlaq yang baik dapat memberikan keteladanan, adapun akhlaq yang buruk, menjadi sebaliknya. tak heran, ketika ada seorang teman yang mengatakan bahwa dirinya tak mau lagy memanjangkan jenggot lantaran dirinya merasa tak pantas dengan kondisinya yang masih senang melakukan hal-hal yang dianggap bertentangan dengan syariat. Karena symbol ‘jenggot’ jika dipadukan dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, menurutnya dapat merusak citra dakwah. benarkah sikap yang demikian ini?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
