Saling “Bercinta” Walau Berlainan Pendapat

9 Mei 2010 pukul 01:46 | Ditulis dalam Muhammadiyah, Tak Berkategori | 3 Komentar
Tag: , , , ,

Tulisan ini saya maksudkan sebagai lanjutan dari tulisan saya berjudul “Saya ini Perusak Agama Islam.” Bagi yang belum baca, silahkan baca dulu atau baca setelah membaca tulisan ini.

Tadi, habis maghrib, di kamarku berserakan makalah-makalah hasil seminar ideologi Muhammadiyah. Makalah-makalah itu berserakan karena kemarin teman saya Irfa berkunjung ke kos, bertanya darimana saya tahu pidato-pidato KH. Ahmad Dahlan, lalu saya tunjukan makalah-makalah itu. Niatnya mau membereskan malah iseng membaca sekilas beberapa makalah. Aku mendapatkan sebuah paragraf yang menurutku menarik di lampiran sebuah makalah. Lampiran itu berjudul “Keterangan Umum Di Atas Pendirian ‘Majlis Tarjih’ Muhammadiyah” yang merupakan hasil sidang PB Muhammadiyah, tanggal 26/27 Oktober 1927.” Dalam tulisan kali ini, saya hanya akan membahas paragraf kedua dan ketiga dari hasil sidang tersebut. Ketika membaca dua paragraf itu, teman-teman harus ingat, kalimat yang digunakan dalam surat keputusan itu menggunakan bahasa Indonesia tempo dulu. Mungkin kamu akan menemukan kalimat-kalimat yang janggal dan aneh. Berikut ini dua paragraf itu:

“Muhammadiyah merasa wajib berdiri sebagai saudara yang tertua untuk menghilangkan penyakit itu (maksudnya penyakit saling mengkafirkan, menghujat, melabeli buruk, atau saling hina terhadap saudara sesama muslim yang berlainnan pendapat, red) sampai pada akar-akarnya. Pendirian Majlis Tarjih dipandang oleh Commissie sebagai langkah yang utama untuk mencapai maksud itu.

Dalam pada memutuskan hukumnya diatas salah satu masalah keagamaan. Majlis melalui jalan yang terdekat dengan haq, dipandangnya putusan itu sebagai putusan suatu madzhab, dengan tidak mengurangkan kepercayaan, kesetiaan, dan kecintaannya kepada saudara-saudaranya yang berlainan pendapat. Artinya mereka tetap dipandang sebagai saudaranya yang bertunggal kiblat, bertunggal tuhan, dan bertunggal iman.”

Saya akan membahas beberapa kalimat saja yaitu kaliamat:
1. “Muhammadiyah merasa wajib berdiri sebagai SAUDARA YANG TERTUA untuk menghilangkan penyakit itu.”
2. “Dalam pada memutuskan hukumnya diatas salah satu masalah keagamaan. Majlis melalui JALAN YANG TERDEKAT DENGAN HAQ, dipandangnya putusan itu sebagai putusan suatu MADZHAB……”
3. “…dengan tidak mengurangkan KEPERCAYAAN, KESETIAAN, DAN KECINTAANNYA kepada SAUDARA-SAUDARANYA YANG BERLAINAN PENDAPAT. Artinya mereka tetap dipandang sebagai saudaranya yang bertunggal kiblat, bertunggal tuhan, dan bertunggal iman.”

Saya sangat senang dan suka dengan kalimat poin ketiga pada kata-kata “KEPERCAYAAN, KESETIAAN, DAN KECINTAANNYA” terutama pada kata KECINTAANNYA, so sweet benget yah…

TAFSIR KALIMAT PERTAMA
Dalam kalimat “Muhammadiyah merasa wajib berdiri sebagai SAUDARA YANG TERTUA untuk menghilangkan penyakit itu” ada kata “SAUDARA YANG TERTUA”. Ketika membaca kalimat ini, saya membayangkan seperti ini, Andai diibaratkan Umat Islam Indonesia ini adalah sebuah keluarga besar. Keluarga itu terdiri dari banyak anak (Ormas). Muhammadiyah itu adalah Kakak tertua, Kakak kedua PERSIS, kakak ketiga NU, dan seterusnya sampai pada adik-adiknya yang termuda seperti Wahdah Islamiah, MMI, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Majelis Tafsir Al Quran (MTA), dan Hizbut Dakwah.

Dalam keluarga kadang kala sering terjadi percekcokan atau pertengkaran antar sesama saudara, Betul tidak? Jujur dech, temen-temen semua pernah bertengkarkan dengan kakak atau adik kalian kan? Begitu juga dalam keluarga umat Islam Indonesia. Kadangkala terjadi perbedaan pendapat diantara anak-anaknya (ormas-ormasnya). Bahkan perbedaan pendapat itu bisa sampai menjurus pada pertengkaran. Itu suatu hal yang sering terjadi TETAPI JANGAN DIJADIKAN SEBAGAI SEBUAH KEBIASAAN. Kita harus berusaha untuk selalu akur sesama saudara. Menjaga keutuhan sebagai sebuah keluarga besar. Sesama saudara harus saling membantu, bekerja sama, dan saling toleransi. Ketika ada adik-adik yang berantem, sebagai kakak tertua seharusnya bisa menjadi penengah dan pendamai. Kakak tertua juga harus sebagai pengayom bagi adik-adiknya. Kakak tertua juga harus sayang dan cinta sama adik-adiknya. Sebaliknya adik-adiknya juga, harus hormat sama kakak-kakaknya. Apalagi sang kakak tertua ini sudah tua banget usianya sudah 100 tahun (Penaggalan hijriah).

Antar saudara harus sering diintensifkan budaya dialog dan musyawarah. Selain itu, harus dibudayakan juga tabayun. Berbeda pendapat boleh, tetapi jangan sampai bertengkar apalagi saling mengkafirkan, menyesatkan, saling hujat, saling melabeli negatif, atau saling hina. Justru harus dibudayakan saling menyanjung. Misalnya, “saya BANGGA sama kakak tertua saya yang sudah jadi ormas Islam terkaya di Dunia, dan saya juga bangga sama adik-adik saya yang progresif-pogresis dan idealis, khas anak-anak muda. Walaupun kadangkala mereka nyebelin, tetapi saya SAYANG dan CINTA kok sama mereka semua karena mereka adalah SAUDARA saya.” (So sweet yah…!!!)

TAFSIR KALIMAT KEDUA
Dalam kaliamat “Dalam pada memutuskan hukumnya diatas salah satu masalah keagamaan. Majlis melalui JALAN YANG TERDEKAT DENGAN HAQ, dipandangnya putusan itu sebagai putusan suatu MADZHAB……” Ada kata-kata “JALAN YANG TERDEKAT DENGAN HAQ” dan kata “suatu MADZHAB”. Apa latarbelakang sehingga muncul kata-kata itu? Dalam paragraf pertama memang disinggung latarbelakang dari kalimat ini. Tetapi ditulisan ini saya akan mencoba mengeksplor lebih jauh lagi tentang latar belakang tersebut.

KH Ahmad Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah murni menginginkan muhammadiyah sebagai gerakan (organisasi) amal bukan sebuah madzhab pemikiran atau fikh. Suatu organisasi yang lebih menfokuskan pada amal usaha dibidang dakwah, pendidikan, sosial, dan budaya. Ini bisa dilihat dengan tidak adanya buku yang ditulis oleh KH Ahmad Dahlan. Beliau tidak ingin Muhammadiyah menjadi madzab Dahlaniyah dimana semua pengikutnya mengikuti faham fikih dan aqidah yang dipahami KH. Ahmad Dahlan. Justru KH. Ahmad Dahlan berkata bahwa Muhammadiyah yang akan datang akan berbeda dengan Muhammadiyah zaman sekarang (zaman beliau) dan menyuruh murid-muridnya belajar kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun sehingga mereka menjadi ahli dibidang tertentu lalu kembali kepada Muhammadiyah untuk menyempurnakan/memperbaiki amal usaha Muhammadiyah.

Muhammadiyah zaman beliau sangat terbuka untuk dimasuki oleh orang-orang dengan latar belakang yang beragam. Mualai dari berbagai madzab pemikiran, profesi, suku, atau jabatan. Mereka tidak harus memiliki pandangan mazhab yang sama dengan beliau. Bahkan PKO Muhammadiyah (Rumah Sakit) ketika itu, dokter-dokternya semua orang Belanda yang beragama Kristen.

Ketika zaman KH. Ahmad Dahlan sering terjadi percekcokan diantara umat Islam. Terjadi saling mengklaim kebenaran. Kelompok satu mengkafirkan kelompok yang lain begitu juga sebaliknya. Terjadi saling sesat menyesatkan. Terjadi saling mencap ulama yang berbeda pendapat dengannya dengan sebutan ulama ussuu’ (ulama busuk), ulama dajjal, ulama nyeleneh, ulama kristen, dan lain-lain.

Beliau menginginkan terjadi persatuan diantara umat Islam sebagaimana beliau utarakan di Kongres Umat Islam di Cirebon tahun 1921. Beliau ingin semua golongan yang berbeda pendapat itu duduk dalam satu meja dan terjadi diskusi untuk mencari kebenaran. Ingat, yang terjadi adalah DISKUSI untuk mencari kebenaran bukan debat kusir atau untuk saling hujat.

Ketika zaman kepemimpinan KH Ibrahim, keinginan KH. Ahmad Dahlan ini diwujudkan dengan membuat sebuah majelis yang diberi nama Majelis Tarjih. Seperti yang telah saya ditulis diatas, dalam Muhammadiyah terdapat orang-orang dengan latar belakang pendidikan dan madzhab yang berlainan. Di majelis inilah orang-orang itu dikumpulkan. Mereka saling berdiskusi untuk mencari kebenaran atau untuk memilih paham mana yang paling mendekati kebenaran (yang lebih sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah yang Makbullah).

Dalam majelis ini tidak hanya berkumpul orang yang ahli dalam bidang fikih saja tetapi juga ilmuan-ilmuan dari berbagai cabang ilmu. Karena banyak sekali masalah yang dihadapi umat Islam itu berkaitan dengan ilmu-ilmu keduniawian lainnya sehingga pendekatan untuk menyelesaikannya perlu lintas disiplin ilmu. Di dalam Majelis inilah dirumuskan berbagai solusi atau jawaban dari berbagai masalah dan pertanyaan yang dihadapi umat.

Ijtihad yang dilakukan dalam majelis ini bukan ijtihad satu orang ulama tetapi merupakan ijtihad jamai’. Kenapa dilakukan ijtihad jamai’? Walaupun ijtihad jamai’ masih ada kemungkinan untuk salah tetapi lebih efektif untuk meminimalkan resiko dan untuk lebih mendekati kebenaran atau lebih banyak maslahat. Sering sekali keputusan tarjih itu direvisi dari tahun ke tahun.

Ijtihad jamai itu lebih baik, lebih bisa mengurangi resiko, lebih banyak maslahat dan lebih mendekati kebenaran daripada ijtihad perorangan. Tidak ada ulama zaman sekarang yang menguasai berbagai disiplin ilmu sekaligus. Kalaupun zaman dulu para ulama bisa mengeluarkan fatwa secara perorangan itu lebih disebabkan karena tingkat kompleksitas masalah zaman dulu tidak serumit zaman sekarang. Kalau pertanyaan dari umat itu masalah ibadah mahdhoh atau aqidah, mungkin masih bisa diselesaikan/dijawab oleh satu ulama, tetapi kalau itu sudah masuk masalah-masalah duniawiyah, sebaiknya dimusyawarahkan dengan berbagai ilmuan lintas disiplin ilmu. Sangat rawan kesalahan kalau masalah duniawiyah hanya dibahas dari segi ilmu syariat saja tanpa melibatkan ilmu lainnya.

Cita-cita KH Ahmad Dahlan supaya segenap elemen umat Islam saling diskusi mencari kebenaran, alhamdulillah terwujud ketika terbentuk komisi Fatwa MUI. Dalam suatu sidang Komisi Fatwa MUI, itu dikumpulkan para ulama dari berbagai ormas, ulama dari berbagai madzhab, dan ilmuan dari berbagai disiplin ilmu baik dari dalam atau luar negeri. Yang kalau dijumlahkan, jumlah mereka bisa sampai 700 orang sekali sidang untuk membuat sebuah atau beberapa fatwa. Dan hebatnya, keputusan fatwa MUI itu harus berdasarkan musyawarah mufakat tidak boleh suara mayoritas. Jadi kalau 699 orang setuju, satu orang menolak, fatwa itu tidak jadi keluar.

Tetapi sungguh disayangkan, fatwa MUI yang disusun dengan sangat hati-hati, dengan biaya yang mahal, dengan jalan yang sangat sulit penuh dengan diskusi dan debat yang melelahkan diantara para alim-ulama, dan dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai ahli itu, harus dilecehkan, dihina, dan diabaikan oleh umat Islam di Indonesia. Ketika fatwa itu keluar, ramai-ramai orang-orang mencibir, menghujat, dan mengabaikan fatwa itu. Ketika fatwa itu berbeda dengan pahamnya langsung ditolak tanpa mau meneliti terlebih dahulu argumentasi dan dalil yang digunakan MUI. Saya lihat, kebanyakan orang yang menolak fatwa MUI lebih karena nafsunya bertentangan dengan fatwa atau karena mereka baru membaca kesimpulan fatwa tetapi belum meneliti dan menganalisis lebih jauh argumentasi dan dalil yang digunakan MUI.

Saya akan coba kasih contoh, ketika MUI mengeluarkan fatwa haram golput dalam pemilu, ramai-ramai orang-orang menghujat MUI. Ada orang yang menyerang integritas, autoritas, dan kapabilitas MUI dalam menyususn Fatwa. Mereka mengatakan bahwa MUI itu bukan kumpulan para ulama tetapi kumpulan politikus. Padahal coba lihat, dari 700 orang yang menyusun fatwa, berapa orang sih yang politikus? Aku yakin tidak lebih dari 1%-nya. Ada juga yang mengatakan MUI itu hanyalah alat pemerintah dan dapat intervensi dari pemerintah.

Yang mengherankan saya adalah yang dilakukan oleh Majelis Mujahidin Indonesia. Kalau kita baca majalah Risalah Mujahidin edisi yang membahas fatwa haram golput MUI, mungkin kita akan terbawa arus untuk menyalahkan MUI andai tidak membacanya dengan sangat kritis. Kalau di teliti lebih dalam, tidak semua argumentasi mereka kuat. Ketika terjadi debat terbuka antara MUI dan MMI di acara Debat di TV One tentang fatwa ini, bagiku argumentasi MMI itu agak aneh. Misalnya menganggap masalah pemilu itu masuk dalam masalah ibadah mahdhoh atau aqidah yang harus ada dalil al Quran dan As Sunnah. Jelaslah tidak mungkin ada Al Quran dan As Sunnah yang menganjurkan pemilu. Masalah pemilihan kepemimpinan suatu negara termasuk metode pemilu itu adalah masalah muamalah bukan masalah ibadah mahdhah atau aqidah. Beda kaidah usul fikihnya dalam muamalah dengan ibadah mahdhoh atau aqidah. Dalam masalah aqidah dan ibadah mahdhah kaidahnya adalah semuanya haram kecuali ada dalil yang memperbolehkannya. Sedangkan dalam muamalah kaidahnya adalah semuanya boleh kecuali ada dalil yang shaheh dan sharih yang melarangnya. Mereka menggunakan kaidah masalah ibadah dalam masalah muamalah. Harusnya pertanyaannya adalah adakah dalil Al Quran atau As sunnah yang shahih dan sharih yang mengharamkan pemilu? Tetapi pihak MMI bertanyanya seperti ini: adakah dalil dari Al Quran dan As Sunnah yang mengharuskan mengadakan pemilu? MMI menggunakan kaidah masalah ibadah atau aqidah untuk masalah muamalah.

Yang paling membuatku heran, beristighfar dan membuatku marah sekaligus sedih adalah ketika salah satu pendukung MMI yang seorang wanita bercadar mengatakan bahwa ulama MUI itu ulama ussuu’ (ulama busuk) yang menjadi kaki tangan pemerintah. Ya Allah, ampuni dan sadarkan saudaraku itu. Kata-kata itu membuat ulama MUI kelihatan sangat marah dan kesal. KITA BOLEH BERBEDA PENDAPAT TETAPI JANGAN SALING HUJAT. Saling serang argumentasi dan pendapat itu boleh-boleh saja tetapi jangan serang kehormatan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Siapa coba orang didunia ini yang senang dibilang ulama ussuu’ (busuk)? Apakah wanita itu mau diberi gelar atau julukan sebagai ulama ussuu’? kalau tidak, kenapa dia bilang seperti itu? Hal-hal seperti inilah yang ingin dihilangkan oleh KH Ahmad Dahlan. Kenapa berdiri Majelis Tarjih dan komisi Fatwa MUI? Salah satunya untuk menghilangkan hal-hal seperti ini.

Oke, sekarang kita kembali kepada pembahasan masalah kalimat poin kedua. Dalam kalimat tersebut ada kata “Madzhab”. Kalau kita bertanya kepada kebanyakan orang Muhammadiyah apakah Muhammadiyah sebuah madzhab atau bukan, pasti jawabannya adalah bukan. Karena Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan bukanlah bertujuan mendirikan sebuah madzhab tetapi sebagai organisasi yang lebih memfokuskan dalam bidang amal. Adapun Majelis Tarjih hanyalah majelis tempat musyawarah para ulama dan ilmuan untuk mengatasi masalah umat khususnya yang berhubungan dengan masalah agama. Tetapi kalau kita membaca hasil sidang PB Muhammadiyah tersebut secara jelas dan terang tertulis kata “Madzhab”.

Saya pikir, Muhammadiyah secara umum bukanlah madzhab tetapi organisasi massa yang lebih menekankan pada amal usaha dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan budaya. Tetapi secara khusus, Muhammadiyah bisa dibilang sebuah madzhab karena Muhammadiyah punya ciri-ciri sebagai sebuah madzhab. Pertama, Muhammadiayah punya rumusan usul Fikih yang khas meskipun sebagain besar sama dengan usul fikihnya madzhab Ahmad bin Hambal; kedua, Muhammadiyah juga punya Mufti atau badan yang mengeluarkan fatwa. Muhammadiyah punya ulama-ulama yang bertugas mengeluarkan fatwa; ketiga, Muhammadiyah punya paham keagamaan yang khas, yang berbeda dengan paham keagamaan madzhab-madzhab lainnya. Misalnya, paham tentang penggunakan hisab metode wujudulhilal untuk menentukan awal bualan Ramadhan atau bulan-bulan lainnya. Paham ini hanya dipegang oleh Muhammadiyah. Memang ada beberapa ulama selain ulama Muhammadiyah yang sependapat boleh menggunakan wujidul hilal, tetapi itu hanya untuk bulan-bulan biasa bukan untuk bulan-bulan yang ada kaitannya dengan ibadah.

TAFSIR KALIMAT KETIGA
Kalimat ketiga itu berbunyi “…dengan tidak mengurangkan KEPERCAYAAN, KESETIAAN, DAN KECINTAANNYA kepada SAUDARA-SAUDARANYA YANG BERLAINAN PENDAPAT. Artinya mereka tetap dipandang sebagai saudaranya yang bertunggal kiblat, bertunggal tuhan, dan bertunggal iman.” Kalau boleh saya curhat, dari sekian kalimat yang ada dalam hasil sidang tersebut, kalimat inilah yang paling saya suka, soalnya ada kata “KEPERCAYAAN”, “KESETIAAN”, dan “KECINTAANNYA”. Tiga kata yang menurut saya sangat so sweet bangeeeeeeeeet dechhhhh…….. tiga kata kunci yang dahsyattttttt…. Kalau kata pak Mario Teguh, “Super sekali”. Saya berkata seperti ini bukan hanya karena sekarang saya sedang jatuh cinta sama seorang akhwat, tetapi lebih karena memang dalam sebuah hubungan keluarga, pertemanan, persahabatan, hubungan bisnis, kerja sama, atau “hubungan percintaan” harus dilandasi oleh rasa yang ada dalam ketiga kata tersebut. Dengan ada ketiga rasa tersebut, maka kualitas sebuah hubungan akan terjalin lebih indah, menyenangkan, dan efektif untuk mencapai sebuah tujuan bersama.

Ingat, kalimat dalam paragraf kedua yang menjelaskan bahwa Muhammadiyah adalah saudara tertua. Jadi ormas-ormas Islam lainnya adalah saudara-saudara Muhammadiyah. Mereka ada dalam sebuah KELUARGA BESAR UMAT ISLAM INDONESIA. Mereka saling PERCAYA, SETIA, dan MENCINTAI karena mereka adalah saudara. Satu keluarga, satu kiblat, satu Tuhan, dan satu iman.

Misal, ada yang bilang, “kakak kamu itu ulama ussuu’ (busuk)”. Kira-kira kamu sebagai adiknya sakit hati ga? marah ga? Kalau ada orang yang ganggu-ganggu adik kamu, kira-kira kamu akan bela adikmu tidak? Tetapi SESAMA SAUDARA JANGAN SALING GANGGU. Ibarat sebuah kue bolu, kue itu dibelah dan dibagi sebanyak saudara yang ada dalam keluarga, TIDAK BOLEH SANG ADIK MENGAMBIL JATAH KUE SANG KAKAK ATAU SEBALIKNYA SANG KAKAK MENGAMBIL JATAH KUE SANG ADIK. Kalau ada sebuah masyarakat yang sudah menjadi binaan sebuah ormas, ormas yang lainnya jangan coba-coba mengganggu atau ngerecoki. Daripada ganggu, lebih baik cari tempat lain yang belum tersentuh dengan dakwah. Banyak daerah di Indonesia yang belum tergarap atau terbina oleh dakwah Islam.

Meskipun diantara saudara itu banyak terdapat perbedaan pendapat dan pemahaman, tetapi harus tetap dijaga ketiga rasa itu (kepercayaan, kesetiaan, dan saling mencintai). “KITA ADALAH SAUDARA” itu adalah kata kuncinya.

Karangwuni, 6 Mei 2010

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. terima kasih buat sharingnya😀

  2. Saya setuju dengan pandangan mas Surya. Hasil “percintaan” saya dengan orang yang berlainan pendapat dengan saya mengenai “agama” (yang menurut saya tidak identik dengan diin) telah saya tuangkan di http://muhshodiq.wordpress.com/2010/08/04/inilah-nama-agamaku-yang-baru/

  3. Mas, saya bisa menyalin kumpulan makalah dan sumber2 referensi ttg Muhammadiyah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: