Gara-gara Semut dan Ingin Ketemu Allah

31 Maret 2010 pukul 15:35 | Ditulis dalam Renunganku | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Beberapa hari yang lalu, sobatku si Tora (bukan nama sebenarnya) menangis gara-gara pertama-tama dia menceritakan isi buku yang dia baca lalu kutambahi, “di akherat nanti tidak setiap muslim bisa melihat atau ketemu Allah.” Dia terkejut mendengar perkataanku tadi. Dan beberapa saat kemudian dia menangis. Menangis karena merasa banyak dosa dan masih menjadi orang yang lalai. Lalu dia bertanya, “sur, bagaimana caranya supaya bisa bertemu dan melihat Allah.” Lalu kujawab aja, “banyak-banyakin sujud (sholat), sholat wajib itu hanya sebagai modal dasar atau syarat minimal menjadi seorang muslim, kalau mau ketemu Allah banyakin sholat sunatnya.” Eh, malah dia tambah menangis. Ga tahu aku apa yang dia sedang pikirkan ketika itu, kok bisa-bisanya dia menangis hanya mendengar omonganku yang agak sok tahu itu. Dalam hatiku berkata, “kok bisa yah, dia yang mendengar kata-kataku segitu aja kok bisa menangis tersedu-sedu, aku aja yang sudah tahu dari bertahun-tahun yang lalu, biasa biasa aja tuh, kok bisa yah dia seheboh itu. Atau mungkin karena akunya aja yang aneh. Mungkin hatiku kurang peka karena banyak buat dosa sebingga banyak tinta hitamnya sehingga dengan ilmu itu tidak membuat hatiku tercerahkan.” Aku heran, kok bisa yah orang lain itu menangis dengan mendengar beberapa kalimat yang sederhana? Kok aku enggak? Baca Lebih Lanjut….

Iklan

Aku Belum Mengidolakan Nabi Muhammad SAW

31 Maret 2010 pukul 15:32 | Ditulis dalam Renunganku | 2 Komentar
Tag: , , ,

Beberapa minggu yang lalu aku merenungkan perbedaan antara mengidolakan sama simpati atau kekaguman. Aku baru menemukan satu, yaitu keinginan untuk meniru. Aku coba memperhatikan orang yang mengidolakan seorang artis atau pemain bintang sepak bola. Misalnya Gita Gutawa. Penggemar ini mencoba bergaya seperti gita gutawa dari mulai pakaian sampai aksesorisnya, dari mulai gaya bicara sampai cara berjalannya. Dia juga mencoba menghapal semua lagu Gita Gutawa. Dia koleksi kaset dan cd lagu-lagu gita gutawa. Dia hadiri konser-konser gita gutawa. Ada kerinduan ingin bertemu Gita Gutawa. Pas ketemu Gita Gutawa, senengnya minta ampun. Dia peluk si idola. Dia juga membawa hadiah atau kenang-kenangan bagi sang idola. Baca Lebih Lanjut….

Mencintai Alloh dan Rosul-Nya

9 April 2008 pukul 16:43 | Ditulis dalam Renunganku | Tinggalkan komentar

 

Mencintai Alloh dan Rosul-Nya

 

Katakanlah, “Jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan, yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya. Dan Alloh tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang fasik”.

(Surat At Taubah ayat 24)

 

Ayat diatas memberikan perintah kepada kita untuk lebih mencintai Alloh dan rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya daripada mencintai yang lainnya. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa orang yang lebih mencintai yang lain daripada mencintai Alloh, Rosul-Nya, dan Jihad di jalan-Nya adalah termasuk orang yang fasik yang Alloh akan memberikan azab-Nya kepada mereka. Apakah kita termasuk orang yang mencintai Alloh, Rosul-Nya, dan Jihad ataukah termasuk orang yang fasik?

Misalnya, ketika kita sedang asik nonton TV, atau sedang baca buku karena besoknya ujian, lalu adzan berkumandang, mana yang kita pilih, meneruskan nonton atau baca, atau segera mempersiapkan diri ke mesjid?

Salah satu tanda orang yang mencintai adalah dia akan lebih mendahulukan apa-apa yang dikehendaki oleh sesuatu yang dicintainya dari pada yang lain. Salah satu contoh, si Budi sedang jatuh cinta pada si Siti. Si Siti meminta si Budi datang ke rumahnya, tapi di saat yang sama temannya ngajak dia nonton ke bioskop, kira-kira mana yang akan budi pilih, ke rumah si Siti sang pujaan hati, atau ke rumah temannya? Kalau dia cinta pada si Siti tentunya dia akan lebih memilih mengikuti ajakan si Siti. Contoh ini adalah contoh seseorang mencintai seseorang, bagaimana dengan mencintai Alloh, rosul-Nya, dan Jihad? Tentu lebih dari itu bukan!

Alasan utama mengapa kita harus mencintai Alloh dan rasul-Nya, karena Alloh dan Rasul-Nya sangat mencintai kita, sangat menyayangi kita, dan sangat mengasihi kita. Sudah selayaknyalah kita balik mencintai Alloh dan Rasulnya lebih daripada yang lainnya. Bagaiman Alloh selalu menjaga kita siang dan malam, memberi kita rizki, menolong kita dalam kesusahan, mengabulkan doa kita, dan banyak sekali yang telah Alloh berikan untuk kita, melebihi apa yang telah diberikan makhluknya yang lain untuk kita. Begitu juga Rasul-nya, beliau berjuang sampai titik darah penghabisan supaya umatnya selamat, berusaha supaya petunjuk-petunjuk Alloh tersampaikan kepada kita sehingga kita tidak tersesat dan bahagia, bagaimana beliau rela diludahi, dihina, dipukul, disakiti, dan berbagai hal yang menyakitkan beliau alami demi kita. Itu semua beliau lakukan untuk kita karena beliau mencintai kita, karena beliau sayang kita, karena beliau ingin kita selamat, ingin kita bahagia. Sudah seberapa besarkah pengorbanan kita untuk mencintai Alloh dan Rasulnya?

Berjuta-juta bukti telah Alloh dan Rasul-Nya berikan kepada kita bahwa Alloh dan Rasulnya sangat mencintai kita, sudahkah kita menyadarinya? Saudaraku, cintailah siapa yang sudah menunjukkan bukti daripada siapa yang masih memberi janji.

Bila kita lebih mencintai Alloh, maka Alloh akan memberikan karunia yang lebih banyak pada kita. Kita juga akan didukung untuk mencintai yang lebih rendah. Sebaliknya, kalau kita lebih mencintai makhluk, maka kita akan terhambat untuk mencintai Alloh, rasulnya, dan jihad di jalan-Nya. Cinta kepada Alloh akan melahirkan kepuasan, kebahagiaan, dan keselamatan.

Bila kita lebih mencintai makhluknya, maka kewajiban kita akan lebih banyak dari hak-hak yang kita terima. Mencintai adalah kesiapan untuk berkorban, tiada cinta tanpa pengorbanan. Bila pengorbanan lebih banyak daripada hak-hak yang kita dapatkan, maka yang akan timbul adalah tuntutan-tuntutan yang jika tidak terpenuhi akan timbul kekecewaan-kekecewaan yang bila terakumulasi, menumpuk terus-menerus pasti akan menimbulkan penderitaan, kesengsaraan, bahkan kekecewaan-kekecewaan dunia dan akherat.

Terbaik Untuk Kita

19 Maret 2008 pukul 18:26 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar

Terbaik Untuk Kita

Pantas menurut manusia belum tentu
sama dengan pantas menurut Alloh. Kita
hidup di dunia ini terikat dengan
ketentuan Alloh, tidak bisa terlepas
dari ketentuan-Nya. Karena kita
makhluk-Nya. Apa yang menurut Alloh baik pasti baik
untuk kita, tapi apa yang terbaik
menurut kita belum tentu baik untuk
kita. Makanya kita harus memohon
kepada Alloh untuk memberi kita yang
terbaik menurut-Nya, sambil tetap
memohon kepada Alloh untuk mengabulkan keinginan kita yang menurut kita
yang terbaik menurut kita. Kalau yang
dikabulkan ternyata beda dengan
keinginan kita, mungkin itulah yang
terbaik untuk kita. Setiap ketentuan
Alloh pasti ada hikmahnya yang kadang
kala kita baru menyadarinya setelah
beberapa lama setelah suatu peristiwa
terjadi.apapun yang terjadi, kita
harus tetap bersyukur, karena dengan
bersyukur kita jadi tenang dan ikhlas
dengan segala pemberiannya. Kalau
sudah begitu, kebahagiaanlah yang akan
terjadi. Dan kalau kita bersyukur,
Alloh akan melipat gandakan nikmat
yang kita terima sebelumnya

Pernahkah kita merasa kalah karena meninggalkan suatu ibadah?

19 Maret 2008 pukul 18:24 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar
Pernahkah kita merasa kalah karena meninggalkan suatu ibadah? Pernahkah kita rindu ingin bertemu pada Alloh?

Tujuanku menulis tilisan ini yang paling utama hanyalah untuk mengingatkan diriku sendiri yang sangat banyak sekali melakukan kelalaian. Dan yang kedua, untuk menbagikan renungan pribadiku ini kepada orang-orang yang ada disekitarku, orang-orang yang aku sayang.

Saudaraku, sekarang ini sedang rame-ramenya Sepak Bola Piala Asia. Banyak sekali diantara kita yang tertarik untuk mengikutinya. Ketika Indonesia menang melawan bahrain, euforia kemenangan sangat terasa di antara kita. Ketika kalah melawan arab saudi, kekecewaan yang dirasakan oleh sebagian besar dari kita.

Itu merupakan sebuah gejala yang biasa dialami oleh kita. Rasa nasionalisme ketika melihat tim Indonesia bermain, membuat kita merasa bahagia bila menang atau merasa kecewa bila kalah. Rasa nasionalisme tersebut merupakan gejala yang wajar dan sah-sah saja kita rasakan.

Kalau kita coba sedikit renungi, ini semua merupakan ayat-ayat kauniyah Alloh yang bila kita renungi dan Ambil hikmahnya, akan membuat kita lebih baik lagi dalam mengarungi hidup ini.

Sauraraku, ketika kita kecewa ketika melihat Indonesia kalah, pernahkah kita kecewa juga ketika kita kita kalah oleh hawa nafsu kita yang akhirnya membuat kita meninggalkan sebuah ibadah?  Apakah kita pernah kecewa ketika kita kehilangan pahala sholat berjamaah hanya karena di kalahkan oleh nafsu kita untuk nonton TV misalnya, atau tanggung lagi baca buku? Pernahkah kita kecewa karena meninggalkan perkara sunat? Janganlah kita meremehkan suatu perkara sunat, karena perkara sunat itu akan menjadi pemberat amalan kita pada hari pertimbangan amalan kita kelak di akherat dan menjadi penyempurna amalan wajib kita yang kita mengerjakannya kurang sempurna.

Saudaraku, kadang-kadang, aku sebagai orang yang merantau di kota jogja ini, merasa rindu sekali ingin ketemu orang tua, kakak, keponakanku yang lagi lucu-lucunya, atau temen-temenku waktu SMA atau SMP. Tapi beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah novel yang didalamnya ada sebuah percakapan berupa pertanyaan seorang tokoh kepada tokoh yang lainnya. Tokoh yang pertama itu bertanya, apakah kamu pernah rindu kepada Alloh. Pertanyaan itu akhir-akhir ini sering menyelimuti pikiran dan hatiku. Apakah aku pernah rindu pada Alloh? Rob yang telah menciptakanku, Rob yang mengasihiku, Rob yang menyayangiku, Rob yang melindungiku, Rob yang segala-galanya yang tiada duanya, tiada sekutunya.

Musyrik-kah Aku?

19 Maret 2008 pukul 18:18 | Ditulis dalam Renunganku | 1 Komentar
Musyrik-kah Aku? Katakanlah,”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu dan keluarga kamu beserta harta kekayaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya (siksanya). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah:24).

Disuatu sore, kubaca jadwal pertandingan piala dunia yang terpampang di dinding luar kamarku. Ku niatkan untuk nonton bareng dengan temen-temen kosku dua pertandingan dari tiga pertandingan yang ditayangkan oleh salah satu stasion televisi swasta. Malam pun tiba, aku ajak temen-temen untuk nonton bareng di kamarku dan merekapun mau. Kami pun menonton pertandingan pertama dengan semangat dengan sekali-kali berteriak kalau terjadi peluang emas atau gol. Kami tidak sadar kalau-kalau ada orang lain yang terganggu dengan teriakan kami itu. Selesai pertandingan pertama kami lanjutkan dengan menonton pertandingan kedua. Suasana nonton bareng kedua ini hampir sama dengan pertandingan pertama. Pertandingan itu berakhir kira-kira pukul satu malam. Setelah itu kami memutuskan untuk tidur di kamar masing-masing.

Azan subuh berkumandang. Menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan sholat Subuh. Aku sempat bangun, tapi badan ini terasa berat untuk bangun. Akhirnya aku tidur lagi.

Ketika aku sudah puas dengan tidur, ku buka mata dan segera melihat jam yang ada di handphone-ku, dan Astagfirulloh, jam di hp-ku menunjukkan pukul 8 pagi. Dan kejadian ini berulang di hari berikutnya. Aku tahu bahwa kalau tidur terlalu malam biasanya bangun kesiangan, tetapi mungkin karena kesukaanku menonton pertandingan piala dunia, aku relakan shalat malam dan sholat subuh berjamaah demi sebuah pertandingan.

Pada suatu malam, tiba-tiba hati ini tergerak untuk membaca sebuah buku tauhid yang telah lama aku tamat membacanya (Tauhid Khalis, Abu Haniefah, penerbit: PP Darul Arqam Muhammadiyah Garut). Ketika membaca daftar isi, aku tertarik untuk membaca bab VI “Yang Mennafi’kan/Menghilangkan Tauhid”. Bab ini menjelaskan empat induk pokok yang dapat menafi’kan tauhid, yaitu: Al Alihah, At Thawaghit, Al Andad, dan Al Arbab. Hati ini merasa sangat berdosa dan bersalah ketika penulis menjelaskan tentang Al Andad.

Dalam buku itu, penulis mengutip pendapat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bukunya Al Jawahirul Madliyah yang mendefinisikan Al Andad sebagai berikut:

Al Andad itu sesuatu yang dapat memalingkan engkau dari agama Islam, baik itu berupa anak, tempat tinggal, keluarga, atau harta benda. Itu semua adalah persamaan, karena firman Allah SWT. (Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah andad (tandingan-tandingan) selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah).

Penulis buku itu menjelaskan, kalau seseorang lebih mencintai anak, keluarga, rumah tinggal, harta benda atau apapun juga lainnya daripada mencintai Allah, maka semua itu disebut andad, sebab dapat memalingkan kecintaan dari pada Allah. Orang yang yang melakukan itu menjadi musyrik karena bagi orang yang bertauhid bahwa kecintaan yang sejati itu hanya bagi Allah saja sendirinya. Bila ada seseorang yang mendahulukan kepentingan anak, keluarga atau yang lainnya sehingga dapat mengalahkan kepentingan Allah SWT, maka jelaslah bahwa orang itu musyrik, karena menjadikan anak, keluarga, atau yang lainnya itu sebagai andad (bandingan Allah).

Setelah baca buku itu, aku teringat ketika Allah memanggilku untuk sholat berjamaah lewat suara muazin sedangkan ketika itu aku sedang menonton acara TV yang kusukai atau sedang asik baca buku, aku sering menunda-nunda pergi ke mesjid sampai muazin I’komah. Bahkan kadangkala memutuskan sholat di rumah saja. Padahal Rasulullah SAW pernah mengancam akan membakar rumah orang yang mampu tetapi tidak mau pergi jamaah sholat di mesjid.

Aku coba menghitung berapa jam rata-rata dalam sehari aku belajar agama selain ketika Sholat Jumat. Ternyata dalam seminggupun belum tentu ada 2 jam aku belajar agama. Bahkan ketika sedang menghadapi ujian, aku lebih dibanyak membaca buku kuliah dan lupa sama sekali membaca Al Quran.

Ketika aku suka kepada seorang wanita, dia sering sekali terbayang dalam ingatanku bahkan ketika sholat sekalipun. Padahal belum tentu dia ingat aku. Berbeda ketika aku ingat Allah SWT, Allah SWT pasti ingat aku.

Ketika aku tersandung atau jatuh, yang keluar dari mulutku bukan nama Allah, malah kata-kata yang tak memiliki makna apa-pun. Sungguh meruginya aku, hanya dapat rasa sakit saja.

Hal-hal yang kusebutkan diatas hanya sebagian kecil yang kuingat. Masih banyak sekali hal lain yang bila ku tulis disini akan membutuhkan banyak sekali halaman. Yang kutulis diatas hanyalah prilaku Al Andad yang paling sederhana yang pernah kulakukan.

Setelah aku renungkan, ternyata aku terasuk penyakit al andad yang berarti aku telah melakukan perbuatan musyik.

Ya Allah ampuni aku atas segala dosa yang telah kuperbuat. Ya Allah lindungi aku dari penyakit Al Alihah, At Thawaghit, Al Andad, dan Al Arbab. (Muhammad Surya)

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.