Aspek-aspek yang Perlu Diperhatikan Bank Syariah dalam Strategi Marketing kepada calon Nasabah yang Interst Minded

10 Maret 2009 pukul 16:46 | Ditulis dalam Ekonomi Islami | 3 Komentar

Aspek-aspek yang Perlu Diperhatikan Bank Syariah dalam Strategi Marketing kepada calon Nasabah yang Interst Minded

Oleh: Muhammad Surya

Fatwa MUI tentang haramnya bunga bank sudah dikeluarkan. Fatwa ini memberikan kepastian hukum kepada nasabah dan calon nasabah bank syariah sekaligus memberikan paying hukum dari segi syariat bagi beroperasinya bank syariah dan lembaga keaungan syariah yang lain. Dengan keluarnya fatwa ini pula sekaligus menandakan bahwa keadaan darurat untuk menerima bunga dalam syariat Islam sudah berakhir.

Idealnya, fatwa ini membuat umat Islam Indonesia berpikir berkali-kali untuk menabung di bank konvensional dan mengalihkan transaksi bisnisnya ke perbankan syariah. Faktanya di lapangan ternyata setelah fatwa ini dikeluarkan, tidak ada peningkatan nasabah bank syariah yang sangat signifikan. Masyarakat muslim Indonesia kebanyakan masih betah bertransaksi dengan bank syariah.

Perbankan syariah jangan hanya berebut nasabah yang loyalis terhadap syariah karena jumlah nasabah yang seperti ini di Indonesia sangat sedikit. Perbankan syariah harus melebarkan marketingnya ke semua lapisan baik itu kepada orang muslim yang loyalis maupun tidak bahkan orang nonmuslim pun merupakan calon nasabah yang prospektif untuk dijadikan nasabah.

Oleh karena itu, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan bank syariah dalam upaya melakukan marketing kepada calon nasabah yang masih berorioentasi bunga (interst minded) ataupun pihak non muslim, diantaranya:

Meningkatkan sosialisasi

Perbankan syariah sangat perlu mensosialisasikan perbankan syariah melalui berbagai sarana. Hal ini perlu sebagai upaya meyakinkan calon nasabah bahwa perbankan syariah menguntungkan bagi mereka dan memiliki banyak keunggulan dari perbankan konvensional. Dengan sosialisasi juga diharapkan masyarakat akan lebih mengetahui, memahami, dan menerapkan konsep-konsep perbankan syariah. Berbagai sarana dan media bisa digunakan untuk sosialisasi ini, misalnya: forum diskusi dengan kalangan mahasiswa, pengusaha, ataupun masyarakat umum dan media masa baik cetak maupun elektronik.

Meningkatkan mutu layanan

Meningkatkan mutu layanan sangtlah penting karena masyarakat biasa maupun kalangan bisnis, tak hanya melihat pada hasil akhir berapa yang bisa diberikan oleh suatu lembaga keuangan. Namun, mereka juga akan melihat bagaimana lembaga keuangan itu melayani nasabahnya. Pelayanan di perbankan syariah haruslah dilandasi dengan semangat menegakkan syariat Islam. Semakin baik tingkat pelayanan yang diberikan maka akan meningkatkan pula kepuasan nasabah (customer satisfaction). Semakin nasabah puas, maka nasabah-nasabah barupun akan semakin banyak, karena nasabah yang puas tadi biasanya akan menceritakan bagusnya pelayanan tersebut kepada kerabatnya. Termasuk dalam kategori layanan adalah kemudahan akses, penampilan fisik, dan keuntungan lain-lain termasuk return yang menarik.

Perluasan jaringan

Perluasan jaringan merupakan aspek yang sangat penting. Banyak sekali nasabah yang mengerti tentang haramnya bunga bank tetapi tetap menabung di bank konvensional dengan alasan jaringan perbankan syariah masih terbatas sehingga menyulitkan mereka dalam bertransaksi karena mobilitas mereka yang tinggi. Masalah perluasan jaringan ini harus jadi perioritas utama perbankan sebagai upaya meningkatkan nasabahnya.

Pengembangan produk

Pengembangan produk sangatlah penting dilakukan. Semakin produk itu menarik dan menguntungkan, maka akan semakin banyak nasabah yang datang. Salah satu contohnya adalah wealth management, private banking, atau privillage banking. Produk tersebut merupakan pengembangan produk perbankan syariah untuk memenuhi tuntutan nasabah kelas atas[1] dalam hal pelayanan yang prima. Dalam produk ini, Nasabah diperlakukan secara personal dan istimewa. Maksudnya, layanan yang diberikan tidak hanya pada masalah transaksi perbankan saja, tetapi juga dalam masalah nonbank seperti reservasi hotel, pesawat, pengurusan ONH Plus bagi yang ingin naik haji, dan lain-lain. Layanan seperti ini sangat layak untuk dikembangkan karena banyak kalangan atas yang pemahaman agamanya baik, tetapi masih berhubungan dengan bank konvensional lantaran pelayanannya dinilai lebih baik. Mereka bertransaksi dengan perbankan konvensional tanpa mengambil bunga. Yang terpenting bagi mereka adalah mendapat pelayanan prima dan bersifat pribadi. Produk dan layanan seperti ini sangat prospektif untuk dikembangkan di Indonesia karena terdapat hampir 3.500 keluarga yang memiliki kekayaan 5-100 juta dolar AS (80% dari keluarga kaya tersebut bertempat tinggal di Jakarta dan 10% tinggal di Surabaya. Sedangkan di Bandung terdapat 167 keluarga memiliki aset 5-20 juta dolar AS dan 8 keluarga memiliki aset 20-100 juta dolar AS). Sangat disayangkan, sebagian besar aset mereka ‘diparkir’ di luar negeri. Bank syariah yang sudah menjalankan produk ini adalah BNI Syariah Prima[2].

Sumber Tulisan

Bank Syariah Perlu Giatkan Sosialisasi. HU Republika, Sabtu, 4 Desember 2004, hlm. 2

Islamic Privat Banking Menangguk Pasar Kelas Atas. HU Republika, senin , 14 Maret 2005, hlm. 16

Membidik 3.495 Keluarga Kaya. HU Republika, senin , 14 Maret 2005, hlm. 16.

Tahun 2005, Tahun Terakhir Pertumbuhan Anorganik Bank Islam. HU Republika, Selasa, 30 November 2004, hlm. 2

Wisakseno, Budi. 2005. Renungan Setahun Fatwa Haram Bunga Bank. HU Republika

 

 



[1] Maksud dari nasabah kelas atas yaitu nasabah yang memiliki kekayaan yang berlebih namun belum mengetahui bagaimana harus mengelola dan mengembangkannya. Misalnya, publik figure, eksekutif muda, selebritis, pengusaha, wiraswasta, pejabat pemerintah, pejabat legislatif, atau kalangan profesional. Mereka ini memiliki penghasilan rata-rata diatas 50 ribu dolar AS atau diatas Rp 500 juta per tahun (Islamic Privat Banking Menangguk Pasar Kelas Atas, HU Republika, senin , 14 Maret 2005, hlm. 16)

 

[2] Baca artikel dengan judul: Islamic Privat Banking Menangguk Pasar Kelas Atas, HU Republika, senin , 14 Maret 2005, hlm. 16 dan juga baca artikel dengan judul: Membidik 3.495 Keluarga Kaya, HU Republika, senin , 14 Maret 2005, hlm. 16.

 

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ya sya sngat stju sekali, dg adanya bank syariah ! Krena tnpa adanya bunga. Tp yg da bagi hasil antra phak bank n nasabah. Sesuai ksepktan.
    Tp apakah bank2x .yg mengtas namakan syariah. Sdh sesuai dg syariat2x islam ?

  2. setuju bget?

  3. Materinya cukup simpel dan padat. Izin share untuk makalah kuliah ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: