Wanita Haid atau Orang Junub Membaca Al-Quran

29 Juli 2008 pukul 17:15 | Ditulis dalam opiniku | 5 Komentar

Wanita Haid atau Orang Junub Membaca Al-Quran

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat yang sedang KKN minta kepada saya untuk merangkum mengenai beberapa hukum, termasuk masalah hukum wanita haid atau orang junub membaca Al-Quran. Ketika hari Ahad kemarin saya ikut kajian Ahad di Mesjid Kampus UGM, Ustd Abu Abdurrahman mengatakan kalau kita menuntut suatu ilmu, maka setelah itu, kita sudah kena kewajiban untuk mengamalkannya dan menyebarluaskannya. Karena takut kena dosa menyembunyikan ilmu, akhirnya saya memilih menyebarluaskan tulisan ini walau masih banyak kekurangan dari sana-sini termasuk dalam tata bahasanya.

Di sini saya hanya meringkas dari beberapa buku fikih yang saya punya menenai hukum wanita haid atau orang junub membaca Al-Quran. Bila kamu ingin mendalami lebih dalam, silahkan merujuk langsung dalam kitab fikih.

Dalam masalah membaca Al Quran ketika Haidh,:

Dalam masalah wanita yang membaca Al Quran ketika Haid, Kebanyakan ‘ulama menyatakan hal tersebut haram dengan alasan:,

Telah berkata Ibnu ‘Umar, sabda Nabi s.a.w. : „Tidak boleh membaca Qur’an orang yang junub dan tidak boleh (pula) perempuan yang berhaidl”.

(H.R. Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Hadis yang lain:

Telah berkata Ibbir : Sabda Nabi s.a.w. : „Perempuan yang berhaidl dan bernifas tidak boleh membaca akan sesuatu dari pada Qur’an”.

(H.R. Daraquthni).

Menurut sebagian ‘ulama hadis, kedua hadis tersebut lemah, dengan alasan:.

Hadiets pertama itu tidak sah, karena di dalam isnadnya terdapat orang yang bernama  Ismail bin ‘Ayasy, dia dilemahkan oleh imam-imam seperti Ahmad, Bukhari dan lain-lain, dan di Hadiets yang kedua terdapat isnad­ yang bernama    Muhammad bin Fadl-I. dia terkenal sebagai tukang memalsu Hadiets.

Tidak ada Hadiets yang sah dalam difasal ini. Sehingga pendapat yang mengharamkan perempuan yang masih berhaidl atau bernifas membaca Qur’an itu, menjadi lemah.

Adapun dalam masalah orang junub membaca Qur’an, Para ulama terbagi kedalam dua faham.

Dalil-dalil mengenai masalah ini diantaranya:

Telah berkata ‘Ali bin Abi Thalib: Bahwa adalah Rasulullah .s.a.w. sering membacakan kita akan Qur’an di tiap­ tiap masa beliau itu keadaannya tidak berjunub.

(H.R. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Turmudzi, dan ia berkata :   Hadiets ini baik shahih).

Faham pertama, yang menyatakan Hadis di atas tidak sah

Imam Syafi’ie berkata :

Bahwa Ahlul-Hadiets tidak semuanya sepakat menetapkan sahnya (Hadiets ini)”.

Berkata imam Nawawi :

Kebanyakan Ahlul-Hadiets berlainan dengan Turmudzi ; dan mereka dla’ifkan Hadiets itu.”

Hadis ini lemah karena di dalam isnadnya terdapat seorang yang bernama Abdullah bin Salimah dan ia itu dilemahkan oleh sekalian penganjur-penganjur Ahlul-Hadiets.

Alasan ia dilemahkan karena ingatannya sudah berubah. Demikian keterangan menurut imam Al­Baihaqie, dan berkata Imam Syu’bah :

Bahwa Abdullah itu tatkala meriwayatkan Hadiets ini, sesudah tua dan berubah.”

Andaisaja Hadiets itu shahih, tetap tidak bisa dijadikan alasan mengharamkan membaca Al- Quran ketika junub karena Hadiets yang diriwayatkan oleh shahabat Ali itu cuma menerangkan perbuatan Nabi s.a.w. yang beliau itu tiada pernah membaca Qur’an ketika junub dan tidak adanya Rasulullah itu tiada menunjukkan atas haramnya atau makruhnya. Oleh karenai itu, sekarang kami kembali kepada Al-bara-atul-ash­liyah (ketiadaan larangan pada asal) yaitu, boleh membaca Qur’an oleh siapapun.

Para ‘ulama’ yang membolehkan bacaan bagi orang yang junub diantaranya : Bukhari, Thabari, Ibnu-Mundzir, Dawud ; dan mereka itu beralasan dengan ala­san-alasan yang seperti di bawah ini :

Telah berkata ‘Aisyah, Rasulullah s.a.w. itu menyebut (nama Allah) ditiap-tiap masa.

(H.R. Muslim)

Keterangan ini tiada mengecualikan masa yang beliau junub. Jikalau memang begitu, tentu saja Sitti ‘Aisyah menerangkannya.

Ibnu ‘Abbas berkata:

Bahwa Ibnu ‘Abbas itu tiada memandang halangan bagi orang junub membaca (Qur’an).

(R. Bukhari),

Selain itu :

Telah berkata Hakam (seorang shahabat) : Sesungguhnya saya menyembelih, padahal saya di waktu junub, karena Allah berkata : Janganlah kamu memakan (sembelihan) yang tiada disebut nama Allah.

(R. Bukhari),

Bahwa lbnu ‘Abbas biasa membaca wiridnya (sebagian dari pada Qur’an) padahal dia itu junub.

(R. Ibnu Mundzir)

Berkata Ibnu ‘Abbas : Abu Sufyan memberi khabar kepada saya, bahwa Hiraklus pernah minta surat yang dari Nabi s.a.w. kemudian ia bacakan dia, maka disitu ada (firman AIIah) : Dengan nama Allah Pemurah, Penyayang. Hai orang-orang Ahlul-Kitab marilah kepada Agama …………

(S.R. Bukhari)

Hiraklus itu beragama Kristen yang tidak ada perintah untuk kalau junub harus mandi sehingga tatkala membaca surat dari Nabi s.a.w. itu, ia ada di dalam keadaan junub.

Faham kedua, yang mensahkan hadis tersebut

Hadis tersebut diriwayatkan juga oleh, Bazzar’ Daraquthni dan Baihaqie.

Ulama yang mengesahkan hadis tersebut seperti imam Ibnu Hibban, Ibnu Sakan, Abdulhaq, Al-Baghawi, Ibnu Khuzaimah dan Syu’bah.

Artinya : Diriwayatkan daripada Muhajir bin Qunfudz, dia itu pernah memberi salam kepada Nabi s.a.w. padahal beliau sedang wudlu’, maka beliau tidak menjawab kepadanya, sehingga selesai daripada wudlu’ ; kemudian menjawab kepadanya sambil berkata : „Sesungguhnya tiada menjadi halangan bagi saya akan menjawab kepadamu, melainkan, bahwa saya tidak suka menyebut nama Tuhan, melainkan atas kebersihan”.

(H.S.R. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Nasai)

Nabi s.a.w. tidak membara Qur’an diwaktu junub itu, sebabnya kurang jelas, boleh jadi haram atau boleh jadi karena beliau tiada suka.

Tidak boleh menentukan keharaman suatu perkara kecuali dengan keterangan yang jelas dan sah daripada Rasulullah s.a.w.

Artinya : Berkata ‘Ali : Bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda : „Bacalah kamu akan Qur’an, selama seorang daripada kamu ti­dak kena janabat, maka jika kena janabat, tidak boleh walaupun satu huruf.

(HR. Daraquthni).

Hadiets ini menunjukkan dengan terang bahwa orang junub itu diharamkan membaca Qur’an. Kalau ada orang yang tidak suka menerima Hadiets ini lantaran Hadiets ini  mauquf (tidak sampai kepada Nabi) hanya menjadi perkataan ‘Ali RA yang tidak boleh dibuat pegangan, maka di bawah ini ada satu lagi Hadiets yang marfu’ (yang sampai kepada Nabi) yang tidak bisa orang yang mencari kebenaran dan keinshafan akan menolaknya.

Inilah Hadietsnya :

Artinya : Telah berkata ‘Ali : Saya pernah lihat Rasulullah s.a.w. berwudlu’, kemudian membaca sebahagian daripada Qur’an (sambil bersabda) : „Beginilah bagi orang yang tiada junub. Adapun yang junub, tidak boleh, walaupun satu Ayat”.

(HR. Ahmad, Abu Ya’laa, menurut Haitami perawi-perawinya dapat di percaya)

Berkata Al-Haitsamie terhadap kepada Hadiets tersebut artinya “Orang-orang yang menceriterakan Hadiets ini boleh dipercaya. Dan sesudah terang sahnya Hadiets ini bagi orang yang inshaf.”

Nabi SAW tidak suka menyebut nama Allah diwaktu yang beliau berhadats kecil, apa lagi diwaktu berhadats besar.

Bahwa Rasulullah SAW tidak satupun yang menghalanginya dari Al Quran kecuali Janabat.” (H.R. Ash Habul Sunan dan di sahkan oleh Turmudzi dan lain-lain)

Berkata Hafidh dalam Al Fat-h: “di antara mereka (sebagian para ahli hadis) ada yang mengatakan bahwa sebagian perawinya dhaif. Tetapi yang benar, ia termasuk hadis hasan yang dapat dipakai sebagai hujjah (alasan).”

Dalam Masalah ini, para ulama berbeda pendapat, Imam Malik, membolehkan wanita haid membaca Al-Quran dan tidak membolehkan wanita yang sedang junub, Imam Syafei dan Imam Ahmad melarang wanita yang sedang haid dan orang yang sedang junub membaca Al-Quran meskipun hanya satu ayat. Tetapi Daud Adh Dhahiri membolehkannya dengan alasan tidak ada dalil yang Shahih yang melarangnya dan mengembalikan kepada hukum asal yaitu boleh.

Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah mengenai hal ini yaitu: Untuk pendidikan Akhlak, yang lebih utama tidak kita lakukan kecuali dalam keadaan terpaksa.

Disini saya tidak memiliki keahlian dalam memilih mana pendapat yang paling kuat. Oleh karena itu, saya memilih untuk ‘itiba (mengikuti dengan memahami argumentasi dan dalilnya) kepada keputusan Fatwa Majelis Tarjih PP Muhammadiyah.

Daftar Rujukan:

  1. Fikih Islam, H. Sulaiman Rasjid, Penerbit: Sinar Baru Al Gensindo;

  2. Fikih Sunnah Jilid 1,Sayid Sabiq, alih bahasa oleh Mahyudin Syaf, Penerbit PT Al Ma’arif Bandung;

  3. Soal-Jawab (1) Tentang Berbagai Masalah Agama, A. Hassan, Moh. Ma’sum, dan H. Mahmud Aziz, Penerbit: Cv Penerbit Diponegoro Bandung;

  4. Tanya Jawab Agama II, Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih, Penerbit Suara Muhammadiyah.

About these ads

5 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. tetap yang namanya orang yang sedang junub atau haid di larang membaca Al-Qur’an sebab…….lebih jelasnya pelajari kitab kuning(yang belum ada artinya dan harokatnya) dan syaranya. jangan baca yang sudah instant kalau gak bisa diskusikan dengan ulama yang bisa baca kitab kuning…kalau orang itu biasanya membaca kitab yang sudah instan tanpa syara paling kalau mengartikan kitab yang belum ada harokatnya dia pakai bhs arab yang biasa seperti ilmu sorof doang padahal alat untuk mnerjemahkan itu banyak seperti kitab jurummiyah yang dasarnya lalu shorof(kitab kailani,yakulu dsb)alfiah mantek bayan dsb….jangan kalw belum tahu itu jangan so bisa menerjemahkan.

  2. @saeful rahmat
    terimakasih atas sarannya, saya sepakat dengan mas, tetapi saya curiga mas tidak membaca tulisan saya secara keseluruhan, betulkan? soalnya di tulisan diatas, saya menyebutkan beberapa pendapat para ulama tentang membaca alquran sedang junub dan haid beserta dalil dan argumentasi mereka. Ada ulama yang membolehkan, mengharamkan, ataupun yang sebaiknya tidak melakukan. mungkin mas termasuk orang yang menganut mazhab Syafei yang mengharamkan wanita junub dan haidh membaca Al Quran, tetapi ingat, bahwa faham yang ada dalam agama dalam Islam adalah sangat luas dan banyak, pendapat para ulama juga sangat banyak mengenai hal ini.

    Ingat, masalah membaca Al Quran bagi wanita haid dan nifas adalah masalah khilafiah (perbedaan pendapat). para ulama berbeda pendapat menghukumi masalah ini (silahkan baca lebih lengkap tulisan saya di atas). kalau Mas termasuk orang yang menghukumi haram, sebaiknya bisa mentoleransi atau memaklumi kalau ada orang yang berbeda pendapat dengan mas. karena ini masalah khilafiah yang boleh berbeda pendapat. para ulama saja yang sangat luas ilmunya bisa bertoleransi dalam masalah ini, misalnya imam syafei dan imam malik yang bisa saling toleransi dan menjaga silaturahmi walaupun mereka berbeda pendapat. mereka saja tidak saling menyalahkan dan tidak saling menghujat atau saling menyesatkan. ingat, ini adalah masalah khilafiah.

    saya mengikuti Nasehat KH Mas Mansur, yang menyuruh untuk memperluas faham agama. kalau kita sudah mengerti satu pendapat atau mazhab ulama, maka pelajari mazhab atau pendapat ulama yang lain. kalau sudah mengeti pendapat imam syafei tentang membaca Al Quran bagi wanita yang junub, maka pelajari pendapat imam yang lain tentang hal yang sama, misalnya pendapat imam Malik. kalau sudah tamat mempelajari buku fikih mazhab Syafei maka baca buku fikih mazhab yang lainnya.
    kalau kita melakukan hai ini, maka wawasan kita tentang masalah ini akan luas, dan tidak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda pendapat dengan kita.

  3. Komentar saya adalah yang terbaik jangan dalam keadaan junub namun kalau keadaan terpaksa krn sesuatu hal boleh saja barangkali beberapa kali seumur hidup, asal jangan jadi kebiasaan ( seperti pendapat PP Muhamadiyah diatas, Setuju )

  4. Kalau seseorang lagi junub kemudian tertidur dan bermimpi. Karena mimpinya menyeramkan lantas dia membaca Ayat Kursy sehingga iblis hancur terbakar dan akhirnya jadi debu beterbangan. Akhirnya dia terbangun dan masih terbaca sambungan ayat kursi tersebut. Kalau baca quran waktu junub itu dilarang tentu iblis akan bertambah gemuk dan sehat mendengarkan ayat kursi itu. Karena iblis itu senang apabila manusia melakukan yang dilarang dan meninggalkan yg disuruh agama. Kenapa iblis tetap takut pada ayat kursi walau yang membacanya junub? apakah kita akan mati celaka saat kita sedang junub disebabkan kita tidak boleh membaca nama Allah atau membaca doa. ?(doa kebanyakan ada dlm quran). Kalau seandainya haram baca quran ketika junub, sebaiknya setelah menggumuli istri, harus langsung mandi. Mana tahu kalau datang ajal menjeput sedang diri masih junub dan tak dapat berbuat apa-apa untuk keberangkatan ke kampung akhirat itu. Karena tak bisa menyebut nama tuhan. Dan diri kotor bernajis yg sangat menjijikkan.

  5. Orang awam sangat bingung dengan banyaknya pendapat ulama. Yg satu bilang haram yg satu bilang boleh. Yang mana kita pilih?Kalau memang nabi tidak pernah bilang haram kenapa kita bilang haram? Tapi untuk menjaga diri kita dari dosa lebih baik kita pilih yg lebih ekstrim yaitu kita berpihak kpd yg berpendapat haram. Karena kita langsung jadi berhati-hati. Makanya jika anda junub jam 2 malam maka anda harus mandi malam itu juga. Demi menjaga diri supaya jangan sampai kotor bernajis yg menjijikkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: