Terbaik Untuk Kita

19 Maret 2008 pukul 18:26 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar

Terbaik Untuk Kita

Pantas menurut manusia belum tentu
sama dengan pantas menurut Alloh. Kita
hidup di dunia ini terikat dengan
ketentuan Alloh, tidak bisa terlepas
dari ketentuan-Nya. Karena kita
makhluk-Nya. Apa yang menurut Alloh baik pasti baik
untuk kita, tapi apa yang terbaik
menurut kita belum tentu baik untuk
kita. Makanya kita harus memohon
kepada Alloh untuk memberi kita yang
terbaik menurut-Nya, sambil tetap
memohon kepada Alloh untuk mengabulkan keinginan kita yang menurut kita
yang terbaik menurut kita. Kalau yang
dikabulkan ternyata beda dengan
keinginan kita, mungkin itulah yang
terbaik untuk kita. Setiap ketentuan
Alloh pasti ada hikmahnya yang kadang
kala kita baru menyadarinya setelah
beberapa lama setelah suatu peristiwa
terjadi.apapun yang terjadi, kita
harus tetap bersyukur, karena dengan
bersyukur kita jadi tenang dan ikhlas
dengan segala pemberiannya. Kalau
sudah begitu, kebahagiaanlah yang akan
terjadi. Dan kalau kita bersyukur,
Alloh akan melipat gandakan nikmat
yang kita terima sebelumnya
Iklan

Pernahkah kita merasa kalah karena meninggalkan suatu ibadah?

19 Maret 2008 pukul 18:24 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar
Pernahkah kita merasa kalah karena meninggalkan suatu ibadah? Pernahkah kita rindu ingin bertemu pada Alloh?

Tujuanku menulis tilisan ini yang paling utama hanyalah untuk mengingatkan diriku sendiri yang sangat banyak sekali melakukan kelalaian. Dan yang kedua, untuk menbagikan renungan pribadiku ini kepada orang-orang yang ada disekitarku, orang-orang yang aku sayang.

Saudaraku, sekarang ini sedang rame-ramenya Sepak Bola Piala Asia. Banyak sekali diantara kita yang tertarik untuk mengikutinya. Ketika Indonesia menang melawan bahrain, euforia kemenangan sangat terasa di antara kita. Ketika kalah melawan arab saudi, kekecewaan yang dirasakan oleh sebagian besar dari kita.

Itu merupakan sebuah gejala yang biasa dialami oleh kita. Rasa nasionalisme ketika melihat tim Indonesia bermain, membuat kita merasa bahagia bila menang atau merasa kecewa bila kalah. Rasa nasionalisme tersebut merupakan gejala yang wajar dan sah-sah saja kita rasakan.

Kalau kita coba sedikit renungi, ini semua merupakan ayat-ayat kauniyah Alloh yang bila kita renungi dan Ambil hikmahnya, akan membuat kita lebih baik lagi dalam mengarungi hidup ini.

Sauraraku, ketika kita kecewa ketika melihat Indonesia kalah, pernahkah kita kecewa juga ketika kita kita kalah oleh hawa nafsu kita yang akhirnya membuat kita meninggalkan sebuah ibadah?  Apakah kita pernah kecewa ketika kita kehilangan pahala sholat berjamaah hanya karena di kalahkan oleh nafsu kita untuk nonton TV misalnya, atau tanggung lagi baca buku? Pernahkah kita kecewa karena meninggalkan perkara sunat? Janganlah kita meremehkan suatu perkara sunat, karena perkara sunat itu akan menjadi pemberat amalan kita pada hari pertimbangan amalan kita kelak di akherat dan menjadi penyempurna amalan wajib kita yang kita mengerjakannya kurang sempurna.

Saudaraku, kadang-kadang, aku sebagai orang yang merantau di kota jogja ini, merasa rindu sekali ingin ketemu orang tua, kakak, keponakanku yang lagi lucu-lucunya, atau temen-temenku waktu SMA atau SMP. Tapi beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah novel yang didalamnya ada sebuah percakapan berupa pertanyaan seorang tokoh kepada tokoh yang lainnya. Tokoh yang pertama itu bertanya, apakah kamu pernah rindu kepada Alloh. Pertanyaan itu akhir-akhir ini sering menyelimuti pikiran dan hatiku. Apakah aku pernah rindu pada Alloh? Rob yang telah menciptakanku, Rob yang mengasihiku, Rob yang menyayangiku, Rob yang melindungiku, Rob yang segala-galanya yang tiada duanya, tiada sekutunya.

Benarkan Cara Belajar Ilmu Agama Kita?

19 Maret 2008 pukul 18:19 | Ditulis dalam opiniku | Tinggalkan komentar

Benarkan Cara Belajar Ilmu Agama Kita?

 

Hidup di dunia ini sungguh terasa cepat sekali. Baru saja pagi, sekarang sudah malam lagi. Perasaan baru kemarin awal bulan, sekarang sudah akhir bulan. Begitu cepatnya waktu berlalu, menandakan waktu hidup kita di dunia semakin sedikit. Mati kian hari kian mendekat. Sedangkan bekal untuk akherat rasanya masih sedikit.

Berapa jam waktu yang kita gunakan untuk belajar atau baca buku tiap hari? Dari waktu itu, berapa jam yang kita gunakan untuk belajar ilmu agama? Tentunya lebih seikit bukan! Padahal belajar agama sangat bermanfaat bagi dunia kita dan akherat kita. Kita semua tahu bahwa belajar agama hukumnya wajib ‘ain, dimana setiap orang wajib belajar tentangnya. Berbeda dengan ilmu diluar itu yang sifatnya wajib kifayah.

Banyak orang yang lebih disibukkan dengan urusan dunia, lupa dengan urusan akheratnya. Banyak orang yang sibuk dengan belajar ilmu-ilmu yang bersifat dunia dan lalai dalam belajar agama. Banyak diantara mereka yang beralasan bahwa dirinya tidak punya waktu untuk belajar agama. Astaghfirulloh, mereka lebih mementingkan kepentingan dunianya daripada kepentingan dirinya kepada Allah.

Dalam setiap ibadah yang kita lakukan haruslah dilandaskan dengan ilmu (Al Quran dan Hadist). Bukan berdasarkan bagaimana orang banyak melakukan suatu ibadah atau berdasarkan si A atau si B dimana mereka tidak mengemukakan alasan dalilnya.

Dalam menuntut ilmu agama pun kita jangan serampangan. Belajar agama harus dengan manhaj atau metodelogi yang benar. Karena kalau tidak seperti itu maka hasil hasil atau manfaat dari ilmu yang kita pelajari tidak akan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Setiap ilmu itu ada metodelogi khusus dalam mempelajarinya.

Dalam belajar pun kita harus dilakukannya secara bertahap. Jangan sampai orang yang masih awam dengan ilmu fikir misalnya langsung belajar dari kitab Bidayatul Mujtahid. Kitab itu terlalu berat untuk dipelajari untuk orang awam. Belajarlah dari level yang sederhana ke level yang lebih tinggi.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu agama. Diantaranya:

  1. Hendaklah belajar agama dari seorang atau beberapa orang guru. Jangan belajar agama hanya dari buku, apalagi bukunya buku terjemahan. Kualitas Buku-buku terjemahan tergantung orang yang menerjemahkan. Banyak buku terjemahan yang diterjemahkan oleh orang yang tidak begitu mengerti tentang ilmu dari buku yang diterjemahkan, sehingga sangat rawan sekali dengan salah menerjemahkan atau menafsirkan. Banyak ulama yang menyatakan barangsiapa yang gurunya kitabnya, maka salahnya lebih banyak daripada benarnya. Belajar langsung dari seorang guru lebih terjaga dari kesalahan dan juga dapat menghemat waktu daripada membaca buku yang memerlukan banyak waktu karena bisanya guru sudah merangkum materi yang akan disampaikan. Dalam memilih guru, kita jangan terpukau dengan memilih guru yang terkenal atau hebat tetapi pilihlah guru yang ketika dia menjelaskan kita bisa mengerti dan pahami. Pilihlah guru yang kita percaya dengan ilmunya dan agamanya. Jangan pilih guru yang ilmunya memang bagus tapi akhlaknya jelek atau aqidahnya kacau. Atau ibadahnya rajin tapi penguasan ilmunya rendah.

  2. Belajar secara bertahap. Dari yang paling dasar ke yang lebih rumit.

  3. Sabarlah dalam menuntut ilmu. Kadang-kadang suatu ilmu tidak bisa langsung kita mengerti. Butuh pengulangan berkali-kali baru bisa memahami. Jangan juga terpancing dengan teman kita yang kelihatannya sudah bisa memahami ilmu yang belum kita pahami. Jangan pindah kebuku lain sebelum memahami buku yang sedang dipelajari.

  4. Memilih waktu khusus untuk menghapal, baca buku/kitab, merangkum buku, atau menulis. Misalnya, waktu yang pali baik untuk menghafal setelah bangun tidur pagi atau siang. Setelah lelah menghafal lalu membaca buku yang ringan-ringan seperti kisah para Sahabat atau ulama. Biasakan untuk meluangkan waktu sejenak untuk merangkum buku yang telah kita baca, karena merangkum dapat melatih otak kita untuk lebih memahami buku yang kita baca.

  5. Mengamalkan ilmu yang sudah kita dapatkan. Disamping memang sudang menjadi kewajiban bagi seorang yang memiliki ilmu untuk diamalkannya, mengamalkan ilmu juga dapat meningkatkan daya ingat kita terhadap ilmu tersebut. (Muhammad Surya)

 

 

Musyrik-kah Aku?

19 Maret 2008 pukul 18:18 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar
Musyrik-kah Aku? Katakanlah,”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu dan keluarga kamu beserta harta kekayaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya (siksanya). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah:24).

Disuatu sore, kubaca jadwal pertandingan piala dunia yang terpampang di dinding luar kamarku. Ku niatkan untuk nonton bareng dengan temen-temen kosku dua pertandingan dari tiga pertandingan yang ditayangkan oleh salah satu stasion televisi swasta. Malam pun tiba, aku ajak temen-temen untuk nonton bareng di kamarku dan merekapun mau. Kami pun menonton pertandingan pertama dengan semangat dengan sekali-kali berteriak kalau terjadi peluang emas atau gol. Kami tidak sadar kalau-kalau ada orang lain yang terganggu dengan teriakan kami itu. Selesai pertandingan pertama kami lanjutkan dengan menonton pertandingan kedua. Suasana nonton bareng kedua ini hampir sama dengan pertandingan pertama. Pertandingan itu berakhir kira-kira pukul satu malam. Setelah itu kami memutuskan untuk tidur di kamar masing-masing.

Azan subuh berkumandang. Menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan sholat Subuh. Aku sempat bangun, tapi badan ini terasa berat untuk bangun. Akhirnya aku tidur lagi.

Ketika aku sudah puas dengan tidur, ku buka mata dan segera melihat jam yang ada di handphone-ku, dan Astagfirulloh, jam di hp-ku menunjukkan pukul 8 pagi. Dan kejadian ini berulang di hari berikutnya. Aku tahu bahwa kalau tidur terlalu malam biasanya bangun kesiangan, tetapi mungkin karena kesukaanku menonton pertandingan piala dunia, aku relakan shalat malam dan sholat subuh berjamaah demi sebuah pertandingan.

Pada suatu malam, tiba-tiba hati ini tergerak untuk membaca sebuah buku tauhid yang telah lama aku tamat membacanya (Tauhid Khalis, Abu Haniefah, penerbit: PP Darul Arqam Muhammadiyah Garut). Ketika membaca daftar isi, aku tertarik untuk membaca bab VI “Yang Mennafi’kan/Menghilangkan Tauhid”. Bab ini menjelaskan empat induk pokok yang dapat menafi’kan tauhid, yaitu: Al Alihah, At Thawaghit, Al Andad, dan Al Arbab. Hati ini merasa sangat berdosa dan bersalah ketika penulis menjelaskan tentang Al Andad.

Dalam buku itu, penulis mengutip pendapat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bukunya Al Jawahirul Madliyah yang mendefinisikan Al Andad sebagai berikut:

Al Andad itu sesuatu yang dapat memalingkan engkau dari agama Islam, baik itu berupa anak, tempat tinggal, keluarga, atau harta benda. Itu semua adalah persamaan, karena firman Allah SWT. (Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah andad (tandingan-tandingan) selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah).

Penulis buku itu menjelaskan, kalau seseorang lebih mencintai anak, keluarga, rumah tinggal, harta benda atau apapun juga lainnya daripada mencintai Allah, maka semua itu disebut andad, sebab dapat memalingkan kecintaan dari pada Allah. Orang yang yang melakukan itu menjadi musyrik karena bagi orang yang bertauhid bahwa kecintaan yang sejati itu hanya bagi Allah saja sendirinya. Bila ada seseorang yang mendahulukan kepentingan anak, keluarga atau yang lainnya sehingga dapat mengalahkan kepentingan Allah SWT, maka jelaslah bahwa orang itu musyrik, karena menjadikan anak, keluarga, atau yang lainnya itu sebagai andad (bandingan Allah).

Setelah baca buku itu, aku teringat ketika Allah memanggilku untuk sholat berjamaah lewat suara muazin sedangkan ketika itu aku sedang menonton acara TV yang kusukai atau sedang asik baca buku, aku sering menunda-nunda pergi ke mesjid sampai muazin I’komah. Bahkan kadangkala memutuskan sholat di rumah saja. Padahal Rasulullah SAW pernah mengancam akan membakar rumah orang yang mampu tetapi tidak mau pergi jamaah sholat di mesjid.

Aku coba menghitung berapa jam rata-rata dalam sehari aku belajar agama selain ketika Sholat Jumat. Ternyata dalam seminggupun belum tentu ada 2 jam aku belajar agama. Bahkan ketika sedang menghadapi ujian, aku lebih dibanyak membaca buku kuliah dan lupa sama sekali membaca Al Quran.

Ketika aku suka kepada seorang wanita, dia sering sekali terbayang dalam ingatanku bahkan ketika sholat sekalipun. Padahal belum tentu dia ingat aku. Berbeda ketika aku ingat Allah SWT, Allah SWT pasti ingat aku.

Ketika aku tersandung atau jatuh, yang keluar dari mulutku bukan nama Allah, malah kata-kata yang tak memiliki makna apa-pun. Sungguh meruginya aku, hanya dapat rasa sakit saja.

Hal-hal yang kusebutkan diatas hanya sebagian kecil yang kuingat. Masih banyak sekali hal lain yang bila ku tulis disini akan membutuhkan banyak sekali halaman. Yang kutulis diatas hanyalah prilaku Al Andad yang paling sederhana yang pernah kulakukan.

Setelah aku renungkan, ternyata aku terasuk penyakit al andad yang berarti aku telah melakukan perbuatan musyik.

Ya Allah ampuni aku atas segala dosa yang telah kuperbuat. Ya Allah lindungi aku dari penyakit Al Alihah, At Thawaghit, Al Andad, dan Al Arbab. (Muhammad Surya)

Melihat Infotainment, halalkah?

19 Maret 2008 pukul 18:14 | Ditulis dalam opiniku | 3 Komentar

Melihat Infotainment,

Halalkah?

 

Akhir-akhir ini terjadi pro-kontra tentang halal atau haramnya kita menonton acara infotainment di layar TV. Hal ini menjadi perdebatan setelah dalam acara Munas Alim Ulama PBNU mengagendakan pembahasan Halal-haramnya acara infotainment di TV.

Hasil Munas Alim Ulama NU memang belum selesai diputuskan, tetapi dalam draf materi munas, masalah ini sudah dijawab oleh PBNU. Mengenai masalah ini PBNU berpendapat tayangan seperti ini haram bila siarannya hanya mengumbar kejelekan seseorang. Tayangan infotainment boleh bila didasarkan tujuan yang dibenarkan dalam syariat Islam. Misalnya untuk memberantas kemungkaran, memberikan peringatan, menyampaikan pengaduan, meminta bantuan, atau meminta fatwa hukum (Republika, Selasa 1 Agustus 2006,hlm:5). Yang jadi masalah kemudian adalah adakah acara infotainment yang seperti itu? Apakah acara infotainment yang banyak disiarkan di stasion TV memenuhi kriteria diatas?

Kita bisa mengetahui apakah acara itu haram atau tidak dengan meneliti isi dari acara itu. Dalam masalah muamalah, segala sesuatunya dibolehkan kecuali ada larangan dalam Al Quran atau As Sunnah. Jadi kita bisa menentukan acara infotainmen itu halal atau tidak kita menontonnya dengan cara apakah ada dalam acara tersebut yang dilarang oleh agama? Apakah ada manfaat atau mudhorotnya dari acara tersebut?

Menurut hasil pendapat Alim Ulama PBNU, acara infotainment haram bila ada pengumbaran kejelekan seseorang atau dalam istilahnya Ghibah istilah umumnya gosip. Lalu Apa itu ghibah? Apa alasannya ghibah dilarang? Dalam sebuah hadist:

 

Abu Hurairoh berkata, Rasululloh bersabda: “Tahukah kamu apakah ghibah itu?” Jawab sahabat: “Alloh dan Rosulnya yang lebih mengetahui. Nabi bersabda: “yaitu menyebut saudaramu dengan dengan apa-apa yang dia tidak sukadisebutnya.Ditanya: “Bagaimana pendapatmu kalau itu memang sebenarnya ada padanya?” Jawab Nabi: “kalau memang sebenarnya begitu, itulah yang sebenarnya ghibah, tetapi jika kau menyebut apa-apa yang tidak sebenarnya, berarti kau telah menuduhnya dengan kebohongan (yang lebih besar dosanya)”(Muslim)

Dalam hadis lain:

Hindarilah olehmu dari suka berprasangka karena prasangka itu adalah omongan paling dusta. Dan janganlah suka memata-matai kejelekan orang dan janganlah kamu kasak-kusuk untuk mendengar kesalahan orang lain dan janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling bermusuhan dan janganlah kamu saling membenci, tetapi jadilah kamu sekalian hamba Alloh yang saling bersaudara.” (HR.Bukhori dari Abu Hurairoh)

Firman Alloh SWT:

Sesungguhnya orang-orang yang suka menyiar-nyiarkan suatu hal yang keji dalam kalangan orang-orang muslim, maka bagi mereka siksa yang pedih baik di dunia maupun di akherat, dan Alloh mengetahui sedang kamu sekalian tidak mengetahui. (QS. An Nur: 19).

Kalau kita coba lihat acara infotainment yang disiarkan di kebanyakan stasiun TV, kita banyak disuguhkan berita tentang kelemahan, kekurangan, atau kesalahan artis. Kita juga banyak disuguhkan gosip-gosip si artis yang belum tentu kebenarannya.

Para wartawan infotainment juga selalu berusaha mencari-cari gosip-gosip tentang si artis lalu menanyakan ke si artisnya lalu menyebarluaskannya ke pemirsa di rumah. Meskipun demikian, kita juga tidak menafikkan bahwa adakalanya infotainment memberitakan hal-hal yang positif tentang si artis.

Yang sangat berbahaya adalah ketika berita negatif itu tentang artis yang muslim. Allah SWT berfirman:

 

Dan janganlah kalian berghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat. (QS. Al Hujurot:12)

Orang yang menonton acara infotainment selama 30 menit yang memberitakan hal-hal negatif tentang artis, sama saja dengan orang yang nonton sambil makan basho yang terbuat dari daging bangkai artis-artis yang diberitakan itu. Biasanya orang tidah puas dengan nonton satu infotainment di satu TV tetapi dilanjutkan dengan melihat acara infotainmen di TV yang lainnya. Bisa dibayangkan berapa mangkok basho bangkai artis yang dia makan.

Kalau orang sudah sering mendengar gosip, lama kelamaan hatinya akan beku dan merasa senang-senang saja mendengar gosip, tidak lagi ada rasa berdosa mendengarkannya.

Tahu atau tidak tentang gosip seorang artis, tidak akan membuat kita miskin miskin didunia atau kaya di akherat. Mungkin ada sebagian orang yang merasa rugi kehilangan satu berita gosip karena tidak punya bahan obrolan dengan teman atau akan jadi ’pendengar setia’ ketika teman-teman asik ngobrol. Yang jadi masalah, mana yang akan kita pilih asik ngobrol dengan para penggosip tapi mendapat murka Alloh, atau meninggalkan majelis gosip dan menuju ridho Alloh SWT.

Rosululloh SAW bersabda:

 

…cukuplah masing-masing orang disebut jahat kalau ia menghina sesama saudara Islam. Masing-masing orang Islam satu terhadap yang lainnya haramlah darahnya, harta bendanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Wallohu’alam

Muhammad Surya

Masih Menabung di Bank berbasis Bunga?

19 Maret 2008 pukul 17:56 | Ditulis dalam Ekonomi Islami | 2 Komentar

Masih Menabung di Bank berbasis Bunga?

Mungkin Anda masih ingat, beberapa tahun silam, MUI pernah memberikan fatwa, Ajinomoto haram. Maka setelah fatwa itu keluar, umat muslim Indonesia serentak untuk sementara sampai produknya diperbaiki tidak memakai ajinomoto sebagai bumbu masakan. Bandingkan dengan ketika MUI mengeluarkan fatwa, Bunga Bank itu riba yang berarti haram, berapa banyak umat muslim yang langsung memindahkan tabungannya ke Bank Syariah? Kenapa kalau fatwa itu tentang makanan, umat ini merespon dengan baik tetapi kalau masalah riba hanya sedikit yang merespon? Padahal bahaya bunga bank jauh lebih berbahaya baik dilihat dari aspek pribadi maupun perekonomian secara global.

 

Dalam sebuah hadist dari Hakim yang meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi SAW bersabda:

 

Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan); yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya”

 

Melakukan zina dengan dengan bukan mahrom saja hukumannya dicambuk seratus kali bahkan sampai dihukum rajam, apalagi yang dizinai itu ibu kandungnya sendiri tentu dosa dan hukumnya lebih berat. Itu baru dosa riba dengan tingkatan paling rendah, bagaimana dengan ribanya bunga bank?

 

Dalam merumuskan definisi riba, para ulama mengalami perbedaan redaksi, namun dari perbedaan itu kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa riba adalah tambahan terhadap harta pokok tanpa ada pengganti transaksi atau padanan yang diperbolehkan syariat, yang salah satu pihak menetapkan syarat1. Bunga uang merupakan bagian dari teori riba. Lihat saja definisi ribanya Ibnu Qoyyim yang membedakan antara riba yang terang-terangan (riba Jali) dan riba yang terselubung (riba al Khofi). Lihat pula definisi fiqh yang menjelaskan riba karena perpanjangan waktu (an-nasi’ah) dan riba dalam pertukaran barang sejenis (al-fadl). Bunga Bank termasuk dalam riba an-nasi’ah. Jadi, teori pembungaan uang hanya merupakan bagian dari teori riba yang jauh lebih komprehensif.

 

Lebih parah lagi, praktik pembungaan uang oleh bank lebih parah dari praktek riba an-nasi’ah pada zaman jahiliyah. Imam Suyuti (Darul Manshur,I,hlm.368), Imam Thobari (Jami’ul Bayan, IV, hlm.56), Imam Baihaqi (Sunan Kubro, Bab Riba), Imam Ar Razi (Tafsir Kabir, III, hlm.2) menjelaskan bahwa riba an-nasi’ah di zaman jahiliyah baru dikenakan pada saat peminjam tidak mampu melunasi utangnya dan minta perpanjangan waktu, sedangkan bila si peminjam mampu melunasi pada saat jatuh temponya maka tidak ada riba. Jadi, Riba baru dikenakan bila ada perpanjangan waktu. Mari kita bandingkan dengan sistem bunga perbankan modern yang tanpa meminta perpanjanga waktu pun, si peminjam harus membayar beban bunga2. Seandainya kita pinjam uang Rp 1.000.000, di Bank ribawi dengan jatuh tempo 1 tahun, baru sebulan saja dari tanggal meminjam, kita sudah menanggung beban bunga, padahal belum tentu kita tidak bisa bayar utang tepat waktu. Diperparah lagi kalau kita membayar utang tersebut lebih cepat dari jatuh tempo, maka akan kena pinalti (sangat tidak rasional).

 

Para ulama dan berbagai lembaga fatwa di seluruh dunia mayoritas menetapkan bahwa Bunga Bank adalah Haram. Diantara lembaga fatwa tersebut adalah:

  1. Keputusan Muktamar II Lembaga Penelitian Islam (Majma’ al Buhus al Islamiyyah) al Azhar, kairo, Muharam 1385 H/ Mei 1965 M

  2. Keputusan Muktamar Bank Islam II, Kuwait, 1403 H/ 1983 M

  3. Keputusan Muktamar II Lembaga Fikih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI), Jeddah, 10-16 Rabiul Akhir 1406 H/ 22-28 Desember 1985

  4. Keputusan Sidang IX Dewan Lembaga Fikih Islam, Robithoh Alam Islami, Mekah, 19 Rajab 1406 H/ 1986 M

  5. Fatwa Komite Fatwa Al Azhar tanggal 28 Februari 1988

  6. Fatwa Dar Al Ifta’ Mesir tanggal 20 Februari 1989 yang ditanda tangani oleh Mufti Negara Mesir yang menyatakan, “Setiap pinjaman (Kredit) dengan bunga yang ditetapkan di muka adalah haram.”

  7. Majelis Ulama Indonesia

  8. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, nomor: 08 Tahun 2006. Difatwakan tanggal 1 Jumadil Akhir 1427 H/ 27 Juni 2006 M

  9. Akademi Fikih Liga Muslim Dunia

  10. Pimpinan Pusat Dakwah, Penyuluhan, Kajian Islam, dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia.

Dan masih banyak lagi lembaga-lembaga fatwa lainnya yang sudah memutuskan haramnya bunga bank.3


Ada sebagian orang awam yang masih betah menabung di bank konvensional dengan alasan, dia menabung di bank dengan tujuan supaya uangnya aman dan pendapatan bunga dari tabungannya tidak dia ambil atau disumbangkan ke fakir miskin. Apakah dengan alasan seperti ini berarti menabung di bank yang menerapkan bunga jadi halal? Jelas tidak, karena dengan nabung di bank tersebut sama saja dia memberikan kesempatan kepada pihak bank untuk melakukan transaksi ribawi. Pihak bank akan meminjamkannya kepada orang-orang yang memerlukan dana dengan bunga riba. Hal ini jelas dilarang karena merupakan tolong menolang dalam dosa dan pelanggaran. Sebab Allah telah berfirman:

 

Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah: 2)

Perumpamaan bagi orang yang nabung di bank ribawi tapi tidak mau mengambil bunganya, seperti orang yang memberikan belati kepada pencuri, sambil berkata, “Ambillah belati ini dan gunakan ia untuk membunuh manusia serta mengambil harta mereka, namun aku tidak menghendaki apa-apa darimu kecuali belati ini saja, karena mengambil harta dengan cara ini tidak diperbolehkan.” Dengan cara itu berarti dia menjadi sekutu dalam dosa, meskipun tidak mengambil harta orang lain4.

 

Saudaraku, sekarang ini sudah banyak sekali Bank-bank yang beroperasi dengan prinsip syariah. Bahkan bentuknya bukan Cuma bank umum biasa saja, tetapi untuk pembiayaan usaha mikro atau tabungan dan deposito ada yang berbentuk Baitul mal wa tamrin (BMT) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang jumlahnya sudah ribuan dan tersebar di hampir seluruh Indonesia. Untuk lembaga keuangan lainnya, sekarang sudah berdiri Pasar Modal Syariah, Asuransi Syariah, Pasar Uang Syariah, dan Pegadaian Syariah. Jadi sekarang sudah lewat masa darurat untuk kita nabung di Bank yang berbasis ribawi. Wallohu ‘alam bish-showab.

 

 

Kampung Kuningan, 9 Oktober 2006

Muhammad Surya

 

 

 

 

 

1 Untuk lebih jelasnya, baca: buku Wahid Abdus-Salam Baly, Dialog Ilmiah Bank Syariah VS Bank Konvensional, penerbit: Darul Falah dan buku Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah, dari Teori ke Praktek, penerbit Gema Insani Press)

2 Untuk lebih jelasnya, baca buku Ir. H. Adiwarman A. Karim, SE., M.B.A.,M.A.E.P., Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, hlm. 70-74

3 Untuk lebih jelasnya, silahkan baca buku Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah, dari Teori ke Praktek, penerbit Gema Insani Press dan Majalah Tabligh Vol. 04/No.04/Rajab 1427 H/ Agustus 2006 M.

4 Coba baca buku Wahid Abdus-Salam Baly, Dialog Ilmiah Bank Syariah VS Bank Konvensional, penerbit: Darul Falah

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.