Aku Belum Mengidolakan Nabi Muhammad SAW

31 Maret 2010 pada 15:32 | Ditulis dalam Renunganku | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , ,

Beberapa minggu yang lalu aku merenungkan perbedaan antara mengidolakan sama simpati atau kekaguman. Aku baru menemukan satu, yaitu keinginan untuk meniru. Aku coba memperhatikan orang yang mengidolakan seorang artis atau pemain bintang sepak bola. Misalnya Gita Gutawa. Penggemar ini mencoba bergaya seperti gita gutawa dari mulai pakaian sampai aksesorisnya, dari mulai gaya bicara sampai cara berjalannya. Dia juga mencoba menghapal semua lagu Gita Gutawa. Dia koleksi kaset dan cd lagu-lagu gita gutawa. Dia hadiri konser-konser gita gutawa. Ada kerinduan ingin bertemu Gita Gutawa. Pas ketemu Gita Gutawa, senengnya minta ampun. Dia peluk si idola. Dia juga membawa hadiah atau kenang-kenangan bagi sang idola.

Aku coba memperhatikan temanku yang mengidolakan Cristiano Ronaldo (ketika masih di MU). Dia sering memakai baju MU dengan nama Cristiano Ronaldo. Kalau main PS Winning Eleven, dia pakai MU. Dia bangga-banggakan kehebatan sang idola di depan teman-temannya. Kalau main futsal, terus memasukan gol, gayanya meniru gara selebrasi sang idola setelah memasukan gol. Dia koleksi video cuplikan gol-gol sang idola. Kalau MU main dan disiarkan di televisi, dia bela-belain bergadang. Kalau MU menang, dia senangnya minta ampun, disebarkan berita itu ke teman-temannya.
Berbeda dengan hanya simpati atau kagum. Misalnya aku kagum sama pak Din Syamsudin. Paling banter aku hanya senang dengerin pidatonya dan kagum dan mendukung apa yang dia perjuangkan. Tidak sampai aku mengkoleksi foto beliau, atau menyengajakan diri menghadiri setiap ceramahnya. Tidak ada rasa rindu dan tidak juga berniat bikin kenang-kenangan kalau ketemu dia. Bahwan aku tidak mau meniru gaya pakaiannya. Biasa-biasa saja tuh.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah mengidolakan Nabi Muhammad SAW? Atau mungkin selama ini aku hanya baru sampai mengagumi beliau saja? Mungkin baru sebatas simpati saja atas perjuangan beliau? Jangan-jangan aku hanya ngaku-ngaku saja menteladani beliau? Lalu aku mengajukan beberapa pertanyaan pada diri sendiri:
1. Sudahkan aku merindukan beliau?
2. Apakah aku punya impian bertemu beliau?
3. Apakah aku selalu ingin meniru akhlak beliau?
4. Apakah aku suka mengingat beliau? Apakah aku suka bersholawat?
5. Apakah aku suka mendoakan beliau?
6. Apakah aku mencari tahu bagaimana cara supaya bisa bertemu beliau? Kalau sudah, apakah aku berusaha menjalankan setahap-demi setahap cara supaya bertemu beliau?
7. Apakah aku sudah mengkoleksi setiap rekaman perkataan beliau yang berupa Hadist? Apakah aku sudah membaca dan mempelajarinya? Sejauh mana aku mengamalkan petunjuk yang ada didalam hadist tersebut?
8. Seberapa sering aku mengingat beliau?
9. Seberapa banyak aku menghapal hadist beliau?
10. Seberapa jauh aku menteladani beliau?
Setelah aku jawab semua pertanyaan itu, aku baru sadar, aku belum menjadi penggemar beliau. Aku belum menjadikan beliau idola. Aku hanya baru sampai pada tahap kagum pada beliau. Hanya sebatas simpati. Berarti selama ini aku selalu berbohong ketika mengisi formulir data diri peserta suatu kegiatan dimana biasanya suka ada pertanyaan “siapa idola kamu?” dan selalu aku menjawab dengan mantap “Nabi Muhammad saw”. Berarti selama ini aku Cuma ngaku-ngaku saja mengidolakan beliau. Sok-sokan menjadi penggemar beliau.

Ya Allah, ajari dan latihlah aku supaya bisa mencintai-Mu dan Rasul-Mu.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.