Musyrik-kah Aku?

19 Maret 2008 pukul 18:18 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar
Musyrik-kah Aku? Katakanlah,”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu dan keluarga kamu beserta harta kekayaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya (siksanya). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah:24).

Disuatu sore, kubaca jadwal pertandingan piala dunia yang terpampang di dinding luar kamarku. Ku niatkan untuk nonton bareng dengan temen-temen kosku dua pertandingan dari tiga pertandingan yang ditayangkan oleh salah satu stasion televisi swasta. Malam pun tiba, aku ajak temen-temen untuk nonton bareng di kamarku dan merekapun mau. Kami pun menonton pertandingan pertama dengan semangat dengan sekali-kali berteriak kalau terjadi peluang emas atau gol. Kami tidak sadar kalau-kalau ada orang lain yang terganggu dengan teriakan kami itu. Selesai pertandingan pertama kami lanjutkan dengan menonton pertandingan kedua. Suasana nonton bareng kedua ini hampir sama dengan pertandingan pertama. Pertandingan itu berakhir kira-kira pukul satu malam. Setelah itu kami memutuskan untuk tidur di kamar masing-masing.

Azan subuh berkumandang. Menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan sholat Subuh. Aku sempat bangun, tapi badan ini terasa berat untuk bangun. Akhirnya aku tidur lagi.

Ketika aku sudah puas dengan tidur, ku buka mata dan segera melihat jam yang ada di handphone-ku, dan Astagfirulloh, jam di hp-ku menunjukkan pukul 8 pagi. Dan kejadian ini berulang di hari berikutnya. Aku tahu bahwa kalau tidur terlalu malam biasanya bangun kesiangan, tetapi mungkin karena kesukaanku menonton pertandingan piala dunia, aku relakan shalat malam dan sholat subuh berjamaah demi sebuah pertandingan.

Pada suatu malam, tiba-tiba hati ini tergerak untuk membaca sebuah buku tauhid yang telah lama aku tamat membacanya (Tauhid Khalis, Abu Haniefah, penerbit: PP Darul Arqam Muhammadiyah Garut). Ketika membaca daftar isi, aku tertarik untuk membaca bab VI “Yang Mennafi’kan/Menghilangkan Tauhid”. Bab ini menjelaskan empat induk pokok yang dapat menafi’kan tauhid, yaitu: Al Alihah, At Thawaghit, Al Andad, dan Al Arbab. Hati ini merasa sangat berdosa dan bersalah ketika penulis menjelaskan tentang Al Andad.

Dalam buku itu, penulis mengutip pendapat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bukunya Al Jawahirul Madliyah yang mendefinisikan Al Andad sebagai berikut:

Al Andad itu sesuatu yang dapat memalingkan engkau dari agama Islam, baik itu berupa anak, tempat tinggal, keluarga, atau harta benda. Itu semua adalah persamaan, karena firman Allah SWT. (Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah andad (tandingan-tandingan) selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah).

Penulis buku itu menjelaskan, kalau seseorang lebih mencintai anak, keluarga, rumah tinggal, harta benda atau apapun juga lainnya daripada mencintai Allah, maka semua itu disebut andad, sebab dapat memalingkan kecintaan dari pada Allah. Orang yang yang melakukan itu menjadi musyrik karena bagi orang yang bertauhid bahwa kecintaan yang sejati itu hanya bagi Allah saja sendirinya. Bila ada seseorang yang mendahulukan kepentingan anak, keluarga atau yang lainnya sehingga dapat mengalahkan kepentingan Allah SWT, maka jelaslah bahwa orang itu musyrik, karena menjadikan anak, keluarga, atau yang lainnya itu sebagai andad (bandingan Allah).

Setelah baca buku itu, aku teringat ketika Allah memanggilku untuk sholat berjamaah lewat suara muazin sedangkan ketika itu aku sedang menonton acara TV yang kusukai atau sedang asik baca buku, aku sering menunda-nunda pergi ke mesjid sampai muazin I’komah. Bahkan kadangkala memutuskan sholat di rumah saja. Padahal Rasulullah SAW pernah mengancam akan membakar rumah orang yang mampu tetapi tidak mau pergi jamaah sholat di mesjid.

Aku coba menghitung berapa jam rata-rata dalam sehari aku belajar agama selain ketika Sholat Jumat. Ternyata dalam seminggupun belum tentu ada 2 jam aku belajar agama. Bahkan ketika sedang menghadapi ujian, aku lebih dibanyak membaca buku kuliah dan lupa sama sekali membaca Al Quran.

Ketika aku suka kepada seorang wanita, dia sering sekali terbayang dalam ingatanku bahkan ketika sholat sekalipun. Padahal belum tentu dia ingat aku. Berbeda ketika aku ingat Allah SWT, Allah SWT pasti ingat aku.

Ketika aku tersandung atau jatuh, yang keluar dari mulutku bukan nama Allah, malah kata-kata yang tak memiliki makna apa-pun. Sungguh meruginya aku, hanya dapat rasa sakit saja.

Hal-hal yang kusebutkan diatas hanya sebagian kecil yang kuingat. Masih banyak sekali hal lain yang bila ku tulis disini akan membutuhkan banyak sekali halaman. Yang kutulis diatas hanyalah prilaku Al Andad yang paling sederhana yang pernah kulakukan.

Setelah aku renungkan, ternyata aku terasuk penyakit al andad yang berarti aku telah melakukan perbuatan musyik.

Ya Allah ampuni aku atas segala dosa yang telah kuperbuat. Ya Allah lindungi aku dari penyakit Al Alihah, At Thawaghit, Al Andad, dan Al Arbab. (Muhammad Surya)

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. saya juga merasakan itu mas…
    paham sih paham, tapi seringkali rasa malas lebih kuat mendorong..😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: