Benarkan Cara Belajar Ilmu Agama Kita?

19 Maret 2008 pukul 18:19 | Ditulis dalam opiniku | Tinggalkan komentar

Benarkan Cara Belajar Ilmu Agama Kita?

 

Hidup di dunia ini sungguh terasa cepat sekali. Baru saja pagi, sekarang sudah malam lagi. Perasaan baru kemarin awal bulan, sekarang sudah akhir bulan. Begitu cepatnya waktu berlalu, menandakan waktu hidup kita di dunia semakin sedikit. Mati kian hari kian mendekat. Sedangkan bekal untuk akherat rasanya masih sedikit.

Berapa jam waktu yang kita gunakan untuk belajar atau baca buku tiap hari? Dari waktu itu, berapa jam yang kita gunakan untuk belajar ilmu agama? Tentunya lebih seikit bukan! Padahal belajar agama sangat bermanfaat bagi dunia kita dan akherat kita. Kita semua tahu bahwa belajar agama hukumnya wajib ‘ain, dimana setiap orang wajib belajar tentangnya. Berbeda dengan ilmu diluar itu yang sifatnya wajib kifayah.

Banyak orang yang lebih disibukkan dengan urusan dunia, lupa dengan urusan akheratnya. Banyak orang yang sibuk dengan belajar ilmu-ilmu yang bersifat dunia dan lalai dalam belajar agama. Banyak diantara mereka yang beralasan bahwa dirinya tidak punya waktu untuk belajar agama. Astaghfirulloh, mereka lebih mementingkan kepentingan dunianya daripada kepentingan dirinya kepada Allah.

Dalam setiap ibadah yang kita lakukan haruslah dilandaskan dengan ilmu (Al Quran dan Hadist). Bukan berdasarkan bagaimana orang banyak melakukan suatu ibadah atau berdasarkan si A atau si B dimana mereka tidak mengemukakan alasan dalilnya.

Dalam menuntut ilmu agama pun kita jangan serampangan. Belajar agama harus dengan manhaj atau metodelogi yang benar. Karena kalau tidak seperti itu maka hasil hasil atau manfaat dari ilmu yang kita pelajari tidak akan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Setiap ilmu itu ada metodelogi khusus dalam mempelajarinya.

Dalam belajar pun kita harus dilakukannya secara bertahap. Jangan sampai orang yang masih awam dengan ilmu fikir misalnya langsung belajar dari kitab Bidayatul Mujtahid. Kitab itu terlalu berat untuk dipelajari untuk orang awam. Belajarlah dari level yang sederhana ke level yang lebih tinggi.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu agama. Diantaranya:

  1. Hendaklah belajar agama dari seorang atau beberapa orang guru. Jangan belajar agama hanya dari buku, apalagi bukunya buku terjemahan. Kualitas Buku-buku terjemahan tergantung orang yang menerjemahkan. Banyak buku terjemahan yang diterjemahkan oleh orang yang tidak begitu mengerti tentang ilmu dari buku yang diterjemahkan, sehingga sangat rawan sekali dengan salah menerjemahkan atau menafsirkan. Banyak ulama yang menyatakan barangsiapa yang gurunya kitabnya, maka salahnya lebih banyak daripada benarnya. Belajar langsung dari seorang guru lebih terjaga dari kesalahan dan juga dapat menghemat waktu daripada membaca buku yang memerlukan banyak waktu karena bisanya guru sudah merangkum materi yang akan disampaikan. Dalam memilih guru, kita jangan terpukau dengan memilih guru yang terkenal atau hebat tetapi pilihlah guru yang ketika dia menjelaskan kita bisa mengerti dan pahami. Pilihlah guru yang kita percaya dengan ilmunya dan agamanya. Jangan pilih guru yang ilmunya memang bagus tapi akhlaknya jelek atau aqidahnya kacau. Atau ibadahnya rajin tapi penguasan ilmunya rendah.

  2. Belajar secara bertahap. Dari yang paling dasar ke yang lebih rumit.

  3. Sabarlah dalam menuntut ilmu. Kadang-kadang suatu ilmu tidak bisa langsung kita mengerti. Butuh pengulangan berkali-kali baru bisa memahami. Jangan juga terpancing dengan teman kita yang kelihatannya sudah bisa memahami ilmu yang belum kita pahami. Jangan pindah kebuku lain sebelum memahami buku yang sedang dipelajari.

  4. Memilih waktu khusus untuk menghapal, baca buku/kitab, merangkum buku, atau menulis. Misalnya, waktu yang pali baik untuk menghafal setelah bangun tidur pagi atau siang. Setelah lelah menghafal lalu membaca buku yang ringan-ringan seperti kisah para Sahabat atau ulama. Biasakan untuk meluangkan waktu sejenak untuk merangkum buku yang telah kita baca, karena merangkum dapat melatih otak kita untuk lebih memahami buku yang kita baca.

  5. Mengamalkan ilmu yang sudah kita dapatkan. Disamping memang sudang menjadi kewajiban bagi seorang yang memiliki ilmu untuk diamalkannya, mengamalkan ilmu juga dapat meningkatkan daya ingat kita terhadap ilmu tersebut. (Muhammad Surya)

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: