Aktivis Gender yang Aneh!!!!!!

30 April 2010 pukul 14:04 | Ditulis dalam opiniku, Tak Berkategori | 2 Komentar
Tag: , , , , ,

Saya pernah diceritakan oleh teman saya pengalamannya ketika bertamu kerumah perempuan aktivis gender. Kata teman saya, sang aktivis ketika sebelum menikah, sangat lantang menentang prilaku suami yang menyuruh-nyuruh istri. Bias gender katanya. Dia mempertanyakan kenapa istri itu harus membawakan minum untuk suaminya, emangnya suami itu sudah tidak bisa jalan? Kenapa istri harus membukakan kaus kaki suami, emangnya istri itu babu?

Suatu ketika, teman saya tersebut berkunjung ke rumah sang aktivis dengan niat mengajak diskusi tentang gender. Ketika sedang seru-serunya berdiskusi, suaminya pulang, lalu sang aktivis meminta izin untuk mengurus suaminya dulu. Sang aktivis menyambut suaminya dengan sangat gembira, dia bukakan sepatu sang suami beserta kaos kakinya, lalu dia ke dapur untuk membawakan minum suaminya. Setelah suaminya minum, suaminya minta izin kepada teman saya bahwa dia mau sholat yang sebelumnya meminta maaf karena telah mengganggu jalannya diskusi. Setelah suami sang aktivis masuk, teman saya bertanya kepada sang aktivis kenapa dulu ketika sebelum menikah sangat gencar menyerang praktek istri membuka kaos kaki suami atau mengambilkan minum suami justru sekarang dia mempraktekannya sendiri apa yang dulu dia serang. Lalu sang aktivis memjawab, bahwa dia melakukannya sebagai rasa baktinya sebagai seorang istri kepada suaminya. Dia melakukannya dengan rasa cinta dan kasih sayang tanpa ada rasa terpaksa.

Teman saya juga cerita bahwa ada seorang ibu aktivis gender yang sangat gencar mengkapanyekan emansipasi wanita, justru setelah menikah dia memilih hanya menjadi ibu rumah tangga. Ketika ditanya mengapa dia memilih hanya menjadi ibu rumah tangga, sang aktivis ini malah balik bertanya, apakah hanya menjadi ibu rumah tangga merupakan perbuatan nista? Berprofesi menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan berat. Dia memilih hanya menjadi ibu rumah tangga merupakan pilihan sadarnya. Dia ingin fokus mendidik anak dan membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah, apakah itu salah?

Dari diskusi yang dilakukan teman saya dengan para aktivis gender tersebut, dia ingin membuat sebuah konsep gender yang Islami dalam artian konsep gender yang tidak membuat wanita keluar dari kodratnya sebagai wanita. Konsep Gender yang tidak membuat wanita lupa akan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Konsep Gender yang mengkampanyekan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia. Konsep Gender yang mengkampanyekan bahwa ketika seorang istri melayani istri, dia melakukannya atas dasar bakti, sayang dan cinta seorang istri kepada suami, bukan atas dasar terpaksa atau dipaksa. Ketika seorang istri memilih untuk hanya menjadi ibu rumah tangga, dia melakukannya dengan sangat sadar bukan terpaksa atau dipaksa. Konsep gender yang tetap menuntut atau mengadvokasi hak-hak wanita tetapi TIDAK mengkampanyekan untuk menjadikan seorang wanita untuk jadi pria. Dia ingin mengkampanyekan konsep gender bukan hanya kepada wanita tetapi juga kepada pria. Biar pria-pria itu paham tentang konsep gender sehingga tidak melakukan tindakan semena-mena terhadap wanita. Konsep gender yang tidak memposisikan wanita dibawah pria tetapi menjadikan wanita sebagai partner bagi pria, kedudukannya sejajar. Yang membedakan hanyalah fungsi dan tugasnya saja. Sebuah konsep gender yang mengajarkan supaya Pria dan wanita saling bekerja sama dan tolong menolong, bukannya pria mengatur dan memerintah wanita.

Saya yang mendengar pemaparan teman saya itu hanya bisa tersenyum sambil mengiyakan atau mendukung apa yang dia katakan. Setelah sampai di kos, saya membayangkan masa depan saya setelah menikah kelak. Bagaimana istri saya melayani saya dengan penuh rasa cinta dan begitu juga sebaliknya saya, saya juga membayangkan apa-apa saja yang akan saya lakukan untuk membahagiakan istri saya kelak. Astagfirullah…. suryaaaa, selesaikan dulu skripsimu tuh, jangan banyak ngelamun…. tiba-tiba hati saya protes atas apa yang saya lakukan. Akhirnya saya terbangun dari dunia khayalan. Tetapi bukankah segala sesuatu itu berawal dari khayalan?????? Ada ga yah wanita yang mau saya bahagiakan? Apakah “bu ustadzah itu” mau saya bahagiakan? Apakah “dia” paham hak-hak dan kewajiban “dia” sebagai perempuan? Wah, aku malah berkhayal lagi, ayo surya bangunnnnn, kembali ke dunia nyata….

Saya teringat dengan cerita kakak perempuan saya tentang temannya. Teman kakak saya itu adalah lulusan IPB jurusan statistik dengan IPK 4. Lalu dia bekerja di sebuah perusahaan periklanan dengan gaji yang cukup tinggi. Dia menikah dengan seorang wartawan. Dia dan suaminya hanya baru bertemu kalau malam. Suatu ketika dia hamil dan punya anak. Dia berpikir, kalau dia tetap kerja sampai malam seperti ini, apa jadinya anaknya kelak. Dia tidak mau anaknya lebih dekat dengan baby sitter daripada dengan ibunya. Dia juga tidak ingin anaknya dididik sama baby sitternya yang belum tentu faham agama. Akhirnya dia memilih untuk keluar dari pekerjaan. Setelah beberapa bulan tidak bekerja, dia merasa bosan sendiri dirumah. Akhirnya dengan pengalaman pernah bekerja di perusahaan periklanan, lalu dia membuat usaha menjual baju anak kecil melalui internet. Karena memang dia orang cerdas, usahanya berjalan sangat pesat sampai pendapatannya dari jualan itu jauh lebih besar dari gaji suaminya. Padahal dia bekerja dirumah sambil gendong bayi, menyusui anaknya, atau sambil main dengan anaknya.

Kakak saya terinspirasi dengan temannya ini, dia juga mencoba mengikuti jejak yang sama, keluar dari pekerjaan di perusahaan dan menjadi pengusaha berjualan baju anak. Bedanya, kalau temannya di internet, dia jualan di alam nyata. Dia jualan ke rumah-rumah di kompleksnya atau buka stand di tempat-tempat wisata. Sambil jualan, sambil mengasuh anak. Dan ternyata, pendapatan dari usahanya ini juga hampir sama besarnya dengan gajinya di dulu bahkan bisa lebih punya waktu banyak mengasuh anak.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas?

Kalau saya sendiri sih, tidak masalah kalau istri saya kelak itu bekerja bahkan mungkin jadi gubernur sekalipun, selama tidak menyalahi atau mengabaikan hak dan kewajibannya sebagai seorang wanita. Bagaimana menurut pendapat Anda?

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sepakat.

  2. sebenarnya kesetaraan gender itu relatif menurut saya… itu bergantung kepada si perempuan tersebut memandang peran gender itu sendiri… makanya saya juga kurang setuju dengan aktivis gender yang terlalu keras.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: