Wanita Senang Digoda?

13 Desember 2009 pukul 14:47 | Ditulis dalam Perjalanan Hidup | 1 Komentar

Sebenarnya saya tipe orang yang pemalu dan pendiam. Saya juga termasuk orang yang sering grogi kalau ngobrol dengan gadis yang baru dikenal. Disamping itu, tidak terlalu bisa menggoda atau merayu wanita.

Dari pergaulan di kampus dan di lingkungan kos, saya menyimpulkan bahwa kebanyakan wanita itu senang sekali digoda. Sepertinya, kalau digoda itu, mereka merasa dirinya mempesona atau merasa dirinya menarik. Entahlah, saya ga terlalu paham dengan masalah ini.

Kalau sedang menemani teman saya yang sedang menggoda seorang gadis, saya suka sekali memperhatikan tingkah laku kecentilan dan kegenitan gadis itu.

Ketika semester-semester awal kuliah, terbersit niat untuk belajar menggoda dan merayu cewe. Saya buka google dan mulai mencari artikel tentang teknik-teknik merayu dan menggoda cewe. Saya juga mencoba memperhatikan dan mempelajari teknit-teknik  teman-teman saya ketika merayu cewe.

Setelah merasa cukup mendapat ilmunya, saya pikir sudah saatnya melakukan uji coba. Tetapi dalam hati kecil saya seperti ada yang memberontak yang mengatakan bahwa saya sudah keluar dari jati diri saya dan kepribadian saya. Tetapi nafsu untuk mencari pengalaman baru lebih kuat daripada pemberontakan itu.

Lalu saya mencari-cari siapa yang pantas menjadi sasaran uji coba. Karena ketika awal-awal kuliah itu saya aktif dalam beberapa lembaga dakwah, jadi saya lebih banyak kenal dan akrab sama “akhwat-akhwat” aktifis dakwah daripada cewe-cewe biasa. Saya juga ingin tahu, apakah akhwat-akhwat aktivis dakwah yang sudah banyak menimba ilmu agama dan berada di lingkungan yang islami itu kebal atau tidak dengan godaan cowo. Hipotesis awal saya, mereka tentu akan lebih kebal dengan godaan lelaki karena mereka sangat ketat dalam melakukan hubungan dengan lelaku bukan muhrim.

Akhirnya saya tertarik dengan seorang akhwat. Anggap saja namanya Siti. Saya lihat, kalau dia ngobrol dengan aktivis dakwah yang cowo (ikhwan), selalu menundukan pandangan atau memalingkan pandangan. Pernah saya kekosnya, dia tidak mau berhadapan langsung dengan saya, dia buka pintu kosnya sedikit lalu kita ngobrol, dia didalam kos dan saya diluar. Pintu kos itu menjadi hijab (pembatas) antara saya dan dia. Kalau rapat, antara pria dan wanita ada hijabnya dari kayu tripleks.

Awalnya kita hanya ngobrol masalah-masalah yang penting-penting saja, yaitu masalah organisasi. Ketika itu saya dan dia satu divisi. Lalu saya coba memberanikan diri kirim dia sms tausyiah (nasehat). Dia balas dengan sms tausyiah lagi. Awalnya kita hanya saling kirim sms tausyiah. Tahap kedua, saya ajak dia untuk ngobrol tentang masalah-masalah sehari-hari lewat sms. Lalu saya coba memberanikan diri sedikit “ngejailin dia” seperti ini,

Saya: “Sit, ada yang mau saya omongin, penting banget.”

Siti: “masalah apa?”

Saya: “ini masalah yang menyangkut hidup dan mati.”

Siti: “Apaan sih?”

Saya: “pokoknya kamu jangan kasih tahu siapa-siapa, janji yah.”

Siti: “iya saya janji, apaan?”

Saya: “Bener yah, janji? Soalnya ini penting banget, bahaya kalau banyak orang yang tahu.”

Siti: “iya..iya..saya janji, ayo cepet katakan, jangan buat aku penasaran.”

Saya: “sebenarnya saya ini…”

“ga jadi ah, takut aku.”

“tapi kamu janji yahh.. ga akan bilang siapa-siapa?”

Siti; “iya-iya, janji.”

Saya: “sebenarnya aku ini..”

“sebenarnya aku ini…., ga jadi ahh”

Siti: “Ah, mas surya nih nyebelin. Buat aku penasaran ja. Ya udah kalau ga mau cerita, ga apa-apa kok.”

Surya: “ya udah-udah, sekarang aku serius, aku mau bilang, sebenarnya aku ini…*sebagian teks hilang*”

“sebenarnya aku adalah supermen.”

Siti: “ihh, mas surya ini menyebin, kirain apaan”

Saya: “he..he..”

Sejak saat itu, kami sering bercanda, saling mengejek, saling meledek, dan saling menggoda. Saya merasa aneh dengan diri saya, kok bisa yah, saya melakukan semua ini. Padahal sebelumnya, saya tidak pernah melakukan ini. Setiap candaan dan godaan yang saya lontarkan seperti spontan keluar. Apa memang semua laki-laki itu ditakdirkan punya bakat menggoda cewe? Saya saja yang baru belajar dan seorang yang pendiam dan pemalu bisa melakukannya dengan spontan.

Hubungan kami berlanjut dengan saling memberi kado dan oleh-oleh. Kalau aku mudik ke garut dan dia juga mudik ke kota asalnya, ketika kembali ke jogja, kami saling bertukar oleh-oleh.

Hubungan kami cukup aneh, karena hanya lewat sms. Kalau ketemu dijalanpun paling hanya saling ngucapin salam, tidak lebih. Tetapi kalau di sms, wah hubungan kita sudah sangat jauh, lebih dari yang kubayangkan semula. Bahkan kalau aku minta sesuatu, tidak pernah dia menolak.

Sampai akhirnya saya ingat dengan janji saya sewaktu SMA, bahwa saya tidak akan melakukan hubungan yang serius dengan wanita apalagi sampai pacaran sampai aku sudah benar-benar siap untuk menikah. Saya juga berpikir, “ini anak, sama saya yang baru saja belajar menggoda cewe aja, dia jadi seperti ini, apalagi kalau dia digoda sama cowok yang lebih berpegalaman dari saya, apa jadinya dia?” saya merasa, dia kurang kuat memegang prinsip. Pertahanan hatinya jebol oleh saya yang masih pemula dalam melakukan hubungan dengan wanita. Saya juga merasa bahwa dia bukan wanita yang saya idam-idamkan untuk bisa kujadikan istri kelak.

Sebelum hubungan ini berlanjut lebih jauh lagi, akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan hubungan itu. Saya tidak bisa mengatakan hubungan itu sebagai pacaran, karena belum sempat saling menyatakan. Lagipula dia tipe orang yang berpaham bahwa pacaran itu haram. Mungkin lebih tepatnya hubungan kami disebut “HTS” hubungan tanpa status.

Ternyata dari pergaulan saya dengan teman-teman yang mengaku dirinya sebagai aktivis dakwah, banyak diantara mereka yang melakukan hubungan yang mirip dengan yang saya lakukan. Bahkan mungkin lebih jauh lagi. Disatu sisi mereka mengatakan bahwa pacaran itu haram, tetapi disisi lain, sifat kelaki-lakian mereka atau kewanitaan mereka mendorong mereka untuk saling memperhatikan dan saling menyukai satu dengan yang lainnya. Walaupun tidak dengan pacaran hanya saling bertukar sms tausyiah, ngobrol, bercanda, saling mengingatkan, dan akhirnya terucap janji kalau suatu hari nanti mereka akan menikah.

Saya pernah baca sebuah buku berjudul “Gombal Warning”. Buku tersebut menjelaskan tentang kegombalan-kegombalan yang sering dilakukan “ikhwan-ikhwan” aktivis dakwah terhadap “akhwat-akhwat” aktivis dakwah. Salah satu kesimpulan dari buku itu adalah bahwa kegombalan para ikhwan itu lebih canggih dan lebih dahsyat dibandingkan pria-pria pada umumnya. Dibuku tersebut dijelaskan tentang beberapa strategi dan teknik bagaimana para ikhwan tersebut melakukan aksinya. Penulis buku itu memberikan juga berbagai contoh nyata aksi para ikhwan “gombal”. Bagi para akhwat, buku itu bisa jadi pedoman dan peringatan supaya tidak menjadi akhwat “gampangan”. Dan bagi para ikhwan bisa jadi referensi bagaimana menaklukan hati para akhwat.

Oke, kita kembali ke tema tulisan ini.

Pada kisah kedua dan ketiga ini, saya hanya akan menceritakan hal-hal yang penting saja dan dipersingkat supaya tulisan ini tidak terlalu panjang.

Ketika masih kuliah di diploma 3 Ekonomi tepatnya ketika menempuh matakuliah Sistem Akuntansi di sementer pendek. Pak dosen memberikan tugas kelompok mencari sebuah perusahaan untuk diteliti sistem akuntansinya dan dibuatkan flow chart-nya. Tiap kelompok 3 orang. Dalam kelompokku itu, aku berkenalan dengan seorang cewe, sebut saja namanya Bunga. Bunga ini satu angkatan dibawah aku. Akibat mengerjakan tugas kelompok itu, saya jadi sangat akrab sama bunga karena temanku satu lagi, anggap saja namanya Mawar, dia kadang ga bisa ikut kerja kelompok.

Di sela-sela, sebelum, atau sesudah mengerjakan tugas kelompok, kami sering ngobrol banyak hal atau bercanda-canda, saling mengejek, atau saling menggoda. Bahkan kami sering sekali sms-an. Sampai-sampai dia sering curhat masalah pribadinya.

Sampai pada suatu hari, si Mawar cerita ke saya, i bunga cerita sama mawar bahwa si Bunga suka sama saya. Mendapat cerita seperti itu, saya antara percaya dan tidak percaya. Akhirnya, karena takut keblablasan lebih lanjut, saya memutuskan untuk mulai sedikit demi sedikit menjauhi bunga. Sampai akhirnya kami jarang saling hubungan lagi.

Kisah ketiga terjadi ketika lliburan lebaran tahun 2007. ketika itu saya ketemu sama saudara sepupu, sebut saja namanya Intan, yang sudah lama sekali tidak ketemu. Terakhir ketemu sebelumnya, ketika si Intan masih SD kelas 1. Ketika awal ketemu, saya coba menyapanya, tetapi tanggapan dia diluar dugaan saya. Dengan wajah yang cuek dia bilang, “siapa yah? Ga kenal.” Setelah bicara itu, langsung dia meninggalkan saya. Dapat perlakuan seperti itu, saya sebel banget, kesel, agak marah, pokoknya campur aduk. Dalam hati saya berkata, “nih anak sombong banget, awas yah…..”

Kebetulan tahun itu, pertemuan keluarga diselenggarakan di rumah saya. Otomatis dia datang kerumah saya. Dari sana dia mulai mengenal saya. Saudara-saudara sepupu saya sering sekali mengoda Intan. Samapai beberapa kali dia kelihatan cemberut bahkan sampai nangis. Sebagai seorang sepupu yang baik, ketika dia dalam keadaan seperti itu, biasanya saya coba temani dia. Tetapi ketika dia sudah kembali normal, sepupu saya kembali godain dia. Apa saya ikut godain dia? Tentu saja saya ikutan godain dia, hanya saja tidak sampai membuat dia menangis.

Sehabis pertemuan keluarga, saya bersama beberapa sepupu dan paman, pergi ke pantai pamengpeuk di selatan kota Garut. Selama perjalanan saya dan Intan duduk bersebelahan. Selama perjalanan dan selama disana, kami saling bercanda, saling menggoda, saling mengejek, curhat, dan banyak lagi.

Seminggu kami lalui waktu bersama. Sampai akhirnya waktu perpisahanpun tiba. Dia kembali ke Bandung dan saya ke Jogja beberapa hari setelah dia pulang. Ketika perpisahan itu dia kelihatan sedih sekali. Tiba-tiba saya dapat sms dari sepupu saya yang menemani Intan pulang bahwa selama perjalanan dari Garut ke Bandung Intan menangis karena harus berpisah dengan saya dan saya diminta menelpon dia. Pikirku ketika itu, kok bisa yah dia menangis karena berpisah denganku. Kenapa hanya sama saya? Padahalkan selama liburan seminggu itu yang bermain sama dia bukan hanya saya, tetapi banyak sepupu-sepupu yang lain juga ikut. Yang godain atau ledekin dia juga bukan hanya saya, kenapa kok dia nangisnya hanya karena berpisah dengan saya? Apa yang sudah saya lakukan selama seminggu itu sampai membuat dia menangis?

Setelah perpisahan itu, intan sering menelpon saya. Dia sering curhat, berbagi kisah, dan lain-lain termasuk saling mengejek, atau saling mengoda. Kadang kala ketika dia menelpon saya, teman-teman kos saya mengira yang menelpon saya itu adalah pacara saya. Akhirnya saya harus melakukan klarifikasi bahwa yang menelpon itu adalah saudara sepupu saya.

Sebenarnya saya punya 3 kisah lagi mengenai masalah ini. Mungkin bisa menjadi contoh yang bisa memperkuat argumentasi bahwa kebanyakan wanita senang digoda pria. Tetapi, saya merasa tulisan ini sudah terlalu panjang untuk tulisan yang akan posting di blog dan catatan di facebook. Oleh karena itu, lebih baik saya cerita di lain tulisan dan segera masuk pada inti pesan yang ingin saya sampaikan.

Saya tidak mengatakan bahwa semua wanita suka digoda. Tidak sama sekali. Tetapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa kebanyakan wanita suka digoda. Apalagi kalau yang menggodanya adalah orang yang spesial baginya. Misalnya digoda sama suaminya.

Saya pikir (masih hipotesis perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya), setiap laki-laki memiliki potensi keahlian dalam hal menggoda wanita. Alangkah baiknya kalau potensi ini disalurkan kepada wanita yang sudah dinikahinya. Saya pikir, potensi ini sangat penting untuk membuat hubungan suami istri berjalan harmonis dan penuh kebahagiaan. Saya tidak bisa membayangkan kalau dalam sebuah hubungan suami istri, si suami tidak pernah menggoda istrinya, betapa kering keluarga itu. Betapa merananya sang Istri yang mendapatkan suami seperti itu.

Sebaliknya, kalau si Istri tidak mempan digoda. Wah, kayaknya si suami bakalan ada keinginan melakukan poligami. Kayaknya, hubungan suami istri tanpa ada saling menggoda seperti makan sayur tanpa garam. Oleh karena itu, saya hanya berminat sama wanita (untuk dijadikan istri) yang senang digoda, tetapi ada syaratnya! Setelah ini akan saya bahas secara singkat.

Satuhal yang penting, bahwa kalau menggoda wanita itu, jangan keterlaluan. Lebih baik natural saja. Lalu bagaimana cara menggoda yang natural? Itu pembahasannya panjang, saya tidak akan membahasnya di sini. Tulisan itu sudah terlalu panjang untuk di upload di facebook atau blog. Yang jelas, semua pria pasti pernah atau mampu melakukannya.

Jujur, bagi diri saya sendiri, saya lebih tertarik pada wanita yang teguh dalam memegang prinsip. Dia tidak mudah dirayu dan digoda oleh pria. Mereka punya prinsip bahwa yang boleh merayu dan menggodanya hanyalah suaminya. Hanya dengan suaminyalah mereka  bersikap centil dan genit. Bukan dengan pria sembarangan. Saya berharap mendapatkan seorang istri yang memegang teguh prinsip ini.

Hanya dari wanita seperti ini saya berharap akan mendapatkan anak-anak yang teguh dalam memegang prinsip agama. Hanya dari wanita yang teguh memegang prinsip yang akan melahirkan anak-anak yang teguh memegang prinsip.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wkwkwkwkwk….cerita diatas hampir mirip dengan saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: