Neraka TIDAK Kekal…!!!!!

11 November 2009 pukul 20:29 | Ditulis dalam opiniku | 4 Komentar

Tiba-tiba saya tertarik untuk membaca buku berjudul “Mereka Bertanya Islam Menjawab, Pertanyaan Mengganjal tentang Islam yang Sering Diajukan Orang Awam dan Non-Muslim,” yang ditulis oleh Dr. Zakir Naik, Prof. Dr. Shalah Shawi, dan Syaikh Abdul Majid Subh, yang diterbitkan oleh Aqwam, tahun terbit 2009. Saya beli buku itu di bazar buku Mesjid Kampus UGM sayap utara. Saya beli buku itu dua kali, pertama pas bulan Ramadhan kemarin. Buku itu ternyata sangat disenangi oleh Bapak saya sebagai referensi untuk khutbah di mesjid. Kata beliau, buku itu sangat mudah dicerna, argumentasinya kuat, dan dalil-dalilnya kuat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang awam. Beliau sangat membutuhkanya, untuk referensi menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para jamaah mesjid-mesjid yang beliau bina. Akhirnya, buku itu saya berikan kepada bapak saya dan saya beli lagi yang baru beberapa minggu yang lalu.

Di halaman 262 sampai 271, Syekh Abdul Majid Subh ditanya oleh seseorang  yang beragama kristen tentang neraka. Beliau menjawabnya dengan panjang lebar dan melakukan perbandingan antara Al-Quran dan Bibel. Di akhir pembahasan, beliau menjelaskan bahwa neraka tidak kekal. Dalam tulisan kali ini, saya akan ringkaskan pendapat beliau tentang ketidak kekalan neraka untuk Anda.

Beliau menulis:

Allah berfirman dalam Al-Quran,

“Dikala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. Maka diantara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. Adapun orang-orang yang celaka maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia maka tempatnya didalam surga. Mereka kekal didalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Hud: 105-108)

Dari ayat diatas, beliau menyatakan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kekekalan neraka. Adapun ulama yang menyatakan neraka tidak kekal mengatakan bahwa Allah mensyaratkan tinggalnya mereka di neraka dengan keberadaan langit dan bumi yang pasti diganti sebagaimana Allah berfirman,

“(yaitu) pada hari  (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ibrahim: 48)

Dari ayat diatas, dapat disimpulkan bahwa orang kafir tidak akan mendiami neraka selama-lamanya.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar mengatakan bahwa akan datang suatu hari ketika neraka menutup pintu-pintunya karena tidak ada lagi orang di dalamnya setelah dihuni berabad-abad. Umar Bin Khathab juga menyatakan bahwa jika penghuni neraka tinggal di dalamnya untuk waktu yang panjang., akan datang suatu hari ketika mereka meninggalkannya. Pandangan ini juga dikuatkan oleh Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pendapat di atas dipegangi Umar bin Khathab, Ibnu Abas, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Hasan Al-Basri, Hammad Ibnu Salamah, Ali bin Talhah Al-Walbi, dan para ahli tafsir lainnya.

Ar-Razi dalam tafsirnya menyatakan bahwa sekelompok ulama berpendapat bahwa azab bagi penghuni neraka akan berakhir karena Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang celaka maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Hud: 106-107). Disamping itu, Allah juga berfirman, “Sesungguhnya neraka jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba’: 21-23).

Demikian ringkasan dari fatwa Syekh Abdul Majid Subh tentang neraka terutama tentang ketidakkekalan neraka.

Jujur, fatwa beliau ini sangat menentramkan pikiran dan hati saya dan menambah kuat aqidah saya dan keyakinan bahwa Allah Maha Adil, Maha Penyayang, serta membuktikan bahwa Rahmat Allah sangat jauh lebih besar banget daripada murka-Nya. Dulu saya pernah punya sebuah pertanyaan, “kalau neraka itu kekal dan seluruh orang non muslim (kafir) itu kekal didalam neraka, kok tidak adil yah. Misalnya, ada banyak orang non-muslim, anggaplah agamanya kristen. Tiap hari dia selalu berbuat baik kepada sesama manusia maupun lingkungan alam sekitar. Hampir tidak pernah dia menyakiti orang lain. Saya menemukan banyak yang demikian. Dan dia ini, menurut kepercayaan saya duhulu, bahwa neraka itu kekal untuk orang kafir, tentu orang kristen ini akan kekal di siksa di neraka. Tetapi orang yang bersyahadat, dan dia pegang teguh syahadat itu sampai ajal tetapi dia suka maksiat, sering bergosip, merusak lingkungan alam sekitar, sering berbuat kejahatan. Orang seperti ini, hanya disiksa di neraka sementara???? Lalu dimasukan ke surga????? Kok ga adil yahhhh!!!!!! tidak mungkin Allah tidak adil. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Pasti ada salah tafsir dalam masalah ini. Atau ilmu dan wawasan saya belum sampai pada pemahaman dalam masalah ini. Saya harus banyak belajar lagi.”

Fatwa diatas sungguh membuat saya tentram sekarang. Menjawab dengan lugas pertanyaan saya itu. Dan lebih tentram lagi karena paham ini dipegang oleh para sahabat Nabi Muhammad saw yang telah dijamin masuk surga dan dijamin selalu dapat ilham dari Allah setelah Nabi saw wafat. Para sahabat tersebut juga adalah para ulama di kalangan para sahabat dan mendapat ilmu langsung dari Nabi Muhammad saw. Fatwanya pasti lebih mendekati kebenaran daripada fatwa para ulama setelahnya. Itu yang membuat saya tenang.

Meskipun demikian, saya teringat dengan nasehat KH. Ahmad Dahlan dalam buku berjudul “Pelajaran KHA Dahlan, 7 falsafah Ajaran & 17 Kelompok Ayat Al-Quran,” karya KRH. Hadjid (murid langsung KH. Ahmad Dahlan), yang diterbitkan UMM Press tahun 2005. Dalam buku itu ditulis:

Fatwa KH. Ahmad Dahlan, “Kita Manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh: Sesudah mati akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan.” Di pelajaran kedua, KH Ahmad Dahlan heran, mengapa para pemimpin agama dan yang tidak beragama itu selalu beranggapan, mengambil keputusan sendiri-sendiri tanpa mengadakan pertemuan diantara mereka, tidak mau bertukar pikiran, memperbincangkan mana yang benar dan mana yang salah? Hanya berdasarkan anggapan-anggapan sendiri saja, disepakati dengan istri, dengan muridnya, teman-teman dan gurunya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi, marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain diluar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar itu dan manakah sesungguhnya yang salah itu.

Dalam pelajaran ketiga, KH Ahmad Dahlan berfatwa, “Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang sudah dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang sudah diterima. Baik itu dari sudut keyakinan atau i’tiqad (aqidah), perasaan, kehendak, maupun amal perbuatan. Kalau ada yang mau mengubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar.” Mereka menganggap terhadap apa yang telah diterimanya, itulah yang benar, selain itu, mereka menganggapnya salah.  Hal ini mengakibatkan mereka membela anggapan-anggapannya itu dengan mati-matian. Mereka mencari-cari alasan dan mencari-cari dalil untuk membela anggapan-anggapannya itu dan menolak atau tidak memperdulikan alasan-alasan dan dalil-dalil yang bertentangan dengannya.

Selanjutnya, dalam buku itu dijelaskan, “Manusia itu perlu sekali mendengarkan segala fatwa ucapan. Dari siapa saja harus didengar. Jangan sampai menolak atau tidak mau mendengarkan suara dari pihak lain. Selanjutnya, suara-suara tadi harus dipikir sedalam-dalamnya dan ditimbang, disaring, dan dipilih yang benar.”

Dijelaskan pula, “Manusia itu biasanya kalau menerima fatwa orang yang dianggap guru besar, lalu taqlid, menurut tanpa mengetahui dalil dan tergesa-gesa menolak fatwa pihak lain. Lebih-lebih kalau pihak lain dianggap musuh.”

Kesimpulan dari pelajaran ketiga tersebut adalah, “Apa saja, seperti: pengetahuan, kepercayaan, perasaan, kehendak, dan tingkah laku yang kita miliki yang tumbuh dari kebiasaan, jangan tergesa-gesa diputuskan sendiri, lalu dianggap benar. Hendaklah dipikirkan dahulu, dibandingkan, dan dikoreksi, apakah sungguh sudah benar?”

Karena saya adalah pengagum dan fans berat KH Ahmad Dahlan, saya akan coba untuk mengikuti nasehat beliau untuk memikirkan, membandingkan, dan mengoreksi pemahaman/ kepercayaan baru saya bahwa neraka itu tidak kekal.

Langkah pertama yang saya lakukan untuk mengikuti nasehat tersebut adalah bertanya pada ulama-ulama yang saya kenal kompeten untuk membahas masalah ini. Saya mengirimkan sms untuk bertanya tentang masalah ini, dan inilah jawaban dari mereka:

Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc.

“Tidak benar. Akherat kekal. Sorga neraka kekal. Banyak ayat menyatakan begitu.”

“Anda cek saja rujukan yang digunakan. Apa memang mereka (para ulama yang dijadikan rujukan Syekh berfatwa tersebut. red) menulis begitu.”

“Saya tidak yakin para imam tersebut menyatakan begitu. Tapi tidak apa, kalau Anda (penulis tulisan ini) punya waktu menelitinya.”

Wawan Gunawan A. Wahid, Lc., M.Ag.

“Ngapain nanya yang begini? Beribadahlah yang baik.”

“Tentu saja yang dimaksud kekal dan tidak kekal itu jangan disamakan dengan kekekalan Allah karena kalau ada yang kekal selain Allah berarti ada yang menyamai Allah.”

Ustad Muhammad Nur (Imam Mesjid Kampus UGM)

“Yang dimaksud neraka tidak ada lagi: bagi yang memiliki syahadat kendati kafir. Mereka di azab dulu. Sedangkan yang tidak pernah syahadat tetap. Jika tidak, apa beda muslim-kafir?”

Ustad Didik Purwodarsono

“Tolong antum baca tafsir ibnu katsir tentang ayat-ayat Qur’an menyangkut hal-hal tadi. “Kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi” menurut ibnu Jarir adalah sesuai dengan kebiasaan bangsa arab. Apabila mensifati sesuatu yang kekal, mereka berkata seperti itu. Dan mungkin juga bukan langit dan bumi dunia tetapi langit bumi di akherat. Dijelaskan dalam Ibrahim: 48. ALLAHU A’LAM

Untuk sementara, saya coba mengambil hikmah dari semua pembahasan ini bahwa, masalah neraka dan surga adalah masalah ghoib. Baik neraka itu kekal atau neraka itu tidak kekal, yang terpenting yang harus kita pahami bersama adalah bahwa azab Allah di dalam neraka itu sangat pedih dan menyakitkan. Oleh karena itu, sebagai manusia yang normal, kita harus berusaha untuk menghindarinya dengan selalu meningkatkan amal ibadah kita dan memperkuat iman dan takwa kita.

Tidak perlu kita saling menyalahkan, terjadi konflik, atau debat kusir dalam membahas masalah ini.

Harapan saya dengan menulis tulisan ini adalah untuk mendapat komentar dan diskusi lebih lanjut tentang masalah ini. Apabila ada diantara para pembaca semua yang punya pendapat yang sama atau berbeda, saya mengajak, marilah kita berdiskusi untuk mencari kebenaran tentang masalah ini. Saya sangat tidak mengharapkan terjadi debat kusir karena tujuan dari diskusi kita hanya untuk meningkatkan iman dan takwa kita terutama saya pribadi. Tolong sertakan argumentasi, dalil, dan referensi buku/ jurnal/ makalah bila ingin mendukung atau membantah. Usahakan gunakan kalimat yang sopan dan menentramkan hati dan pikiran orang yang membacanya.

KH Ahmad Dahlan pernah memberikan nasehat, “Kita Manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh: Sesudah mati akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan.” Dan juga, “Bermacam-macam corak ragamnya mereka mengajukan pertanyaan soal-soal agama. Tetapi tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan demikian: Harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka? Harus mengerjakan perintah apa? Beramal apa? Menjauhi dan meninggalkan apa?”

Saya bertanya pada Anda semua yang membaca tulisan ini,

  1. Harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka?
  2. Harus mengerjakan perintah apa?
  3. Beramal apa?
  4. Menjauhi dan meninggalkan apa?

(pertanyaan-pertanyaan ini adalah tema diskusi lebih lanjut yang saya inginkan)

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Assalamualaikum Saudara Sang Suria,

    Saya ingin mengucapkan terima kasih pada saudara kerana telah mengemukakan tajuk ini. Saya sebenarnya sedang mencari-cari jawapan tersebut. Alhamdulilah akhirnya saya telah berjumpa di laman tuan. Masyaallah dan alhamdulilah.

  2. NEraka siksaannya utk orang kafir: berabad – abad (Q.S An Naba : 21), Azab (waktu) yang panjang (Q.S Maryam : 79). Kekekalan surga dan neraka berbeda : Q.S Hud : 106 – 109 dan Q.S Al Anam : 128. Neraka pembalasannya bergantung dengan besar dosa manusia sedangkan surga pahalanya tidak menggantung kepada ama kebaikannya (tanpa hisab/tiada putus2nya) : Q.S Al Muminun : 40).

  3. 1. Tidak ada yg selamat dari neraka.. kecuali dengan pertolongan Allah.. mohonlah kepada Allah..agar di selamatkan dari neraka…
    2. Kerjakan perintah dalam al Quran.. sesuai pemahaman.. bukan karena hak dan kewajiban.. tapi semata mata karena kita adalah mahluk.. walaupun kita diberi kebebasan penuh..
    3.4. Semua bisa di dapat dari al Quran. Dan as Sunnah..

  4. apa benar neraka tidak kekal bagi orang kafir ?
    kan allah sudah menjelaskan dalam al Quran bahwa sholat tihang agama ,sholat wadah nya amalan ibadah , jika sebaik baiknya orang kafir di dunia jika tidak melaksanakan sholat apakah akan di terima kebaikannya oleh allah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: