Pacaran Islami, Sebuah Pengantar

18 Desember 2009 pukul 16:20 | Ditulis dalam Pria Romantis | Tinggalkan komentar

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

Akhir bulan Desember 2009, ada beberapa teman yang anti pacaran mengkritik saya karena menyebarkan faham pacaran Islami. “Emang ada pacaran Islami?” itu yang sering mereka katakan pada saya.

Sebenarnya saya sudah males membahas masalah ini, karena sudah 3 tahun yang lalu atau tepatnya tahun 2005-2006 saya melakukan penelitian kecil mengenai masalah ini. Tetapi karena dalam masalah ini, masih banyak teman-teman dekat saya yang belum mengerti, akhirnya saya buat tulisan ini. Tulisan ini hanyalah sebuah pengantar sepintas saja. Kalau ingin mempelajari lebih lanjut, buka saja blog Pak Muhammad Shodiq http://pacaranislami.wordpress.com/ disana dibahas dan didiskusikan (bahkan terjadi perdebatan) lebih lanjut tentang pacaran Islami.

Tujuan saya menulis tulisan ini adalah memberikan penjelasan kepada teman-teman terdekat saya tentang sebuah konsep hubungan pra-nikah, dimana beberapa diantara mereka masih sering bertanya tentang hukum pacaran, seperti apa pacaran yang Islami, seperti apa teknik hubungan pra-nikah, dan lain-lainnya. Kalau saya jelaskan secara lisan terus, kan lumayan capek juga. Mendingan ditulis melalui sebuah tulisan. Sehingga bisa dibaca oleh banyak teman-teman saya tadi. Saya tingga melayani pertanyaan-pertanyaan pengembangan dari konsep ini saja. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad saw untuk tidak menyembunyikan ilmu, maka saya menulis tulisan ini.

Wacana ini bukan wacana baru, tetapi sudah lama. Tulisan ini hanyalah ringkasan dari banyak tulisan serupa yang sudah terbit dan bahkan sudah diterbitkan melalui banyak  buku oleh beberapa penulis. Hanya saja belum banyak orang yang membacanya. Wacana yang lebih dulu berkembang  dan sudah tersebar luas dikalangan para aktivis dakwah adalah pacaran itu haram. Padahal ada wacana lain atau paham lain yang sedikit berbeda dengan pendekatan berbeda.

Sebaiknya kita berpikiran terbuka dengan berbagai wacana atau pendapat yang ada. Ingat pesan KH Mas Mansur dalam buku “12 Tafsir Langkah Muhammadiyah” untuk selalu memperluas faham agama. Memperluas faham agama bisa dimaknai, kita terbuka dengan pendapat paham lain yang berbeda dengan yang kita yakini. setalah itu memcoba membandingkan paham yang berbeda itu dengan faham yang sedang kita yakini. Setelah itu, paham yang memiliki argumentasi yang paling kuat, itulah yang kita praktekan kedepannya.

Bagi pembaca yang masih jomlo, tulisan ini saya harapkan bisa menjadi inspirasi untuk melakukan pacaran dengan cara yang sehat dan tidak melanggar etika pergaulan yang Islami. Insya Allah, saya akan menjelaskannya di akhir-akhir tulisan ini.

Dosen mata kuliah teori akuntansi saya, pak Suwardjono, mendoktrin saya dengan berkata, “Praktek yang sehat harus dilandasi oleh teori yang kuat.” Hal ini senada dengan semboyan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, “Berilmu amaliah, beramal ilmiah.” Dan sejalan pula dengan nasehat almarhum Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengurutkan: ilmu-amal-dakwah-sabar dalam menjalani proses (sabar dalam mencari ilmu, mengamalkan ilmu, dan berdakwah).

Oleh karena itu, sebelum kita melakukan sebuah hubungan pra-nikah, kita harus belajar terlebih dahulu tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hal tersebut. Setelah itu, dalam menjalani praktek hubungan pra-nikah harus dilandari atau sesuai dengan ilmi-ilmu yang sudah kita pelajari.

Tahap selanjutnya adalah, kita JANGAN menyembunyikan ilmu yang sudah kita dapat dari proses belajar kita dan dari proses pengalaman praktek kita. Kita sebarkan ilmu yang kita punya kepada orang lain yang membutuhkannya. Dalam menjalani semua proses ini, kita harus sabar, lalui setiap tahap dengan tekun dan istiqamah. Dan jangan lupa untuk selalu bersyukur atas setiap tahap yang berhasil kita lalui. Dan yang terpenting adalah kita menjalani proses ini dengan tujuan untuk mendapat ridho, petunjuk, dan rahmat Allah SWT.

Tulisan ini hanyalah pengembangan dari wacana pacaran Islami melalui perspetif  saya, pengalaman saya dan pengalaman teman-teman saya. Kalau Anda punya pendapat yang berbeda dengan saya, atau tambahan pengembangan wacana ini, komentar, saran, kritik, atau apapun silahkan menuliskannya di kolom komentar. Saya sangat mengharapkan tulisan komentar Anda ditulisan dengan kalimat yang santun, ada argumentasinya, dan tidak melakukan penilaian sebelum membaca seluruh tulisan ini.

SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam tulisan saya kali ini, saya akan membahas tentang urgensi dan tujuan dari hubungan pranikah yang di perintahkan oleh Nabi Muhammad SAW beserta strategi bagaimana mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut merupakan tema dari tulisan ini.

Untuk membantu memudahkan pemahaman pembaca, saya menggunakan istilah pacaran untuk menggantikan istilah hubungan pranikah. Adapun alasannya, saya jelaskan ketika membahas asumsi yang dipakai. Setelah membahas asumsi yang dipakai dalam tulisan ini, saya melanjutkan pembahsan mengenai definisi pacaran dengan tujuan untuk menyamakan pemahaman pembaca mengenai makna pacaran dalam tulisan ini sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran. Selanjutnya, saya membahas tentang perbedaan pacaran dengan ta’aruf, definisi pacaran Islami, hukum pacaran dalam Islam, bentuk pacaran Islami, contoh pacaran Islami, kisah pengalaman pribadi, dan diakhiri dengan bentuk pacaran Islami yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA.

Tema dari tulisan ini dijelaskan lebih detail ketika saya menjelaskan tentang bentuk pacaran Islami. Untuk lebih memperjelas bentuk pacaran Islami, saya akan membuat sebuah ilustrasi contoh pacaran Islami.

ASUMSI YANG DIPAKAI

Sebelum saya merumuskan asumsi yang dipakai dalam pembuatan tulisan ini, maka terlebih dahulu saya akan sedikit bercerita secara singkat kisah yang saya alami yang menjadi dasar atau latar belakang bagi saya dalam merumuskan asumsi yang akan dipakai.

Sewaktu saya masuk orginisasi rohis (kerohanian siswa) di SMA, pebimbing  rohis saya ketika itu seorang mahasiswa. Dia selalu menyerukan bahwa pacaran itu haram atau Islam tidak mengenal pacaran. Begitu juga murobi saya ketika SMA juga menyatakan pacaran itu haram. Senior saya di rohis tersebut juga menyatakan pacaran itu haram.

Tetapi terjadi suatu keanehan. Pebimbing rohis, sebut saja namanya Kang Cepi dan seorang senior saya, sebut saja Kang Dedi, mereka melakukan hubungan yang spesial dengan dua orang teman rohis saya. Ketika ditanya, apakah mereka pacaran, mereka tegas menjawab bahwa mereka tidak pacaran. Mereka selalu menjawab bahwa hubungan mereka itu namanya “hitbah”.

Ketika itu, saya sangat dekat dengan Kang Dedi. Dia sering tidur di rumah saya. Kami sering kemana-mana bersama. Oleh kerena itu, saya banyak tahu apa yang dilakukan dia dengan akhwat spesialnya, sebut saja namanya Teh Mulan. Lalu saya membuat pemetaan perbedaan pacaran dengan hitbah, kira-kira seperti ini:
kalau dalam pacaran, ada aktivitas duduk berdekatan sambil ngobrol, ada adegan bergandengan tangan, boncengan, atau jalan bereng berdekatan. Kalau dalam hitbah, ngobrolnya berjauhan, kalau jalan bareng, juga menjaga jarak. Ngobrolnya di dalam mushola sekalah dengan menjag jarak.
baik pacaran maupun hitbah sama-sama ada aktivitas saling telpon-telponan (dulu mereka belumpunya hp jadi ga ada sms-an). Cuma bedanya, isi dari apa yang mereka obrolkan. Kalau pacaran, yah seperti itulah ga perlu saya jelaskan kalian pasti tahu. Kalau hitbah, sama ada saling canda tawa, tetapi ada juga saling memberi tausyiah, semangat, saling mengingatkan. Misalnya, “sudah sholat tahajud belum?”, “hari ini sudah tilawah berapa halaman”, dan lain-lain, mungkin Anda semua bisa menebaknya apa saja yang sering mereka saling ingatkan.
kalau pacaran, akadnya “mau ga kamu jadi pacarku?” kalau hitbah, akadnya “Aku mencintai kamu karena Allah, aku ingin menghitbahmu, maukah kamu kuhitbah?”

Anda bisa membedakannya kan? Setelah saya kuliah, lalu saya juga aktif di beberapa lembaga dakwah yang dikelola mahasiswa. Saya menemukan hal yang mirip dengan hitbah. Hanya saja kebanyakan tanpa akad, tetapi aktivitas didalamnya sangat mirip dengan konsep hitbah yang saya jelaskan diatas. Biasanya kami mengistilahi dengan istilah “hubungan tanpa status” atau “Adik tapi mesra”. Kalau si ikhwan dan si akhwat ketemu, mereka ngobrol dengan menjaga jarak. Tetapi mereka sering saling kirim sms tausyiah, sms saling mengingatkan, saling curhat, saling bercanda, kalau sms-an tidak boleh lebih dari jam 10 malam, dan diam-diam mereka berjanji untuk meneruskan hubungan mereka kedepan menuju pernikahan. Kalau ditanya pada mereka tentang pacaran, mereka dengan lantang dan tegas menjawab, “pacaran itu haram dan tidak ada dalam Islam.” Mereka juga sering mengistilahi aktivitas mereka ini dengan istilah “Ta’aruf”. Mereka selalu bersikeras bahwa ta’aruf itu beda dengan pacaran. Aku selalu menjawab dalam hati “terserah kalianlah mau pakai istilah apa.”

Saya punya teman, anggap saja namanya Mas Sang, dia selalu dengan tegas menyatakan bahwa dalam Islam tidak mengenal pacaran atau tidak ada itu pacaran Islami, pacaran Islami itu cuma mengada-ngada saja. Saya menghargai pendapatnya itu. Beberapa bulan terakhir ini, saya sering melihat dia jadi sering sekali sms-an, saya coba berbaik sangka mungkin hanya sms-an dengan teman. Terus saya juga sering memergoki dia telpon-telponan dengan seorang akhwat (saya tahu karena speaker hp-nya agak keras, sedikit terdengar suara akhwat kalau saya ada tak jauh duduk di sampingnya yang sedang telponan). Saya juga coba baik sangka mungkin hanya temannya. Suatu ketika, ketika hendak membayar di kasir sehabis makan bareng, dia membuka dompetnya, saya melihat dengan jelas ada foto akhwat di dompetnya. Lalu saya bertanya, siapa wanita yang ada didompetnya, dia menjawab, “adik ipar saya”. Sebuah jawaban yang aneh, super aneh sekali karena adiknya belum menikah. Lebih baik saya berbaik sangka saja bahwa ucapannya benar, tidak ada pentingnya bagi saya mau dia berkata jujur atau bohong. Tiba-tiba, saya mendengar kabar dari seorang teman, bahwa dia sudah punya calon istri dan sudah ketemu dengan calon mertunya. Lalu saya coba melakukan komfirmasi, dia mengelak berita tersebut. Yah sudah lah. Tetapi akhirnya dia mengaku juga bahwa berita itu benar, dia sudah punya calon, dan dia sudah sangat ingin menikahinya hanya saja belum ada restu dari orang tua. Ketika ditanya apa mereka pacaran, dia menjawab, bahwa dia tidak pacaran. Dalam hatiku bertanya, “Lalu apa namanya bentuk hubungan yang kalian lakukan selama ini kalau bukan pacaran? Ta’arufkah? Hitbahkah? Tanazurkah? Hubungan tanpa status? Adik tapi mesra? Atau bentuk hubungan tanpa nama? Terserah kamulah mau pakai istikah apa.”

Menurut saya, yang terpenting itu bukan istilah yang dipakai, tetapi substansi dari apa yang dilakukan. Mau itu diistilahi pacaran, ta’aruf, hitbah, tanazur, hubungan tanpa status, adik tapi mesra, kakak tapi mesra, Adik Ketemu gede, atau apalah itu, menurut saya itu tidak penting. Suatu hal mungkin orang-orang menamainya berbeda-beda, meskipun substansi didalamnya mungkin sama saja.

Sebenarnya saya tidak mau terjebak dalam perdebatan dalam perbedaan istilah yang digunakan. Terserah mau menamai sebuah bentuk hubungan itu dengan istilah pacaran, ta’aruf, hitbah, atau apapun itu. Dalam tulisan saya terdahulu, saya lebih senang menggunakan istilah hubungan pra-nikah karena tidak mau masuk dalam perbedaan/perdebatan penggunaan istilah. Yang saya pikirkan adalah substansi harus lebih dipentingkan dan didahulukan daripada penggunaan istilah. Terserah orang-orang mau menamainya apa, yang penting konsep, dasar, dan bentuknya jelas.

Adapun pemakaian kata pacaran dalam tulisan ini, hanyalah untuk memudahkan pembahasan, karena istilah pacaran lebih mudah dipahami oleh kalangan awam maupun kalangan aktivis dakwah. Istilah ini hanyalah sebagai alat bantu menjelaskan saja bukan substansi dari apa yang saya tulis.

Saya sadari bahwa pengertian atau makna pacaran itu beraneka ragam, seseorang mungkin memaknai pacaran berbeda dengan orang lain. Oleh karena itu, supaya pemahaman para pembaca tulisan ini sama dalam memahami makna istilah “pacaran” yang ada di tulisa ini, maka saya akan merumuskan pengertian pacaran menurut saya dimana istilah tersebut akan banyak Anda ditemukan dalam tulisan ini. Jadi makna istilah pacaran yang dimaksud dari tulisan ini adalah seperti yang saya akan rumuskan. Kalau pembaca punya pengertian yang berbeda dengan yang saya rumuskan, itu sah-sah saja tetapi ketika membaca tulisan ini, makna “ pacaran” yang dimaksud adalah seperti yang akan saya rumuskan, bukan makna pacaran yang Anda pahami. Sekali lagi saya tegaskan bahwa asumsi pengertian pacaran yang digunakan dalam tulisan ini adalah seperti yang saya rumuskan.

DEFINISI PACARAN

Kesimpulan saya setelah mempelajari hal ini adalah sebenarnya pihak yang menentang pacaran Islami atau pendukung pacaran islami, intinya tuh sama hanya tertadi perbedaan pendefinisian atau pemaknaan atau penafsiran istilah “pacaran”. Definisi pacaran itu banyak sekali. Tergantung sudut pandang mana orang yang mendefinisikan atau menafsirkannya. Perbedaan definisi bisa mengakibatkan perbedaan dalam kesimpulan apakah pacaran itu boleh atau tidak.

Menurut pengamatan saya setelah mempelajari hal ini, ada dua cara/ perspektif secara umum yang digunakan orang dalam melakukan pendefinisian istilah pacaran. Pertama, mendefinisikan “pacaran” dari realitas yang terjadi di lapangan; dan yang kedua, melakukan pendefinisian “pacaran” dari asal kata pacaran itu sendiri.

Berikut ini saya kutipkan pengertian pacaran menggunakan cara pertama, pacaran adalah: (selengkapnya baca http://wppi.wordpress.com/2007/11/25/definisi-pacaran-sangat-jelas/)

1. “Pacaran adalah aktivitas menumpahkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis.” (JNC: 58)

2. “Pacaran adalah hubungan antara cowok dan cewek yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar”. Demikian definisi yang dikemukakan Reiss dalam buku Marriage and Family Development karangan Duval and Miller, keluaran tahun 1985”

3. “Disebut “berpacaran” itu adalah ketika hubungan diantara mereka ditandai dengan “keintiman”, “perasaan cinta”, dan yang terpenting “saling mengakui pasangan sebagai pacar”

4. “Pacaran yang nggak jelas definisinya itu, sebenarnya cuma ekspresi … perasaan ‘suka’ pada lawan jenis, terus ditindaklanjuti dengan perilaku-perilaku yang dianggap romantis dan kemudian publik memberikan pengakuan si A pacaran dengan si B, si A pacarnya si B.” (KHP: 113) “Pokoknya yang namanya pacaran tuh, hubungan laki-laki perempuan yang bukan muhrim dalam sebuah komitmen selain Nikah! Titik.” (KHP: 114)

5. “pacaran adalah aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Islam (haram).” (JNC: 71)

6.KBBI, kamus resmi bahasa kita. Buku PIA mengungkap: “Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar]. Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.” (PIA: 19) “Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.” (PIA: 20)

7. “Pacaran adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (antara lain dengan saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditetapkan bersama) dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap (yang hubungannya berdasarkan cinta-kasih). Singkatnya, pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap.”

Dan masih banyak lagi. Beda orang atau beda lembaga, beda juga dalam mendefinisikan pacaran kalau kita menggunakan cara yang pertama ini karena beda orang beda juga sudut pandang yang digunakan.

Sedangkan pengertian pacaran dengan cara kedua adalah sebagai berikut:
“Kata “pacar” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno). Artinya: “calon pengantin“. Kata ini kemudian mendapat akhiran “-an” yang bermakna kegiatan. Jadi, pacaran adalah “aktivitas calon pengantin” atau aktivitas persiapan menikah.” Kalau kita gabungkan menjadi: “aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan.”
selengkapnya baca http://pacaranislami.wordpress.com/2008/07/05/pacaran-sesudah-menikah-lebih-nikmat/
http://thesecretgardenofme.multiply.com/journal/item/3/Arti_Nama_dalam_Bahasa_Kawi

Kalau saya sendiri lebih cocok menggunakan cara kedua karena maknanya lebih pasti. Oleh karena itu, saya mendefinisikan pacaran seperti cara kedua yaitu “aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan.”

PACARAN VS TA’ARUF

Orang yang mengharamkan pacaran lebih senang menggunakan istilah ta’aruf daripada pacaran untuk mengistilahi aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan. Saya kurang sependapat karena kata ta’aruf artinya saling kenal. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Jadi, istilah ta’aruf itu lebih luas yaitu saling kenal dengan siapapun, baik itu sesama laki-laki, sesama perempuan atau laki-laki dengan perempuan. Istilah ta’aruf itu istilah yang sangat umum. Hanya dalam lingkungan para aktivis dakwah di Indonesia yang mengharamkan pacaran, istilah ta’aruf itu maknanya dipersempit jadi perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan menikah atau taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.

Saya lebih senang menggunakan istilah pacaran daripada ta’aruf karena:
1. makna pacaran lebih khusus daripada ta’aruf. Pacaran lebih khusus dilakukan oleh orang yang mau menikah sedangkan sedangkan ta’aruf maknanya lebih umum karena boleh dilakukan oleh siapa saja dengan tujuan yang tidak hanya untuk menikah.
2. Dalam aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan tidak hanya ada aktivitas saling kenal, tetapi didalamnya ada aktifitas untuk bisa saling memahami, aktivitas mencari hal-hal yang bisa menimbulkan rasa cinta, ada aktivitas mencari informasi tentang si “dia”, dan aktivitas saling pengertian. Insya Allah saya akan jelaskan lebih lanjut tentang hal ini.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang ngaku-ngaku pacaran yang dilakukan oleh kebanyakan muda mudi dewasa ini? Berarti mereka bukan pacaran? Lalu apa?

Menurut saya, tergantung tujuannya. Apakah yang mereka lakukan itu untuk tujuan pernikahan atau bukan. Kalau bukan untuk tujuan menuju pernikahan, menurut saya bukan pacaran karena melanggar arti kata pacar itu sendiri yaitu calon pengantin. Kalau si Ahmad mengatakan “si Siti adalah pacarku” sama saja artinya dia berkata “si Siti adalah calon pengantinku.” Menurut saya itu sama juga artinya dengan “si Siti adalah calon istriku”. Saya pikir, kalau orang sudah berkata seperti itu, berarti dia sudah ada tujuan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Kalau ternyata tidak ada niatan dari kedua pihak untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, menurut saya itu bukan pacaran tetapi “pacar-pacaran”,  makna pengulangan kata berakhiran -an dalam kata tersebut sama dengan makna dalam kata “mobil-mobilan” atau “rumah-rumahan”.

DEFINISI PACARAN ISLAMI

Lalu adakah pacaran yang Islami?
Makna pacaran yang saya ambil yaitu aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan, sebenarnya maknanya masih sangat umum, dalam artian, aktivitas tersebut bisa dilakukan dengan melanggar kode etik pergaulan pria-wanita bukan muhrim yang Islami (berduaan ditempat yang sepi, berciuman, ngobrol yang tidak bermanfaat, berpelukan, dan lain-lain) atau dilakukan dengan tidak melanggar ketentuan kode etik tersebut.

Oleh karena itu, saya mempersempit makna pacaran dengan menambahkan kata Islami dibelakangnya. Sehingga saya membuat definisi pacaran islami adalah aktivitas calon pengantin dalam rangka persiapan menuju pernikahan yang dalam melakukan aktivitasnya tersebut tidak melanggar kode etik pergaulan pria-wanita bukan muhrim yang Islami.

HUKUM PACARAN

Pacaran termasuk perkara muamalah (keduniawian), dimana ulama usul fiqih sepakat bahwa dalam setiap perkara muamalah berlaku kaidah bahwa hukum asal dalam muamalah adalah mubah (diperbolehkan), kecuali terdapat nash yang shahih dan sharih melarangnya. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu (dalam hal muamalah) itu dilarang sepanjang belum/ tidak ditemukan nash yang secara shahih dan sharih (secara jelas) melarangnya.

Kita tidak bisa mengatakan pacaran itu haram sebelum ada nash yang shahih dan sharih yang melarangnya. Sampai saat ini, saya belum menemukan dalil yang secara shahih dan sharih yang melarang pacaran.

Tetapi ingat, dalam kajian masalah muamalah tidak berhenti sampai disini. Ada kaidah-kaidah usul fikih lain yang harus diperhatikan atau dijadiklan parameter apakah suatu perkara muamalah itu haram, makruh, mubah, atau halal. Apa saja kaidah usul fikih itu? Sangat banyak sekali, kadang kala redaksi satu ulama usul  fikih dengan ulama usul fikih lain berbeda tetapi memiliki makna atau tujuan yang sama. Dalam kesempatan ini, saya akan sebutkan sebagiannya saja yang menurut pendapat saya sangat relevan dengan pembahasan ini.
Pada dasarnya semua bentuk muamalah (perkara yang sifatnya keduniawian) boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.
menghindarkan mafsadat (kerusakan atau bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.
Segala Bahaya (beban berat atau kerugian) harus dihilangkan.
Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat mungkin
Di mana terdapat kemaslahatan, disana terdapat hukum Allah.
Kesulitan itu dapat menarik kemudahan
Keperluan itu dapat menduduki posisi darurat
Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syariat)
Sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib ada

Satu hal lagi yang harus dijadikan perhatian dalam kajian fikih muamalah. Bahwa hukum atas sesuatu hal itu didasarkan bukan pada definisi dari sebuah istilah tetapi didasarkan pada substansi dari istilah. Contohnya, istilah makan. Kita tidak bisa mengatakan makan itu haram atau halal sebelum melihat substansi dari apa yang dia makan, apakah yang dimakan itu daging babi atau nasi? apakah nasi itu didapat dengan cara usaha yang halal atau haram? Contoh lain, membunuh, tidak bisa dikatakan hukumnya haram sebelum melihat substansi apa yang dibunuh. Kalau membunuh nyamuk penyebab demam berdarah atau  malaria, malah hukumnya wajib.

Begitu juga dengan pacaran. Kita tidak bisa mengatakan pacaran itu haram atau mubah sebelum mengetahui substansi dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam aktivitas pacaran itu sendiri. Oke saya akan memberikan contoh tentang masalah ini. Kalau kamu berpendapat bahwa pengertian pacaran itu adalah aktivitas menumpahkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis (lihat pembahasan definisi pacaran yang telah saya bahas diatas nomor 1), pengertian ini belum menggambarkan substansi dari perbuatan-perbuatan seperti apa yang dilakukan untuk menumpakhkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis. Penumpahan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis yang bukan mahram bisa dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama (seperti berduaan, berpelukan, atau berciuman) atau dengan tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama. Jadi pengertian ini belum menggambarkan substansi dari pacaran sehingga belum bisa disimpulkan apakah pacaran itu haram atau halal. Begitu juga dengan definisi nomor 2, 3, 4, dan 6 (yang saya jelaskan diawal pembahasan tulisan ini).

Tetapi kalau Anda sependapat dengan pendefinisian pacaran dipoin 5 yaitu aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Islam (haram), definisi ini sudah menjelaskan substansi dari perbuatan yang ada dalam pacaran yaitu perbuatan-perbuatan baku syahwat yang dilarang oleh Islam. Jelas kalau definisi pacaran seperti ini, saya dan Anda sepakat bahwa pacaran itu haram.

Lalu bagaimana dengan Pacaran Islami dengan asumsi definisi pacaran Islami seperti yang saya buat? Silahkan Anda simpulkan sendiri setelah selesai membaca semua tulisan ini karena sebelum kita menyimpulkan sebuah hukum, kita harus mengetahui segala sesuatu hal yang berkaitan dengan apa yang mau dihukumi tersebut (dalam hal ini pacaran Islami) terutama masalah substansinya. Jadi, jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.

BENTUK PACARAN ISLAMI

Menurut saya, setelah mempelajari masalah ini, menyimpulkan bahwa tujuan pacaran islami adalah: pertama, seseorang melakukan pacaran Islami bertujuan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pacarnya; dan yang kedua, tujuan kedua ini merupakan turunan dari tujuan pertama, atau lebih khusus dari tujuan pertama, yaitu mencari hal-hal yang ada di diri pacarnya yang membuat dia mencintainya dan berminat menikahinya. Kalau seseorang sudah mengetahui hal-hal tersebut, maka langkah selanjutnya, dia harus membuat sebuah keputusan apakah mau melanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak melanjutkan hubungan (putus). Bila keputusannya tidak melanjutkan hubungan, dia haram hukumnya menyebarluaskan apa-apa yang sudah dia ketahui mengenai mantan pacarnya kepada orang lain tanpa seizin dari  mantan pacarnya karena hal tersebut bisa masuk pada kategori ghibah yang dilarang.

Tujuan Pertama, Mencari Informasi Sebanyak-banyaknya
Tujuan pertama ini didasarkan pada dua hal:
Di zaman nabi, pernah ada seorang pemuda muslim datang kepada beliau seraya berkata, “Saya telah meminang seorang wanita anshor.” Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau telah melihatnya?” dia menjawab, “belum.” Beliau bersabda, “lihatlah kepadanya, karena pada mata orang-orang Anshor itu (biasanya) ada sesuatu (cacat).”

Selain itu, Al Mughirah bin syu’bah pernah meminta izin atau memberi tahu kepada nabi SAW bahwa dia hendak meminang seorang wanita, lalu nabi SAW bertanya, “Apakah engkau telah melihatnya?” dia menjawab, “Belum.” Kemudia beliau bersabda, “Lihatlah dia, karena yang demikian itu lebih menjamin untuk melangsungkan hubungan kamu berdua.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Satu lagi, diriwayatkan dari jabir bin Abdullah r.a. bahwa dia bercerita tentang istrinya setelah dinikahinya, katanya, “Sesungguhnya saya dulu bersembunyi dibawah pohon untuk melihatnya (istrinya), sehingga saya dapat melihat sebagian dari sesuatunya yang dapat mendorong saya untuk mengawininya.”

Banyak sekali berita yang menceritakan dimana setelah menikah salah satu pasangan mengalami penyesalan atau mengeluhkan pasangannya yang tidak sesuai harapannya. Misalnya ternyata sang suami selalu berlaku kasar, sering marah-marah, atau tukang selingkuh. Atau suaminya melarangnya bekerja padahal dia ingin jadi wanita karir yang sukses juga dalam mengus keluarga. Atau ada juga yang mengeluh karena ternyata istrinya ga bisa masak atau materialistis. Nah karena itulah, untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan inilah maka sebelum memutuskan menikahi seseorang, carilah informasi sebanyal-banyaknya tentang pacar.

Kata “melihat” bisa dimaknai sebagai memperhatikan dengan sungguh-sungguh untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang si dia. Diantara informasi yang perlu diketahui yang disarankan Nabi dalam sabdanya diatas adalah cacat dari pacar kita. Cacat disini bisa dimaknai sebagai cacat fisik, kelemahan dia, atau kebiasaan jelek..Setelah mengetahui semua ini, tanyakan pada diri sendiri, “apakah saya siap menerima seorang istri/ suami dengan memiliki keterbatasan dalam………….” kalau jawabannya tidak, lebih baik tidak meneruskan hubungan, tetapi bila jawabannya bisa menerima, lanjutkan pada pertanyaan, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bisa merubah kekurangannya itu, atau menutupi cacatnya itu?”

Misalnya, kita dapat informasi, ternyata pacar Anda itu suka ngorok kalau tidur. Apakah Anda bisa menerimanya? Kalau Anda sudah terbiasa tidur dalam situasi ribut, ya tidak masalah, tetap kalau Anda tipe orang yang tidak bisa tidur dengan orang yang ngorok, coba Anda pikir-pikir lagi. Apakah Anda mau seumur hidup ga bisa tidur nyenyak karena mendengar ngorok suami/ istri Anda? Atau anda mengakalinya misalnya membeli alat untuk menutup telinga ketika tidur, atau mengatantarkan suami/ istri Anda nantinya berobat.

Tidak ada manusia yang sempurna. Justru dengan pernikahan itulah waktunya saling mengisi kekuranga, saling melengkapi, dan saling menutupi cacat pasangan kita.

Selain informasi cacat, kita juga sebaiknya mengetahui informasi tentang potensi, minat, bakat, kebiasaan baik, lingkungan dimana dia biasanya menghabiskan waktu, keadaan teman-teman dekatnya, dan lain-lainya yang menurut Anda perlu untuk diketahui.

Bagaimana cara mengetahui informasi-informasi ini? Cara ini bisa dilakukan dengan cara:
Observasi
Mengobrol langsung
Bertanya pada orang yang ada disekitarnya

Observasi
Langkah observasi ini bisa dilakukan seperti yang dilakukan sahabat nabi, Jabir bin Abdullah (lihat hadis diatas) yang bersembunyi dibawah pohon atau dengan cara lainnya. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diobservasi, yaitu “si Dia”, teman-temannya, dan lingkungan dimana si dia lebih banyak menghabiskan waktu. Yang harus kita teliti, seperti apa akhlaknya, kepribadiannya, prilakunya, dia berteman dengan siapa saja, lingkungannya seperti apa, atau hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk diteliti dengan cara observasi.

Bolehkah melihat rambut wanita yang akan dipinang? Dalam buka fatwa-fatwa syaikh Nashiruddin Al Albani, beliau memperbolehkan seorang laki-laki yang ingin meminang wanita, untuk melihat rambut wanita tersebut dengan syarat tanpa sepengetahuan si wanita. Tetapi jika dengan sepengetahuan si wanita, maka yang boleh dilihat adalah hanya muka dan kedua telapak tangannya. Beliau berdalil dengan sabda Rasulullah, “Jika terbersit dalam hati kalian (keinginan) untuk melamar seorang wanita, maka hendaklah ia memandang sesuatu yang bisa mendorongnya untuk menikahi wanita tersebut.”

Saya pikir, tidak perlu saya jelaskan lebih rinci tentang masalah ini karena tiap orang punya cara sendiri-sendiri dan parameter yang berbeda dalam melakukan observasi.

Ngobrol Langsung
Sebaiknya ketika ngobrol langsung, tidak berduaan ditempat sepi. Alangkah baiknya ditemani salah satu mahram dari pihak perempuan. Ada beberapa ulama seperti Syeikh Prof. Abdul Halim Muhammad Abu Suqqah, dalam bukunya (yang terjemahan berbahasa Indonesia) berjudul Kebebasan Wanita yang diterbitkan Gema Insani Press, dimana beliau memperbolehkan laki-laki dan perempuan bukan mahram ngobrol berduaan dengan syarat di tempat yang masih bisa dipantau atau dilihat orang lain.

Hal-hal yang diobrolkan sebaiknya hal-hal yang penting saja, seperti tentang diri masing-masing, diskusi tentang hal-hal berkaitan dengan rumah tangga, komitmen dalam membangun rumah tangga, konsep keluarga, dan lain-lain.

Bolehkah bercanda? Kalau hanya untuk menyegarkan suasana, tidak terlalu masalah, tetapi harus tetap memperhatikan etika Islami dalam bercanda atau bergurau (Ingat, Islam mengatur sangat ketat mengenai hal ini, insya Allah saya akan membahas tentang masalah ini ditulisan yang akan datang).

STOP, JANGAN dulu mengumbar rayuan atau godaan pada si dia. Ingat, dia belum sah menjadi istri atau suami Anda.

Bolehkah sms-an? Kalau ngobrol saja boleh, apalagi sms-an. Tetapi tetap menjungjung etika Islami dalam mengobrol dengan non-mahram yang belum dinikahi.

Saya lebih menyarankan obrolan itu lebih banyak diskusi. Ada beberapa tema diskusi yang saya sarankan diantaranya: tentang poligami, Istri boleh bekerja atau tidak, konsep rumah tangga, dimana keluarga akan tinggal, konsep mendidik anak, konsep hak dan kewajiban suami-istri, dan tentang manajemen keuangan keluarga.

Hasil dari diskusi-diskusi tersebut, bisa dijadikan bahan untuk melakukan pengambilan keputusan apakah mau menerima dia atau tidak. Tetapi harus diingat, kalau terjadi perbedaan pendapat dalam hal-hal yang bukan masalah prinsip, saya pikir hal ini bukan hal yang jadi pertimbangan untuk menolaknya.

Sebelum melakukan pernikahan, sebaiknya melakukan kesepakatan-kesepakatan atau menyamakan persepsi mengenai hal-hal yang didiskusikan tersebut sehingga setelah pernikahan tidak terjadi penyesalan di antara kedua belah pihak dan kalau terjadi sebuah permasalahan atau perbedaan pendapat setelah menikah bisa merujuk pada kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat tersebut.

Misalnya, si suami tiba-tiba meminta izin untuk menikah lagi. Kalau sebelumnya sudah ada kesepakatan tidak ada poligami dimana sebelum menikah si istri menyatakan tidak mau dimadu dan si suami berjanji tidak akan poligami, si istri bisa menagih janji yang telah dibuat si suami.

Atau tiba-tiba suami menyuruh istri berhenti bekerja, padahal sebelum pernikahan, mereka sepakat bahwa istri boleh bekerja selama tugas-tugas sebagai seorang istri tetap bisa dijalankan dengan baik.

Bertanya pada orang-orang terdekatnya
Siapa saja? Bisa bapaknya, ibunya, adiknya, kakaknya, teman-temannya, sahabatnya, bahkan kalau ada sama musuhnya. Tentunya kalau ngobrol sama musuhnya, jangan langsung dipercaya karena kemungkinan dia akan melakukan hiperbola masalah atau hanya menceritakan hal-hal yang jeleknya saja dari diri si dia.

Tujuan kedua, Mencari Hal-hal yang Bisa Mendorong Minat Menikahinya
Tujuan kedua ini berdasarkan pada:
Sabda Nabi saw, “Apabila salah seorang di antara kamu meminang seorang wanita dan hendak mengawininya, maka hendaklah dia melihat sebagian dari apa yang bisa mendorongnya untuk mengawininya.”
Kisah jabir bin Abdullah yang berkisah tentang istrinya, “Sesungguhnya saya dulu bersembunyi dibawah pohon untuk melihatnya (istrinya), sehingga saya dapat melihat sebagian dari sesuatunya yang dapat mendorong saya untuk mengawininya.”
Sebelum kita memutuskan menikahinya, kita harus tahu dulu hal-hal apa saja yang kita sukai yang ada pada diri si dia. Misalnya (INGAT, ini hanya rekayasa khayalan hiperbola saya walau berdasar pengalaman-pengalaman nyata), aku suka sama si Hidayah karena ke-sholehah-annya. Saya mengetahui itu setelah melakukan observasi, dan wawancara dengan keluarganya dan teman-temannya. Disamping itu juga, dia jago masak. Saya pernah merasakan masakan yang dibuatnya. Dia juga orangnya bijaksana, itu terlihat ketika saya berdiskusi dengannya. Wajahnya ga cantik-cantik amat, biasa saja, tetapi tidak membosankan. Meskipun dia seorang aktivis partai yang saya kurang senangi, tetapi itu bukan masalah yang prinsip bagi saya. Yang sangat membuat saya ingin menikahinya karena dia orangnya periang dan menyenangkan. Hal ini sangat penting dan berguna ketika suatu hari nanti saya pulang kerja dengan badan yang lelah dan pikiran yang berat, ketika bertemu dengan istri yang periang dan kedatangan saya disambutnya dengan senyuman yang indah, insya Allah bisa membuat saya jadi bugar kembali dan pikiran saya jadi segar kembali. Satu hal lagi yang membuat saya mantap adalah dia tipe wanita yang kemungkinan bisa membuat saya semakin mencintai Allah, Rasul-Nya dan jihad dijalan-Nya. Saya menegtahui hal ini setelah melalui observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dibinanya, mereka mengalami peningkatan ruhiah setelah dibimbing dan dibina olehnya. Dia bisa melakukan itu karena ilmu-nya yang dalam dan teladan yang diperlihatkannya pada orang yang di binanya.  Oleh karena itu saya memutuskan untuk meminangnya secepatnya (INGAT, ini hanya rekayasa khayalan hiperbola saya walau ada beberapa hal yang berdasar pengalaman-pengalaman nyata saya. Hanya untuk sebagai contoh saja).

CONTOH PACARAN ISLAMI (dari tahap seleksi sampai memutuskan meminag)

Contoh yang saya tuliskan disini hanyalah sebagai ilustrasi saja untuk memudahkan memahami konsep yang sudah saya jelaskan diatas. Anda boleh menirunya atau tidak. Dalam memutuskan apakah mau meniru ilustrasi ini atau tidak, Anda harus menyesuaikan dengan situasi, kondisi, kepribadian Anda dan siapa target Anda. Mungkin ilustrasi ini cocok untuk seseorang dan mungkin juga tidak cocok. Anda boleh mengembangkannya sendiri praktek dari pacaran Islami menurut Anda hanya dengan syarat tidak melanggar etika yang Islami. Adapun ilustrasi ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman teman-teman saya yang berhasil saya amati.

Anggaplah ada seorang cowo bernama Aji dan cewe bernama Rahma. Suatu ketika, si Aji merasa sudah siap untuk menikah, tetapi dia belum punya calon. Maka dia mencoba melakukan observasi terhadap teman-teman ceweknya. Dia juga meminta tolong kepada temannya untuk dikenalkan dengan teman dari temannya tersubut yang kira-kira cocok dengan dia.

Singkat cerita, akhirnya dia merasa cocok dengan cewe yang bernama Rahma. Lalu dia mengajak seorang teman untuk menemaninya bertemu dengan Rahma di rumah Rahma untuk menyatakan maksud hatinya. Akhirnya mereka sampai dirumah Rahma. Awal pertemuan, mereka mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang dengan tidak lupa melakukan sedikit basa basi. Lalu si Aji berkata, “Rahma, saya ingin melamar kamu. Tetapi sebelum itu, saya ingin kita saling mengenal dan memahami lebih dalam satu sama lain dulu sebelum memutuskan untuk bertunangan,  supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Rahma, kamu pasti belum mengenal saya lebih dalam dan begitu juga saya. Saya hanya tahu kamu sedikit. Andai setelah masa saling mengenal dan memahami ini selesai dan saya merasa mantap dengan kamu, saya akan melamar kamu dan bila kamu juga merasa mantap dengan saya maka kita menikah. Tetapi kalau kalau tidak merasa mantap dengan saya, kamu boleh menolak lamaran saya dan saya berjanji tidak akan membocorkan segala informasi tentang kamu yang telah saya dapatkan tanpa seizin kamu, apabila saya membocorkan, saya siap dilaporkan kepolisi dengan uduhan pencemaran nama baik.” Setelah itu, Rahma berkata, “berapa lama kita melakukan hal itu?” lalu si Aji menjawab, “yah seperlunya saja. Mungkin kira-kira sekitar minimal 1 bulan dan maksimal 3 bulan, gimana menurutmu?” lalu Rahma menjawab, “ya aku siap, tetapi kamu harus minta izin dulu sama orang tua saya biar jalannya hubungan kita lebih berjalan lancar.” Setelah itu Rahma memanggil orang tuanya lalu Aji menceritakan semua rencana yang diobrolkan dengan Rahma tadi kepada orang tua Rahma beserta alasannya dan akhirnya orang tua Rahma menyetujui rencana tersebut.

Sejak saat itu, malam-malam Aji dan Rahma dihiasi dengan sholat malam dan sholat istiharah. Dengan cara sms-an, telponan, atau ketemu langsung mereka memulai sebuah perkenalan dan saling keterbukaan tentang profil masing-masing pribadi. Mereka juga saling menceritakan cita-cita mereka masing-masing dan saling menanggapi atau memberikan komentar terhadap cita-cita tersebut. Sampai timbul sebuah komitmet kalau mereka ditakdirkan menikah, mereka akan saling mendukung untuk mencapai cita-cita masing-masing. Selain masalah cita-cita, mereka juga saling keterbukaan tentang potensi yang dimiliki masing-masing dan keterbatasan yang dimiliki masing-masing. Lalu mendiskusikan apakah masing-masing pihak bisa menerima potensi dan keterbatasan yang dimiliki pihak lainnya. Lalu membicarakan dan saling mengomentari kebiasaan baik dan kebiasaan jelek masing-masing mereka dan mendiskusikan bagaimana mengatasi kebiasaan-kebiasaan tersebut andai mereka menikah nanti.

Mereka juga mendiskusikan beberapa tema seperti tentang keluarga seperti konsep keluarga yang akan dibangun, istri sebagai wanita karier, konsep mendidik anak, poligami, metode penyelesaian konflik bila terjadi pertengkaran dalam keluarga, dan tempat mereka akan tinggal kalau jadi menikah. Setiap selesai diskusi, mereka membuat kesepakatan bersama. Kalau ada hal yang mereka tidak sepakati, mereka juga membuat kesepakatan mengenai hal-hal yang tidak mereka sepakati. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan bagi mereka berdua ketika membuat keputusan apakah mau melanjutkan ke jenjang pertunangan atau tidak.

Kalau mereka melakukan ketemuan langsung, biasanya dilakukan di rumah Rahma. Mereka mengobrol di ruang tamu dimana orang tua atau saudara Rahma bisa melakukan pantauan secara langsung. Kalau sms-an atau telponan tidak pernah lebih dari jam 10 malam. Dalam isi sms atau telpona mereka selalu menghindari dari kata-kata yang berbau “gombal”.

Di lain waktu, mereka mencoba melakukan obrolan dengan pihak ketiga seperti dengan teman-teman, sahabat, keluarga pihak lainnya. Tema-tema obrolan tersebut sekitar karakteristik/ sifat/ kepribadian, potensi, kekurangan, kebiasaan baik, dan kebiasaan jelek.

Baik Rahma maupun Aji melakukan observasi terhadap aktifitas diluar rumah pihak lainnya. Si Rahma yang seorang aktivis organisasi kerohanian, akan mengadakan kegiatan bakti sosial. Untuk melakukan observasi, si Aji ikut dalam kegiatan tersebut. Begitu juga Rahma, dia menyuruh seorang temannya yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama dengan Aji untuk melakukan observasi di tempat Aji bekerja. Si teman tersebut disuruhnya melakukan observasi terhadap kepribadian si Aji, leadership di tempat kerja, dan sosialisasi dengan teman-teman kerjanya. Selain itu, temanya tersebut disuruhnya melakukan wawancara kepada teman-teman kantornya Aji mengenai penilaian mereka terhadap kepribadian Aji.

Setelah hampir tiga bulan melakukan proses hubungan pranikah, tibalah saatnya mereka melakukan proses membuat keputusan, apakah mau melanjutkan ke jenjang pertunangan atau tidak. Mereka masing-masing saling merenung dan mengingat-ngingat setiap aktivitas yang dilakukan selama hampir tiga bulan tersebut. Tidak lupa mereka meminta petunjuk kepada Allah. Selain itu, mendiskusikan dengan keluarga masing-masing karena mereka berpikir bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang yang berbeda tetapi menyatukan kedua keluarga besar yang berbeda.

Akhirnya si Aji mantap akan melamar si Rahma. Dia mengajak keluarganya untuk menemui keluarga si Rahma. Setelah sampai dirumah Rahma, bapaknya Aji mengemukakan maksud dan tujuan mereka datang. Bapaknya Rahma menyerahkan keputusan tersebut kepada Rahma lalu bertanya pada Rahma apakah mau menerima atau tidak lamaran tersebut. Dan Akhirnya Rahma menjawab ……..

KISAH PACARAN ISLAMI: SITI KHADIJAH DAN NABI MUHAMMAD SAW

Berikut ini aku kutipkan Jawaban Pak Muhammad Shodiq ketika ditanya bagaimana bentuk pacaran yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. dengan Siti Khadijah RA. Aku mendapatkan tulisan ini dari milis yang dikelola oleh beliau. Isi dari jawaban beliau adalah sebagai berikut:

Seperti telah kita ketahui bersama, makna asli “pacaran” adalah “persiapan nikah”. Dengan definisi tersebut, di bawah ini hendak aku paparkan pengamatanku mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai “naksir” Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak beliau.

Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati, sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah naksir itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat itu Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung.

Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad saw bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya. Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad saw. dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad saw berakhlak mulia.

3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF): Khadijah dan Muhammad saw menjalin kerja sama pengembangan karir.

Melalui perbincangan tersebut tadi, Khadijah menganggap bahwa Muhammad saw. adalah sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad saw. pun menerima tugas itu dengan senang hati. Dengan interaksi seperti ini, Khadijah dapat me-recheck atau melakukan pengujian terhadap Muhammad saw. sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad saw. memang berakhlak mulia.

4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad saw. yang berakhlak mulia.

Sepulangnya Muhammad saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut. Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke hari, cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad saw.

Maisarah ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad saw. berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad saw.  menjadikan Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah mengerahkan “agen cinta” untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad saw.

Dalam tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya lainnya, untuk membujuk Muhammad saw. supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH: Muhammad saw. melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.

Di depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad saw. datang dari Syam. Usia Muhammad saw. saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

PENUTUP
Sebenarnya, tulisan ini masih berbentuk konsep-konsep yang masih umum dan normatif. Anda bisa mengembangkannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang Anda hadapi.

Suatu konsep mungkin bisa dipraktekan di suatu waktu dan tempat tertentu, tetapi di waktu lain dan di tempat berbeda, konsep itu tidak bisa diterapkan. Oleh karena itu, kita harus fleksibel dalam menerapkan suatu konsep. Kita juga dituntut untuk cerdas membaca situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.

Tulisan ini hanyalah pengembangan dari konsep-konsep pacaran Islami yang sudah banyak dibahas oleh banyak penulis. Saya hanya mengembangkannya dari sisi teknik dan contoh penerapan pacaran Islami yang didasarkan pada pengalaman saya sendiri dan pengalaman teman-teman saya yang saya berhasil amati. Saya berharap tulisan ini bisa menginspirasi para pembaca semua yang hendak melakukan persiapan menuju pernukahan. Mungkin ada konsep dari yang saya tulis yang bisa dipraktekan oleh Anda dan mungkin ada juga konsep yang tidak relevan untuk Anda praktekan. Tentunya segala sesuatu harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: