Aktivis Gender yang Aneh!!!!!!

30 April 2010 pukul 14:04 | Ditulis dalam opiniku, Tak Berkategori | 2 Komentar
Tag: , , , , ,

Saya pernah diceritakan oleh teman saya pengalamannya ketika bertamu kerumah perempuan aktivis gender. Kata teman saya, sang aktivis ketika sebelum menikah, sangat lantang menentang prilaku suami yang menyuruh-nyuruh istri. Bias gender katanya. Dia mempertanyakan kenapa istri itu harus membawakan minum untuk suaminya, emangnya suami itu sudah tidak bisa jalan? Kenapa istri harus membukakan kaus kaki suami, emangnya istri itu babu? Baca Lebih Lanjut….

Iklan

Perluas Paham Agama

31 Maret 2010 pukul 15:22 | Ditulis dalam opiniku | 2 Komentar
Tag: , , , , ,

KH Ahmad Dahlan pernah berkata intinya bahwa hidup ini hanya sekali, jangan sampai sesat. jangan sampai menyesal setelah meninggal. oleh karena itu, beliau mewajibkan para santrinya untuk terus menerus mencari kebenaran. terus menerus meneliti apakah akidah aku sudah benar? ibadah aku sudah benar? apakah akhlakku sudah benar? apakah muamalahku sudah benar? kalau merasa sudah benar, apa buktinya? pernahkah mengujinya? siapa tahu yang sudah aku yakini selama ini adalah ternyata salah? lalu bagaimana mengujinya? Baca Lebih Lanjut….

Trik Tetap SEMANGAT dan Keluar dari Kemalasan

10 Februari 2010 pukul 06:23 | Ditulis dalam opiniku | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Aku dinasehati sahabatku sang motivator/ praktisi NLP, Hendri Harjanto, hari ahad kemarin, gara-gara sobatku yang lain, si Bamce, cerita kalau aku suka terlambat bimbingan skripsi. Katanya “Seseorang yang suka terlambat itu bukan berati itu sudah menjadi wataknya yang telatan, tetapi itu karena dia tidak punya ALASAN YANG KUAT mengapa dia harus datang tepat waktu.”
coba kalau ada wanita cantik yang mengajaknya makan malam, dia pasti datang tepat waktu.” dinasehatin kaya gitu jadi ingat pas tanggal 28 April 2009 (bagaimana kejadiannya? RAHASIA). benar banget. BAca lebih lanjut…

Hari Ini, Pria Dijajah Wanita

24 November 2009 pukul 15:40 | Ditulis dalam opiniku | Tinggalkan komentar

Saya baca sebuah artikel di http://hitmansystem.com/tentang-wanita/180.html yang berjudul Wanita vs. Pria.

Dalam artikel tersebut, sang penulis menulis:

“kita sekarang hidup dalam dunia yang dikuasai oleh wanita. Sebuah dunia yang menempatkan wanita jauh lebih tinggi daripada pria. Sebuah dunia yang pilih kasih pada wanita. Sebuah dunia yang timpang dan berat sebelah. Sebuah dunia yang membuat Anda, para pria, tidak lagi menjadi pria yang sesungguhnya, tapi menjadi pria yang terkekang oleh peraturan dan norma-norma yang ditentukan oleh wanita. Sebuah dunia yang membuat Anda tumbuh menjadi pria lossy. Baca lebih lanjut…

Neraka TIDAK Kekal…!!!!!

11 November 2009 pukul 20:29 | Ditulis dalam opiniku | 5 Komentar

Tiba-tiba saya tertarik untuk membaca buku berjudul “Mereka Bertanya Islam Menjawab, Pertanyaan Mengganjal tentang Islam yang Sering Diajukan Orang Awam dan Non-Muslim,” yang ditulis oleh Dr. Zakir Naik, Prof. Dr. Shalah Shawi, dan Syaikh Abdul Majid Subh, yang diterbitkan oleh Aqwam, tahun terbit 2009. Saya beli buku itu di bazar buku Mesjid Kampus UGM sayap utara. Saya beli buku itu dua kali, pertama pas bulan Ramadhan kemarin. Buku itu ternyata sangat disenangi oleh Bapak saya sebagai referensi untuk khutbah di mesjid. Kata beliau, buku itu sangat mudah dicerna, argumentasinya kuat, dan dalil-dalilnya kuat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang awam. Beliau sangat membutuhkanya, untuk referensi menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para jamaah mesjid-mesjid yang beliau bina. Akhirnya, buku itu saya berikan kepada bapak saya dan saya beli lagi yang baru beberapa minggu yang lalu. Baca lebih lanjut

Hikmah dalam Buku Catatan Hati Seorang Istri

3 November 2009 pukul 09:57 | Ditulis dalam opiniku | 1 Komentar

Hikmah dalam Buku Catatan Hati Seorang Istri

Beberapa minggu yang lalu, aku baca sebuah buku berjudul Catatan Hati Seorang Istri karya Asma Nadia yang diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa. Isinya adalah kumpulan kisah catatan hati dari seorang istri. Buku itu sangat mengispirasiku dalam masalah hubungan dengan wanita. Terutama sebagai persiapan bagiku kelak memasuki gerbang pernikahan. Aku ingin berbagi hikmah itu dengan teman-teman semua.

Disini aku tulis beberapa hikmah yang berhasil aku tangkap. Tulisan ini secara redaksi tidak mengikuti redaksi yang ada di buku itu. Redaksinya mengikuti apa yang aku ingat dan yang aku pahami. Banyak diantaranya yang aku tambah-tambahi. Baca lebih lanjut…

Shaf sholat wanita kok dibelakang? Bias gender tuh?

13 September 2009 pukul 08:03 | Ditulis dalam opiniku | Tinggalkan komentar

Pada suatu hari, saya ngobrol dengan seorang teman yang juga seorang aktivis gender. Walaupun sebenarnya dia adalah seorang musimah dan berjilbab, tetapi ketika ngobrol tersebut saya kaget dengan sebuah pernyataannya, “Kadang-kadang saya kok merasa Islam itu bias gender juga.” Lalu saya bertanya, “kok bisa? Contohnya seperti apa?” lalu dia berkata, “contohnya ketika sholat berjamaah, kenapa wanita duduk di belakang, bahakan shaf yang paling baik bagi wanita adalah dibelakang. Apakah itu bukannya bias gender?” Baca lebih lanjut

Pakai Jilbab, Sudah Bias Gender, Ribet, Ga Gaul, dan Gerah lagi?

13 September 2009 pukul 07:45 | Ditulis dalam opiniku | 2 Komentar

Curhat Pembuka

Ketika aku bertanya kepada beberapa teman ceweku yang tidak pake jilbab, kenapa dia ga mau pake jilbab, jawabannya biasanya karena pake jilbab itu gerah, ribet, atau karena belum dapet hidayah. Apakah jawaban seperti ini bisa diterima? Baca lebih lanjut…

Benarkah Muhammadiyah dukung JK-Win?

28 Juni 2009 pukul 19:45 | Ditulis dalam opiniku | 2 Komentar

saya mendapatkan seorang teman berstatus di facebook seperti ini:

“dpp hidayatullah, dpp fpi, bkmt, muhammdiyah, nu sudah memberikan dukungan kepada JK-Win …kenapa harus melirik ke calon yang laih????”

Benarkah Muhammadiyah mendukung JK-Win? Apakah kader Muhammadiyah telah melupakan Khittah Muhammadiyah? lalu saya mencari tahu apakah benar Muhammadiyah mendukung JK-Win. saya membuka situs resmi Muhammadiyah. lalu saya menemukan http://www.muhammadiyah.or.id/downloads/Maklumatpilpres.pdf
sebuah maklumat resmi PP Muhammadiyah tentang pilpress, yang diantaranya ada kalimat Baca lebih lanjut…

Sebuah Konsep Hubungan Pra-Nikah

19 April 2009 pukul 18:19 | Ditulis dalam opiniku | 8 Komentar

Sebuah Konsep Hubungan Pra-Nikah

Beberapa minggu terakhir ini, aku sering sulit tidur. Sering memikirkan tentang bagaimana hubunganku dengan dia. Banyak teman yang memberi saran padaku untuk segera menyatakan saja, kalau tidak entar dia keburu direbut orang lain. Tetapi aku yakin kok, kalau Allah memutuskan dia memang yang terbaik untuk jadi ibu dari anak-anakku dan pendamping hidupku, tak kan lari kemana. Ujung-ujungnya aku akan menikah dengannya. Betul tidak? Baca lebih lanjut…

Hidup Poligami !!! (Sebuah Pengantar Kajian Masalah Poligami)

23 Maret 2009 pukul 16:19 | Ditulis dalam opiniku | 6 Komentar

(Sebuah Pengantar Kajian Masalah Poligami)

Sebenarnya, saya berniat akan beristri hanya satu karena saya sadari sendiri, bahwa saya tipe pria yang setia. Buktinya, ketika saya sedang menaksir atau berniat melamar pada seorang wanita (seperti sekarang sedang saya alami), ya saya hanya fokus pada wanita itu. Kalaupun dijalan saya melihat ada wanita yang cantik atau di mesjid saya menemukan wanita yang sholehah yang mungkin serba lebih dari wanita yang jadi target saya, ya seperti wajarnya lelaki yang normal, saya akan ada rasa suka pada wanita-wanita itu. Tetapi itu hanya akan ada sampai di pikiran saya saja. Di hati saya hanya ada satu wanita yang menjadi target saya. Baca lebih lanjut

Gosip Islami

21 Maret 2009 pukul 12:57 | Ditulis dalam opiniku | Tinggalkan komentar

Gosip Islami

Tahukah kalian, ada cara Nge-Gosip atau istilah bahasa Arabnya Ghibah yang tidak dilarang oleh ajaran Islam atau kalau boleh aku buat istilah, Nge-Gosip Islami. Aku mendapatkannya di buku terjemahan Kitab Riadhus Shalihin, karya Imam An Nawawy Jilid 2 yang diterbitkan oleh PT. Alma’arif, Bandung.

Disini aku hanya akan menuliskan ringkasannya saja yang telah ku tambahin penjelasan dan contoh-contohnya. kalau mau tahu dalil-dalilnya, kalian baca sendiri saja langsung ke bukunya, soalnya dalilnya banyak banget.

Ngegosip Islami itu hanyalah ngegosip yang bertujuan baik dan ada unsur keterpaksaan untuk mengutarakannya. Ngegosip yang Islami tersebut yaitu:

1. Ngegosipin orang yang menganiaya kita atau orang lain yang kita saksikan langsung kepada wali hakim atau aparat yang berwenang seperti kepada polisi, atau pihak yang bisa memberikan keadilan atau penegakan hukum. Jadi ngegosipin orang yang Dhalim tersebut kepada teman atau tetangga kita disebut gosip yang haram kecuali dengan harapan teman atau tetangga kita itu bisa membabtu kita untuk melaporkan orang yang dhalim itu kepada pihak yang berwenang. Kalau ngegosipkan orang tersebut kepada teman supaya teman kita juga benci pada orang yang mendhalimi kita, maka itu perbuatan gosip yang dilarang.

Misalnya: Si Kittun dipukul oleh si Alfa, lalu si Kittun ngegosipin kelakuan Si Alfa tersebut pada Polisi dengan tuduhan melakukan kekerasan fisik.

Intinya: ngegosipnya harus pada orang yang berwenang, orang yang bisa memberikan keadilan, pihak penegakan hukum atau orang yang bisa melindungi kita.

2. Ngegosipin seseorang kepada orang yang bisa menasehatin orang tersebut supaya orang tersebut insyaf. Contoh: Si Jayen ngegosipin kelakuan buruk si Irfa (misal suka lihat VCD Porno) kepada Ustad Yunahar Ilyas dengan tujuan supaya Ustad Yunahar menasehatin si Irfa untuk meninggalkan kelakuan buruknya tersebut.

3. Ngegosipin seseorang kepada seorang pakar atau orang berilmu untuk meminta saran, nasehat, atau fatwa menghadapi orang tersebut. Misalnya: Si Lya istrinya Kang Iman, ngegosipin kelakuan suaminya tersebut yang suka pulang ke rumah larut malam dengan alasan yang tidak jelas dan suka ngambek-ngambek tiap paginya, kepada Surya, seorang konsultan/pakar keluarga sakinah, dengan tujuan meminta saran atau solusi permasalahan keluarganya tersebut.

4. Ngegosipin seseorang yang suka berbuat Dhalim kepada banyak orang, supaya orang yang kita ajak ngegosip tersebut terhindar dari perbuatan orang dhalim itu. Misalnya: Si Latifah ngegosipin kelakuan buruk si Isan yang sudah terkenal sering sekali maling jemuran tetangga, kepada ibu-ibu komplek ketika ada arisan RT, dengan tujuan supaya ibu-ibu komplek tersebut hati-hati sama si isan dan tidak menjemur baju di halaman depan rumah.

5. Ngegosipin orang yang sudah secara terang-terangan menjalankan kejahatan. Bagi orang yang berbuat seperti itu, tidak lagi berlaku hukum ghibah, sebab dia sendiri sudah terang-terangan melakukan kejahan didepan umum.

Misalnya: Ngegosipin Preman-preman yang suka malakin pedagang-pedagang kecil di pasar tradisional.

6. Untuk mengenal orang-orang terkenal dengan suatu gelar, seperti Al A’masy, Al A’raj, Al A’ma, Al Ashom, atau Al Ahwal. Semua itu adalah gelar beberapa gelar ahli hadis.

Untuk poin yang ke-6 ini aku belum begitu paham. Bagi teman-teman yang paham maksudnya, silahkan isi kolom komentar dibawah ini dan mari kita diskusi.

fatwa MUI, ikuti argumentasi yang dibangun jangan hanya kesimpulannya saja

14 Februari 2009 pukul 04:42 | Ditulis dalam opiniku | 1 Komentar

Menurut wakil ketua fatwa MUI, fatwa-fatwa MUI kemarin disusun oleh 500 ulama-ulama seluruh Indonesia yang memiliki kompetensi dibidang memberikan fatwa dan 700 peninjau yang ahli di berbagai bidang baik dalam dan luar negeri. mereka semua bermusyawarah dan berdiskusi untuk sampai membuat kesimpulan membuat fatwa-fatwa tersebut.

Kebanyakan orang yang saya tanya pendapatnya mengenai hal ini, mereka hanya melihat fatwa2 ini sekedar pada kesimpulan akhirnya saja, bahwa rokok itu haram, golput haram, dan lain2. Mereka tidak coba melihat argumentasi dan dalil2 yang menjadi dasar kenapa hasil akhirnya dikeluarkan fatwa seperti itu. setiap fatwa yang dikeluarkan MUI pasti ada dasar argumentasi, pertimbangan2, hasil riset, pendapat para ahli di berbagai disiplin ilmu yang berkaitan, dan lain2. dan hal inilah yang patut kita ketahui, pelajari dan diskusikan. jangan hanya hasil akhirnya saja. sepakat?

Aku sendiri masih dalam tahap mempelajari dan mencari informasi mengenai hal ini. aku tidak mau asal ikut-ikutan. mengikuti atau menolak harus atas dasar faham dan mengerti argumentasi yang dibangun. Aku mengajak kepa Anda yang membaca tulisan ini, mari kita melihat segala sesuatunya jangan dari tampak luarnya saja tetapi kita pelajari dalamnya juga. Justru dasar argumentasi inilah yang penting dari suatu pendapat.

Metode dasar dalam menentukan halal dan haram dalam Islam

11 Februari 2009 pukul 15:25 | Ditulis dalam opiniku | 1 Komentar

Setelah saya membaca buku usul fikih, metode/manhaj Tarjih Muhammadiyah, Buku HPT Muhammadiyah, fatwa-fatwa MUI, fatwa-fatwa kontemporer Yusuf Qardhawi, Tanya Jawab Agama yang disusun majelis tarjih Muhammadiyah, membaca berbagai buku lainnya baik itu yang hard copy maupun soft copy, mengikuti kajian-kajian, dan menyaksikan debat masalah fatwa MUI. Saya menyimpulkan dan merangkum secara sederhana yang bisa saya lakukan tentang metode yang sangat dasar dalam menentukan hukum sesuatu dalam Islam. Mungkin disini saya akan lebih fokus pada masalah muamalah (masalah keduniawian) yaitu sebagai berikut:

1. Melakukan pengklasifikasian masalah (apakah itu masalah aqidah, ibadah mahdhoh, mu’amalah, atau akhlaq). Sebelum kita melakukan sebuah kajian yang lebih mendalam, perlu terlebih dahulu menentukan klasifikasi masalah tersebut. Karena tiap klasifikasi masalah tersebut punya prinsif2 yang berbeda dalam penentuan hukumnya.

2. A. Kalau itu masalah aqidah dan ibadah mahdhoh (masalah ubudiyah) maka memakai prinsif : segala sesuatunya haram kecuali ada dalil yang memperbolehkannya. Dalil yang boleh digunakan adalah Al Quran dan hadist yang makbullah (shahih dan hasan) serta ijma (konsensus/kesepakatan seluruh) shahabat atau ulama.

B. kalau itu masalah mu’amalah (masalah keduniaan) maka prinsifnya adalah segala sesuatunya boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Dalil yang boleh dipakai untuk mengharamkan masalah muamalah adalah dalil yang shahih dan sharih (jelas sekali bahwa matan dari alQuran atau hadis tersebut bermakna dengan tegas mengharamkannya, misalnya memakai kalimat larangan, janganlah, perintah untuk menghindari, dll). Hadist yang digunakan harus hadis yang shahih. Kalau dalilnya tidak shahih dan sharih atau shoheh saja tapi tidak sharih, atau sharih tapi tidak shahih, maka dalil tersebut tidak bisa dijadikan dalil untuk mengharamkan suatu masalah. Kalau tidak ada dalil seperti itu, maka hukum dasar dari masalah tersebut adalah mubah (boleh).

3. kalau masalah ubudiyah, pembahasan sampai pada tahap ke 2 lalu diteruskan pada kajian penafsiran dari dalil-dalil tersebut. Tetapi kalau mu’amalah, tidak berhenti sampai di poin 2, harus diteruskan, yaitu menimbang mafsadat dan manfaatnya. Prinsifnya: menghindari mafsadat yang lebih besar harus lebih didahulukan daripada mengambil manfaat. Parameter yang digunakan untuk menentukan apakah suatu hal itu banyak mafsadat atau tidak, yaitu menggunakan maqashid ash shariah. Maqashid asy-Syari‘ah adalah tujuan ditetapkan hukum dalam Islam, adalah untuk memelihara kemaslahatan manusia, sekaligus untuk menghindari mafsadah, yakni memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Tujuan tersebut dicapai melalui penetapan hukum yang pelaksanaannya tergantung pada pemahaman sumber hukum (al-Qur’an dan as-Sunnah). Untuk menentukan apakah suatu hal itu memiliki maslahatan atau mafsadah, para mufti perlu menimbang dari berbagai ahli. Adapun mufti zaman dulu, mereka menetapkan hukium sendiri, dikarenakan masalah yang dihadapi tidak sekompleks yang dihadapi sekarang, dan pengetahuanpun belum sekompleks sekarang, sehingga seorang ulama zaman dulu, selain memahami masalah hukum Islam, mereka juga faham masalah ekonomi, sosial, kesehatatan ,budaya, dll. Berbeda dengan zaman sekarang, ilmu pengetahuan berkembang pesat dan semakin kompleks, tidak mungkin seorang ulama faham ilmu2 tersebut secara mendalam. Padahal masalah ini sangat diperlukan untuk menentukan apakah suatu hal itu memiliki mafsadat yang besar atau tidak. Misalnya masalah rokok, untuk menentukan apakah rokok itu memiliki mafsadat yang lebih besar dari manfaatnya/maslahatnya atau tidak, para ulama perlu bertanya pada ahli kesehatan misalnya dokter, ahli farmasi, ahli lingkungan hidup dll. Kalau setelah dilakukan sebuah pengkajian yang mendalam akhirnya ditemukan terdapat mafsadatnya, maka perkara tersebut hukumnya bisa mubah, makhruh atau bahkan haram. Kalau mafsadatnya sangat besar daripada maslahatnya, maka jatuhnya haram. Kalau mafsadatnya tidak terlalu besar dari maslahatnya, maka hukumnya makhruh. Dan kalau mafsadatnya ternyata sangat kecil dan maslahatnya jauh lebih besar, maka hukumnya jadi mubah.

4. Kalau kita dihadapkan pada suatu pilihan-pilihan, dimana pilihan-pilihan tersebut semuanya jelek atau memiliki mafsadat, maka pilihlah yang mafsadatnya lebih sedikit. Kalau mafsadatnya sama, pilihlah yang paling banyak mashlahat. Kalau sama-sama juga, terserah kita mau pilih yang mana. Dengan menggunakan prinsif yang saya utarakan di poin 3 dan 4 ini, kita bisa menghalalkan apa yang sebelumnya diharamkan, dan mengharamkan apa yang sebelumnya halal. Contohnya, kita tahu bahwa makan daging kambing itu halal, tetapi jadi haram bagi orang yang memiliki penyakit darah tinggi atau jantung, karena mafsadat dari memakan daging tersebut lebih tinggi daripada manfaatnya. Mafsadatnya yaitu bisa menyebabkan kematian, padahal maqasid asy syar’iah (tujuan penetapan syariah) diantaranya adalah melindungi jiwa. Jadi segala sesuatu yang pada awalnya diperbolehkan, tetapi karena dalam keadaan/kondisi tertentu tertentu bisa menjadi haram dan sebaliknya segala sesuatu yang pada awalnya diharamkan, tetapi karena dalam keadaan/kondisi tertentu bisa menjadi dihalalkan atau mubah apabila keadaan/kondisi tersebut mengakibatkan suatu hal melanggar maqasit ash syariah atau mafsadat jauh lebih besar daripada manfaat ketika hal tersebut diamalkan. Untuk lebih mudah memahami, saya coba berikan contoh lain yang lebih ekstrim: Dalam Al Quran terdapat ayat yang menghalalkan seorang laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab (yahudi dan Nashrani). Kehalalan ini bisa jadi haram bila laki-laki tersebut belum memiliki aqidah yang kuat atau dikhawatirkan akan mudah berpindah keyakinan. Hal ini disebabkan karena salah satu maqasid ash syariah adalah memelihara agama. Fatwa haram menikahi wanita ahli kitab pernah dikeluarkan mufti Mesir dan Majelis Tarjih Muhammadiyah dengan alasan, banyak sekali ditemukan kasus baik itu di Indonesia maupun di Mesir dimana laki-laki yang menikahi wanita ahli kitab yang akhirnya berubah keyakinan mengikuti keyakinan sang istri. Tentunya setelah mengeluarkan fatwa ini diikuti dengan menyusun strategi untuk melakukan syiar islam yang lebih intensif dan efektif untuk meningkatkan aqidah ummat sehingga tidak tergiur untuk berpindah keyakinan.

5. Kalau terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang suatu perkara, pilihlah pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama (jumhur ulama), hal ini berdasarkan sebuah hadist yang intinya nabi Muhammad saw bersabda,”kalau terjadi perbedaan pendapat dalam umatku (umat nabi Muhammad saw), maka pilihlah pendapat yang paling banyak didukung karena tidaklah umatku melakukan sebuah kesepakatan dalam masalah maksiat.”

6. Fatwa adalah jawaban dari seorang atau sekelompok ulama terhadap pertanyaan yang disampaikan ummat. Fatwa sifatnya seperti pendapat seorang atau sekelompok orang ulama terhadap suatu masalah. Fatwa hanya mengikat pada orang yang bertanya. Misalnya aku bertanya pada MUI tentang hukum rokok, lalu MUI mengeluarkan fatwa haram, maka bagi aku haram merokok. Orang yang mendengar fatwa tersebut selain aku, tidak wajib mengamalkannya dan boleh berbeda atau mengikuti pendapat MUI. Hal ini karena sebelum aku bertanya, aku dalam keadaan tidak tahu atau masih bimbang dalam hal hukum dari merokok. Karena hal tersebut, aku bertanya pada ahlinya dalam hal ini orang atau sekelompok orang yang memiliki ilmu tentang hal tersebut dan mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan fatwa, dalam hal kasus ini adalah MUI. Lalu MUI mengeluarkan fatwa haram tentang merokok yang disertakan alasan dalil dan argumentasinya. Maka yang sebelumnya aku tidak tahu atau bimbang, maka sekarang aku jadi tahu dan tidak bimbang lagi. Dari fatwa tadi, aku mendapat ilmu tentang haramnya rokok beserta dalil dan argumentasinya, maka aku wajib melaksanakannya karena aku sudah memiliki ilmunya atau aku sudah tahu ketetapan hukum yang aku permasalahkan. Aku yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Karena aku sudah tahu dan yakin, maka tidak ada alasan lain bagiku untuk tidak melaksanakannya. Kalau aku tidak melaksanakannya padahal aku sudah tahu, maka aku berdosa. Kalau ternyata aku mendengar fatwa dari ulama lain tentang hal yang sama (masalah rokok) tetapi kesimpulannya berbeda dengan fatwa MUI tadi misalnya merokok itu makruh, aku wajib membandingkan kedua fatwa tadi, mana yang lebih kuat. Maka fatwa yang lebih kuat dari segi dalil dan argumentasinyalah yang aku laksanakan. Kalau kita tidak memiliki ilmu mengenai cara membandingkan fatwa-fatwa tersebut, saya menyarankan untuk mengikuti fatwa ulama yang lebih kita percayai dengan tentunya kita harus faham dalil dan argumentasinya. Atau kita mengikuti fatwa yang didukung oleh mayoritas atau kebanyakan ulama (jumhuh Ulama (poin 5)).

SEKILAS INFO: TAHUKAH KALIAN, BAHWA UNTUK MENGELUARKAN SUATU FATWA, MUI MENGUMPULKAN 500 ULAMA PILIHAN DI SELURUH INDONESIA SERTA 700 PENINJAU DARI DALAM DAN LUAR NEGERI YANG MEREKA AHLI DI BERBAGAI BIDANG ILMU. (SAYA TAHU MENGENAI HAL INI SETELAH MENYAKSIKAN ACARA DEBAT MENGENAI FATWA HARAM GOLPUT DI TV ONE, KETIKA ITU KH. AMIDHAN, WAKIL KETUA MAJELIS FATWA MUI, MENYATAKAN HAL TERSEBUT). PARA ULAMA DAN PENINJAU TERSEBUT BERMUSYAWARAH UNTUK MENGELUARKAN FATWA. HAL INI DILAKUKAN UNTUK MEMINIMALISIS KESALAHAN DARI SEBUAH FATWA YANG DIKELUARKAN DAN SUPAYA FATWA YANG DIKELUARKAN LEBIH BIJAKSANA SERTA BERMANFAAT BAGI UMMAT.

7. Kalau Ada 2 fatwa atau lebih, dimana fatwa pertama dikeluarkan oleh ulama zaman sekarang dan yang kedua dikeluarkan oleh sahabat Nabi Muhammad saw, maka sebaiknya kita mengikuti fatwa dari sahabat, yang tentunya kita juga harus memahami dalil dan argumentasi yang mereka gunakan. Hal ini karena mereka lebih dekat kepada Nabi, mereka belajar langsung kepada nabi yang menyebabkan mereka akan lebih faham mengenai tafsir dari suatu ayat dan sunnah nabi, dan banyak diantara mereka sudah dijamin oleh nabi akan masuk surga serta akan terus diberi petunjuk oleh Allah setelah Nabi wafat. Dengan alasan tersebut, kemungkinan para sahabat salah mengeluarkan fatwa lebih rendah dari pada ulama setelahnya. 8. Segala sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka wajib diadakan. Misalnya: speaker untuk adzan, bank atau baitul mal untuk transaksi atau penyimpanan keuangan, perahu atau kendaraan untuk dijadikan alat mobilisasi mubaligh atau ustad untuk syiar islam di berbagai daerah terutama di daerah-daerah pelosok, kapur atau spidol untuk sarana belajar dan mengajar, dan masih banyak lagi. Demikian pemaparan dari saya, sekali lagi saya tegaskan, tulisan ini hanya rangkuman dari apa yang saya pelajari dan fahami selama ini tentang metode-metode yang sangat dasar dalam menentukan sebuah hukum dalam Islam. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah datangnya dari saya pribadi yang masih harus terus belajar tentang masalah usul fiqih. Apabila ada tulisan saya yang salah, saya minta kritik dan sarannya, kalau bisa disertai sumber rujukan bagi saya untuk saya pelajari lebih lanjut.

Bogor, 5 Februari 2009

Iklan PKS, Salahkah? Tanggapanku Terhadapnya sebagai Salah Satu Pengagum KH A. Dahlan.

7 November 2008 pukul 18:45 | Ditulis dalam opiniku | 1 Komentar
Cuma mau mengungkapan unek-unek, menurut apa yang aku fahami. tulisan ini merupakan pendapat pribadiku dalam menanggapi iklan PKS yang membawa-bawa salah satu tokoh yang kagumi akhlaq, perjuangan, dan pemikirannya, KH. Ahmad Dahlan.
1. iklan itu, jejas-jelas kampanye partai. tujuannya menarik masa untuk mencoblos partainya. saya pernah liat tayangan berita di TV One, Ketua HUMAS PKS secara jujur mengatakan itu iklan bersifat politis, meskipun ketua praksi keadilan sejahtera menyangkal kalau ada unsur politis. tapi kalau dicermati bagian akhir iklan itu ada tulisan “bangkit pemimpin muda bersama PKS”. itukan kampanye namanya. apakah kampanye tidak ada unsur politis? apasih tujuan kampanye?

2. KH A Dahlan, KH Hasyim asyari, dan Ir Sukarno merupakan tokoh-tokoh nosional yang memiliki basis masa yang besar di Indonesia. kalau yang dimunculin tokoh2 seperti Cut Nyak Din, Patimura, H Agus Salim, atau Ki Hadjardewantoro, aku yakin tidak akan ada masalah, karena mereka tidak memiliki basis masa. mereka tidak memiliki basis masa, tetapi memiliki banyak pengagum/ penggemar. teman2 tentu bisa membedakan basis masa dengan pengagum/penggemar kan?

3. dengan memasukan tokoh2 yang memiliki basis masa dalam kampanye, yang jelas2 pasti ada unsur politisnya, pasti ada unsur menarik masa dari basis masa tokoh yang dimasukan ke dalam iklan tersebut. saya yakin itu. apalagi tokoh2 yang jelas-jelas memiliki banyak basis masa lebih dari 20 juta.

4. yang namanya kampanye pasti ada unsur membujuk, atau menarik masa untuk memilih partainya atau calon legislatif atau calon presiden yang diusung.

Kesimpulan: Iklan itu secara tidak langsung mengajak orang2 yang masuk basis masa tokoh2 tersebut untuk memilih partai yang diusung iklat itu.

Salahkah? kalau tokoh-tokoh yang lain yang ada di iklan tersebut, aku tidak tidak akan mengomentari. karena pengetahuanku tentang tokoh tersebut masih sangat minim.

Yang jelas, KH Ahmad Dahlan (Tokoh yang aku gemari) yang banyak sekali aku baca tentang sejarah dan pemikirannya adalah tokoh yang tidak mau masuk dunia politik, tidak suka politik tapi paham politik, melarang menjadikan muhammadiyah menjadi kendaraan politik. beliau pernah marah dalam sebuah sidang karena hampir semua peserta sidang ingin menjadikan Muhammadiyah sebagai kendaraan politik, lalu beliau bertanya “Apakah kalian sudah menjalankan Islam dengan sebenar-benarnya?” kalau orang yang tidak kenal beliau dan pemikiran beliau, pasti akan akan bingung mendengar pertanyaan itu, tetapi orang muhammadiyah yang mempelajari pemikiran beliau pasti tahu apa maksud beliau. makanya semua peserta sidang kala itu seperti tersadarkan, langsung intropeksi diri, dan langsung merenungi pertanyaan beliau. akhirnya mereka sepakat untuk tidak menjadikan muhammadiyah jadi kendaraan atau alat politik. (kalau mau tahu pemikiran beliau silahkan teman2 baca buku2 tentang pemikiran beliau seperti salah satunya “7 falsafah pemikiran KH A. Dahlan dan 14 kelompok ayat”)

andai beliau hidup sekarang dan tahu namanya dan ucapannya dijadikan sebagai alat kampanye suatu partai politik, apakah beliau ridho?

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.