Hari Ini, Pria Dijajah Wanita

24 November 2009 pukul 15:40 | Ditulis dalam opiniku | Tinggalkan komentar

Saya baca sebuah artikel di http://hitmansystem.com/tentang-wanita/180.html yang berjudul Wanita vs. Pria.

Dalam artikel tersebut, sang penulis menulis:

“kita sekarang hidup dalam dunia yang dikuasai oleh wanita. Sebuah dunia yang menempatkan wanita jauh lebih tinggi daripada pria. Sebuah dunia yang pilih kasih pada wanita. Sebuah dunia yang timpang dan berat sebelah. Sebuah dunia yang membuat Anda, para pria, tidak lagi menjadi pria yang sesungguhnya, tapi menjadi pria yang terkekang oleh peraturan dan norma-norma yang ditentukan oleh wanita. Sebuah dunia yang membuat Anda tumbuh menjadi pria lossy.

Beberapa contoh sederhana:

* Pria harus bekerja dan berpenghasilan. Wanita boleh bekerja, boleh tidak.
* Di tempat kerja, wanita berhak untuk ijin sekali setiap bulan dengan alasan ‘datang bulan’. Wanita berhak untuk berekspresi dengan fashion, mewarnai rambut dan potongan yang berbeda-beda. Sedangkan pria harus potong pendek rapi, tidak boleh di warnai serta wajib memakai kemeja, dasi dan celana bahan.
* Pria masih dituntut untuk bisa mengerjakan ‘kerjaan’ pria, seperti mengganti ban mobil, menyetir kendaraan, memperbaiki komputer dsb. Wanita tidak lagi dituntut untuk bisa mengerjakan ‘kerjaan’ wanita, seperti masak, mencuci, dandan, dsb.
* Pria minta tolong pada wanita untuk mencuci pakaian, dia akan anggap itu merendahkan. Silakan minta tolong pada pria untuk mengangkat barang berat, ia akan melakukannya dengan senang hati.
* Pria wajib membayari wanita makan, sedangkan wanita tidak harus memasak untuk pria.
* Pria wajib membiayai keluarga. Wanita boleh ya, boleh tidak.
* Wanita selalu diprioritaskan dan diperlakukan spesial: tempat parkir khusus wanita, ladies nite di nite club, apabila ada musibah dahulukan wanita dan anak kecil biarkan pria mati duluan.
* Pria menggoda wanita secara vulgar disebut pelecehan dan dapat dilaporkan ke pihak berwenang. Wanita menggoda pria secara vulgar hanya disebut agresif dan apabila dilaporkan tidak akan ada yang percaya.
* Tidak apa-apa bila wanita menyentuh pria, tapi bila pria menyentuh wanita disebut tidak sopan.

Dan berkat media yang selalu menayangkan wanita cantik dan seksi, pria-pria jadi memuja kecantikan dibanding kepribadian seorang wanita. Akibatnya, wanita dapat melakukan apa saja yang buruk dan tidak berkenan namun para pria tetap saja berkumpul dan memperebutkannya…”

penulis artikel itu juga menulis, “Wanita dan pria adalah dua entitas yang berbeda, baik secara fisik maupun pisikis, maka secara logika istilah persamaan hak sangatlah absurd. Dan wanita sendiri pun tahu benar akan hal ini, oleh karena itu feminisme hanya menuntut persamaan hak, tapi tidak persamaan kewajiban. Dengan kata lain, wanita menginginkan semua keuntungan dan hak yang dimiliki pria namun tidak mau menjalani kewajiban yang dimiliki pria. Lebih simpelnya lagi: wanita mau yang enaknya saja.”

Lalu dia juga menulis, “Dewasa ini, wanita yang mampu mengalahkan pria di segala hal dianggap hebat dan dikagumi, dan pria yang tidak takut untuk menangis dan menunjukkan kelemahannya dianggap pria yang sejati.

Tapi jujur saja, tidak ada pria yang menyukai wanita yang kasar, dominan, tukang ngatur, terlalu girl power dan cuek. Sama seperti tidak ada wanita yang menyukai pria yang terlalu sensitif, sedikit-sedikit mellow, panik dan terbawa perasaan.”

Apakah Anda setuju?

Setelah membaca artikel tersebut, saya teringat pada kegiatan baksos Idul Adha yang diadakan suatu gerakan mahasiswa beberapa tahun yang lalu. Kalau ga salah 2 tahun yang lalu tepatnya.

Ketika itu, terjadi percecokan antara para panitia putra dan panitia putri. Masalah yang sepele, masalah cuci piring. panitia putri menginginkan bahwa panitia putra harus cuci piring. Panitia putra tidak mau cuci piring. lalu ada teman saya (panitia putra) berkata, “oke, kita yang putra sekarang cuci piring dan masak, tapi kalian yang pegangin kambing, bawa kambing kelapangan, ikut menyembelih kambing, dan menyayat kulit kambing, gimana mau?” ditanya seperti itu, para panitia putri langsung menolaknya. alasannya takut kotor lah, panaslah, dan banyak lagi alasannya…

Di lain kesempatan, aku mendengar para peserta putri menggunjng panitia putra bahwa mereka tidak pengertian dan tidak peka.

Para panitia putra menggunjing pula panitia putri bahwa mereka keterlaluan, masa panitia putra sudah harus berbau-bau dengan kambing, memegangin kambing, ikut menyembelih kambing, kepercikan darah kambing, panas-panasan disiang hari, ikutan menyayat kambing, ehhh masih pula harus cuci piring. gender sih gender, tapi kan ada batasannya.

Menurut Anda, siapa yang salah dalam hal ini? siapa yang tidak peka? siapa yang tidak perhatian?

Semoga baksos idul adha kali ini tidak ada lagi percekcokan seperti itu lagi dan bisa berbagi tugas dan peran dengan baik.

Gender bukan berarti setara dalam segala hal. Kalau boleh saya menafsirkan gender adalah sebuah keadaan dimana terjadi pembagian tugas, wewenang, hak, dan kewajiban yang sesuai dengan kodrat, potensi, minat, dan kemampuan masing-masing antara pria dan wanita. Ini hanyalah penafsiran saya. Anda boleh setuju atau tidak.

Dalam diskusi di note di facebook, teman saya, Chanif Ikhsan mengatakan, “Kalo saya  setuju dengan istilahnya ustad Okhirizal E.P. Yakni kesesuain dan keserasian gender bukan kesetaraan gender. Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi bukan untuk saling mendahului atau malah saling iri. Wanita dan pria mempunyai porsinya msing-masing dalam tugasnya. Adil bukan berarti harus sama. Sehingga ada kehormonisan antara keduanya. Adakalanya wanita harus membantu pekerjaan pria dan begitu jg sebaliknya.
Yang terpenting disini adalah saling memahami dan mengerti dan juga saling melengkapi.”

Teman saya yang lain, Muhammad Yusro mengatakan, “Wanita memang tidak mau peka sama pria. Oleh karena itu, pria seharusnya pengertian kalau wanita emang seperti itu yaitu mau enaknya saja. Kalau aku sih tidak masalah. Wanita mah emang gitu. turutin saja. Itung-itung manjain wanita. Tapi bukan berarti dijajah loh ya. Tapi kalau kelewatan, ya jangan mau. kalau sebatas cuci piring, its OK.”

Begitu juga Muhammad Aris mengatakan, “Wanita akan selamanya cantik jika mereka berada pada fitrah wanita: satu hal bahwa ia begitu lembut.”

Ada komentar lain? Apakah Anda sepakat?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: