Rangkuman Khutbah Jumat di Mesjid Al Ijtihad Karangwuni, 19 Maret 2010
31 Maret 2010 pada 15:40 | Ditulis dalam Kesimpulan Pengajian | Tinggalkan KomentarKaitkata: di jaga
4 hal yang harus dijaga: menjaga pikiran, menjaga pendengaran, Menjaga ucapan, dan menjaga hati.
A. Menjaga pikiran
Menjaga pikiran dari dua aliran: (a) sekuler, liberral, dll; (b) Kelompok, aliran, atau paham yang merasa benar sendiri dan menyatakan orang lain selain mereka adalah sesat, ahli bid’ah, salah, atau bukan ahlul sunnah. Sifat mereka ini sama seperti sifat Iblis yang merasa lebih terhormat atau lebih baik dari Nabi Adam as karena diciptakan dari api sehingga mereka menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam as.
B. Menjaga pendengaran
Menjaga pendengaran dari hal-hal tidak bermanfaat.
C. Menjaga ucapan
Dari ghibah, fitnah, dan ucapan yang tidak berguna, berbicara yang bermanfaat atau diam. Setiap muslim adalah saudara, haram saling menyakiti. Diam itu lebih baik dari bicara yang tidak ada manfaatnya atau bahkan bicara buruk. Dan bicara yang bermanfaat itu lebih baik daripada diam. Sendirian lebih baik daripada berada dalam kumpulan orang yang ngobrol hal-hal tidak ada manfaat. Dan berada dalam majelis yang mengobrolkan hal yang bermanfaat lebih baik daripada sendirian. Ketika menasehati orang atau menegakkan kebenaran haruslah dengan jalan bil hikmah atau dengan bijaksana. Jangan sampai menyakiti objek dakwah kita. Seperti ada pribahasa, luka di tubuh banyak sekali obatnya, tetapi luka dihati harus kemana mencari obatnya?
D. Menjaga hati
Menjaga hati dari sikap buruk sangka, merasa diri paling hebat dan menganggap rendah orang lain, iri, dengki, dll. Selalu berprasangka baik. Melihat yang positifnya dari sesuatu. Contoh kisah nabi Isa as yang bisa melihat kebaikan dari seekor bangkai anjing, yaitu gigi anjing itu putih. Kalau seseorang punya keburukan 99 dan kebaikan 1, maka yang harus kita lihat adalah segi kebaikannya itu walaupun Cuma satu. Usahakan untuk selalu berpikiran positif. Para orientalis atau para intelektual Islam Liberal biasanya mereka memulai kajian dengan berpikiran negatif terhadap teks Al Quran, Hadis, Nabi, sampai pada akhirnya berprasangka negatif terhadap Allah. Selalu berprasangka positiflah terhadap Al Quran, Hadis, Nabi, dan Allah, setiap perintah, larangan, atau anjuran yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya pasti memiliki manfaat atau hikmah didalamnya.
Tinggalkan sebuah Komentar »
Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.