Mencari Hidup di Muhammadiyah

19 Mei 2008 pukul 18:07 | Ditulis dalam Muhammadiyah | 4 Komentar

 

    Baru saja aku mengasih komentar di blog temanku immawati qolbi dengan judul altikel “Jangan tergesa-gesa masuk ke MUHAMMADIYAH!!!” dan “Untukmu kader Muhammadiyah. pas kupikir-pikir lagi, kayaknya bagus juga kalau dimasukin ke blogku komentarku tadi. 

    Banyak orang yang mau jadi anggota muhammadiyah karena ingin menjadi karyawan di amal usaha muhammadiyah. mereka hanya mencari hidup di muhammadiyah. padahal Pak KH A. Dahlan pernah berwasiat yang intinya, hidup-hidupkanlah muhammadiyah dan jangan mencari hidup dari muhammadiyah. kalau kita menghayati kata-kata itu, beliau berharap agar anggota muhammadiyah membangun masyarakat, negara dan ummat Islam melalui sarana persyarikatan Muhammadiyah, hal ini berarti anggotanya harus berkorban harta,waktu, dan jiwa untuk mewujudkan hal tersebut. bukan malah mencari harta di muhammadiyah.

    Pak Dahlan saja pernah menjual seluruh hartanya kecuali beberapa baju dan peralatan rumah tangga yang pokok. beliau lakukan itu untuk mendukung dakwahnya dan menjadikan rumahnya sebagai madrasah. pak AR Fachrudin ketika meninggal, dia tidak meninggalkan harta. di kasih mobil sama Pak Presiden suharto malah di berikan untuk Muhammadiyah, rumahnya sekarang jadi gedung PP Muhammadiyah Jl Cik Ditiro.

    Tetapi yang jadi masalah, amal usaha Muhammadiyah itu dah terlalu banyak, tetapi anggota Muhammadiyah yang kompeten mengurus amal itu masih sangat sedikit. akhirnya yang mengurusi amal usaha itu banyak dari orang-orang yang hanya mencari hidup dari Muhammadiyah atau orang-orang yang berkepentingan memanfaatkan amal usaha muhammadiyah untuk tujuan kepentingan pribadinya atau kelompoknya.

    Alangkah baiknya kalau amal usaha muhammadiyah dikelola oleh Anggota Muhammadiyah yang tahu apa tujuan didirikan amal usaha itu dan berusaha mewujudkan tujuan itu, bukan sekedar profesional. dah banyak amal usaha muhammadiyah yang karyawannya tidak mengerti tujuan didirikan amal usaha itu, yang dipikirkan oleh mereka bagaimana amal usaha itu menghasilkan profit yang tinggi. akhirnya biaya rumah sakit atau poliklinik Muhammadiyah jadi mahal, biaya sekolah atau kuliah jadi mahal, dll.

    Tahukah Anda, dulu rumah sakit Muhammadiyah zaman pak KH A. Dahlan sebagai rumah sakit rakyat kecil, berobat disana gratis. sekolah muhammadiyah menjadi sekolah alternatif bagi rakyat miskin karena biayanya murah bahkan gratis. bukankah salah satu tujuan didirikan muhammadiyah untuk membantu rakyat miskin, yatim piatu, rakyat miskin kota, dan para gelandangan?

    Profesional itu wajib, mencari profit untuk membiayai dan mengembangkan amal usaha itu harus, tetapi jangan sampai mengesampingkan tujuan muhammadiyah itu. yang terjadi sekarang adalah banyak orang yang menjadi karyawan amal usaha tapi ga ngerti tujuan muhammadiyah, akhirnya amal usaha itu dibuat layaknya perusahaan pada umumnya, hanya mengejar profit. ga cukup hanya profesional tapi harus faham tujuan Muhammadiyah dan berusaha mewujudkan tujuan itu melalui amal usaha muhammadiyah dimana dia bekerja. kalau merekrut karyawan dari luar kader Muhammadiyah karena kekurangan karyawan, bagaimana karyawan baru itu harus ditraining dan di kader supaya faham tujuan Muhammadiyah dan mau berjuang mewujudkan tujuan Muhammadiyah melalui amal usaha dimana dia bekerja.

     

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. btw terimakasih banyak atas komentarnya yang sangat panjang.
    maklum kak, saya ini masih kader muhammadiyah yang ‘awwam’ dengan kemuhammadiyahan. jadi memang harus banyak-banyak belajar kepada yang lebih tau….

    mari, saling berbagi ilmu….
    fastabiqul khoirot…

  2. hmm…apakah aku sudah bisa menghidupkan Muhammadiyah?

  3. Bung Surya yg imut…
    sy sepakat dg pendapat ente, tapi, ada juga yg “sok” memiliki muhammadiyah. merasa berjasa, merasa bahwa tanpa dirinya roda organisasi ga bisa jalan.
    untuk melihat seseorang “mencari hidup” di Muh gmn? atau cek aja track recordnya sejak dia lahir, pernah tidak “bersentuhan” dg muhammadiyah? riwayat historis keluarganya?
    wah, jd ngelantur….btw, nih sy numpang mampir. blog baru launching tgl 14 juni…
    Blognya ente bermutu dan bergizi….

  4. Iya, arah2nya memang saat ini saya juga banyak melihat, Amal Usaha Muhammadiyah memang sudah sangat besar. Tapi, kebesaran itu belum dapat dihayati sepenuhnya oleh para ‘karyawan2nya’ untuk dijadikan modal berdakwah…

    Yah, mungkin masih terlalu banyak orang yang menganggap Muhammadiyah hanyalah ladang kerja, bkan ladang dakwah…

    *semoga kita semua bukan orang seperti itu. Amien!*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: