Obrolan Masalah Akad Mudharabah

27 Maret 2009 pukul 18:09 | Ditulis dalam Ekonomi Islami | 3 Komentar

Obrolan Masalah Akad Mudharabah

Dalam kesempatan ini saya akan menulis tentang obrolan saya dengan seorang teman yang bernama Jayen, seputar masalah akad mudharabah sekitar awal bulan Januari 2009.

Pagi-pagi sekali ketika saya baru sekitar 23 menit tidur, tiba-tiba teman saya, si Jayen buka pintu kamar saya dan langsung masuk. Kontan ketika itu saya kaget sekali dan langsung bangun. “Dasar kau ‘jelma teu uyahan’ ngagetin gue saja, ketuk pintu dulu, salam dulu, ini malah langsung masuk saja kayak kucing lagi mabok aja kau masuk kamarku.” Kataku dengan kesal. “sorry Bro, gue terburu-buru, soalnya bentar lagi jam setengah delapan gue mau ujian post test short couse perbankan syariah, ada beberapa yang belum gue ngerti nih, gue mau tanya ke elo.”

“Udah bangunin, eh malah malah mau nyusahin gue, dasar kau manusia ga tahu sopan santun.” Kataku masih kesel. “sorry bro, gue kepepet nih, lagian kau ini jam segini masih ngeringkuk aja di kasur kayak ulet kepanasan.”

“Udah datang ga diundang, pulang ga diantar, masih aja loe sempat hina gue, dasar kau, jayen-jayen.” Kataku tambah kesal lagi. “gue belum tidur tahu, semalaman dari ba’da Isya sampai tadi subuh main game Empires.”

“salah loe sendiri, main game kok ga tahu waktu.”

“ya udah, sekarang gue mau tidur.” Sambil menarik selimut.

“jangan dulu tidur, ajari gue dulu tentang mudharabah, ada yang belum gue ngerti nih.”

“salah lu sendiri ga belajar dan datang kesini ga tepat waktu, sudah gue mau tidur.”

“Udahlah, gue minta maaf, tapi please ajari gue dulu, entar gue kasih kau foto terbaru si Cinta pas lagi di DAD kemarin plus gue traktir loe di burjo si Bos, nasi telur spesial telurnya dua plus jus jambu.” Si jayen membujuk.

“dasar kau, tahu aja apa keinginan gue, ya udah kau mau tanya apa?” Untuk hobi aku makan nasi telur ini, suka dijadikan alat bagi temen-temenku untuk membujukku terutama si Jayen. Kalau masalah foto, itu mah bukan cara menyogok aku yang efektif, tetapi merupakan cara menyogok aku yang paling efektif. Tetapi jangan disebarin sama siapa-siapa yah, please….!!!!

1. Perbedaan Antara Mudharabah, Qiradh, dan Qardh

“Gue masih ga ngerti tentang perbedaan Mudharabah, Qiradh dan Qardh, loe tahu ga?

“Ah loe ini, yang gitu aja ga tahu, emang selama short course loe kemana aja, tidur yah? Nih kau baca aja buku ini.” Lalu kuberi di buku yang judulnya Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syariah karya Pak Muhammad penerbit UII Press, tahun cetak 2006. “sudah yah kau baca saja buku itu. Di buku itu dijelaskan dengan gamblang masalah mudharabah. Gue mau tidur. Jangan ganggu gue lagi yah.”

“wah ga bakalan sempet kalau baca sekarang, bentar lagi gue mau ujian, loe kasih tahu gue ringkasan dari jawaban yang ada di buku itu, yah..yah.. kau baik dech.”

“Kalau dah ada maunya baru loe katain gue baik, dasar kau, jayen..jayen..” kataku dalam keadaan kepala pusing. “ya udah, jadi mudharabah itu nama lainnya adalah Qiradh. Orang hejaz seneng gunain kata Qiradh, kalau orang Iraq seneng menamainya mudharabah atau Mu’amalah.”

“Terus kalau Qardh?”

Qardh itu pinjam meminjam uang dengan niat untuk amal kebajikan.”

“Jelasin ke gue lebih lanjut tentang perbedaan lebih lanjut antara Qardh sama Qiradh.” Tanyanya. “Wah benar-benar kau selalu tidur pas short course. Hal kayak gitu aja kau ga tahu.” Kataku. “emangnya eloe kalau kuliah suka tidur atau ngelamun, gue Cuma ingin tahu lebih lanjut, secara, loe kan dah lebih lama mengkaji ekonomi Islam daripada gue, mungkin ada yang belum gue tahu yang loe tahu.” Jawabnya.

“dasar kau, ya beda jauhlah bro, secara gitu, Qiradh itu bentuk syirkah (Kerjasama bisnis) sedangkan qardh itu amal kebajikan. Dalam qiradh, pemilik modal berhak mendapatkan bagian keuntungan atau berbagi kerugian dari hasil usaha yang dilakukan si pengelola modal. Besarnya tergantung kesepakatan bersama antara pemilik modal dan pengelola modal. Soalnya qiradh ini kan kerjasama bisnis/ usaha. Nah kalau Qardh, si pemilik modal atau harta, tidak berhak mendapatkan bagian keuntungan atau menanggung kerugian dari hasil usaha orang yang dia pinjami modal atau harta. Si pemilik modal atau harta murni ngasih itu modal hanya untuk beramal.

Dalam Islam, bro, kalau akadnya pinjam meminjam, tidak boleh ada syarat bagi si peminjam untuk mengembalikan lebih dari pokok pinjaman, kalau kau minjam uang dari gue Rp 100.000 ya kau hanya mengembalikan Rp 100.000. kalau ada kelebihan, itu namanya riba. Tetapi kalau si peminjam modal mau ngasih hadiah ke yang ngasih pinjaman tanpa ada syarat pas awal akad, misalnya sebagai ucapan terima kasih telah menolong dia, itu ga apa-apa, asal hal itu bukan keharusan, bukan ditentukan atau disyaratkan oleh si yang ngasih pinjaman, besarnya tergantung keikhlasan si peminjam.”

“misalnya, kau kan punya utang ke aku Rp 3.500 pas gue bayarin loe dulu ongkos naik Trans Jogja kemarin, gue ikhlas kok, kau mengembalikannya Rp 5000.” Kataku bercanda. “Yee, itu sih namanya riba, soalnya loe yang nentukan jumlah tambahan pembayaran utang, bukan atas keridhoan dan kemauan gue.”

2. Pengakuan Kerugian dalam Mudharabah

“Kalau hasil usaha si pengelola modal rugi, terus gimana?”

“Ya ampun bro, kau kayak gini aja ga tahu, emang kau ini keterlaluan. Gini bro, dalam mudharabah atau qiradh, si pengelola modal tidak ada kewajiban untuk menjamin kerugian atau kehilangan harta atau modal selama tidak ada unsur kesengajaan atau unsur keteledoran. Kalau hasil usaha si pengelola modal rugi, ya kerugian ditanggung bersama. Si pengelola modal rugi waktu dan tenaga dan si pemilik modal rugi modal. Tapi kalau kerugian itu karena keteledoran atau kesalahan si pengelola modal, dia yang harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Misalnya, gue sebagai orang yang kelebihan duit, ngasih loe modal buat berternak ayam. Eh, setelah loe jalanin sebulan tuh ternak ayam, ayam-ayam yang kau ternak itu mati semua. Kalau penyebab matinya tuh ayam karena sumur ditempat loe kena limbah pabrik tanpa sepengetahuan loe sehingga pas loe ngasih minum tuh ayam, ayamnya pada mati dan elo juga keracunan, maka kerugian matinya ayam-ayam itu, kita tanggung bersama. Tetapi kalau matinya tuh ayam-ayam karena loe lupa nagsih makan tuh ayam-ayam, maka loe harus tanggung jawab, menanggung kerugian itu. Kau harus balikin modal gue sebesar dulu gue ngasih kau modal.”

3. Bolehkah si Pemilik Modal Mengambil Modalnya Sewaktu-waktu Secara Sepihak

“Terus Bro, boleh ga si pemilik modal mengambil kembali modalnya sewaktu-waktu secara sepihak?”

“Sebenarnya bro, mudharabah itu akad yang hukumnya jaiz atau boleh, makanya setahu gue, semua fukaha mazhab (ahli fikih mazhab) sepakat bahwa pemilik dana ataupun pengelola dana boleh secara sepihak membatalkan akad atau si pemilik dana menarik kembali dananya, tentunya dengan konpensasi tertentu sesuai dengan kesepakatan.

Misalnya nih, contoh gue tadi tentang ternak ayam. Gue boleh sewaktu-waktu membatalkan kontrak bisnis kita, tetapi gue harus memberi kompensasi atas kerja keras loe mengelola bisnis. Kompensasi itu besarnya sesuai kesepakatan kita, hal ini supaya kamu yang sudah bekerja keras ga merasa dirugikan oleh aku yang memutuskan hubungan bisnis secara sepihak.

Kalau kata mazhab Hanafi dan Syafi’i, kalau ada modal yang berbentuk nonkas, maka modal itu harus diuangkan dulu atau dijual dulu. Jadi ayam-ayam itu harus dijual dulu. Tetapi menurut mazhab Hambali, membolehkan bagi kedua pihak untuk sepakat menjual barang tersebut atau membagikannya. Kalau gue sih lebih sepakat pada mazhab Hambali.”

4. Bolehkah modal mudharabah berbentuk barang atau harus berbentuk uang tunai?

“Gue pernah denger, katanya modal mudharabah itu ga boleh berbentuk barang tetapi harus berbentuk uang, benar ga?”

“Setahu gue, mayoritas para ulama (Jumhur Ulama) melarang modal mudharabah berbentuk barang atau harus berbentuk uang tunai dengan alasan barang tidak dapat dipastikan taksiran harganya dan mengakibatkan pada gharar (penipuan). Tetapi kalau menurut gue sih lebih sepakat pada pendapat minoritas ulama yang membolehkan dalam bentuk barang. Mengenai taksiran nilai barang yang dijadikan modal usaha, bisa disiasati dengan kesepakatan si pemilik modal dan si pengelola modal mengenai nilai dari barang modal tersebut, misalnya menyepakati bahwa nilai barang modal adalah senilai dengan harga pasar barang tersebut pada waktu terjadinya akad. Tapi ya terserah loe mau sepakat dengan pendapat yang mana.”

5. Masalah Pembagian Keuntungan, Apakah keuntungan yang dibagikan itu Pendapatan kotor atau pendapatan yang sudah dikurangi biaya-biaya?

“Masalah bagi hasil, yang dibagikan itu pendapatan kotor atau pendapatan bersih (pendapatan dikurangi biaya-biaya)?”

Gue lebih sepakat yang dibagikan itu adalah pendapatan bersih karena biaya-biaya usaha harus kita tanggung bersama. Kalau yang dibagikan adalah pendapatan kotor, maka biaya-biaya usaha ditanggung sama pengelola dana. Tentu ini merugikan pihak pengelola dana. Walaupun demikian, di perbankan syariah di Indonesia, untuk suatu produk mudharabah bank yang mana Bank syariah menjadi pengelola modal dan nasabah menjadi pemilik modal (uang), yang dibagikan itu adalah pendapatan kotor supaya bagi hasil untuk nasabah lebih besar daripada bagi hasil untuk bank karena bank yang menanggung biaya-biaya usaha. Hal ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat menabung di bank syariah. Hal ini tidak jadi masalah karena si pihak pengelola dana (bank syariah) ikhlas melakukannya dan memang dalam jangka panjang bank syariah akan untung juga

6. Biaya Hidup Si Pengelola Modal Selama Mengelola Usaha

“Tentu dalam waktu mengelola modal tersebut si pengelola dana harus makan, menafkahi keluarga, dan lain-lain. Boleh ga si pengelola dana ngambil biaya hidupnya itu dari modal mudharabah?”

“Setahu gue, kalau menurut Imam Malik, boleh ngambil dari modal asalkan modal itu berjumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk usaha sehingga ada keluangan untuk digunakan. Tetapi menurut imam Hanafi, sebagian mazhab Hambali, dan sebagian mazhab Maliki itu tidak boleh. Jadi selama usaha, untuk biaya hidup si pengelola modal ya ditanggung sama dia sendiri, tidak boleh ngambil dari modal mudharabah.

Kalau loe tanya bagaimana menurut gue, kalau gue sih lebih baik ketika akad mudharabah, ada kesepakatan tentang hal biaya hidup si pengelola modal, misalkan si pemilik modal sepakat memberikan uang diluar modal kepada pengelola modal, sebesar tertentu untuk biaya hidup si pengelola modal sampai modal tersebut menghasilkan keuntungan.

Kan kasihan banget si pengelola modal, masa dia harus puasa selama mengelola bisnis. Atau kalau dia diizinkan membuat usaha diluar usaha mudharabah tersebut, entar dia ga bisa profesional atau ga fokus pada usaha bisnisnya.

Tetapi intinya, ya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Kalau bisnis mudharabah itu bisnis sampingan diluar bisnis utama si pengelola modal, ya berlaku pendapat ulama-ulama diatas. Tetapi kalau itu adalah satu-satunya bisnis yang dilakukan si pengelola dana, ya si pemilik modal harus bijaksana untuk memberikan uang tambahan diluar modal atau termasuk dalam perhitungan modal untuk biaya hidup si pengelola dana selama menjalankan usaha sampai modal itu menghasilkan pendapatan.

7. Penentuan Besarnya Nisbah Bagi-Hasil

“Boleh ga sih nisbah bagi hasil si pengelola modal lebih besar daripada nisbah bagi hasil si pemilik dana? Atau sebaliknya? Atau yang menentukan besar kecilnya nisbah itu apa?

Besar kecilnya nisbah bagi hasil itu tergantung kesepakatan bersama. Boleh sama besar, misalnya pengelola dana : pemilik modal = 50% : 50% atau lebih besar pengelola dana misalnya 65% : 35%, atau lebih besar pemilik dana, misalnya 25% : 75%. Itu semua tergantung kesepakatan. Mungkin suatu usaha bisnis yang dimasuki sangat besar resikonya sehingga nisbah bagi hasil untuk pengelola dana lebih besar. Atau mungkin karena bisnis yang dimasuki adalah bisnis yang menguntungkan dengan resiko yang tidak terlalu besar sehingga nisbah bagi hasil bagi pemilik dana lebih basar.”

8. Pemilik Dana menentukan syarat-syarat penggunaan dana

“Boleh ga sih pemilik modal menentukan syarat-syarat penggunaan modal kepada pengelola dana, misalnya si pemilik dana mensyaratkan modalnya hanya untuk bisnis ternak ayam atau sapi?”

“Setahu gue, masalah yang loe tanyakan itu termasuk jenis Mudharabah Muqayyadah. Seperti yang mungkin kau tahu, mudharabah itu ada beberapa jenis, salah satunya jenis muqayyadah. Jadi boleh si pemilik modal mengasih syarat-syarat. Kalau pengelola dana melanggar syarat itu, maka pemilik dan boleh menarik kemnali modalnya.”

9. Menentukan Sanksi Bila Pengelola Dana Melanggar Syarat-syarat yang Ditentukan Pemilik Dana

“Boleh ga si pemilik modal menentukan Sanksi kalau syarat-syarat yang ditentukannya dilanggar si pengelola modal?

“Setahu gue sih, pemilik modal boleh menentukan sanksi sebagaimana dia juga boleh menentukan syarat-syarat. Syarat-syarat dan sanksinya haruslah merupakan bagian dari kesepakatan antara si pemilik dana dan si pengelola dana. Jadi, bila ada yang melanggar perjanjian, maka dia harus menanggung sanksi yang sudah disepakati.”

10. Bolehkah pemilik modal ikut serta mengelola modal?

“Boleh ga sih, pemilik modal ikut serta dalam mengelola modal?”

Wah kalau pemilik modal mau ikut mengelola, meningan akadnya jangan mudharabah tetapi musyarakah aja. Kalau pakai akad mudharabah, pengelolaan modal merupakan hak sekaligus kewajiban dari pihak pengelola modal. Pemilik modal tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan modal.”

11. Mengubah Mudharabah menjadi musyarakah

“Boleh ga si pengelola modal menyetorkan modal di tengah-tengah usaha? Kalau gitu, itu kan jadi bisnis musyarakah?

Boleh, tetapi entar akad kesepakatannya jadi berubah menjadi musyarakah. Dan itu harus dilakukan atas kesepengetahuan dan kesepakatan dengan pemilik modal. Isi perjanjian/ kesepakatanpun mungkin jadi berubah. Nisbahnya pun mungkin jadi berubah. Semua itu tergantung kesepakatan antara pemilik modal dan pengelola modal.”

12. Penyetor Modal modal baru

Misalkan ditengah jalan ternyata modal yang ada tidak cukup untuk perkembangan usaha. Butuh modal tambahan. Boleh tidak menambah pemilik modal baru?”

Boleh, dan setelah pemilik modal baru itu masuk, nisbah bagi hasil pun akan berubah. Maka butuh kesepakatan baru mengenai nisbah ini. Berapa persen untuk pemilik modal pertama, pemilik modal kedua (baru) dan pengelola modal. Begitu juga kalau di tengah jalan ternyata butuh pengelola modal tambahan, maka berlaku ketentuan yang hampir sama. Intinya, dalam masalah mudharabah ini boleh pemilik modalnya lebih dari satu atau juga pengelola modalnya lebih dari satu.”

Penutup

“Wah bro makasih yah telah mau gue ajak diskusi.”

“itu sih bukan diskusi namanya, itu tanya jawab. Ada lagi yang mau ditanyakan ga? Kalau ga ada, gue mau tidur nih, ngantuk tahu!”

“ga ada, makasih yah dah mau gue ganggu.”

“siapa bilang gue mau loe ganggu, itu sih namanya pemaksaan sekaligus sogokan.”

“he..he.. ya udah, gue minta maaf dah ganggu, yang dah terima kasih atas berbagi ilmunya. Ya sudah gue mau pergi ujian dulu, 7 menit lagi ujian akan dimulai. Ya sudah yah gue pergi dulu, selamat tidur semoga mimpi indah ketemu si Cinta, he..he..”

“Ya udah, sana pergi, ganggu aja. Tapi ingat yah, tar sore abis short course, kau bawakan aku nasi telur spesial dan juga jus jambu.”

“oke bos, ya udah, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullah.” Jawabku. Habis itu dia pergi dari kamarku dan tidak lupa menutup pintu kamarku. Setelah dia pergi, aku menarik selimutku yang tebal dan berwarna biru kesayanganku, lalu zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.

Muhammad Surya

Mantan Pengurus Shariah Economics Forum

Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

2006-2007

dan

Mantan Ketua Bidang Sosial Ekonomi dan Dakwah

Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Bulaksumur-Karang Malang

2007-2008

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ass.. mksh bnyk infrmasinya, ini yg lg kucari2,
    soalnya ortu mau pinjem uang 100 jt UKM di bank konvensianal,
    q plih di bank syariah aj, tp kira2 boleh ngk ya..??
    100jt kan banyak,mksh.

  2. Bolehkah disyaratkan sohibul mal dalam akad mudharabah tidak menanggung kerugian?
    Jika tidak boleh, maka bolehkah mudharib yang harus menjamin atau menanggung kerugian tersebut?
    Jika tidak boleh maka siapa yang harus menjamin? Seandainya pihak ketiga boleh menjamin, bolehkah dengan system asuransi syariah ? dalam arti tidak free, kalau tidak boleh free, siapa yang harus menanggung premi tersebut ?

  3. ManTOP boss…. maksh yakkk…. ^o^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: