Sebuah Konsep Hubungan Pra-Nikah

19 April 2009 pukul 18:19 | Ditulis dalam opiniku | 8 Komentar

Sebuah Konsep Hubungan Pra-Nikah

Beberapa minggu terakhir ini, aku sering sulit tidur. Sering memikirkan tentang bagaimana hubunganku dengan dia. Banyak teman yang memberi saran padaku untuk segera menyatakan saja, kalau tidak entar dia keburu direbut orang lain. Tetapi aku yakin kok, kalau Allah memutuskan dia memang yang terbaik untuk jadi ibu dari anak-anakku dan pendamping hidupku, tak kan lari kemana. Ujung-ujungnya aku akan menikah dengannya. Betul tidak?

Aku sudah shalat istiharah, dan akhir-akhir ini kok timbul keraguan untuk menyatakan kepadanya. Aku merasa sekarang belum saat yang tepat untuk menyatakan walaupun semakin hari aku semakin yakin bahwa dia orang yang kucari.

Sebenarnya, aku tidak ada niat untuk pacaran seperti kebanyakan orang-orang pada umumnya. Hanyalah sekelompok kalimat bahwa aku ingin serius dengan dia, aku mau belajar dan berlatih untuk mengenal, memahami, dan memengerti dirinya. Aku mau lebih tahu potensi dia supaya aku bisa mendukung dia atau mengasahnya dan lebih tahu kekurangan dia supaya aku bisa menutupinya atau kalau mampu, aku mengubah menjadi kelebihan.

Intinya, sebuah pernyataan keseriusanku untuk lebih mengenal, memahami, dan mengerti dirinya sebagai sarana awal membangun sebuah hubungan yang lebih serius (keluarga). Kalau dia merasa aku cocok sebagai bapak dari anak-anaknya dan pendamping hidupnya, insya Allah aku akan melamarnya di awal bulan Ramadhan tahun depan atau kira-kira bulan Agustus 2010 dan menikahinya.

Aku ingin sebelum masuk ke jenjang itu, ada sebuah masa dimana aku dan dia saling mengenal, memahami, dan mengerti satu sama lain sehingga diharapkan tidak ada kekecewaan setelah menjadi suami-istri.

Kalau kau tanya bentuknya seperti apa, ya intinya aku dan dia saling memperhatikan, sering menjalin komunikasi, dan saling mencari informasi tentang satu sama lain. Kalau kau bertanya pula, apa bedanya dengan pacaran atau ta’aruf, maka aku jawab bahwa mungkin banyak sekali persamaannya tetapi dalam hubungan bentuk ini, aku dan dia mencoba sekuat mungkin untuk menghindari kontak fisik, menahan diri dari kalimat-kalimat gombal, hanya malakukan pertemuan ditempat-tempat yang ramai, tidak melakukan teleponan atau sms-an lebih dari jam 10 malam, dan komunikasi yang terjalin lebih di fokuskan untuk saling mengenal, memahami dan mengerti satu sama lain. Selain itu, aku dan dia saling mencari informasi dari keluarga, teman-teman, dan sahabat tentang diri satu sama lain. Disamping itu, aku dan dia saling mengenal, memahami dan mengerti tentang keluarga, teman-teman, sahabat-sahabat dan lingkungan satu sama lain. Dalam masa hubungan ini, aku dan dia tidak saling membatasi ruang gerak, tetapi diantara aku dan dia sudah terbangun sebuah komitmen untuk masuk kejenjang lebih serius. Kalau aku dan dia merasa sudah cukup untuk saling mengenal, memahami, dan mengerti dan aku dan dia merasa saling cocok, insya Allah aku akan segera melamar dan menikahnya

Kalau kamu mau menamai ini sebagai pacaran, tanazur, hitbah, ta’aruf, pacaran Islami, atau apapun itu, ya silahkan saja. Yang terpenting bagiku adalah esensinya bukan istilahnya karena satu istilah kadang kala orang-orang menafsirkannya berbeda-beda. Salah satu contohnya adalah pacaran, ada yang mengatakan itu haram dan adapula yang menyatakan itu boleh-boleh saja. Setelah ku pelajari kedua paham tersebut, ternyata kedua belah pihak mempunyai definisi yang berbeda terhadap istilah pacaran. Oleh karena itu, aku tidak mau berdebat tentang istilah dari bentuk hubungan ini, lebih baik aku fokus pada esensi dari bentuk hubungannya. Terserah orang-orang mau menyebutnya apa.

Tujuan dari hubungan ini adalah saling mengenal, memahami, dan mengerti satu sama lain sebelum pernikahan sehingga bisa meminimalisir resiko menyesal setelah terjadi pernikahan.

Kenapa aku mau melakukan hubungan seperti ini, ya karena memang aku akui bahwa aku ini bukanlah Dedi Corbuzer yang bisa membaca pikiran orang lain, bukan juga Tommy Rafael yang bisa menghipnotis dia supaya suka sama aku, bukan pula Superman yang bisa menjaga dia di saat dia membutuhkan dan bukan juga Mama Laurent yang bisa melamar apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, aku butuh mendapat banyak data dan informasi tentang dia, keluarganya, dan lingkungannya yang menjadi bahan analisis sebelum aku memutuskan menikahinya. Hal ini juga dibutuhkan untuk membentuk sebuah konsep keluarga yang akan aku dan dia jalani nantinya. Disamping itu, sebagai bahan pembuatan rencana jangka panjang aku dengan dia dalam menjalani hidup bersama disamping sebagai sarana menyatukan persepsi dan menselaraskan prinsip yang aku dan dia pegang selama ini. Jangan sampai perbedaan prinsip yang fundamental baru diketahui setelah pernikahan. Hal ini akan berakibat pada salah satu atau keduanya merasa menyesal dikemudian hari.

Aku pikir, membangun sebuah keluarga bukanlah sebuah pekerjaan main-main atau sebuah pekerjaan hati saja. Tetapi itu sebuah pekerjaan serius. Butuh kerjasama antara pikiran dan hati. Penselarasan antara Logika dan perasaan. Perlu melakukan banyak berdoa dan berikhtiar. Perlu banyak berpikir dan merenung.

Membangun sebuah keluarga bukan setelah pernikahan tetapi berawal dari memilih pasangan. Ketika kita salah memilih pasangan, jangan harap untuk mendapatkan “si sakinah”, “si mawadah”, dan “si warahmah”.

Kembali pada keadaan diriku sekarang

Apa yang aku paparkan diatas adalah sebuah konsep yang ingin aku ajukan kepada si dia. Konsep itu merupakan hasil perenunganku selama hampir sebulan terakhir ini. Sebuah perenungan yang membuat aku sering sulit tidur dan tidak jarang tidur setelah subuh. Hanya untuk berpikir dan merenung.

Anehnya, setelah aku menjalani sholat istiharah beberapa kali, meskipun dihatiku timbul sebuah keyakinan bahwa dia itu wanita yang aku mau, tetapi timbul sebuah keraguan dalam diriku untuk menyatakan kepada dia semua konsep yang telah ku buat ini. Timbul sebuah ketakutan pada diriku apakah aku bisa menjalankan semua konsep yang sudah kususun. Timbul juga ketakutan, apakah dia mau menerima aku, secara, dari berita yang ku dapatkan, si dia sudah banyak sekali menolak pria yang mencoba menyatakan padanya. Dari informasi yang kudapat, dia tipe orang yang memandang pacaran itu haram.

Kalau dari aku sendiri, insya Allah aku akan menerima dia apa adanya, tetapi apakah dia juga sama seperti aku? Aku juga minder, apakah aku yang seperti ini yang masih banyak berbuat maksiat, cocok mendampinginya? Secara, ada pepatah mengatakan pria baik akan mendapatkan wanita yang baik dan pria buruk akan mendapatkan wanita yang buruk. Meskipun dalam kenyataanya banyak pria yang sholehah mendapatkan istri yang buruk atau sebaliknya.

Yang jelas, gara-gara hal ini, ada sedikit peningkatan dari dalam diriku dalam hal semangat untuk bangkit memperbaiki diri. Bangun dari tidurku yang panjang selama ini. Timbul sebuah semangat dari diriku bahwa aku harus jadi pria yang hebat sebelum aku menikahi wanita yang hebat seperti dia. Aku harus jadi pria yang sholeh sebelum menikahi dia yang shalehah. Pikirku, kan ga matching kalau istrinya shalehah sedangkan suaminya bragajul. Kasihan juga istri yang menjalani hidup dengan suami yang bragajul. Tersiksa seumur hidupnya. Maka dari itu, aku harus berusaha menjadi pria idaman sebelum mendapatkan dia yang telah menjadi wanita idaman.

Aku tidak tahu apakah segala keraguan tersebut, itu petunjuk dari Allah ataukah bisikan setan. Untuk kasus ini, aku tidak bisa membedakannya. Oleh karena itu, aku butuh nasehat dari teman-temanku semua tentang permasalahan ini.

Kampung Kuningan, 18 April 2009

Curhatan dari Sang Surya

8 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. nu pentingmah pinter2 jaga hati wae kang

  2. sip, doakan aku supaya bisa jaga hati

  3. beruntunglah Ya’ kamu masih diberi waktu untk bangun dari tidur panjang…..
    aku bangga kamu sudah mampu memahami makna ayat “wanita baik-baik hanyalah untuk laki-laki baik”
    teruslah memperbaiki diri agar kelak kau mampu mempunyai wanita sesoleh KHADIJAH,,,
    BTW, mengenai hubungan pra nikah, gimana ya?????? hehehehehe
    yang jelas menurut ku sih IS okey2 waelah,,,, asal kalian memahami makana hubunganitu,,,
    yang patut dihindari dalam hubungan pranikah menurut ku adalah adanya sebuah heharusan “APEL malam MINGGU,,, MAKAN bareng,,,, antar jemput,,, telfon mesra-mesraan” atau yang bikin gimana gitu hahahahaha
    alangkah indah memang saat bisa berdampingan dengan orang yang kita kasihi tanpa melanggar aturan SANG PEMILIK HIDUP,,,, namun jika memang waktu belum berpihak seyogyanya BERSABARLAH,,,, jika kamu pikir dengan menikah akan membuat hatimu tenang SO cepatkanlah proses itu BUT jika kamu masih ragu,,, KUAT dan MANTAPKANLAH dulu HATI mu….
    jika kau ingin lebih tenang dan bisa kembali tidur nyenyak serta mengganggap Memberitahukan perasaan kamu ke “dia” untuk membuat sebuah KOMITMEN dirasa lebih BAIK maka LAKUKANLAH seceepatnya,,,, namun, saat kamu sendiri masih ragu akan perasan si dia maka kamu cari dulu info tentang perasaan nya pada mu trus yang peting KUATKANLAH IMAN dalam HATI mu,,,, heheheheheheh okey ^_^

  4. Subhaanallaah. Mahasucilah Allah Sang Maha Penyayang.
    Aku mendukung sepenuhnya konsep pranikah Muhammad Surya ini. Untuk artikel pembanding, lihat “Hubungan Tanpa Status, perlukah kejelasan?

  5. sebagai informasi tambahan, aku sudah menyatakan pada dia, dan aku sudah mengutarakan semuanya, dan kami sepakat bahwa untuk sementara ini hanya berteman. kalau memang kami sudah merasa siap untuk menikah dan jika Allah menyatukan hati kami untuk hidup berumahtangga bersama, insya Allah kami akan melanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih serius.

  6. http://alnof.multiply.com/journal/item/64

    maaf saya no comment krn tdk bgitu ngerti
    peace…

  7. @syifa
    ga ngertinya di sebelah mana?

  8. subhanallah..pengalaman antum hampir sama dengan ana..

    ana juga bingung dg keadaan ana skrg syukron akh..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: