Pernahkah kita merasa kalah karena meninggalkan suatu ibadah?

19 Maret 2008 pukul 18:24 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar
Pernahkah kita merasa kalah karena meninggalkan suatu ibadah? Pernahkah kita rindu ingin bertemu pada Alloh?

Tujuanku menulis tilisan ini yang paling utama hanyalah untuk mengingatkan diriku sendiri yang sangat banyak sekali melakukan kelalaian. Dan yang kedua, untuk menbagikan renungan pribadiku ini kepada orang-orang yang ada disekitarku, orang-orang yang aku sayang.

Saudaraku, sekarang ini sedang rame-ramenya Sepak Bola Piala Asia. Banyak sekali diantara kita yang tertarik untuk mengikutinya. Ketika Indonesia menang melawan bahrain, euforia kemenangan sangat terasa di antara kita. Ketika kalah melawan arab saudi, kekecewaan yang dirasakan oleh sebagian besar dari kita.

Itu merupakan sebuah gejala yang biasa dialami oleh kita. Rasa nasionalisme ketika melihat tim Indonesia bermain, membuat kita merasa bahagia bila menang atau merasa kecewa bila kalah. Rasa nasionalisme tersebut merupakan gejala yang wajar dan sah-sah saja kita rasakan.

Kalau kita coba sedikit renungi, ini semua merupakan ayat-ayat kauniyah Alloh yang bila kita renungi dan Ambil hikmahnya, akan membuat kita lebih baik lagi dalam mengarungi hidup ini.

Sauraraku, ketika kita kecewa ketika melihat Indonesia kalah, pernahkah kita kecewa juga ketika kita kita kalah oleh hawa nafsu kita yang akhirnya membuat kita meninggalkan sebuah ibadah?  Apakah kita pernah kecewa ketika kita kehilangan pahala sholat berjamaah hanya karena di kalahkan oleh nafsu kita untuk nonton TV misalnya, atau tanggung lagi baca buku? Pernahkah kita kecewa karena meninggalkan perkara sunat? Janganlah kita meremehkan suatu perkara sunat, karena perkara sunat itu akan menjadi pemberat amalan kita pada hari pertimbangan amalan kita kelak di akherat dan menjadi penyempurna amalan wajib kita yang kita mengerjakannya kurang sempurna.

Saudaraku, kadang-kadang, aku sebagai orang yang merantau di kota jogja ini, merasa rindu sekali ingin ketemu orang tua, kakak, keponakanku yang lagi lucu-lucunya, atau temen-temenku waktu SMA atau SMP. Tapi beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah novel yang didalamnya ada sebuah percakapan berupa pertanyaan seorang tokoh kepada tokoh yang lainnya. Tokoh yang pertama itu bertanya, apakah kamu pernah rindu kepada Alloh. Pertanyaan itu akhir-akhir ini sering menyelimuti pikiran dan hatiku. Apakah aku pernah rindu pada Alloh? Rob yang telah menciptakanku, Rob yang mengasihiku, Rob yang menyayangiku, Rob yang melindungiku, Rob yang segala-galanya yang tiada duanya, tiada sekutunya.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. enya tum, aneh nya. ka Allah SWT mah asa tara inget, tara rindu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: