Contoh Soal Pencatatan Akuntansi Mudharabah dengan Penyerahan Dana Investasi dalam Bentuk Kas

19 Maret 2009 pukul 14:54 | Ditulis dalam Akuntansi Syariah | 69 Komentar

Silahkan Klik taut di bawah ini, lalu klik open atau save

contoh-soal-pencatatan-akuntansi-mudharabah-dengan-penyerahan-dana-investasi-dalam-bentuk-kas31

Bila tidak bisa dibuka, silahkan kamu isi komentar, insya Allah saya akan kirim tulisan ini langsung ke email kamu.

Iklan

Contoh Soal Perhitungan Bagi Hasil Akad Mudharabah

19 Maret 2009 pukul 14:42 | Ditulis dalam Ekonomi Islami | 36 Komentar

Contoh Soal Perhitungan Bagi Hasil Akad Mudharabah


Bank Jayen Syariah (BJS) melakukan kerjasama bisnis dengan Bapak Irfa, seorang pedagang buku di Pasar Shoping Yogyakarta menggunakan akad mudharabah (BJS sebagai pemilik dana dan Irfa sebagai pengelola dana). BJS memberikan modal kepada Irfa sebesar Rp 10.000.000 sebagai modal usaha pada Tanggal 1 Januari 2009 dengan nisbah bagi hasil BJS : Irfa = 30% : 70%. Pada tanggal 31 pebruari 2009, Irfa memberikan Laporan Laba Rugi penjualan buku sebagai berikut:

Penjualan Rp 1.000.000

Harga Pokok Penjualan (Rp 700.000)

Laba Kotor Rp 300.000

Biaya-biaya Rp 100.000

Laba bersih Rp 200.000

Hitunglah pendapatan yang diperoleh BJS dan Irfa dari kerjasama bisnis tersebut pada tanggal 31 Pebruari 2009 bila kesepakan pembagian bagi hasil tersebut menggunakan metode:

a. Profit sharing

b. Revenue sharing

Jawab:

a. Profit sharing

Bank Syariah : 30% x Rp 200.000 (Laba bersih) = Rp 60.000

Irfa : 70% x Rp 200.000 = Rp 140.000

b. Revenue sharing

Bank Syariah : 30% x Rp 300.000 (Laba Kotor) = Rp 90.000

Irfa : 70% x Rp 300.000 = Rp 210.000

Muhammad Surya

Mantan Pengurus Shariah Economics Forum (SEF)

Universitas Gadjah Mada

dan Instruktur di PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Bulaksumur-Karang Malang

Kaidah fiqh yang Paling Sering digunakan Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Mengeluarkan Fatwa

19 Maret 2009 pukul 14:39 | Ditulis dalam Ekonomi Islami | 2 Komentar

Kaidah fiqh yang Paling Sering digunakan Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Mengeluarkan Fatwa

1. Pada dasarnya semua bentuk muamalah (perkara yang sifatnya keduniawian) boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.

2. menghindarkan mafsadat (kerusakan atau bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.”

3. Segala Bahaya (beban berat atau kerugian) harus dihilangkan.

4. Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat mungkin

5. Di mana terdapat kemaslahatan, disana terdapat hokum Allah.

6. Setiap utang piutang yang mendatangkan manfaat (kelebihan bagi yang berpiutang, muqridh) adalah riba

7. Kesulitan itu dapat menarik kemudahan

8. Keperluan itu dapat menduduki posisi darurat

9. Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syariat)

10. Sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib ada

Sumber:

Himpunan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional, Edisi Ketiga. 2006. Ciputat: Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Hitbah yang “Aneh”, Sebuah Proses Pencarian Hukum Pacaran dalam Islam, Bagian 1 dari 2 bagian

19 Maret 2009 pukul 14:21 | Ditulis dalam Perjalanan Hidup | 6 Komentar

Hitbah yang “Aneh”,

Sebuah Proses Pencarian Hukum Pacaran dalam Islam

Bagian 1 dari 2 bagian


Kali ini aku akan menulis tentang pengalaman percintaanku ketika jadi aktivis organisasi rohani Islam sebuah SMA paling terkenal dan terbaik di sebuah kota yang dikelilingi gunung, di kawasan Priangan Timur di provinsi Jawa Barat, yang selalu mengagung-agungkan semboyan “PACARAN NO, HITBAH YES”. Sebut saja nama SMA ku itu SMAN Dahsyat dan organisasi itu namanya DKM Hebat. Tetapi izinkanlah aku, bercerita terlebih dulu tentang proses pemikiranku atau pencarianku tentang hukum pacaran dalam Islam sejak SD sampai SMP.

Asal teman-teman tahu, aku dilahirkan dari keluarga seorang ayah yang jadi ketua dewan kemakmuran mesjid (DKM) dan aktivis dari organisasi Islam yang “katanya” mengelola wakaf tanah yang kalau dikumpulkan dari seantero wilayah Indonesia, luasnya kurang lebih sama seperti luasnya provinsi Jawa Barat, dan satu-satunya organisasi keagamaan di dunia yang kekayaannya hanya bisa dikalahkan oleh Vatikan. Apalagi kalau bukan organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Meskipun demikian, ayahku itu orangnya sangat-sangat moderat banget. Buktinya, beliau mengizinkan anak-anaknya pacaran.

Meskipun demikian, aku anaknya, ketika SD, sangat-sangat bodoh sekali dalam masalah agama. Bukan karena Bapakku tidak mengajarkan agama, tetapi akunya sendiri yang sangat-sangat males banget belajar Agama. Tiap hari diceramahin Bapakku, masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Aku juga selama 4 tahun di sekolahkan di sekolah Agama milik Muhammadiyah. Pagi hari belajar di SD Negeri, siangnya sampai sore, sekolah di sekolah agama itu. Dan di sekolah agama itu aku memecahkan rekor prestasi yang gemilang sepanjang sejarah, segemerlap bintang di malam hari ketika bulan purnama, yaitu selama 4 tahun mendapatkan peringkat terakhir dikelas.

Kemalasanku mulai sedikit berubah. Berawal sejak aku duduk di bangku SMP kelas 2. Ketika itu, aku mengalami overdosis obat. Aku dikasih dokter dosis yang terlalu tinggi untuk usiaku ketika itu untuk sebuah penyakit yang dikenal dengan penyakit “Kuning”. Aku harus diam di rumah selama 2 bulan. Aku cuma bisa makan bubur atau nasi tim. Padahal aku sangat ingin sekali makan mie ayam atau basho tahu khas kotaku yang nikmat sekali. Tiap hari diotakku hanya ada makanan-makanan kesukaanku itu.

Ketika sakit itu, kerjaanku hanya tidur atau lihat TV. Sebuah pekerjaan yang membosankan bagiku. Karena bosan itulah, aku otak-atik lemari buku ayahku yang penuh sekali dengan buku-buku agama. Lalu aku lihat ada beberapa buku yang tebal banget yang kayaknya bisa ku dijadikan bantal untuk tidur karena tebalnya, yaitu kitab terjemahan Shahih Muslim, kitab terjemahan Riadhus Shalihin jilid 1 dan 2, kitab terjemahan Adz Zikra Imam An-Nawawi, Terjemahan Kitab Bulughul Maram, Kitab Fikih Sunnah Sayid Syabiq jilid 1-14, dan lain-lain. Dari buku-buku itu, buku favoritku adalah kitab Shahih Muslim, Riadhus Shalihin, Adz Zikra, dan Kitab Fikih Sunnah,. Alasannya karena dalam kitab-kitab itu ada bab yang membahas tentang pernikahan dan masalah sex. Maklumlah anak baru gede. Secara gitu, anak laki-laki yang baru dapet mimpi basah. Jadi, sangat tertarik banget membaca masalah-masalah seperti itu. Dulu itu, sampai aku hapal banget halaman dan bab berapa yang membahas tentang hal-hal itu.

Tetapi kadang-kadang aku baca juga bab lain di kitab-kitab itu. Gawatnya yang kubaca adalah hal-hal seperti: berduaan pria dan wanita bukan muhrim itu haram, bersentuhan kulit wanita dan pria bukan muhrim haram, harus menundukan pandangan, menjaga kemaluan, harus menghindari obrolan yang sia-sia, membayangkan wanita itu zina hati, dan lain-lain.

Gara-gara baca-baca kitab-kitab itu, aku yang sangat bodoh dalam masalah agama, menyimpulkan bahwa pacaran itu haram. Padahal ketika itu, aku sedang jatuh cinta sama seorang cewe yang cantik dan imut banget. Wajahnya selalu menyertaiku kemanapun aku pergi. Aku ingin banget pacaran dengannya. Ingin juga aku katakan padanya bahwa aku suka dan sayang banget padanya. Aku selalu ingin berlama-lama disekolah supaya bisa lihat dia. Liburan sekolah bagiku adalah siksaan karena untuk beberapa minggu aku tidak bisa melihatnya. Padahal, baru saja pulang sekolah, aku sudah rindu lagi ingin bertemu dengannya.

Tetapi gara-gara baca buku-buku itu, aku ga jadi pacaran dan hanya bisa “ngiler” melihat teman-temanku pacaran dan kakak-kakakku pacaran. Ingin rasanya aku berontak, kenapa aku harus tahu masalah ini ketika aku masih kecil begini, jadinya aku tidak punya pengalaman indah “percintaan monyet” ketika SMP dan SMA. Ya nasib..ya nasib…

Ketika SMP itu, aku Cuma bisa melihat si Bunga (anggaplah itu namanya) dari jauh. Sialnya aku sekelas dengan dia dari kelas 2 sampai kelas 3 SMP. Selama 2 tahun aku tersiksa dengan cinta yang tidak tersampaikan. Hiks..hiks…

Selama 2 tahun itu, aku tidak berani ngobrol lama-lama dengannya, takut timbul syahwat. Takut saling pandang, takut aku tiba-tiba pingsan, deg-degan kalau berhadapan dengannya, dan takut-takut yang lainnya.

Penah aku nasehatin kakak-kakakku yang sedang pacaran. Aku katakan pada mereka kalau pacaran itu haram. Tetapi apa coba tanggapan mereka? Mereka Cuma tertawa. Mungkin mereka berkata dalam hati, “dasar anak kecil bau kencur, tau apa kamu tentang pacaran.” Tetapi ga apa-apalah, sudah nasibku yang jadi anak terakhir, suka diremehin, apalagi aku ketika itu masih kelas 2 SMP, mereka sudah pada kuliah. Tetapi sebelnya, ketika mereka sudah menikah, mereka menasehatin aku kalu pacaran itu haram, jadi kata mereka, aku ga usah pacaran. Aku protes, “kalian curang, dulu aja masih pacaran, aku katakan pacaran itu haram, kalian tertawain aku, sekarang sudah menikah malah nasehatin aku jangan pacaran, pacaran itu haram, dasar kalian.”

Inti cerita

Sampai akhirnya aku masuk SMA. Sialnya, si Bunga juga masuk SMA yang sama dengan ku. Untungnya beda kelas. Di SMA ini, aku masuk organisasi DKM Hebat. Di sana aku ketemu sama 4 orang teman Super: Uslan, Ukuy, Zai, dan Udin yang selalu memberiku banyak pengalaman dan pemikiran yang serba super serta banyak sekali “Akhwat-akhwat” yang super pula, maksudnya, super sholehah, pinter, cantik-cantik, anggun-anggun, semangat-semangat, dan inspiratif banget. Aku juga ketemu sama seorang kakak kelas yang super jenius dan super sholeh banget. Anggap saja namanya Rahar. Rahar ini sangat dekat sekali denganku. Dia sering tidur di rumahku. Dia selalu mengajak aku untuk sholat tahajud, baca Al Quran, sholat Dhuha, berdakwah, belajar, dan lain-lain termasuk pacaran Islami ala DKM Hebat yang diberi nama Hitbah. Dialah inspiratorku dalam masalah hitbah ini.

Suatu malam, aku ikut pengajian pemuda yang diadakan di mesjid yang diketuai ayahku. Yang ngisi ketika itu seorang santri dari pesantren miliknya organisasi Pak Ahmad Dahlan yang terkenal di kotaku. Entah kenapa ketika ada diskusi, kok menjurus ke masalah pacaran. Anehnya, sang pembicara memperbolehkan pacaran. Kontan aku protes. Keluarlah dari mulutku berbagai dalil baik dari Al Quran maupun Hadis yang menjurus pada haramnya pacaran. Mulai dari dalil yang mengharamkan berduaan, bersentuhan kulit, ciuman, zina hati, ngobrol yang ga ada faedahnya, pacaran itu mengarah pada mendekati zina, dan lain-lain.

Terjadilah debat yang tidak seimbang. Secara gitu, dia anak pesantren, jago bahasa arab, tahu tafsir Al Quran dan hadis, dan hapalan Al Quran dan Hadistnya lebih banyak dariku. Sialnya, semua peserta kajian mendukung dia kecuali aku. Jadilah kondisi yang tidak seimbang. Aku dikepung begitu banyak orang yang memiliki pendapat yang berbeda dariku dan diantara mereka banyak juga yang lulusan pesantren. Sedangkan aku, hanyalah seorang yang selama 4 tahun sekolah agama, mendapatkan peringkat terakhir terus dan juga belajar agama hanya dari baca buku dan dengerin ceramah Bapakku yang juga pro pacaran.

Ketika ku utarakan dalil haramnya bersentuhan kulit, dia mendebatku bahwa dalil-dalil yang kugunakan menggunakan kata “Lamastumunnisa” yang maknanya bersentuhan kulit dengan wanita dalam upaya hendak melakukan persetubuhan atau istilah kerennya “Foreplay” sebelum melakukan sex dan juga menyentuh disini bisa bermakna berhubungan sex. jadi, dalil itu tidak mengharamkan bersentuhan kulit biasa.

Ketika ku utarakan dalil tentang haramnya berduaan, karena kalau pacarankan biasanya suka berduaan. Dia juga membatahnya, Bahwa banyak juga dalil-dalil, perilaku Nabi dan cerita-cerita atsar sahabat yang mengindikasikan bahwa mereka melakukan khalwat atau berduaan.

Dia juga beralasan, dalam masalah muamalah itu, semuanya boleh kecuali ada dalil yang shahih dan sharih yang mengharamkannya. Pacaran adalah masalah muamalah. Sekarang ada tidak dalil yang menghramkan pacaran? Tidak adakan? Yang ada hanya dalil-dalil yang mengatur tentang adab-adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Jadi, pacaran itu boleh-boleh saja karena tidak ada dalil yang mengharamkannya. Kalau ada orang yang berpacaran yang melanggar adab pergaulan dalam Islam, bukan berarti hukum pacaran menjadi haram. “Ya, kita pacarannya jangan melanggar adab-adab pergaulan laki-laki dan perempuan yang Islami.”

Semua alasan yang kukemukakan, dia bantai habis. Teman-temanku yang hadir di pertemuan itu senang sekali aku terpojokkan. Kesimpulan dari pengajian itu adalah, Pacaran itu boleh.

Pulang kerumah aku mangkel sekali. Kalah berdebat memang menyakitkan. Berdebat memang membuat otakku jadi panas dan hatiku menjadi kurang enak. Malu juga karena argumentasiku dibantai habis, sehabis-habisnya. Tetapi beberapa hari setelah itu, aku mulai merenungi apa-apa saja yang menjadi dalil dan argumentasi yang membolehkan pacaran. Kupikir-pikir, argumentasi si pembicara di pengajian itu ada benarnya juga. Otak pragmatisku mulai bekerja. Lalu di lubuk hatiku, aku berkata, “wah sekarang aku punya alasan yang kuat untuk pacaran.”

Saking senangnya aku karena punya alasan untuk pacaran, aku sebarkan paham baruku pada teman-temanku di DKM Hebat. Kontan mereka mendebatku. Ditambah lagi disana ada si Uslan, Cucu dari seorang kyai kalangan NU yang terkenal di kotaku, yang katanya si Uslan, kakeknya itu Wali karena punya “karomah” yang bisa menghilang tiba-tiba ketika dikepung oleh tentara DI-TII yang sebelumnya beliau membantah habis Kartosuwiryo dan ideologi DI-TII yang menurutnya sudah tidak Islami lagi.

Si Uslan ini medebat lagi pendapat pembicara yang dikajian itu. Wah tambah pusing saja aku. “Yang benar yang mana, pacaran itu boleh atau tidak sih?” begitulah teriakan didalam hatiku ketika berdiskusi sama si Uslan. Pusing aku. Beginilah nasib orang yang waktu kecilnya tidak pernah serius belajar agama atau orang yang belajar agama hanya dari baca buku.

Ku coba diskusikan dengan Bapakku, kontan saja dia lebih membela yang membolehkan pacaran. Wah, tambah pusing lagi aku. Ditengah kepusingan itu, aku bertekad untuk membuat formulasi yang bisa menengahi perbedaan dua pendapat itu.

Akhirnya, disuatu keheningan malam, aku mendapat sebuah ide untuk membuat sebuah tulisan yang memcoba menengahi kedua pendapat itu dengan membuat konsep “Pacaran Islami”. Sebuah model pacaran yang tidak melanggar adab-adab pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan belum menikah. Aku coba perbanyak lagi diskusi dan baca buku tentang tema-tema yang berkaitan tentang adab dan masalah-masalah dalam pacaran.

Singkat cerita, aku sudah menyelesaikan sebuah konsep Pacaran Islami. Lalu aku coba kasihkan konsep itu ke teman-teman di DKM Hebat dan teman-temanku di kelas. Kalau temen-temanku di kelas, mereka jelas mendukungku, tetapi kalau teman-teman di DKM Hebat, ya jelas juga menolak gagasanku. Mereka bilang, “pacaran ya haram. Tidak bisa diganggu gugat.” Lalu mereka menganalogikan, “emang ada daging babi yang Islami? Judi yang Islami? Merampok yang Islami? Taruhan yang Islami?”

Wah pusing juga aku didebat seperti itu, lalu aku merubah judul itu jadi “Etika Pacaran Yang Islami,” penggantian judul seperti itu tidak membuat mereka mau menerima konsepku. Akhirnya disuatu malam, ketika ada kegiatan mabit (Malam Bina Iman dan Takwa) yang diadakan secara sukarela antara anggota DKM Hebat yang laki-laki atau lebih dikenal dengan istilah “Ikhwan” (kalau yang putri “akhwat”). Aku dilingkari oleh teman-temanku yang dipimpin oleh si Uslan, dia menanyakan dan menegaskan kembali, apakah aku masih berpendirian bahwa pacaran itu boleh, lalu aku menjawab, “oke, pacaran itu haram, tetapi ketika kita mau berdakwah pada teman-teman kita yang sangat awam atau teman-teman yang sedang asik-asiknya berpacaran, tentu memerlukan sebuah pendekatan yang bukan hitam-putih atau halal-haram, harus ada pendekatan yang berbeda.” Lalu ku lanjutkan, “kalau kita mendakwahi teman-teman di DKM bahwa pacaran itu haram, ya gampang saja, mereka akan nurut-nurut saja, soalnya pikiran dan hatinya sudah lunak akan penerimaan pelajaran Islam atau nilai-nilai Islam, tentu beda dengan teman-teman kita di luar sana. Menghadapi mereka, berdakwah pada mereka, tidak bisa langsung mengharamkan begitu saja, perlu sedikit-sedikit, pelan-pelan, dan penuh dengan kesabaran serta kebijaksanaan dan yang paling penting tauladan dari kita.” Setelah ku katakan seperti itu, mereka mulai bisa memahimi maksud tujuanku.

“Makanya aku membuat tulisan itu, dalam rangka berdakwah dengan secara bertahap. Awalnya jangan langsung menyampaikan pacaran itu haran, cukup memberi tahu tentang etika pergaulan dalam Islam, bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkan kalau melanggar etika itu baik di dunia maupun diakherat, kenapa Islam mengatur yang demikian, dan anjuran kalau memang mereka “keukeuh” mau pacaran, supaya mereka berpacaran dengan tetap menjaga agar jangan sampai melanggar etika-etika pergaulan yang Islami tersebut.” Lalu ku jelaskan, “kalau mereka sudah bisa memahami dan mempraktekan etika-etika itu, cepat lambat, aku yakin mereka akan meninggalkan pacaran, karena sangatlah sulit sekali menjaga etika itu kalau sedang pacaran. Biarkan proses berpikir mereka jalan yang akhirnya menimbulkan kesadaran dalam diri mereka sendiri kalau pacaran itu tidak baik. Tugas kita adalah mengawal proses tersebut agar berjalan sesuai dengan tujuan.”

Bersambung ke bagian 2

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.