Sudah Saatnya Aktivis Dakwah Masuk Tempat-tempat maksiat

3 April 2008 pukul 14:24 | Ditulis dalam Dakwah Caraku | 1 Komentar

 

Sudah Saatnya Aktivis Dakwah Masuk Tempat-tempat maksiat

 

Pada suatu malam, teman kos saya mengajak ngoblol di kamar kos saya. Pertama-tama kami mengobrol berbagai banyak hal mulai tentang pacaran, sekolah, sampai cerita pengalaman masa lalu. kesan saya padanya adalah seseorang yang baik-baik saja seperti kebanyakan teman-teman saya. Saya sangat tercengang ketika dia bercerita tentang kehidupannya masa lalunya. Saya tidak pernah mengira sebelumnya. Dia bercerita kisah kelamnya sebelum ke jogja. Dia mengakui bahwa dia adalah pengedar dan pengguna norkoba yang sangat beruntung tidak pernah ketangkap polisi sementara kebanyakan teman-temannya sudah banyak ketangkap. Dia juga cerita bahwa dia sudah melakukan hubungan intim semenjak SMP kelas 1. Menurutnya, kehidupan teman-temannya ketika masih di Kalimantan sudah sangat bebas.

Teman saya yang lain, sehari-harinya dia tampak biasa-biasa saja. Tetap melakukan sholat, puasa di bulan Ramadhan, tapi belakangan saya tahu bahwa dia juga suka minum minuman keras. Ibadah jalan, maksiat juga jalan terus, mungkin itulah salah satu prinsip hidupnya.

Di lingkungan kita sekarang, masih banyak orang yang mirip atau bahkan lebih parah dari dua teman saya itu. Bahkan ada yang aktivis organisasi Islam yang sudah tidak mau sholat atau mulai jarang untuk sholat. Bagaimana umat Islam ini akan maju kalau aktivisnya saja banyak yang tidak menjalankan syariat?

Kalau coba kita perhatikan keadaan di sekeliling kita, banyakan mana orang yang sholeh dengan orang yang ahli maksiat? Banyakan mana orang yang suka sholat di mesjid dengan yang sholatnya sendirian di rumah dan mengakhirkan waktu sholatnya? Atau banyakan mana orang yang bener-benar sholat selalu lima waktu sehari dengan orang yang sholatnya belum lima waktu sehari? Banyakan mana wanita yang benar-benar berhijab yang syar’i dengan yang berhijab gaul atau tidak berjilbab?

Jawabannya tentu golongan orang-orang yang saya sebut kedua yang lebih banyak bukan?

Kebanyakan orang-orang yang rajin mengikuti pengajian atau baca buku agama adalah orang-orang yang sholeh atau orang-orang yang memiliki tekad untuk sholeh (selanjutnya saya akan menyebut orang-orang seperti ini dengan golongan pertama). Dan jarang sekali para aktivis dakwah yang mencoba untuk mendekati secara individual orang-orang Islam yang belum atau kurang memiliki perhatian pada agamanya (selanjutnya saya akan menyebut orang-orang seperti ini dengan golongan kedua). Bahkan yang saya temukan di lapangan ada sebagian aktivis dakwah malah sedikit menjauh/ bahkan kelihatan sungkan untuk mendekati mereka.

Kalau aktivis dakwah hanya berdakwah pada orang-orang golongan pertama, kapan umat Islam ini akan berjaya? Justru ini akan menjadi bumerang nantinya. Bahkan sekarang sudah terasa dampaknya. Yang banyak menentang penegakan syariat Islam di Indonesia kebanyakan orang Islam sendiri. Yang banyak mengkritik kandungan Al Quran di Indonesia kebanyakan orang Islam sendiri.

Seperti yang saya tulis di depan, bahwa kebanyakan umat Islam sekarang masuk pada golongan kedua. Oleh karena itu, dakwah harusnya lebih intensif dilakukan pada muslim golongan kedua ini. Meskipun demikian, para aktivis dakwah harus tetap meningkatkan dan menjaga keimanan dan keislaman golongan yang pertama.

Golongan kedua adalah golongan yang kurang memiliki ketertarikan pada masalah agama. Maka tidaklah efektif kalau para aktivis dakwah hanya menunggu mereka mendekatinya atau hanya berharap tulisan-tulisannya dibaca mereka atau rekaman pengajiannya di dengar mereka. Oleh karena itu, aktivis dakwahlah yang harus mendekati mereka. Aktivis dakwahlah yang harus pertama kali mengajak ngobrol mereka. Aktivis dakwahlah yang harus mengunjungi tempat-tempat mereka.

Kalau melihat golongan kedua ini berbuat maksiat, jangan langsung dihakimi, tapi coba lebih dulu lakukan dialog dengan baik-baik. Kuatkan dulu keyakinan tauhid dan aqidah mereka. Berdakwahlah secara bertahap sedikit demu sedikit agar dakwah yang dilakukan bisa meresap di hatinya.

 

 

Muhammad Surya

Kuningan, 26 November 2007

 

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. assalaamu’alaikum wr. wb.

    Kalau tidak punya keinginan untuk berusaha memaklumi orang lain, lupakanlah dakwah! Itulah salah satu prinsip yang selalu saya tekankan pada teman-teman saya yang aktif berdakwah. Mereka yang selalu berpikiran hitam-putih dan kaku dalam memahami segala sesuatunya tidak akan pernah survive, dan tidak akan menuai hasil yang manis. Salah-salah, ia sendiri yang akan menjadi korban. Akan lebih parah lagi jika ia justru menjadi sumber fitnah bagi umat Islam secara keseluruhan. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.

    Dakwah diawali dengan sebuah pandangan. Jika Anda memandang objek dakwah dengan mata memicing, wajah merenggut karena jijik, dan kata-kata yang penuh dengan aroma kekesalan, maka insya Allah tidak akan berhasil. Perasaan benci pada penyimpangan memang wajar, namun benci kepada objek dakwah adalah sebuah blunder, karena jika tidak ada lagi penyimpangan, lantas untuk apa lagi ada dakwah? Kekurangan objek dakwah adalah sebuah kewajaran (bahkan sebenarnya para pendakwah pun punya kekurangan), dan kenyataan ini harus diterima dengan lapang dada.

    Kepada orang yang tidak pernah shalat, tidak perlu disuruh untuk konsekuen shalat lima waktu di Masjid. Bukan berarti kewajiban itu hilang, namun untuk segala sesuatunya ada tahapannya. Bagi orang-orang tertentu, bisa bicara akrab dengan aktifis dakwah pun sudah cukup bagus.

    Bagi orang-orang yang makannya hanya sekali sehari, jangan dulu mengkritik caranya mencari makan dengan terlalu kaku. Rokok memang haram, namun rasanya tidak bijak jika mengatakan kepada para tukang rokok yang kelaparan itu, “Bang, penghasilan Anda tidak halal. Anda jualan barang haram, dan pendapatan Anda pun nggak akan berkah. Gimana mau kaya kalau mencari duit dengan cara yang tidak diridhai Allah?”

    Kalau mau berdakwah, kita memang harus keluar dari ‘logika pesantren’ atau ‘logika halaqah’. Di dalam pesantren atau halaqah memang lebih nyaman. Tinggal berikan dalil Al-Qur’an atau Al-Hadits, sampaikan pendapat ulama yang dipercaya, masalah selesai. Semua orang puas, tidak ada sanggahan macam-macam. Tapi dunia dakwah jauh lebih ‘liar’ daripada itu. Ada fitnah, ada media massa yang suka ambil kesempatan, ada orang yang gemar bergunjing, ada yang tidak paham agama, dan banyak yang menggunakan kosa kata sama namun beda maknanya.

    Alm. Ust. Rahmat Abdullah dulu pernah bercerita bahwa di masa Orde Baru, melaksanakan kegiatan tarbiyah di masjid-masjid bisa membawa seseorang ke penjara. Oleh karena itu, jika aparat mempertanyakan, jawabannya harus ‘dimodifikasi’ kira-kira menjadi : “Kami sedang membina pemuda setempat supaya terhindar dari jerat narkoba dan hal-hal negatif lainnya. Jadi kami berusaha supaya mereka bisa mengisi waktu mereka dengan hal-hal bermanfaat.” Kalau jawaban yang diberikan adalah “Kami akan membina pemuda kampung sini dan mempertebal tsaqofah islamiyah mereka, agar mereka paham sepenuhnya bahwa syariat Islam adalah yang terbaik dan tak ada undang-undang lain yang lebih mumpuni daripada aturan-aturan Allah!”, nah mungkin yang beginilah yang kemungkinan besar akan diciduk dengan pasal subversi.

    Dunia dakwah memang beda dengan dunia pesantren. Anda tak bisa mengharapkan setiap Muslim paham bahwa ajaran Islam adalah aturan paling sempurna. Di luar sana, masih banyak Muslim yang setengah yakin dengan agamanya sendiri, dan itu bukan murni kesalahan mereka. Ada juga porsi kesalahan guru-guru agama di sekolah mereka dulu, pemerintah yang opresif terhadap gerakan dakwah, para ulama yang lebih banyak bercanda daripada berdakwah, atau orang tua yang terlanjur sekuler. Kalau mereka ini dipaksa untuk langsung mengikuti logika ulama, maka dakwahlah yang akan runtuh berantakan.

    Analoginya sama saja dengan penderita sakit jantung. Teoritis, mereka harus rajin olahraga untuk menjaga kondisi jantungnya. Tapi karena sudah terlanjur sakit, maka tak mungkin langsung mengikuti standarnya orang sehat, apalagi atlet olimpiade. Pemulihan kondisi harus dilakukan secara bertahap. Semua dokter yang waras pasti akan berpendapat sama.

    Pertanyaannya : apakah semua aktifis dakwah sudah ‘waras’?

    Kenyataannya, tidak semua aktifis dakwah punya keinginan yang kuat untuk memaklumi objek dakwahnya. Ada yang bertanya : mengapa sebuah partai dakwah justru ‘mesra’ dengan Slank dan Gigi? Sebaliknya, mereka tak pernah mempertanyakan : jika Slank dan Gigi memutuskan untuk merapat ke partai dakwah, apa mesti ditolak mentah-mentah? Jika mereka ingin mendekat, apakah kita harus bilang “Perbaiki dulu kelakuan antum, baru deket-deket sini!”?

    Pertanyaan yang lebih cerdas lagi adalah : mengapa Rasulullah saw. bisa sabar melihat orang Badui kencing di dalam masjid, sementara para pengikutnya begitu susah memaklumi orang lain?

    wassalaamu’alaikum wr. wb.

    sumber : akmal.multiply.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: