Wanita Senang Digoda?

13 Desember 2009 pukul 14:47 | Ditulis dalam Perjalanan Hidup | 1 Komentar

Sebenarnya saya tipe orang yang pemalu dan pendiam. Saya juga termasuk orang yang sering grogi kalau ngobrol dengan gadis yang baru dikenal. Disamping itu, tidak terlalu bisa menggoda atau merayu wanita.

Dari pergaulan di kampus dan di lingkungan kos, saya menyimpulkan bahwa kebanyakan wanita itu senang sekali digoda. Sepertinya, kalau digoda itu, mereka merasa dirinya mempesona atau merasa dirinya menarik. Baca Lebih Lanjut…

Iklan

Hitbah yang “Aneh”, Sebuah Proses Pencarian Hukum Pacaran dalam Islam, Bagian 1 dari 2 bagian

19 Maret 2009 pukul 14:21 | Ditulis dalam Perjalanan Hidup | 6 Komentar

Hitbah yang “Aneh”,

Sebuah Proses Pencarian Hukum Pacaran dalam Islam

Bagian 1 dari 2 bagian


Kali ini aku akan menulis tentang pengalaman percintaanku ketika jadi aktivis organisasi rohani Islam sebuah SMA paling terkenal dan terbaik di sebuah kota yang dikelilingi gunung, di kawasan Priangan Timur di provinsi Jawa Barat, yang selalu mengagung-agungkan semboyan “PACARAN NO, HITBAH YES”. Sebut saja nama SMA ku itu SMAN Dahsyat dan organisasi itu namanya DKM Hebat. Tetapi izinkanlah aku, bercerita terlebih dulu tentang proses pemikiranku atau pencarianku tentang hukum pacaran dalam Islam sejak SD sampai SMP.

Asal teman-teman tahu, aku dilahirkan dari keluarga seorang ayah yang jadi ketua dewan kemakmuran mesjid (DKM) dan aktivis dari organisasi Islam yang “katanya” mengelola wakaf tanah yang kalau dikumpulkan dari seantero wilayah Indonesia, luasnya kurang lebih sama seperti luasnya provinsi Jawa Barat, dan satu-satunya organisasi keagamaan di dunia yang kekayaannya hanya bisa dikalahkan oleh Vatikan. Apalagi kalau bukan organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Meskipun demikian, ayahku itu orangnya sangat-sangat moderat banget. Buktinya, beliau mengizinkan anak-anaknya pacaran.

Meskipun demikian, aku anaknya, ketika SD, sangat-sangat bodoh sekali dalam masalah agama. Bukan karena Bapakku tidak mengajarkan agama, tetapi akunya sendiri yang sangat-sangat males banget belajar Agama. Tiap hari diceramahin Bapakku, masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Aku juga selama 4 tahun di sekolahkan di sekolah Agama milik Muhammadiyah. Pagi hari belajar di SD Negeri, siangnya sampai sore, sekolah di sekolah agama itu. Dan di sekolah agama itu aku memecahkan rekor prestasi yang gemilang sepanjang sejarah, segemerlap bintang di malam hari ketika bulan purnama, yaitu selama 4 tahun mendapatkan peringkat terakhir dikelas.

Kemalasanku mulai sedikit berubah. Berawal sejak aku duduk di bangku SMP kelas 2. Ketika itu, aku mengalami overdosis obat. Aku dikasih dokter dosis yang terlalu tinggi untuk usiaku ketika itu untuk sebuah penyakit yang dikenal dengan penyakit “Kuning”. Aku harus diam di rumah selama 2 bulan. Aku cuma bisa makan bubur atau nasi tim. Padahal aku sangat ingin sekali makan mie ayam atau basho tahu khas kotaku yang nikmat sekali. Tiap hari diotakku hanya ada makanan-makanan kesukaanku itu.

Ketika sakit itu, kerjaanku hanya tidur atau lihat TV. Sebuah pekerjaan yang membosankan bagiku. Karena bosan itulah, aku otak-atik lemari buku ayahku yang penuh sekali dengan buku-buku agama. Lalu aku lihat ada beberapa buku yang tebal banget yang kayaknya bisa ku dijadikan bantal untuk tidur karena tebalnya, yaitu kitab terjemahan Shahih Muslim, kitab terjemahan Riadhus Shalihin jilid 1 dan 2, kitab terjemahan Adz Zikra Imam An-Nawawi, Terjemahan Kitab Bulughul Maram, Kitab Fikih Sunnah Sayid Syabiq jilid 1-14, dan lain-lain. Dari buku-buku itu, buku favoritku adalah kitab Shahih Muslim, Riadhus Shalihin, Adz Zikra, dan Kitab Fikih Sunnah,. Alasannya karena dalam kitab-kitab itu ada bab yang membahas tentang pernikahan dan masalah sex. Maklumlah anak baru gede. Secara gitu, anak laki-laki yang baru dapet mimpi basah. Jadi, sangat tertarik banget membaca masalah-masalah seperti itu. Dulu itu, sampai aku hapal banget halaman dan bab berapa yang membahas tentang hal-hal itu.

Tetapi kadang-kadang aku baca juga bab lain di kitab-kitab itu. Gawatnya yang kubaca adalah hal-hal seperti: berduaan pria dan wanita bukan muhrim itu haram, bersentuhan kulit wanita dan pria bukan muhrim haram, harus menundukan pandangan, menjaga kemaluan, harus menghindari obrolan yang sia-sia, membayangkan wanita itu zina hati, dan lain-lain.

Gara-gara baca-baca kitab-kitab itu, aku yang sangat bodoh dalam masalah agama, menyimpulkan bahwa pacaran itu haram. Padahal ketika itu, aku sedang jatuh cinta sama seorang cewe yang cantik dan imut banget. Wajahnya selalu menyertaiku kemanapun aku pergi. Aku ingin banget pacaran dengannya. Ingin juga aku katakan padanya bahwa aku suka dan sayang banget padanya. Aku selalu ingin berlama-lama disekolah supaya bisa lihat dia. Liburan sekolah bagiku adalah siksaan karena untuk beberapa minggu aku tidak bisa melihatnya. Padahal, baru saja pulang sekolah, aku sudah rindu lagi ingin bertemu dengannya.

Tetapi gara-gara baca buku-buku itu, aku ga jadi pacaran dan hanya bisa “ngiler” melihat teman-temanku pacaran dan kakak-kakakku pacaran. Ingin rasanya aku berontak, kenapa aku harus tahu masalah ini ketika aku masih kecil begini, jadinya aku tidak punya pengalaman indah “percintaan monyet” ketika SMP dan SMA. Ya nasib..ya nasib…

Ketika SMP itu, aku Cuma bisa melihat si Bunga (anggaplah itu namanya) dari jauh. Sialnya aku sekelas dengan dia dari kelas 2 sampai kelas 3 SMP. Selama 2 tahun aku tersiksa dengan cinta yang tidak tersampaikan. Hiks..hiks…

Selama 2 tahun itu, aku tidak berani ngobrol lama-lama dengannya, takut timbul syahwat. Takut saling pandang, takut aku tiba-tiba pingsan, deg-degan kalau berhadapan dengannya, dan takut-takut yang lainnya.

Penah aku nasehatin kakak-kakakku yang sedang pacaran. Aku katakan pada mereka kalau pacaran itu haram. Tetapi apa coba tanggapan mereka? Mereka Cuma tertawa. Mungkin mereka berkata dalam hati, “dasar anak kecil bau kencur, tau apa kamu tentang pacaran.” Tetapi ga apa-apalah, sudah nasibku yang jadi anak terakhir, suka diremehin, apalagi aku ketika itu masih kelas 2 SMP, mereka sudah pada kuliah. Tetapi sebelnya, ketika mereka sudah menikah, mereka menasehatin aku kalu pacaran itu haram, jadi kata mereka, aku ga usah pacaran. Aku protes, “kalian curang, dulu aja masih pacaran, aku katakan pacaran itu haram, kalian tertawain aku, sekarang sudah menikah malah nasehatin aku jangan pacaran, pacaran itu haram, dasar kalian.”

Inti cerita

Sampai akhirnya aku masuk SMA. Sialnya, si Bunga juga masuk SMA yang sama dengan ku. Untungnya beda kelas. Di SMA ini, aku masuk organisasi DKM Hebat. Di sana aku ketemu sama 4 orang teman Super: Uslan, Ukuy, Zai, dan Udin yang selalu memberiku banyak pengalaman dan pemikiran yang serba super serta banyak sekali “Akhwat-akhwat” yang super pula, maksudnya, super sholehah, pinter, cantik-cantik, anggun-anggun, semangat-semangat, dan inspiratif banget. Aku juga ketemu sama seorang kakak kelas yang super jenius dan super sholeh banget. Anggap saja namanya Rahar. Rahar ini sangat dekat sekali denganku. Dia sering tidur di rumahku. Dia selalu mengajak aku untuk sholat tahajud, baca Al Quran, sholat Dhuha, berdakwah, belajar, dan lain-lain termasuk pacaran Islami ala DKM Hebat yang diberi nama Hitbah. Dialah inspiratorku dalam masalah hitbah ini.

Suatu malam, aku ikut pengajian pemuda yang diadakan di mesjid yang diketuai ayahku. Yang ngisi ketika itu seorang santri dari pesantren miliknya organisasi Pak Ahmad Dahlan yang terkenal di kotaku. Entah kenapa ketika ada diskusi, kok menjurus ke masalah pacaran. Anehnya, sang pembicara memperbolehkan pacaran. Kontan aku protes. Keluarlah dari mulutku berbagai dalil baik dari Al Quran maupun Hadis yang menjurus pada haramnya pacaran. Mulai dari dalil yang mengharamkan berduaan, bersentuhan kulit, ciuman, zina hati, ngobrol yang ga ada faedahnya, pacaran itu mengarah pada mendekati zina, dan lain-lain.

Terjadilah debat yang tidak seimbang. Secara gitu, dia anak pesantren, jago bahasa arab, tahu tafsir Al Quran dan hadis, dan hapalan Al Quran dan Hadistnya lebih banyak dariku. Sialnya, semua peserta kajian mendukung dia kecuali aku. Jadilah kondisi yang tidak seimbang. Aku dikepung begitu banyak orang yang memiliki pendapat yang berbeda dariku dan diantara mereka banyak juga yang lulusan pesantren. Sedangkan aku, hanyalah seorang yang selama 4 tahun sekolah agama, mendapatkan peringkat terakhir terus dan juga belajar agama hanya dari baca buku dan dengerin ceramah Bapakku yang juga pro pacaran.

Ketika ku utarakan dalil haramnya bersentuhan kulit, dia mendebatku bahwa dalil-dalil yang kugunakan menggunakan kata “Lamastumunnisa” yang maknanya bersentuhan kulit dengan wanita dalam upaya hendak melakukan persetubuhan atau istilah kerennya “Foreplay” sebelum melakukan sex dan juga menyentuh disini bisa bermakna berhubungan sex. jadi, dalil itu tidak mengharamkan bersentuhan kulit biasa.

Ketika ku utarakan dalil tentang haramnya berduaan, karena kalau pacarankan biasanya suka berduaan. Dia juga membatahnya, Bahwa banyak juga dalil-dalil, perilaku Nabi dan cerita-cerita atsar sahabat yang mengindikasikan bahwa mereka melakukan khalwat atau berduaan.

Dia juga beralasan, dalam masalah muamalah itu, semuanya boleh kecuali ada dalil yang shahih dan sharih yang mengharamkannya. Pacaran adalah masalah muamalah. Sekarang ada tidak dalil yang menghramkan pacaran? Tidak adakan? Yang ada hanya dalil-dalil yang mengatur tentang adab-adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Jadi, pacaran itu boleh-boleh saja karena tidak ada dalil yang mengharamkannya. Kalau ada orang yang berpacaran yang melanggar adab pergaulan dalam Islam, bukan berarti hukum pacaran menjadi haram. “Ya, kita pacarannya jangan melanggar adab-adab pergaulan laki-laki dan perempuan yang Islami.”

Semua alasan yang kukemukakan, dia bantai habis. Teman-temanku yang hadir di pertemuan itu senang sekali aku terpojokkan. Kesimpulan dari pengajian itu adalah, Pacaran itu boleh.

Pulang kerumah aku mangkel sekali. Kalah berdebat memang menyakitkan. Berdebat memang membuat otakku jadi panas dan hatiku menjadi kurang enak. Malu juga karena argumentasiku dibantai habis, sehabis-habisnya. Tetapi beberapa hari setelah itu, aku mulai merenungi apa-apa saja yang menjadi dalil dan argumentasi yang membolehkan pacaran. Kupikir-pikir, argumentasi si pembicara di pengajian itu ada benarnya juga. Otak pragmatisku mulai bekerja. Lalu di lubuk hatiku, aku berkata, “wah sekarang aku punya alasan yang kuat untuk pacaran.”

Saking senangnya aku karena punya alasan untuk pacaran, aku sebarkan paham baruku pada teman-temanku di DKM Hebat. Kontan mereka mendebatku. Ditambah lagi disana ada si Uslan, Cucu dari seorang kyai kalangan NU yang terkenal di kotaku, yang katanya si Uslan, kakeknya itu Wali karena punya “karomah” yang bisa menghilang tiba-tiba ketika dikepung oleh tentara DI-TII yang sebelumnya beliau membantah habis Kartosuwiryo dan ideologi DI-TII yang menurutnya sudah tidak Islami lagi.

Si Uslan ini medebat lagi pendapat pembicara yang dikajian itu. Wah tambah pusing saja aku. “Yang benar yang mana, pacaran itu boleh atau tidak sih?” begitulah teriakan didalam hatiku ketika berdiskusi sama si Uslan. Pusing aku. Beginilah nasib orang yang waktu kecilnya tidak pernah serius belajar agama atau orang yang belajar agama hanya dari baca buku.

Ku coba diskusikan dengan Bapakku, kontan saja dia lebih membela yang membolehkan pacaran. Wah, tambah pusing lagi aku. Ditengah kepusingan itu, aku bertekad untuk membuat formulasi yang bisa menengahi perbedaan dua pendapat itu.

Akhirnya, disuatu keheningan malam, aku mendapat sebuah ide untuk membuat sebuah tulisan yang memcoba menengahi kedua pendapat itu dengan membuat konsep “Pacaran Islami”. Sebuah model pacaran yang tidak melanggar adab-adab pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan belum menikah. Aku coba perbanyak lagi diskusi dan baca buku tentang tema-tema yang berkaitan tentang adab dan masalah-masalah dalam pacaran.

Singkat cerita, aku sudah menyelesaikan sebuah konsep Pacaran Islami. Lalu aku coba kasihkan konsep itu ke teman-teman di DKM Hebat dan teman-temanku di kelas. Kalau temen-temanku di kelas, mereka jelas mendukungku, tetapi kalau teman-teman di DKM Hebat, ya jelas juga menolak gagasanku. Mereka bilang, “pacaran ya haram. Tidak bisa diganggu gugat.” Lalu mereka menganalogikan, “emang ada daging babi yang Islami? Judi yang Islami? Merampok yang Islami? Taruhan yang Islami?”

Wah pusing juga aku didebat seperti itu, lalu aku merubah judul itu jadi “Etika Pacaran Yang Islami,” penggantian judul seperti itu tidak membuat mereka mau menerima konsepku. Akhirnya disuatu malam, ketika ada kegiatan mabit (Malam Bina Iman dan Takwa) yang diadakan secara sukarela antara anggota DKM Hebat yang laki-laki atau lebih dikenal dengan istilah “Ikhwan” (kalau yang putri “akhwat”). Aku dilingkari oleh teman-temanku yang dipimpin oleh si Uslan, dia menanyakan dan menegaskan kembali, apakah aku masih berpendirian bahwa pacaran itu boleh, lalu aku menjawab, “oke, pacaran itu haram, tetapi ketika kita mau berdakwah pada teman-teman kita yang sangat awam atau teman-teman yang sedang asik-asiknya berpacaran, tentu memerlukan sebuah pendekatan yang bukan hitam-putih atau halal-haram, harus ada pendekatan yang berbeda.” Lalu ku lanjutkan, “kalau kita mendakwahi teman-teman di DKM bahwa pacaran itu haram, ya gampang saja, mereka akan nurut-nurut saja, soalnya pikiran dan hatinya sudah lunak akan penerimaan pelajaran Islam atau nilai-nilai Islam, tentu beda dengan teman-teman kita di luar sana. Menghadapi mereka, berdakwah pada mereka, tidak bisa langsung mengharamkan begitu saja, perlu sedikit-sedikit, pelan-pelan, dan penuh dengan kesabaran serta kebijaksanaan dan yang paling penting tauladan dari kita.” Setelah ku katakan seperti itu, mereka mulai bisa memahimi maksud tujuanku.

“Makanya aku membuat tulisan itu, dalam rangka berdakwah dengan secara bertahap. Awalnya jangan langsung menyampaikan pacaran itu haran, cukup memberi tahu tentang etika pergaulan dalam Islam, bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkan kalau melanggar etika itu baik di dunia maupun diakherat, kenapa Islam mengatur yang demikian, dan anjuran kalau memang mereka “keukeuh” mau pacaran, supaya mereka berpacaran dengan tetap menjaga agar jangan sampai melanggar etika-etika pergaulan yang Islami tersebut.” Lalu ku jelaskan, “kalau mereka sudah bisa memahami dan mempraktekan etika-etika itu, cepat lambat, aku yakin mereka akan meninggalkan pacaran, karena sangatlah sulit sekali menjaga etika itu kalau sedang pacaran. Biarkan proses berpikir mereka jalan yang akhirnya menimbulkan kesadaran dalam diri mereka sendiri kalau pacaran itu tidak baik. Tugas kita adalah mengawal proses tersebut agar berjalan sesuai dengan tujuan.”

Bersambung ke bagian 2

Taruhan Islami

17 Maret 2009 pukul 08:47 | Ditulis dalam Perjalanan Hidup | 1 Komentar

Taruhan Islami

 

Bukannya taruhan itu judi? Judi itu kan perbuatan yang diharamkan dalam syariat Islam? Apakah ada taruhan yang Islami atau sesuai dengan syariah? Atau itu hanyalah sebuah akal-akalan fikih saja? Atau sebuah pemikiran liberal?

 

Jawaban dari semua pertanyaan itu tergantung pada sejauh mana kedalaman ilmu fikih Anda. Yang jelas tulisan ini hanya akan bercerita tentang kisah pribadi saya ketika beberapa bulan yang lalu melakukan taruhan dengan teman kuliah dan alasan yang saya gunakan untuk membenarkan taruhan tersebut. Terserah Anda para pembaca menilai apakah itu taruhan Syariah atau hanya akal-akalan fikih saja atau mungkin sebuah pemikiran yang ngawur atau malah Anda sependapat dengan saya? Terserah Anda.

 

Ada dua jenis taruhan yang pernah saya lakukan beberapa bualan terakhir ini, (1) taruhan hadiah dan (2) taruhan kado-syukuran. Begini ceritanya:

 

1.    Taruhan Hadiah

 

Kalau tidak salah pada bulan Desember tahun yang lalu tanggalnya aku lupa lagi, aku mengalami sedikit stres karena menghadapi sebuah masalah yang cukup besar menurutku. Biasanya kalau aku lagi stres atau melamun, pikiranku itu jadi agak liberal atau nyeleneh, begitulah kata teman-temanku.

 

Di suatu siang, ketika aku mengalami stres, tiba-tiba datang temanku yang sedang dalam proses ku “liberalkan” (Cuma istilah yang kupakai untuk sebuah proses transfer ide-ide ‘gilaku’ kepada seseorang) dan teman saling ejek, anggaplah namanya Jayen, datang ke kosku. Aku curhat masalahku sambil menangis. Terserah kalian mau menganggapku cengeng atau apalah. Yang jelas, biasanya aku menghadapi masalah dengan senyuman seperti lagu dewa, “…hadapi dengan senyuman, ..semua masalah yang terjadi biarlah terjadi..” akan tetapi, masalah yang kuhadapi ketika itu sangat berat bagiku. Akan tetapi beberapa menit kemudian, aku dan jayen ketawa-ketawa dan saling ejek seperti hari-hari biasa plus tidak lupa saling jail menjaili. Aku paling senang mencubit pipinya yang cabi dan bulat terus menusuk-nusukan jariku ke samping kiri dan kanan perutnya. Soalnya kalau ku lakukan itu, reaksinya lucu banget karena badannya yang super gemuk.

 

Kalau kalian mau mengatakan aku, “orang yang aneh,” ya benar, aku adalah orang yang aneh.

 

Biasalah, daripada stress, daripada kebanyakan curhat sambil nangis pula yang bisa tambah stres, meningan sedikit curhat sebagai luapan hati yang resah habis itu banyakin bercanda supaya bisa melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapi dan menenangkan hati. Kalau hati tenang, pikiranpun kan jernih. Begitulah kata AA Gym.

 

Eh sedang asik-asiknya aku jailin si jayen, tiba-tiba datanglah temenku yang lain, anggaplah namanya Dudung. Dia datang-datang ga diundang, ga tahu kalau aku lagi dalam proses penyembuhan dari stres, eh dia langsung aja nyelonong curhat kalau dia lagi dalam masa penurunan semangat belajar dan kuliah.

 

Ya sebagai teman yang baik, ya terpaksa ku dengarkan curhatannya sampai selesai. Lalu seperti ku jelaskan di atas, kalau aku sedang stress suka muncul ide-ide gila yang nyeleneh. Tiba-tiba di otakku muncul ide untuk ngajak dia taruhan gede-gedean IPK sampai semester ganjil. Alasannya biar aku dan dia jadi terpicu semangat belajar dan kuliah. Padahal dalam lubuk hatiku yang terdalam aku cuma mau jailin dia saja, secara, sejak firaun main petak umpet sampai sekarang, meskipun IPK ku juga belum pernah cumlaude tetapi tetap saja IPK dia belum pernah melebihi aku. Lumayankan, apalagi taruhannya adalah: “yang IPKnya paling kecil harus secara ikhlas dan legowo memberikan hadiah berupa mentraktir yang IPKnya lebih tinggi di Warung Steak dengan menu makanan dan minuman termahal yang ada di sana.” Lumayankan, kapan lagi aku makan steak dengan menu termahal. Dan juga lumayanlah buat cerita keren-kerenan ke anak cucu ntar kalau sewaktu kuliah Ayah atau kakeknya pernah makan produk makanan yang mahal karena menang taruhan gede-gedean IPK.

 

Tiba-tiba si jayen nyambung aja, ga tahu aku ketika itu dia pake sinyal apa, mungkin pakai sinyal telkomsel, kok datang ga diundang, pulang ga diantar, dia masuk saja ke obrolan aku sama Dudung. Dia protes, “bukannya taruhan itu haram? Itu judi!” Dengan santai aku menjelaskan, “loh, ini kan taruhan dengan akad memberikan hadiah. Dalam Islam memberikan hadiah kepada Teman atau saudara adalah sunnah dan sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. Bedanya dengan judi, kalau judi itu syaratnya ada pihak yang merasa dirugikan atau merasa di dhalimi. Tetapi taruhan ini, pihak yang kalah memberikan hadiahnya dengan ikhlas dan legowo berupa mentraktir temannya yang menang. Jadi, ini bukan judi, karena syarat judi tidak terpenuhi. Kalau syarat judi tidak terpenuhi, berarti bukan judi. Setiap hukum muamalah itu tergantung pada akadnya. Kalau akadnya judi ya haram, kalau akadnya hadiah, ya itu sunnah.” Habis ku jelaskan itu, dia ga bisa ngomong apa-apa lagi. Sebenarnya di wajahnya yang bulet dan lucu plus polos itu, dia seperti berkata bahwa dia ga setuju dengan pendapatku, tetapi kayaknya sih, dia ga tahu argumentasi yang lebih kuat untuk mengalahkan argumentasiku diatas. Dalam lubuk hatiku berkata, “kok bisa yah tadi aku ngomong seperti itu, pinter banget gue bisa berargumentasi kaya itu, sampai si jayen aja yang biasanya cerewet dan sering protes ga bisa bales argumentasiku. Kok bisa ya, tadi aku dapat wangsit dari mana yah?” Begitulah isi otakku kalau lagi stres. Tapi setelah otakku kembali normal, ku pikir-pikir argumentasiku tersebut “ada benarnya” juga ya.

 

Anehnya lagi, si Dudung yang biasanya orangnya kritis, banyak akal, dan sering memprotes ide-ide gilaku, ketika itu malah setuju dengan usulan taruhanku itu. Mungkin dia kepepet ga tahu cara apalagi untuk bisa meningkatkan semangat belajar dan kuliahnya. Salah dia sendiri, curhat pada orang yang lagi stres, ya gitulah jawabannya.

 

Kadang-kadang terbersit dalam pikiranku, kalau aku sedang stres, otakku tiba-tiba lebih cerdas dari biasanya dan lebih banyak akal terutama untuk menipu dan menjailin orang.

 

Ehhh, besoknya pas aku kuliah, ada satu lagi temanku yang curhat masalah yang sama. Anggap saja temenku ini namanya Tora. Si Tora ini hampir sama seperti si Dudung, dari jamannya Abu Jahal masih ngopol di celana sampai sekarang, IPK atau IP nya belum pernah lebih tinggi dari aku. Makanya aku juga ngajak dia taruhan yang sama dengan alasan yang sama, Cuma bedanya, kalau sama si Dudung aku taruhan IPK tetapi kalau sama Tora aku taruhan gede-gedean IP semester ganjil. Lumayankan biasa makan gratis dua kali di Warung Steak, menu termahal lagi. Gila, keren kan gue!!!

 

Tak kusangka, tak kuduga. Si dudung dan si Tora yang bisasnya males banget belajar, pas masa ujian, mereka agak sedikit rajin. Pikirku, wah gawat nih, jangan-jangan IPK dan IP mereka lebih tinggi dari aku. Bahaya juga, kalau aku traktir mereka berdua, bangkrut aku.

 

Bukannya sadar, aku malah tambah males belajar. Besoknya mau ujian, malah asik main game empires II dari ba’da Isya sampai subuh di komputerku selama dua minggu ujian. Pikirku ketika itu, “sudah stres, harus persiapan ujian pula, wah bisa tambah botak kepala gue, meningan main game aja, tuk menyenangkan diri. Biar besok pas ujian, otakku dalam keadaan lebih segar. Masalah jawaban ujian? gampang masih bisa mengarang indah plus dapet wangsit dari kakeknya kakeke kakek kakek kakek….neneknya nenekku, Prabu Siliwangi[1].” Maklum, kata ayahku, aku masih keturunan Prabu Siliwangi (Salah satu raja dari Kerajaan Pajajaran) dari putrinya Larasantang. “Taruhan? Ah gampanglah, kayaknya aku bakalan menang. Terus bisa menghemat makan selama seharian. Enak-enak lagi makanannya. Tempatnya agak elit pula”

 

Sampailah pada bulan Februari tahun 2009, nilai-nilai kuliah semester lalu diumumkan. Tanpa kusangka dan kuduga, IP ku naik drastis. aku juga bertanya-tanya, kok bisa yah? Mungkin di bantu wangsit Prabu Siliwangi kali, alah, ga boleh berpikir seperti, entar dimarahin Ustad Yunahar Ilyas lagi, musyrik katanya percaya sama gituan. Tapi, apapun penyebabnya itu, aku ga terlalu ambil pusing, pikirku asik ditraktir dua orang sekaligus. Kenyang, enak, dan tempatnya agak elit. Sip pokoknya.

 

Tiba-tiba si Dudung Sms kalu IPKnya menurum dan dia menyatakan ikhlas mentraktirku di warung steak. Pikirku “alhamdulillah, taruhan menang dengan orang ke-1”, satu orang sudah memastikan akan mentraktirku. Tinggal satu orang lagi, si Tora. Alah si tora ini, paling IP nya kecil lagi semester ini. Pastilah aku yang menang, dulu aja, semester yang lalu-lalu, pas ujian, aku ga belajar, dia belajar, IP ku turun, tetap saja IP ku masih lebih besar dari dia, nyantai lah.

 

Di suatu malam, di awal Bulan Pebruari, tiba-tiba dia sms aku, dia sms kalau dia sudah liat nilai-nilaiku dan nilai-nilai dia sendiri di website akademik fakultasku, dan ternyata, IP nya naik secara super drastis, untuk pertama kali sejak Napoleon main kelereng di sawah. Tetapi aku masih tenang dan gembira, dan bersyukur. Orang kedua yang aku ajak taruhan, yaitu Tora Sutora, yang selalu belajar ketika ujian kemarin dan aku yang tidak belajar, tahun-tahun yang lalu pun juga aku ga belajar tapi dia belajar IP ku dulu masih lebih besar dari pada dia. Dia yang dulu kalau mau ujian sering ngajak belajar bersama denganku untuk menerangkan padanya hal-hal yang dia tidak paham. Malam di awal pebruari itu, dia memberitahu aku kalau IP dia sangat-sangat jauh banget lebih besar dari aku.

 

Yah, dasar otak jail, kena batunya kau sekarang, makanya jangan remehin orang. Akhirnya aku harus traktir dia makan, hiks..hiks.. tapi ga apa-apalah aku ikhlas, sekalian syukuran IP ku semester ganjil ini naik drastis walau semaleman selama dua minggu ujian aku jadi gila  main game empires II. (Teman-teman yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung yang baca tulisanku ini, jangan bilang-bilang sama Ibu Bapakku yah. Please…!!! abis lah aku ntar kalau mereka tau aku gila main game selama ujian. Lagian IP ku semester ganjil itu naik drastis kok).

 

2.    Taruhan Kado-Syukuran

 

Aku tidak menganjurkan Anda untuk mempraktekkan taruhan jenis yang pertama diatas. Cukup itu hanya sebagai wacana saja. Jangan sampai kalian tiru. Pokoknya kalau di akherat ntar kalian menyalahkan aku karena setelah baca tulisan ini kalian niru taruhan kayak yang diatas. Kalau ditanya malaikat penimbang amal baik dan buruk, aku akan menjawab kalau aku sudah peringatkan kalian semua untuk tidak meniru taruhan yang aku lakukan itu, titik.

 

Tetapi kalau taruhan jenis kedua ini, aku tidak menganjurkan tetapi juga tidak melarang. Kalau kalian sepakat ya silahkan saja ditiru, tetapi dosa tanggung masing-masing yah kalau malaikat ternyata mengharamkan juga jenis taruhan  kedua ini. Tetapi aku yakin kayaknya taruhan jenis ini ga dilarang.

 

Ku ceritakan dulu latar belakangnya yah, sepakat tidak? Sepakat tidak sepakat, pokoknya aku akan cerita dulu latar belakangnya. Terserah aku dong, aku yang buat tulisan ini kok.

 

Kalau tidak salah, akhir bulan agustus 2008, aku berkenalan dengan seorang cewek dengan cara yang aneh menurutku. Jadi ceritanya aku mau sms temenku, anggaplah namanya Wati. Tetapi aku ga tahu no teleponnya. Lalu aku minta nomor hpnya ke temenku, anggaplah namanya Cinta. Dia kasih no itu. Singkat cerita, aku sms si wati, sms tausyiah. biasalah sampil PDKT untuk ku kader jadi Ibu dari anak-anakku ntar. Sebelum menikahkan kita harus tahu seluk beluk orang yang mau kita nikahi, biar tidak menyesal setelah menikah, kalau orang yang kita nikahi ternyata bukan seperti yang kita inginkan, betul tidak? Kok jadi membicarakan masalah pernikahan sih??? Ga nyambung, kita kembali ke jalan yang benar.

 

Sebenarnya wanita yang ku kader jadi Ibu dari anak-anakku itu bukan Cuma dia. Ada 5 orang. Tetapi aku belum memutuskan mau pilih yang mana. Aku berusaha supaya mereka tidak merasa ku kader. Aku coba cari tahu segala sesuatu tentang mereka seperti seorang sahabat Rasulullah SAW, Jabir bin Abdullah, ra, yang selalu bersembunyi di bawah pohon, untuk bisa melihat wanita yang akan dipinangnya dengan tujuan mencari segala informasi yang dibutuhkannya tentang wanita itu yang bisa mendorong atau menjadi alasan mengapa dia harus mengawini wanita itu. Biarlah suatu hari (targetku pertengahan tahun 2010) nanti aku kasih kejutan salah satu dari mereka, dengan adanya pangeran yang melamarnya.

 

Perasaan tulisanku ga nyambung lagi deh???? Ya udah kita kembali lagi ke jalan yang benar. Setelah ku sms itu, si wati membalas sms ku, “situ siapa?” lalu ku balas, “aku teman dekatnya si Jayen, sahabatnya Syamsiah.” Aku balas seperti itu, karena ku yakin dia pasti tahu aku, karena dia sering banget liat aku jalan main-main kemana-mana bareng si Jayen dan Syamsiah sahabatnya, sahabatku juga. Orang banyak menyangka, aku dan Syamsiah pacaran, padahal aku sama dia cuma sahabatan, dan dia juga tahu itu.

 

Tak kusangka tak kuduga, dia masih ga tahu siapa aku, lalu ku balas lagi, kalau aku adalah orang yang kemarin menjengukmu di rumah sakit bareng sama si jayen. Aku balas seperti itu karena akulah satu-satunya orang yang menjenguk dia bareng si jayen. Pikirku dia pasti tahu aku ini siapa.

 

Ehhhh, dia bales lagi kalau dia tidak tahu aku ini siapa. Lalu ku sms si Cinta menanyakan apakah no hp yang dia berikan dulu itu benar no hp Wati. Si Cinta membalas kalau no itu benar-benar no hp Wati. Dia meyakinkan aku kalau nomor itu wati kasihkan sendiri langsung kepadanya. Dia lalu mengatakan bahwa jangan-jangan si Wati sedang menjailin aku. Dapet informasi kayak gitu, muncullah pikiran jailku untuk balik menjaili si Wati, ku sms dia dengan tebak-tebakan yang lain tentang aku. Kalau tidak salah hampir seminggu aku sms-an dengan dia. Pernah dia coba telepon aku, tetapi tidak ku angkat, dengan berbagai alasan. Kayak abis dari mesjid, tadi abis dari kamar mandi, dll. Sampai akhirnya dia marah, sampai mengataiku: so kenal, so akrab, so artis, dll. Jangan kalian panggil aku “Surya” kalau tidak bisa membuat wanita marah jadi lunak kembali, ku balas sms dia itu dengan sms yang lebih bijaksana, dengan kata-kata yang lembut, dan penuh dengan bisa tipu muslihat. Singkat cerita, akhirnya dia mau meneruskan mencari tahu siapa aku.

 

Akhirnya dia tahu siapa aku. Dia tahu aku dari temannya si Dudung yang sering ke kos ku. Anggaplah namanya Durpul. Durpul ini sering curhat ke aku dan Dudung kalau dia suka sama si wati. Anak angkatan 2007 yang sekota dengannya, sebuah kota di provinsi Jawa Tengah. Akhirnya aku tahu kalau wati yang selama ini ku sms, ternyata wati nya si durpul, bukan Wati yang lagi ku kader. Dari mulai sekarang, aku hanya akan bercerita tentang si Wati yang disukai si Durpul.

 

Walau si Durpul sering cerita tentang Wati, dia tidak pernah memperkenalkanku sama si Wati. Bahkan kalau ngobrolin Wati, dia ga kasih tahu kalau nama wanita yang dia sukai itu namanya wati. Dia sering curhat, kalau suka sama wati, tetapi takut menyatakan cinta atau ngajak pacaran. Soalnya dia mantan sekretaris jendral sebuah organisasi rohani Islam yang selalu menjunjung tinggi faham bahwa pacaran itu HARAM, Merdeka!!! Hidup Pacaran Setelah Menikah!!!. Meskipun dia sendiri lahir dari keluarga kalangan NU yang menyatakan pacaran itu boleh-boleh saja asal tahu batas-batasannya. Dia pernah bertanya padaku tentang hukum pacaran. Lalu aku mengatakan pacaran itu boleh-boleh saja, dengan berbagai persyaratan yang ketat. Lalu kukasih dia alamat websitenya pak Muhammad Shodiq yang membahas Pacaran Islami[2] (tetapi sekarang website itu berganti tema menjadi Tanajur Islami).

 

Pernah aku tantang dia untuk segera menyatakan cinta pada si Wati, kalau tidak segera, maka aku akan mendahului dia menyatakan cinta dan mengajak pacaran si wati atau kalau perlu, ku lamar dia langsung. Walaupun ketika itu aku belum kenal si Wati. Dia hanya tersenyum, seperti mengatakan kalau hal ini tidak mungkin terjadi. Aku sendiri tidak serius mengancam dia. Lagian aku sendiri masih ada kerjaan lain mengkader 5 bidadari.

 

Kembali ke cerita aku dan wati, setelah aku dan wati saling kenal, kita saling tukar alamat friendster. Aku ga tahu seperti apa wajah wati. Makanya, hal pertama yang aku lihat dari friensternya adalah cepat-cepat membuka galeri fotonya. Di galerinya banyak sekali foto wanita. Aku ga tahu yang mana wati. Lalu aku save foto-foto itu dan kubawa pulang lalu ku pindahkan file-file foto tersebut ke komputerku di kos. Setelah itu, aku perlihatkan foto-foto itu ke si Dudung lalu menyuruhnya untuk menunjukkan yang mana wati itu. Dia menunjukkan padaku yang mana wati. Setelah ku selidiki, ternyata Wati tidak cantik-cantik amat, biasa-biasa saja. Ah kalau kalian mau membandingkannya sama Luna Maya, ku jawab: luna maya mah lewat. Dian Sastro? Kayaknya Lewat juga dech. Maksudnya, cantiknya sedikit diatas artis-artis itu. Itu menurut penilaianku, ga tahu kalau menurut kalian para pembaca tulisanku yang setia dan baik hati. Makanya sangat logis si Durpul yang aktivis itu ngebet banget sama Si Wati. Padahal kalian tau sendiri mungkin aktivis organisasi kayak dia, kalau rapat aja pake hijab kain, kalau ngomong di luar sama “Akhwat” yang bukan muhrim, menundukan pandangan atau memalingkan wajah. Biasalah, “Ikhwan” juga kan cowo normal kalau liat cewe cantik, matanya bisa “hijau” juga, kepalanya tiba-tiba bisa berputar 180 derajat. Asal kalian tahu saja, wahai cewe-cewe yang baca tulisanku, kalau cowo normal itu, pas ada cewe cantik lewat didepannya, pasti kepala cowo itu, mengikuti kemana arah cewe itu melangkah. Yang tadinya sudah punya pasangan jadi mendadak ngaku-ngaku masih jomlo. Yang Sudah punya cucu segudang pun ngaku bujangan. Itu semua wajar. Kalau pacar atau pasangan kalian melakukan itu, kalian harus bersyukur karena pacar atau pasangan kalian masih jadi laki-laki normal.[3]

 

Mari kita kembali ke jalan yang benar, sehabis sms-an selama hampir seminggu itu, Aku dan Wati jadi sering sms-an atau telepon-teleponan, bahkan saling membawakan oleh-oleh ketika abis pulang liburan lebaran.

 

Gaswatnya, Si wati ini orangnya suka menceritakan segala sesuatu yang dia sedang alami sama teman dekatnya. Kebetulan orang yang sering dia curhatin adalah si Durpul. Abis lah aku. Sejak saat itu, durpul agak judes ke aku. Jadi lebih tertutup.

 

Jangan panggil aku “Surya” kalau tidak bisa meyakinkan orang yang sudah tidak percaya kepadaku menjadi percaya lagi. Dengan wajah polos dengan nada bicara yang antusias dan seperti tidak ada yang disembunyikan padahal banyak sekali fakta yang disembunyikan, aku ceritakan pada durpul apa-apa saja yang sering kulakukan dengan wati beserta alasannya kenapa aku melakukan itu. Aku katakan juga pada durpul kalau aku menganggap Wati seperti adik atau sahabat. Lagian aku ceritakan pula, aku masih ada proyek mengkader 5 bidadari yang Tuhan berikan untuk aku pilih salah satu dari mereka untuk ku jadikan Istri. Dia percaya semua kata-kataku itu. Padahal……. dalam lubuk hatiku paling dalam…… sebenarnya aku……… men…………. pada ……… Titik-titik itu mungkin bisa Anda tafsirkan sendiri-sendiri apa maksudnya.

 

Pernah aku ngerjain si Durpul, ketika aku sedang asik-asinya lihat foto-foto kegiatan IMM dengan cara membuka explore di komputerku lalu ku buka folder Foto-foto, ku rubah tampilan explore dengan format “Filmstrip” biar tampilan foto-foto itu tampil lebi besar. Tiba-tiba si Durpul masuk kamarku, ketika aku sedang buka foto-foto immawati (panggilan anggota IMM yang wanita) yang sedang ada di dalam suatu kegiatan seminar. Lalu aku cegah dia untuk melihat layar komputerku, dengan alasan lagi liat sesuatu yang rahasia. Dia memaksa ingin lihat apa yang ada dimonitor, akhrirnya ku izinkan dia melihat. Gawatnya di folder-folder foto-foto yang ada di explore ada folder yang bernama “Wati salah sambung”. Dia penasaran ingin tahu apa isi folder itu. Dengan berat hati, ku bukakan isi folder itu yang isinya foto-foto Wati yang pernah ku download dari friendsternya. Dia kesal dan menyuruhku untuk menghapusnya dengan menasehatiku, “ga boleh loh mas, haram menyimpan foto wanita bukan muhrim di komputer.” Dengan kesal ku menjawab, “yo, ku hapus iki.” Lalu aku membuka kembali folder kegiatan-kegiatan IMM. Gawatnya yang kubuka adalah kebanyakan foto-foto immawati. Dia protes lagi, “kok mas surya suka lihat-lihat foto wanita sih? Ga boleh tuh mas, HARAM.” Aku ga tahu, kok dia berubah menjadi fundamentalis yah. Kesabet malaikat apa dia kok tiba-tiba jadi alim begitu. Akhirnya muncul ide jailku. Ku katakan padanya dengan nada suara yang tegas karena kesal, “ya tergantung niatnya. Segala sesuatu itu tergantung niatnya. Kau liat foto-foto wanita itu niatnya apa? Buat berlezat-lezatan? Syahwat? Melihat yang cantik-cantik? Atau buat mencari Istri? Kalau ada unsur syahwat, ya itu haram, tidak ada perselisihan ulama dalam masalah ini. Sudah jadi Ijma para ulama. Tetapi kalau tujuannya untuk mencari Istri. Untuk meminang seorang wanita menjadi Istri. Untuk memilih mana wanita yang akan di Nikahi, saya pikir itu boleh-boleh saja, karena sahabat nabi pernah melakukan itu. Sahabat tersebut bukan melihat foto wanita yang akan dipinangnya, tetapi melihat langsung. Kau mau tahu buktinya?” aku lalu membuka kitab Fatwa-fatwa kontemporer Dr. Yusuf Al Qaradhawi jilid 1, membuka fatwa beliau tentang bolehnya pemuda melihat wanita yang hendak dipinangnya. Lalu aku bacakan sebuah hadis tentang kewajiban seorang pemuda melihat wanita yang akan dipinangnya. Setelah itu, ku bacakan pula riwayat Jabir bin Abdullah ra. yang selalu bersembunyi di bawah pohon, untuk bisa melihat wanita yang akan dipinangnya dengan tujuan mencari segala informasi yang dibutuhkannya tentang wanita itu yang bisa mendorong atau menjadi alasan mengapa dia harus mengawini wanita itu.

 

Apa coba komentar dia setelah ku bacakan beberapa dalil tersebut, “alah mas surya ini, cuma alasan.” Terus dia berkata lagi, “kalau ngomong sama mas surya tuh, dikit-dikit sahabat nabi, dikit-dikit sahanat nabi, terus tabiin-tabiin, ga ada yang lain apa.” Lalu ku jawab, “ya ga apa-apa lah, bagiku sahabat nabi itu teladan juga, fatwa-fatwa sahabat nabi itu jauh lebih baik dari pada fatwa-fatwa ulama setelah zaman para sahabat. Kalau ada ulama yang berfatwa betentangan dengan fatwanya sahabat, aku lebih memilih fatwa sahabat. Contohnya: para ulama kontemporer sekarang mayoritas berfatwa mewajibkan bercerai bagi seorang wanita yang ketika masih kafir telah menikah dengan pria kafir juga, lalu dia masuk Islam sedangkan suaminya masih kafir, maka wanita tersebut harus bercerai dengan pria tersebut. Mereka berdalil dengan QS al Mumtahanah ayat 10 dan Al Baqarah ayat 221 yang intinya melarang wanita muslimah menikah dengan pria ahli kitab atau musyrik. Mereka menambahkan pula kalau wanita itu kembali ke suaminya yang kafir, maka ketika berjima (berhubungan suami istri), mereka melakukan zina. Tahu ga akibat dari fatwa ini? Banyak para wanita di Amerika, Inggris, Prancis, Jepang, dan negara-negara lainnya yang tadinya mau masuk Islam, mengurungkan niatnya masuk Islam karena setelah dia masuk Islam harus bercerai dengan suaminya yang masih kafir. Mereka lebih memilih meneruskan rumah tangga yang sudah dijalin lama daripada menjadi seorang muslimah. Padahal dua orang Sabahat Nabi Muhammad yang paling utama, yang menjadi khalifah Islam setelah beliau, Umar bin Khatab ra dan Ali bin Abi Thalib ra berpendapat berbeda dengan mayoritas ulama kontemporer zaman sekarang. Mereka berpendapat bahwa wanita itu setelah masuk Islam tetap tinggal bersama suaminya yang masih kafir. Lalu timbul pertanyaan, apakah mereka, dua sahabat itu, membuat fatwa dengan nafsu mereka sendiri? Atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasulnya? Padahal perbuatan yang menghalalkan apa yang di haramkan Allah dalam Al Quran itu hukumnya haram dan pasti masuk neraka kalau tidak segera bertobat. Bagiku, mengikuti fatwa sahabat jauh lebih mendekati kenenaran. Karena mereka jauh lebih dekat dengan Rasulullah saw. Sahabat jauh lebih utama daripada tabi’in, tabi’in jauh lebih utama dari tabiut-tabi’in, dan seterusnya. Mereka belajar Al Quran dan As Sunnah langsung dari Rasulullah. Mereka Hafal Al-Quran, tahu betul As Sunnah karena melihat langsung dari diri Rasulullah. Tahu betul tafsir setiap ayat dalam Al Quran. Ditambah lagi, mereka dizamin oleh Rasulullah akan terus di beri petunjuk oleh Allah setelah beliau wafat dan mereka di zamin masuk surga. Sungguh tidak mungkin orang yang dijamin masuk surga mengeluarkan fatwa yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Intinya, Dua sahabat tersebut punya tafsir yang berbeda dengan ulama kontemporer terhadap QS al Mumtahanah ayat 10 dan Al Baqarah ayat 221, mau tahu lebih lanjut tentang masalah ini? Tentang perbedaan pendapat para ulama tentang masalah ini? Baca saja kitab Fatwa-fatwa kontemporer Dr. Yusuf Al Qaradhawi Jilid 3.” Lalu, ku kasih liat dia kitab itu. Setelah aku jelaskan panjang lebar, dia cuma bisa diam, lalu keluar dari kamarku.

 

Kalau ku pikir-pikir, Aku tuh kalau dalam keadaan emosi atau kesal pada seseorang aneh juga ya, kadang-kadang ya seperti itu, tiba-tiba jadi orang yang idealis, fundamentalis, sok ilmiah, sok mencari-cari dalil, mengotak-atik fikih, sok pakai usul fikih, hadist, riwayat sahabat, Ayat Al Quran yang pernah ku baca, dll keluar semua dari mulutku. Padahal dalam praktek sehari-hari, aku ga seperti itu, sangat pragmatis dan munafik. Jauh dari kesan idealis dan sholeh. Makanya, salah satu cita-citaku adalah jadi orang yang sholeh. Alamat emailku saja di yahoo adalah: semoga_surya_sholeh@yahoo.com. Aku buat email dengan alamat seperti itu karena Nabi Muhammad pernah berkata bahwa nama adalah doa. Jadi alamat emailku adalah sebuah doa. Dengan harapan orang yang mengemail ku, sekaligus mendoakanku supaya jadi sholeh.

 

Jangan terlalu terkesima sama orang yang sering berkata dengan dalil-dalil Al Quran dan Hadis atau sering berbicara atas nama agama. Karena belum tentu mereka itu bersikap dan bertingkah laku seperti yang mereka katakan atau ucapkan. Contohnya, ya aku ini. He..he.. yang jelas doakan saja aku biar cepet diberi hidayah untuk cepet tobat dan memperbaiki diri serta berusaha sendiri mencari hidayah.

 

Bagiku, hidayah itu ada dua macam. Ada hidayah yang Allah akan berikan kepada seorang hamba setelah hamba itu berusaha mencari hidayah tersebut dan yang kedua, hidayah yang Allah berikan kepada seorang hamba yang Allah kehendaki secara Cuma-Cuma tanpa ada usaha dari si hamba untuk mendapatkannya. Untuk mendapat hidayah jenis pertama, ya Aku harus berusaha sendiri dengan cara berdiskusi, baca buku, bertanya, berteman dengan orang yang sholeh, beribadah, dll. Dan untuk mendapat hidayah jenis yang kedua, aku meminta bantuan teman-temanku semua untuk mendoakan aku supaya mendapatkan hidayah jenis kedua ini.

 

Kok aku jadi curhat sih, sudah-sudah kita kembali ke jalan yang benar. Aku akan lanjutkan cerita tentang hubungan aku sama Wati.

 

Pokoknya singkat cerita, sekitar bulan Desember, aku sama wati hampir jarang-jarang-jarang sekali sekali sms-an, apalagi teleponan. Tiba-tiba di malam tanggal 31 Desember, dia sms aku sebuah sms tausyiah yang intinya menyarankan untuk intropeksi diri dan membuat target dan tujuan untuk tahun 2009. Lalu aku balas sms itu dengan menanyakan, “emang targetmu tahun 2009 apa? Kalau aku bisa beres menyusun skripsi.” Lalu dia balas lagi sms ku, “kalau aku ingin bisa software komputer.” Setelah itu aku ngajak dia taruhan. Taruhannya seperti ini, “siapa yang tidak berhasil mencapai target 2009, harus dengan ikhlas dan legowo memberi kado kepada yang berhasil mencapai target dan yang berhasil mencapai target harus dengan ikhlas dan legowo mengadakan syukuran atas keberhasilan mencapai target 2009 dengan mentraktir makan yang tidak mencapai target. Kalau sama-sama mencapai target, berarti kita sama-sama syukuran, saling mentraktir.” Setelah ku sampaikan aturan dari taruhan tersebut, ternyata dia sepakat dan mengajak aku untuk saling mendukung dalam rangka mencapai target masing-masing tersebut.

 

Seperti itulah 2 model taruhan yang menurutku “Islami”. Meskipun kata “Islami” disini sedikit ku paksakan dan masih kontroversial. Terbukti dari selama ini ku utarakan wacana taruhan Islami ke beberapa teman, tanggapan mereka selalu memprotes gagasanku tersebut. Mungkin mereka mau berkata, “Taruhan yang Aneh.”

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Al-Qaradhawi, Yusuf,Dr. 1995. Fatwa-fatwa Kontemporer Dr. Yusuf Al Qaradhawi Jilid 1. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Al-Qaradhawi, Yusuf,Dr. 2002. Fatwa-fatwa Kontemporer Dr. Yusuf Al Qaradhawi Jilid 3. Jakarta: Gema Insani Press.

 

http://pacaranislami.wordpress.com

 


[1] Cuma bercanda, tetapi kalau keturunan prabu siliwangi, itu sih benar menurut cerita Bapakku.

[3] Wahai para wanita, Jangan terlalu di percaya kalimat terakhir paragrap itu, aku cuma bercanda. Tetapi kalau kalian sepakat dengan kalimat tersebut, ya terserah. Aku ga nanggung akibatnya.

Pacaran Islami? Selamat Tinggal!

7 Juli 2008 pukul 15:25 | Ditulis dalam Perjalanan Hidup | 9 Komentar

  Pacaran Islami? Selamat Tinggal!


Sudah mungkin lebih dari 3 tahun lebih, aku menjadi penganjur pacaran Islami. Entah udah berapa orang yang sudah aku pengaruhi dengan paham ini. Aku menjadi peanganjur pacaran Islami setelah membaca buku dan blog buatan Muhammad Shodiq. Secara garis besar, saya sepakat dengan paham yang dibawakan beliau. Tetapi sekarang setelah ku pikir-pikir lagi, ternyata sulit mempraktekan pacaran islami.

Yang SULIT dari praktek pacaran Islami adalah MENJAGA HATI. apa jadinya bila setiap saat aku selalu mengingat si dia (wanita non muhrim yang aku cintai) mengalahkan mengingat Allah. lebih banyak mengingat dia dari pada mengingat Allah
lebih rindu ingin bertemu dan berjumpa dengan dia daripada rindu ingin bertemu Allah,
itu artinya LEBIH MENCINTAI DIA DARIPADA MENCINTAI ALLAH dan Rasul-Nya serta Jihad di jalan-Nya. Padaahal mencintai sesuatu melebihi mencintai Allah, Rasul dan jihad adalah haram hukumnya. Kalau seperti ini, pacaran Islami yang kita lakukan jadi tidak Islami lagi malah jadi pacaran yang haram.

.
Kadang kala dalam sholat ingat si dia bukan ingat Allah. Pas ada sms dari dia bersamaan dengan adzan, lebih memilih untuk balas sms dulu ketimbang menjawab adzan dan mensegerakan diri ke mesjid. Apalagi pas makan bareng sama dia, terus adzan berkumandang, lebih memilih meneruskan makan daripada pergi ke mesjid. Dalam sehari, mungkin entah berapa ratus kali aku menyebut namanya, sedangkan menyebut nama Allah dan Rasulnya, mungkin lebih sedikit dari itu. Dari pada kita jadi musyrik lebih baik tidak pacaran dan menjaga pandangan dan perasaan. Kalau tidak salah dalam usul fikih ada kaidah, “MENCEGAH KEMUNGKARAN LEBIH DIDAHULUKAN DARIPADA MEMPERBOLEHKANNYA”

Aku sekarang lebih memilih untuk tidak pacaran dan berusaha puasa dulu dari perasaan2 lebih pada seorang wanita, menghapus foto2 wanita yang ku cintai di komputer. Berusaha menjauhi berbagai sarana yang bisa membuatku ingat dia, walauku akui itu sulit sekali. Nanti saja kalau sudah siap lahir batin, penjajakan, melamar terus menikah, abis itu punya anak yang lucu-lucu dan cerdas-cerdas plus sholeh-sholehah, amien.

Apakah kamu masih pro pacaran Islami?

SELAMAT TINGGAL PACARAN ISLAMI
Pacaran Islami hanya cocok bagi orang2 yang sudah kuat aqidahnya, kuat tauhidnya, sudah bisa mencintai Allah lebih dari yang lainnya, sudah bisa menjaga pandangan dan hatinya, sudah tahu batasan-batasan dalam pergaulan dengan lawan jenis yang sesuai syariat. kalau kamu sudah bisa demikian, silahkan pacaran Islami. kalau aku sih belum, jadi lebih baik menghindari dulu.

TULISAN INI MURNI PENGALAMAN PRIBADIKU.

 

 

 

Mesir yang Berubah

7 Juni 2008 pukul 20:03 | Ditulis dalam Perjalanan Hidup | 1 Komentar

 

Mesir yang Berubah

 

Nil itu kini menjadi kering oleh mesirku yang mulai berubah

Duhai mesirku, aku ingin tetap mengalirimu dengan kesejukanku

Namun kian kusadari, aku semakin tak mampu menghijaukan gurun yang bertambah tandus

Walau hanya sekedar memberikan setetes kehidupan dengan oase hatiku

Namun hanya fatamorgana yang dapat ku berikan.

Berani hidup berarti berani mencintai

Berani mencintai berarti berani merelakan.

Karena antara cinta dan keinginan untuk memiliki adalah sesuatu yang tidak sama.

Andai nil dapat mengaliri mesir, akan tercipta kehidupan baru

Dan peradaban yang sangat maju.

Namun nil telah tergantikan dengan laut mati.

 

(Tulisan Diary Maria dalam film Ayat-ayat Cinta)

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.