Berilmu sebelum Beramal dan Berdakwah

21 Mei 2008 pukul 19:21 | Ditulis dalam opiniku | 2 Komentar

 Berilmu sebelum Beramal dan Berdakwah

Aksi yang besar tidak akan ada tanpa ilmu yang tinggi” Itulah pesan Bapak Dr Hamim Zarkasi, Direktur INSIST

Ilmu amaliah, Amal Ilmiah

Inilah slogan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang selalu didengung-dengungkan kepada setiap kadernya. Artinya, kita menuntut ilmu untuk kita amalkan dan amal yang kita lakukan harus memiliki landasan ilmu yang benar.

Menuntut ilmu dulu lalu mengamalkan Ilmu itu, setelah itu mendakwahkannya. Dalam melalui setiap proses itu, kita harus istiqomah dan sabar. Jangan terburu-buru mendakwahkan sebelum kita menguasai dan faham ilmu dengan benar dan mengamalkannya.

Ketika menjadi Instruktur di IMM, saya dilarang menyampaikan materi yang belum saya kuasai betul dan belum saya amalkan, bahkan dianjurkan sholat sunat dulu dan berdoa minta petunjuk sebelum masuk lokal. Padahal dalam silabus materi, banyak materi yang harus disampaikan tapi belum banyak yang sudah saya amalkan. Berat memang. Makanya, mengetahui beratnya jadi pemateri, akhirnya kebanyakan aku memilih jadi imam training, wakil MOT, atau MOT, he..he…

MOT kan tidak masuk lokal untuk menyampaikan materi.

Beramal tanpa ilmu, sangat berbahaya

Berilmu tanpa beramal, apa gunanya

Aku sangat gundah ketika melihat Asistensi Agama Islam di Kampus Diploma Ekonomi UGM tahun 2005 dan 2006 (Tidak tahu kalau sekarang). kebanyakan teman-teman SKI (satuan Kerohanian Islam) di kampusku itu di wajibkan menjadi asisten, padahal aku tahu kebanyakan mereka (terutama yang ikhwan, aku ga tahu kalau yang akhwat) dari segi keilmuan dan amaliah keagamaan mereka masih sangat (maaf) minim. Bahkan ada teman yang bacaan Al Qurannya masih sangat kurang lancar, disuruh jadi asisten. Akhirnya yang temen-temanku lakukan adalah menyampaikan apa yang ia baca dari buku atau artikel atau pengalamannya, langsung dia sampaikan ke peserta AAI.

Ada segi positifnya memang. Mereka jadi terpaksa membaca buku. Kalau tidak paham mereka bertanya ke ustad yang dipercayai (saya yakin yang melakukan ini sangat sedikit). Mereka terpaksa menghafal materi yang akan disampaikan. Tapi ada bahayanya. Kalau pemahaman mereka dari apa yang dibacanya benar, itu tidak masalah, tapi kalau salah?

Terus kalau peserta bertanya apa-apa yang dia belum paham?

Banyak keluhan dari peserta AAI, diantaranya, asisten yang belum menguasai materi dengan benar, sehingga ketika menyampaikan materi membingungkan dan menjawab pertanyaan asal-asalan. Hal ini dikeluahkan oleh teman-teman peserta AAI yang dia memiliki background pesantren atau yang sering membaca buku-buku agama.

Saranku bagi pengurus AAI, kalau bisa sebelum mereka terjun, dilatih dulu minimal 1 tahun. Bacaan Al Qurannya di benarkan dulu. Pemahaman mereka atas apa-apa yang akan disampaikan dibenarkan dulu. Harus selektif dalam mengambil asisten. Jangan asal menjadikan anggota SKI menjadi asisten tanpa melihat kapasitasnya, dengan dalih kekurangan asisten.

Kok aku jadi masuk menulis masalah AAI yah..?????

Oke kita masuk kembali pada masalah inti diatas, pokoknya, kita harus terus dan banyak menuntut ilmu sampai kita mati. Dan terus berusaha mengamalkan ilmu yang sudah kita dapatkan. Baru setelah itu kita dakwahkan.

Sepengalamanku, ketika aku menyampaikan ilmu kepada orang lain, dan ilmu itu belum aku amalkan, efek dari yang aku sampaikan itu pada orang tersebut hampir tidak ada. Tetapi kalau yang aku sampaikan itu sudah aku amalkan dan benar-benar aku pahami, subhanalloh, cukup banyak terjadi perubahan, minimal timbul semangat pada dirinya untuk berubah.

Kita mulai dari hal terkecil, mulai dari diri kita sendiri, dan mulai saat ini. Sepakat tidak?

 

Kampung Kuningan (Sleman, DIY), 21 Mei 2008

 

Iklan

Mencari Hidup di Muhammadiyah

19 Mei 2008 pukul 18:07 | Ditulis dalam Muhammadiyah | 4 Komentar

 

    Baru saja aku mengasih komentar di blog temanku immawati qolbi dengan judul altikel “Jangan tergesa-gesa masuk ke MUHAMMADIYAH!!!” dan “Untukmu kader Muhammadiyah. pas kupikir-pikir lagi, kayaknya bagus juga kalau dimasukin ke blogku komentarku tadi. 

    Banyak orang yang mau jadi anggota muhammadiyah karena ingin menjadi karyawan di amal usaha muhammadiyah. mereka hanya mencari hidup di muhammadiyah. padahal Pak KH A. Dahlan pernah berwasiat yang intinya, hidup-hidupkanlah muhammadiyah dan jangan mencari hidup dari muhammadiyah. kalau kita menghayati kata-kata itu, beliau berharap agar anggota muhammadiyah membangun masyarakat, negara dan ummat Islam melalui sarana persyarikatan Muhammadiyah, hal ini berarti anggotanya harus berkorban harta,waktu, dan jiwa untuk mewujudkan hal tersebut. bukan malah mencari harta di muhammadiyah.

    Pak Dahlan saja pernah menjual seluruh hartanya kecuali beberapa baju dan peralatan rumah tangga yang pokok. beliau lakukan itu untuk mendukung dakwahnya dan menjadikan rumahnya sebagai madrasah. pak AR Fachrudin ketika meninggal, dia tidak meninggalkan harta. di kasih mobil sama Pak Presiden suharto malah di berikan untuk Muhammadiyah, rumahnya sekarang jadi gedung PP Muhammadiyah Jl Cik Ditiro.

    Tetapi yang jadi masalah, amal usaha Muhammadiyah itu dah terlalu banyak, tetapi anggota Muhammadiyah yang kompeten mengurus amal itu masih sangat sedikit. akhirnya yang mengurusi amal usaha itu banyak dari orang-orang yang hanya mencari hidup dari Muhammadiyah atau orang-orang yang berkepentingan memanfaatkan amal usaha muhammadiyah untuk tujuan kepentingan pribadinya atau kelompoknya.

    Alangkah baiknya kalau amal usaha muhammadiyah dikelola oleh Anggota Muhammadiyah yang tahu apa tujuan didirikan amal usaha itu dan berusaha mewujudkan tujuan itu, bukan sekedar profesional. dah banyak amal usaha muhammadiyah yang karyawannya tidak mengerti tujuan didirikan amal usaha itu, yang dipikirkan oleh mereka bagaimana amal usaha itu menghasilkan profit yang tinggi. akhirnya biaya rumah sakit atau poliklinik Muhammadiyah jadi mahal, biaya sekolah atau kuliah jadi mahal, dll.

    Tahukah Anda, dulu rumah sakit Muhammadiyah zaman pak KH A. Dahlan sebagai rumah sakit rakyat kecil, berobat disana gratis. sekolah muhammadiyah menjadi sekolah alternatif bagi rakyat miskin karena biayanya murah bahkan gratis. bukankah salah satu tujuan didirikan muhammadiyah untuk membantu rakyat miskin, yatim piatu, rakyat miskin kota, dan para gelandangan?

    Profesional itu wajib, mencari profit untuk membiayai dan mengembangkan amal usaha itu harus, tetapi jangan sampai mengesampingkan tujuan muhammadiyah itu. yang terjadi sekarang adalah banyak orang yang menjadi karyawan amal usaha tapi ga ngerti tujuan muhammadiyah, akhirnya amal usaha itu dibuat layaknya perusahaan pada umumnya, hanya mengejar profit. ga cukup hanya profesional tapi harus faham tujuan Muhammadiyah dan berusaha mewujudkan tujuan itu melalui amal usaha muhammadiyah dimana dia bekerja. kalau merekrut karyawan dari luar kader Muhammadiyah karena kekurangan karyawan, bagaimana karyawan baru itu harus ditraining dan di kader supaya faham tujuan Muhammadiyah dan mau berjuang mewujudkan tujuan Muhammadiyah melalui amal usaha dimana dia bekerja.

     

Surat Untuk Sahabatku yang Sedang Sakit

19 Mei 2008 pukul 16:33 | Ditulis dalam Persahabatan | 2 Komentar

 

Surat Untuk Sahabatku yang Sedang Sakit

 

Aku ga tahu kamu sakit apa, karana kamu ga mau ngasih tahu aku. Tapi satu hal yang aku yakini, kamu pasti sembuh karena Allah berada sangat dekat denganmu dan pasti akan menyembuhkanmu sebab dia Maha Penyembuh. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Keajaiban di dunia ini sudah sering terjadi pada manusia-manusia awam seperti kita. Jangan takut, pertolongan Alloh sangat dekat, dan itu yang kamu harus yakini dan percayai. Yakinlah bahwa Allah menurunkan penyakit pasti dengan obatnya.

Allah memberikan cobaan pada hambanya supaya hambanya jadi lebih baik dari keadaannya semula. Baik itu dari segi ketakwaannya pada Allah maupun dari segi keduniawiannya. Hal ini juga pertanda bahwa Allah sangat sayang dan memperhatikanmu.

Allah memberimu kekuatan yang maha dahsyat yang bila kau gunakan kekuatan itu, maka hidupmu akan berkualitas dan tubuhmu akan sehat. Kekuatan itu adalah kekuatan Qolbu. Qolbu adalah raja dalam diri manusia. Bila qolbunya positif maka positif pula hidupnya dan tubuhnya, bila negatif maka yang terjadi adalah sebaliknya. Kamu harus mengendalikan qolbumu agar tetap positif. Hal ini bisa dilakukan dengan cara, kamu yakinkan dalam qolbumu dengan optimis bahwa kamu adalah kuat, sehat, bersemangat, dan akan menang melawan segala penyakit. Buatlah selalu qolbumu senang, dengan nonton hal-hal yang lucu, melihat pemandangan, anak kecil yang sedang bermain, mendengarkan cerita-cerita yang memotivasimu dan lain-lain. Kamu harus menghindari dari hal-hal atau tempat yang membuat qolbumu jadi negatif. Bila timbul rasa pesimis, segera sadar dan kembali optimis.

Sahabatku, aku hanyalah suplemen bagi kesembuhanmu. Yang bisa menyembuhkanmu hanyalah Allah dan dirimu sendiri. Doa-doa yang selalu ku panjatkan untukmu dan motivasi yang kulakukan untukmu tidak akan berarti apa-apa bila kau sendiri pesimis dan merasa tidak ada harapan lagi. Ayo Semangat, kau pasti sembuh…pasti mesti sembuh…. sembuh itu wajib untukmu.

Sakit bukan berarti kau mendekati kematian. Banyak orang yang sakit ternyata usianya lebih panjang dari orang yang kelihatanya sehat atau bugar. Kematian adalah sesuatu hal yang pasti dan bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun dan dalam keadaan apapun seseorang kalau sudah waktunya meninggal dia pasti meninggal. Terserah dia sehat atau sakit, kalau sudah waktunya meninggal dia pasti meninggal.

Dokter boleh bilang kamu akan meninggal atau tidak ada harapan untuk sembuh, tetapi kalau Allah berkehendak kamu sembuh, maka yang terjadi kamu akan sembuh. Kita harus belajar dan berlatih untuk selalu berprasangka baik dan percaya pada Allah. Dialah tuhan kita yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita. Mungkin kamu menganggap menderita penyakit ini suatu hal yang buruk, tetapi mungkin Allah menilai ini suatu yang akan mendatangkan hal yang jauh lebih baik untukmu. Suatu hari nanti pasti kamu akan menyadarinya.

 

Penilaian Negatif Kepada Orang yang Berbeda Keyakinan

19 Mei 2008 pukul 16:17 | Ditulis dalam Dakwah Caraku | 3 Komentar

 

Penilaian Negatif Kepada Orang yang Berbeda Keyakinan

 

Kebanyakan orang ketika menghadapi orang yang berbeda pendapat atau keyakinan dengannya, dia langsung apriori dengan orang tersebut. Setelah itu melakukan justivikasi, labelisasi, hujatan, atau penilaian negatif pada orang tersebut. Seperti, “pendapat Anda lemah,” “Logika yang Anda gunakan lemah,” “dengan berpandangan seprti itu berarti Anda telah kafir,” “Ada telah jadi orang munafik,” “Anda salah,” “logika Anda Amburadul,” dan masih banyak yang lain. Kita bisa menemui kalimat seperti ini atau yang sejenisnya ketika menyaksikan orang yang sedang berdebat atau diskusi (yang menjurus ke debat).

 

Orang yang apriori, dia akan langsung menyalahkan orang yang berkeyakinan berbeda dengannya tanpa meneliti atau menyimak lebih jauh dan dalam setiap argumen yang dilontarkan oleh orang berbeda pendapat dengan nya. Bahkan sekuat dan selengkap apapun argumen yang diutarakan oleh orang yang beda pendapat dengannya, dia tidak perhatikan, didalam pikirannya hanya ada kata bahwa orang argumentasinya salah, aku pasti benar, dan aku harus mematahkan argumentasinya.

Tidak ada orang yang suka dinilai negatif oleh orang lain. Bila itu terjadi, maka orang akan cenderung membela diri (membela kehormatan dirinya) betapapun benar adanya penilaian itu. Setelah itu yang terjadi bukannya dialog yang sehat, tapi akan mengarah pada debat kusir yang tidak ada manfaatnya dan orang yang kalah pada debat itu akan merasa sakit hati, minder dan rendah diri. Bila hal ini terjadi pada diri kita, segera sadar dan ganti topik pembicaraan atau tinggalkan tempat perdebatan tersebut.

Ingat bahwa manusia bukan hanya mahkluk berlogika saja tetapi makhluk yang berperasaan dan memiliki emosi. Bahkan emosi dan perasaan manusia jauh lebih dominan dalam kehidupannya daripada logikanya.

Lebih baik ketika kita menghadapi orang yang berbeda pendapat atau keyakinan dengan kita, jangan langsung apriori, tetapi tenangkan pikiran dan hati, setelah itu dengarkan dan analisis semua argumentasi dia, bila ada yang tidak kita pahami, maka tanyakan setelah dia menyelesaikan pembicaraanya. Kalau ada yang berbeda dengan pendapat atau keyakinan kita, cukup katakan “saya tidak sepakat/ sependapat dengan Anda dalam hal……….(sebutkan hal-hal apa saja yang kita tidak sepakati)” lalu lanjutkan dengan “menurut saya……………(sebutkan semua pendapat kita beserta alasannya,kalau ada beserta dalil-dalil atau hasil riset yang mendukung pendapat kita. Kalau ada, sebutkan juga buku-buku rujukan yang kita gunakan).”

Kalau hal-hal diatas kita lakukan, insya Allah yang terjadi adalah dialog atau diskusi yang bermanfaat. Biarkanlah orang lain menyadari sendiri bahwa argumentasinya salah, tidak usah kita langsung menunjukkan atau menyalahkan dia dengan berkata “pendapat Anda salah.” Kita cukup menerangkan atau menjelaskan apa-apa yang menurut kita benar dengan mengemukakan argumentasi yang menguatkan pendapat kita.

Memperluas wawasan, mempertajam logika, memperbanyak pengalaman, atau memperdalam ilmu agama itu perlu bahkan wajib. Tetapi mempelajari ilmu psikologi dan ilmu komunikasi itu sangat penting supaya apa yang kita sampaikan atau dakwahkan lebih efektif, bijaksana, lebih bermanfaat, dan mudah dicerna sehingga tidak ada orang yang sakit hati, merasa minder berpendapat, merasa kalah atau merasa harga dirinya jatuh.

Air Mata dan curhat Wanita bagaimana kita mensikapinya

13 Mei 2008 pukul 15:58 | Ditulis dalam opiniku | 2 Komentar

menurutku air mata wanita bukanlah suatu kelemahan, tapi itu suatu jalan yang diberikan Allah kepada wanita untuk menstabilkan emosinya ketika emosinya sedang memuncak. sama halnya dengan laki-laki jika  emosi sudah memuncak maka dia akan memukul atau bertarung dengan orang yang buat dia emosi, atau meninggalkan tempat yang membuatnya emosi menuju tempat yang sepi untuk menyendiri dan ga boleh ada orang yang mengganggunya. nah kalau di wanita caranya beda, yaitu dengan menangis.

curhat merupakan cara lain wanita untuk menenangkan atau menstabilkan emosinya. ketika wanita kena masalah, dia akan cenderung mencari orang yang dia percayai untuk bercurhat masalah yang sedang dia hadapi. dengan kita mendengarkan curhatannya, berarti kita sudah berhasil membantu dia mengatasi sebagian besar masalahnya. sebenarnya ketika dia kena masalahnya, dia itu sudah tahu jalan keluarnya, tapi karena masih emosi, solusi itu seolah-olah tidak muncul di pikirannya. nah setelah curhat pada orang yang dia percayai dan emosinya mulai stabil, barulah solusi yang memang sudah ada di otaknya nampak dengan jelas di pikirannya.

kesalahan terbesar laki-laki yang sering tidak dirasakan adalah, ketika wanita curhat dia malah banyak berkomentar atau ngasih solusi yang belum dibutuhkan wanita. sabarlah dalam mendengarkan curhatan wanita samapai dia bertanya tentang pendapat kita atau sampai dia bertanya solusi yang tetap terhadap masalahnya menurut kita, baru setelah itu kita berkomentar. biasanya kalau kita berkomentar sebelum dia minta dikomentari, wanita akan merasa bahwa kita ga mengerti perasaannya, dan dia jadi kecewa.

ketika sedang bercurhat, yang dibutuhkan wanita adalah orang yang mau mendengarkan curhatannya, bukan orang yang punya seribu komentar.

untuk lebih tau lebih jelas tentang masalah ini silahkan baca buku “Man is from mars, women is from venus” karya John Gray, sudah diterbitkan oleh Gramedia dengan judul yang sama.

Kebencian itu Menular

13 Mei 2008 pukul 15:27 | Ditulis dalam Persahabatan | Tinggalkan komentar

 

Kebencian itu menular

 

Hati-hati, kebencian itu menular bak virus. Kadang-kadang kita ga punya perasaan negative pada si A, lalu ada si B yang menceritakan hal-hal negative dari si A yang membuatnya benci pada si A. maka kita pun biasanya akan tertulari rasa benci pada si A.

Kebencian bila dilawan dengan kebencian hanya akan melahirkan kebencian yang lain. Kebencian harus dilawan dengan cinta dan kasih saying melalui pendekatan yang bersifat dialogis dengan mengindahkan qolbu.

Ikhlas, menerima apa adanya orang lain, dan saling memaafkan, itulah kuncinya. Bila ada masalah, selesaikan dengan dialog atau musyawarah terlebih dahulu. Jangan menuruti terlalu banyak ego. Kedepankan saling memahami dan saling memaafkan.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.