Aku ini ‘PERUSAK AGAMA ISLAM’

28 April 2010 pukul 13:35 | Ditulis dalam Dakwah Caraku | 5 Komentar
Tag: , , , , , , , ,

Jujur, saya miris melihat beberapa website atau note di facebook yang isinya saling merasa diri paling benar, paling salaf, atau paling ahlul sunnah dan menghujat orang atau ulama yang berbeda faham dengannya sambil mengeluarkan penilaian atau pelabelan yang negatif seperti ulama-ulama nyleneh, ulama ussuu’ (ulama busuk), ulama penguasa, sesat, kafir, sekuler, liberal, ulama dajjal, ahlul bidah, orang taklid, dan lain sebagainya.

Ada ga sih orang yang mau dibilang seperti hal diatas itu? Lalu Anda (yang ngerasa sering mengeluarkan kata-kata itu) apakah Anda senang bila ada orang yang mengatai Anda Ahlul bid’ah? Lalu kenapa Anda sering mengatai orang lain dengan kata-kata itu? Mungkin Anda merasa bahwa Anda sedang Amar ma’ruf nahi munkar atau katakanlah kebenaran walau itu pahit. Tetapi tahukah Anda kalau dakwah atau pendidikan itu harus dilakukan dengan bil hikmah (bijaksana)? Dan dengan bertahap, sedikit demi sedikit? Apakah bijaksana mengatai orang yang Anda dakwahi atau orang yang sedang Anda amar ma’ruf nahi munkar dengan kata-kata busuk itu? Apakah dengan mengeluarkan hujatan-hujatan busuk itu orang-orang yang liberal, sekuler, atau ahlul bid’ah akan tobat?

Astaghfirullah, kalau kalian merasa benar sendiri terus, pantaslah umat Islam tak akan pernah bersatu. Ketika ada ulama yang mengeluarkan fatwa yang berbeda atau bertentangan dengan fatwa ulamanya atau kelompok kalian, lalu ramai-ramai mengatai ulama itu dengan ulama nyleneh, ulama ussuu’ (ulama busuk), ulama dajjal, ulama penguasa dan lain2.

Kalau ada yang berbeda pendapat dengan kalian, langsung di hujat. Lalu dari pihak yang sependapat dengan ulama yang berbeda dengan kalian pun balik menyerang kalian, setelah itu kalian katai orang yang membela ulama yang mengeluaarkan fatwa yang berbeda dengan kalian itu dengan berkata, “kalian taklid sama ulama itu…. ” Yang terjadi kemudian adalah saling hina, saling mengatai, saling mengolok-olokan, saling hujat, bukan lagi diskusi ilmiah, tapi debat kusir. Hal inilah yang sering aku lihat di website-website, di facebook, atau di mesjid-mesjid.

Aku miris… hal ini juga yang dikhawatirkan oleh KH Ahmad Dahlan 90 tahun yang lalu, ketika sesama ulama saling klaim kebenaran dan saling “melempar pisau” dengan mengatai ulama yang berbeda pendapat dengannya dengan sebutan, ulama nyleneh, ulama ussuu’ (ulama busuk), ulama penguasa, sesat, kafir, sekuler, liberal, perusak agama, ulama dajjaL, dll. Maka KH Ahmad Dahlan pada bulan Maulud 1335 H di Mesjid Besar Yogyakarta, di hadapan para penghulu, para ulama, dan para kiai berkata yang intinya seperti ini, “ulama desa mengatakan ulama kota itu ulama ussuu’ (busuk) karena mengerjakan ……, ulama kota mengatakan ulama desa itu ulama ussuu’ (busuk) karena punya sifat……dan amalannya seperti…… dan seterusnya.”

Lalu beliau melanjutkan, “Marilah kita sekarang mengajak para ulama mengakui bahwa ulama ‘us-suu’, ulama dajjal, ialah diri kita ini dan saya Ahmad Dahlan, termasuk ulama ‘us-suu’ (ulama busuk) yang merusak agama Islam. Mudah-mudahan pengakuan ini dapat menghapus dosa dan melebur amalku.” Jujur, membaca khutbah beliau ini aku jadi merasa miris sekali. Apa yang terjadi ketika kira-kira 90 tahun yang lalu itu masih terjadi sekarang.

Kemudian beliau mengutip perkataan Al Ghazali, “Kerusakan rakyat disebabkan kerusakan raja-raja, kerusakan raja-raja disebabkan kerusakan ulama-ulama (karena tidak berani memberikan nasehat).” Lalu beliau berkata, “Marilah sekarang kita bertaubat kepada Allah, memohon ampun dan marilah kita mulai kembali kepada Al Quran dan As Sunnah Rasul serta marilah kita mulai berbuat kebajikan didalam agama Islam.” Lalu beliau menutupnya dengan berkata, “Apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu baik, maka baiklah alam; dan apabila pemimpin-pemimpin dan negara dan ulama itu rusak, maka rusaklah alam dan negara.”

Saya mengutip pidato beliau bukan berarti saya taklid sama beliau. Tetapi saya pikir, pidatonya masih relevan untuk kita renungkan sekarang karena keadaan umat ketika itu yang melatar belakangi beliau pidato seperti itu sama seperti zaman kita sekarang ini.

Di kesempatan lainnya, beliau berpidato yang intinya seperti ini, “Mengapa para pemimpin agama dan yang tidak beragama selalu beranggapan, mengambil keputusan sendiri-sendiri tanpa mengadakan pertemuan antar mereka. Tidak mau bertukar pikiran, memperbincangkan mana yang benar dan mana yang salah. Hanya berdasarkan anggapan-anggapan sendiri saja. Disepakati dengan istrinya, dengan muridnya, teman-teman, dan gurunya sendiri. TENTU SAJA AKAN DIBENARKAN. Tetapi marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain diluar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar itu dan manakah sesungguhnya yang salah itu.” Dalam kesempatan lain beliau berpidato, “Golongan-golongan itu menganggap bahwa dirinya yang benar dan sudah benar, kemudian menyalahkan kepada (golongan) lainnya.” Lalu mengutip surat Ar Rum ayat 23, “Semua golongan bersuka ria dengan barang yang ada dalam golongannya.” Sekarang ini saya melihat banyak sekali golongan-golongan yang mereka merasa sudah benar. Ketika ada pendapat yang berbeda dengannya langsung disalah-salahkan tanpa mencoba mendalami lebih dalam argumentasi dan dalil-dalil yang digunakan pihak yang berbada dengannya. Mereka selalu berlindung dibalik ayat Quran tentang amar ma’ruf nahi munkar dan hadist yang berbunyi “sampaikanlah kebenaran walau pahit”. Padahal ada ayat lain yang menyatakan kalau dalam berdakwah itu harus disampaikan dengan jalan bil hikmah (dengan bijaksana) dan disampaikan dengan bertahap sedikit demi sedikit.

Tidak ada orang yang ingin disalah-salahkan. Tidak ada orang yang ingin dihina. Tidak ada orang yang ingin dihujat. Tidak ada orang yang ingin dibilang sesat. Tidak Ada orang yang ingin diolok-olok. Tidak ada orang yang ingin dibilang ulama ussuu’ . Begitu juga Anda bukan?

Lalu mengapa Anda melakukan itu kepada ulama yang berbeda pendapat dengan Anda? Kalau Anda dalam berdakwah atau berdialog dengan orang yang Anda anggap liberal misalnya, lalu ujug-ujug Anda mengatai mereka sesat, Ahlul dajjal, sekuler, hamba kaum kafir, dll, mana mungkin hati mereka terbuka terhadap kebenaran? kalau tiba-tiba ada orang lain mengatai Anda sesat, ahlul bid’ah, atau radikal, pasti ada rasa mangkel kan? ada rasa jengkelkan? mungkin karena Anda sholeh banget jadi rasa itu cuma ada sedikit saja, tapi pasti ada kan? Jujur dech!!! Begitu juga dengan mereka. Justru dengan melontarkan kata-kata hujatan atau penilaian negatif tersebut membuat hati mereka tertutup dan berusaha membela diri, mencari-cari pembenaran. Akhirnya yang terjadi adalah debat kusir. Saling melontarkan pembenaran atas pernyataannya bukan lagi diskusi mencari kebenaran. Itu yang terjadi sekarang.

Orang yang suka mencaci, mengejek, melabeli negatif orang lain, atau menghujat sebenarnya sudah layak disebut orang yang buruk akhlaknya. Ibarat sebuah teko yang didalamnya ada air teh, ketika dituangkan pasti air teh tetapi kalau didalamnya air comberan, tentu ketika di tuangkan yang keluar dari teko itu adalah air comberan. Begitu juga dengan manusia, kalau didalam pikirannya banyak kata-kata kotor maka ketika bicara yang keluarpun adalah kata-kata kotor.

Suatu kebajikan jika bercampur dengan kejahatan, maka tidak akan bermanfaat bahkan menjijikan. Ibarat teko yang didalamnya ada air teh yang bercampur dengan (maaf) tai kuda. Ketika dituangkan ke cangkir untuk diminim, Apakah akan nikmat untuk diminum? Apakah akan bermanfaat bagi orang yang meminum? Tentu tidak kan! Tentu orang yang meminumnya akan jijik. Begitu juga dengan dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar yang kita lakukan. Kalau misalnya dakwah kita bercampur dengan hujatan atau makian, tentu yang menerima dakwah kita justru akan jijik dan marah pada kita. Bukannya mereka terinspirasi dengan dakwah kita, justru malah pergi menghindari kita. Hati mereka akan semakin tertutup dengan dakwah-dakwah yang kita lakukan.

Ada sebuah cerita. Di suatu kampung, ada dua orang anak kecil berantem. Anak pertama mengejek anak kedua, “dasar kamu muka mosnster.” Anak kedua tidak mau kalah, “biarin daripada kamu kaya genderewo.” Tujuh belas tahun kemudian, kedua anak itu menjadi cendikiawan. Suatu ketika terjadi perdebatan diantara mereka yang akhirnya terjadi saling hujat diantara mereka. Orang pertama berkata, “dia itu orang islam radikal yang setuju dengan terorisme yang melanggar HAM.” Orang kedua juga tidak mau kalah, “biarin aku disebut fundamentalis, daripada dia orang liberal, hamba kaum kafir.” Dua puluh tahun kemudian, kedua orang ini menjadi kyai yang berpengaruh di masyarakat. Tetapi mereka masih berselisih paham. Orang pertama berkata, “dia sudah melenceng dari garis ahlu sunnah wal jamaah.” Orang kedua tidak mau kalah, “dia itu (orang pertama) adalah ahlul bid’ah dan ahlul syirik. Sudah seharusnya kita menyuruh dia untuk bertobat.”

Dari cerita diatas, kita bisa ambil pelajaran, sesungguhnya meskipun mereka berdua berkembang secara intelektual, tetapi secara mental mereka tidak berkembang. Masih seperti anak kecil yang senag mencaci-maki atau mengejek orang yang berbeda pendapat dengannya.

Saya jenuh dan bosan membaca komentar-komentar orang yang bernada menyalahkan atau menilai negatif orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. KITA BOLEH BERBEDA PENDAPAT, BERBEDA FATWA, BERBEDA ULAMA RUJUKAN, BERBEDA TAFSIR, TAPI STOP SALING MENGHUJAT, SALING MENILAI NEGATIF (BUSUK PIHAK LAIN) DENGAN MENGATAI mereka yang berbeda dengan Anda itu sebagai ulama-ulama nyleneh, ulama ussuu’ (ulama busuk), ulama penguasa, sesat, kafir, sekuler, liberal, ulama dajjal, dll.

KALAU ANDA MERASA PENDAPAT ATAU FATWA ULAMA LAIN ITU SESAT DAN MENYESATKAN ATAU SALAH, CUKUP KRITIK PENDAPATNYA, KRITIK TAFSIRNYA, TAPI STOP..STOP..STOP..JANGAN MENERUSKAN DENGAN MENGATAKAN ULAMA ITU ULAMA YANG………JANGAN MENGHUJAT, JANGAN MELABELI ULAMA ITU DENGAN LABEL-LABEL NEGATIF. INGAT, BAHWA TIDAK ADA SATUPUN ULAMA DI DUNIA INI YANG SEMUA FATWANYA BENAR SEMUA… KADANG KALA MEREKA SALAH… Kasih tahu saya, siapa ulama yang semua fatwanya benar semua???? Tidak Ada satu orangpun didunia ini yang semua fatwanya benar kecuali Nabi dan Rasul Allah. So, kalau fatwanya kuat, kita ambil. Kalau fatwanya menurut kita salah, ya jangan diambil. Kalau fatwanya dikira bisa menyesatkan orang lain, ya kita buat tandingan fatwa. Tapi STOP…STOP…STOP.. JANGAN SAMBIL MENGHUJAT, MENGHINA, MELABELI DENGAN LABEL NEGATIF….

Saya senang membaca atau melihat debat ilmiah tapi saya benci melihat kalian saling hujat atau saling mengolok-olok. Meskipun berbeda tapi kita tetap saudarakan?

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sebnarnya inilah yang membuat perpecahan, karena perbedaan membuat ini seperti berbeda, tapi kalau sebenarnya beliau-beliau disana mau mengkaji kembali apa itu Islam, mereka harusnya paham kalau kita itu 1 pondasi dan 1 tujuan dan ga seharusnya mempermasalahkan perbedaan itu dengan memutuskan hubungan silaturrahmi … inilah masalah yang sebenarnya menurut saya kenapa Islam terasa terpecah belah … maaf klo mungkin pendapat saya salah, saya cuma orang biasa yang ga begitu paham tentang masalah2 agama ..

  2. Misalnya kaya kasus ini…
    http://suara01.wordpress.com/2010/04/26/di-bekasi-muncul-gerakan-membasmi-islam-gmi/

    Subhanallah…

  3. seperti kata Tariq Ali, “kutukan agama (Islam) ini adalah perpecahan”. Perbedaan tidak seyogyanya disikapi dengan memutuskan tali silaturahmi. Semoga kita semua pada akhirnya bisa bersatu dalam kebenaran Alloh…

  4. Aku sendiri Islam (Agamaku) tapi nda ngerti banyak tentang Islam.

    tak ada yang lebih baik kacuali, kembalikan pada Al-Qur’an da Hadits. kalam Allah dan perkataan Ahmad (Muhammad) tak mengajarkan permusuhan kepada orang-orang beriman.. Hanya Allah yang tahu,,,,…..

  5. Perbedaan memang selalu ada, tapi jangan sampai menjelek-jelekkan orang lain. Adapun orang yang salah dalam beribadah, jangan kita memberikan cap yang buruk, cukup kita ingatkan saja dan percaya Alloh akan memberinya petunjuk. Firman Allah dalam surat Al Fatihah : 6-7 dikutip perintah Alloh untuk memohon petunjuk ke jalan lurus, ada 3 jalan itu, jalan orang diberi nikmat, jalan orang dimurkai dan jalan orang sesat. Insyaallah, jalan orang yang diberi nikmat, kita mendapatinya. Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: