Masih Menabung di Bank berbasis Bunga?

19 Maret 2008 pukul 17:56 | Ditulis dalam Ekonomi Islami | 2 Komentar

Masih Menabung di Bank berbasis Bunga?

Mungkin Anda masih ingat, beberapa tahun silam, MUI pernah memberikan fatwa, Ajinomoto haram. Maka setelah fatwa itu keluar, umat muslim Indonesia serentak untuk sementara sampai produknya diperbaiki tidak memakai ajinomoto sebagai bumbu masakan. Bandingkan dengan ketika MUI mengeluarkan fatwa, Bunga Bank itu riba yang berarti haram, berapa banyak umat muslim yang langsung memindahkan tabungannya ke Bank Syariah? Kenapa kalau fatwa itu tentang makanan, umat ini merespon dengan baik tetapi kalau masalah riba hanya sedikit yang merespon? Padahal bahaya bunga bank jauh lebih berbahaya baik dilihat dari aspek pribadi maupun perekonomian secara global.

 

Dalam sebuah hadist dari Hakim yang meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi SAW bersabda:

 

Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan); yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya”

 

Melakukan zina dengan dengan bukan mahrom saja hukumannya dicambuk seratus kali bahkan sampai dihukum rajam, apalagi yang dizinai itu ibu kandungnya sendiri tentu dosa dan hukumnya lebih berat. Itu baru dosa riba dengan tingkatan paling rendah, bagaimana dengan ribanya bunga bank?

 

Dalam merumuskan definisi riba, para ulama mengalami perbedaan redaksi, namun dari perbedaan itu kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa riba adalah tambahan terhadap harta pokok tanpa ada pengganti transaksi atau padanan yang diperbolehkan syariat, yang salah satu pihak menetapkan syarat1. Bunga uang merupakan bagian dari teori riba. Lihat saja definisi ribanya Ibnu Qoyyim yang membedakan antara riba yang terang-terangan (riba Jali) dan riba yang terselubung (riba al Khofi). Lihat pula definisi fiqh yang menjelaskan riba karena perpanjangan waktu (an-nasi’ah) dan riba dalam pertukaran barang sejenis (al-fadl). Bunga Bank termasuk dalam riba an-nasi’ah. Jadi, teori pembungaan uang hanya merupakan bagian dari teori riba yang jauh lebih komprehensif.

 

Lebih parah lagi, praktik pembungaan uang oleh bank lebih parah dari praktek riba an-nasi’ah pada zaman jahiliyah. Imam Suyuti (Darul Manshur,I,hlm.368), Imam Thobari (Jami’ul Bayan, IV, hlm.56), Imam Baihaqi (Sunan Kubro, Bab Riba), Imam Ar Razi (Tafsir Kabir, III, hlm.2) menjelaskan bahwa riba an-nasi’ah di zaman jahiliyah baru dikenakan pada saat peminjam tidak mampu melunasi utangnya dan minta perpanjangan waktu, sedangkan bila si peminjam mampu melunasi pada saat jatuh temponya maka tidak ada riba. Jadi, Riba baru dikenakan bila ada perpanjangan waktu. Mari kita bandingkan dengan sistem bunga perbankan modern yang tanpa meminta perpanjanga waktu pun, si peminjam harus membayar beban bunga2. Seandainya kita pinjam uang Rp 1.000.000, di Bank ribawi dengan jatuh tempo 1 tahun, baru sebulan saja dari tanggal meminjam, kita sudah menanggung beban bunga, padahal belum tentu kita tidak bisa bayar utang tepat waktu. Diperparah lagi kalau kita membayar utang tersebut lebih cepat dari jatuh tempo, maka akan kena pinalti (sangat tidak rasional).

 

Para ulama dan berbagai lembaga fatwa di seluruh dunia mayoritas menetapkan bahwa Bunga Bank adalah Haram. Diantara lembaga fatwa tersebut adalah:

  1. Keputusan Muktamar II Lembaga Penelitian Islam (Majma’ al Buhus al Islamiyyah) al Azhar, kairo, Muharam 1385 H/ Mei 1965 M

  2. Keputusan Muktamar Bank Islam II, Kuwait, 1403 H/ 1983 M

  3. Keputusan Muktamar II Lembaga Fikih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI), Jeddah, 10-16 Rabiul Akhir 1406 H/ 22-28 Desember 1985

  4. Keputusan Sidang IX Dewan Lembaga Fikih Islam, Robithoh Alam Islami, Mekah, 19 Rajab 1406 H/ 1986 M

  5. Fatwa Komite Fatwa Al Azhar tanggal 28 Februari 1988

  6. Fatwa Dar Al Ifta’ Mesir tanggal 20 Februari 1989 yang ditanda tangani oleh Mufti Negara Mesir yang menyatakan, “Setiap pinjaman (Kredit) dengan bunga yang ditetapkan di muka adalah haram.”

  7. Majelis Ulama Indonesia

  8. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, nomor: 08 Tahun 2006. Difatwakan tanggal 1 Jumadil Akhir 1427 H/ 27 Juni 2006 M

  9. Akademi Fikih Liga Muslim Dunia

  10. Pimpinan Pusat Dakwah, Penyuluhan, Kajian Islam, dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia.

Dan masih banyak lagi lembaga-lembaga fatwa lainnya yang sudah memutuskan haramnya bunga bank.3


Ada sebagian orang awam yang masih betah menabung di bank konvensional dengan alasan, dia menabung di bank dengan tujuan supaya uangnya aman dan pendapatan bunga dari tabungannya tidak dia ambil atau disumbangkan ke fakir miskin. Apakah dengan alasan seperti ini berarti menabung di bank yang menerapkan bunga jadi halal? Jelas tidak, karena dengan nabung di bank tersebut sama saja dia memberikan kesempatan kepada pihak bank untuk melakukan transaksi ribawi. Pihak bank akan meminjamkannya kepada orang-orang yang memerlukan dana dengan bunga riba. Hal ini jelas dilarang karena merupakan tolong menolang dalam dosa dan pelanggaran. Sebab Allah telah berfirman:

 

Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah: 2)

Perumpamaan bagi orang yang nabung di bank ribawi tapi tidak mau mengambil bunganya, seperti orang yang memberikan belati kepada pencuri, sambil berkata, “Ambillah belati ini dan gunakan ia untuk membunuh manusia serta mengambil harta mereka, namun aku tidak menghendaki apa-apa darimu kecuali belati ini saja, karena mengambil harta dengan cara ini tidak diperbolehkan.” Dengan cara itu berarti dia menjadi sekutu dalam dosa, meskipun tidak mengambil harta orang lain4.

 

Saudaraku, sekarang ini sudah banyak sekali Bank-bank yang beroperasi dengan prinsip syariah. Bahkan bentuknya bukan Cuma bank umum biasa saja, tetapi untuk pembiayaan usaha mikro atau tabungan dan deposito ada yang berbentuk Baitul mal wa tamrin (BMT) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang jumlahnya sudah ribuan dan tersebar di hampir seluruh Indonesia. Untuk lembaga keuangan lainnya, sekarang sudah berdiri Pasar Modal Syariah, Asuransi Syariah, Pasar Uang Syariah, dan Pegadaian Syariah. Jadi sekarang sudah lewat masa darurat untuk kita nabung di Bank yang berbasis ribawi. Wallohu ‘alam bish-showab.

 

 

Kampung Kuningan, 9 Oktober 2006

Muhammad Surya

 

 

 

 

 

1 Untuk lebih jelasnya, baca: buku Wahid Abdus-Salam Baly, Dialog Ilmiah Bank Syariah VS Bank Konvensional, penerbit: Darul Falah dan buku Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah, dari Teori ke Praktek, penerbit Gema Insani Press)

2 Untuk lebih jelasnya, baca buku Ir. H. Adiwarman A. Karim, SE., M.B.A.,M.A.E.P., Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, hlm. 70-74

3 Untuk lebih jelasnya, silahkan baca buku Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah, dari Teori ke Praktek, penerbit Gema Insani Press dan Majalah Tabligh Vol. 04/No.04/Rajab 1427 H/ Agustus 2006 M.

4 Coba baca buku Wahid Abdus-Salam Baly, Dialog Ilmiah Bank Syariah VS Bank Konvensional, penerbit: Darul Falah

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. >Masih Menabung di Bank berbasis Bunga?
    masih tum maklum penghasilan saya diberikan melalui bank negara yang masih menggunakan prinsip riba. dan saya yakin lebih 3 juta orang PNS dan TNI Polri sama seperti saya, termasuk ayah antum mungkin?

    >Bandingkan dengan ketika MUI mengeluarkan fatwa, Bunga Bank itu riba yang berarti haram, berapa banyak umat muslim yang langsung memindahkan tabungannya ke Bank Syariah?
    karena sistem keuangan dunia yg berlaku saat ini adalah sistem ribawi yang tak mudah mengganti begitu saja, bahkan bank syariah yg ada saat ini masih dibawah naungan Bank indonesia atau juga merupakan salah satu bagian dari bank pemerintah / swasta yg masih menggunakan sistem ribawi. ketika syariah memutuskan haramnya riba setelah ummat dibawah kepemimpinan Nabi memiliki sistem keuangan yang jelas. nah klo skrg
    di indonesia gmn???
    katakanlah Bank Muamalat yang didaulat sebagai Bank Syariah paling innovatif oleh dunia Islam dengan produknya yang bernama shar’e , hampir seluruh transaksinya masih dalam sistem bank2 yg bersistem ribawi (kecuali di jakarta ya) dg 8800 jaringan atm bank ribawinya.

    >Padahal bahaya bunga bank jauh lebih berbahaya baik dilihat dari aspek pribadi maupun perekonomian secara global.
    bahayanya bisa diterangkan lebih jelas kah?

    >Para ulama dan berbagai lembaga fatwa di seluruh dunia mayoritas menetapkan bahwa Bunga Bank adalah Haram
    pernyataan fatwanya masih terlalu umum, klo bisa di perinci agar kami orang2 kampung bisa lebih memahami, klo bisa draft fatwa dari salah satu lembaga tersebut di posting disini

    >Jadi sekarang sudah lewat masa darurat untuk kita nabung di Bank yang berbasis ribawi
    pertanyaan saya bagaimana klo didaerah terpencil seperti kami2 ini?
    apa masih berlaku fatwa antum bahwa sudah lewat masa darurat

    jazakalloh my bro, karena ini tulisan bersangkutan mengenai hukum seharusnya tidak berdasar prasangka tetapi dengan dalil dan sumber yang jelas.

  2. Untuk kang Ruslan.
    Maaf baru di balas. lihat tulisan terbaru saya tentang “obrolan masalah bunga bank dan riba.” sebagian yang ditanyakan kang ruslan sudah ku jawab.

    masalah draf fatwa-fatwa mungkin tidak akan saya tampilkan, karena tulisan ini hanya sebuah artikel yang mencoba merangkum semua itu, kalau harus ditampilkan semua, wah itu namanya saya buat buku. karena panjang sekali pembahasannya. banyak buku yang sudah membahas tentang draf-draf tersebut. kau cari saja buku-buku tentang ekonomi Islam, insya Allah akan membahas draf-draf itu.

    masalah dalil dan sumber, saya sudah menampilkan sebagian dalil-dalilnya, tidak mungkin saya kemukakan semua dalil, karena ini sebagai artikel. kalau saya jelaskan semua dalil-dalilnya beserta tafsir dari dalil-dalil itu, wah itu panjang banget, ntar buku itu namanya. tulisan ini adalah tulisan untuk ukuran blog, bukan e-book atau buku, jadi harus ringkas, dan langsung pada inti persoalan.
    masalah sumber, saya sudah cantumkan sumber-sumber yang membentuk artikel ini di bagian terakhir. artikel ini hanyalah rangkuman dari buku-buku itu. bila kamu ingin tahu penjelasan yang lebih jelas, silahkan baca buku-buku itu.

    masalah ATM, itu bukan masalah dan sah-sah saja. bank Muamalat bekerja sama dengan anak perusahaan BCA yang mengurusi khusus ATM. sistemnya, bank syariah menyewa mesin ATM, BUKAN bank syariah nabung di BCA (kalau ini haram). jadi yang kita ambil di ATM itu uang dari bank syariah yang dititipkan di ATM-atm itu. tidak menjadi masalah uang-uang dari bank syariah bercampur dengan uang dari bank konvensional karena pencatatan atau uang-uang itu atau akuntansinya berbeda, sehingga secara sistem akuntansinya uang dari bank syariah dan bank konvensional terpisah. bank syariah karena menitipkan uangnya di mesin ATM, maka mereka harus membayar biaya sewa mesin. biaya sewa itu untuk misalnya bayar listrik, AC, sistem ATM, dan lain-lain. hal ini sah-sah saja. tidak melanggar syariat.

    masalah bahaya sistem bunga, insya Allah saya akan membahas pada tulisan saya yang berikutnya. tunggu saja.

    masalah bank syariah masih berhubungan dengan bank Indonesia yang mungkin pakai sistem bunga, ingat kang, tentang konsep bank sentral dan tugas-tugas bank sentral, bedakan antara bank umum dan bank sentral, bedanya tugas dan kewenangan kedua lembaga itu. BI itu bank sentral kalau bank-bank syariah itu bank umum. tentu akang lebih paham karena pernah kuliah di STAN dan bekerja di departemen keuangan. di BI sendiri ada bagian yang khusus menangani bank-bank syariah dan bagian yang khusus mengurus bank-bank konvensional, jadi jangan khawatir secara sistem, bank-bank syariah dan bank-bank konvensional itu dipisahkan.

    kang, bank syariah sekarang masih dalam tahap perkembangan, jadi masih banyak kekurangan. kesempurnaan itu harus melalui sebuah proses yang panjang. maka harus memulai dari sesuatu yang belum sempurna dulu, dan melalui proses itu akan menjadi lebih sempurna. kalau tidak dimulai dari ketidak sempurnaan, maka tidak akan mungkin ada bank syariah. banyak permasalah yang dihadapi bank syariah. mungkin ada yang belum syariah. tetapi dengan proses yang panjang, bank syariah sekarang saya nilai sudah banyak mengalami perbaikan dan penyempurnaan. tinggal kita sebagai umat muslim haruslah mendukung proses perkembangan bank syariah ini. kalau tidak didukung, maka kita tidak mungkin akan menemukan bank syariah di negeri ini yang mayoritas muslim.

    segalanya perlu proses. kenapa sistem kapitalis sukses menguasai dunia? ya karena kajian mereka sudah sangat banyak, lembaga yang mendukung sisten itu sudah sangat banyak. penelitiannyanya banyak sekali. kalau kita ingin sistem ini bisa menguasai dunia, menjadi solusi, ya kita harus mulai menggiatkan kajian, penelitian, dan pembentukan lembaga. kalau banyak yang masih kurang dan lemah atau kurang syariah bukan berarti harus ditinggalkan, tetapi kita perbaiki terus-menerus sampai baik. sistem ekonomi islam baru mulai bangkit lagi (setelah mati suri mulai sekitar abad pertengahan) sekitar tahun 1940-an, hasil kajian dan penelitiannya masih sangat minim. sangat jauh dari sistem kapitalis yang sudah dikembangkan mulai abad pertengahan sampai sekarang. jadi pantas saja menguasai dunia. insya Allah, suatu hari nanti, sistem EI akan mengganti sistem ekonomi kapitalis. hanya tinggal menunggu waktu. tanda-tandanya sudah ada sekarang. yang jelas, BERANILAH UNTUK MEMULAI, KALAU ADA YANG KURANG, KITA PERBAIKI BERSAMA (BUKAN DITINGGALKAN)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: